My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 92 : Alasan yang Terungkap


__ADS_3

"Bagaimana jika siang ini kita mampir ke restaurant Clover untuk menikmati menu barunya. Kudengar ada makanan khas Meksico yang mereka tambahkan ke dalam menu spesialnya. Apa kau mau?" Noah menawarkan.


Kira berpikir sejenak. Sepertinya mood gadis itu sedang baik, jadi tak ada salahnya jika mengiyakan tawaran itu. Lagi pula tak baik menolak bukan?


"Yap, ayo kita ke sana." Jawab gadis itu sambil mengangguk.


Baru saja Noah akan berbelok ke arah selatan menuju restaurant Clover, tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk. Lelaki itu merogoh saku celananya kemudian menarik sebuah gawai hitam miliknya. Tertera nama Tuan Ran di sana. Segera lelaki itu mengangkatnya tanpa menunggu lama.


"Iya Tuan, baik. Aku akan segera mengantar Kira pulang." Ucap Noah kemudian panggilan terputus.


Noah kembali menyimpan benda itu ke tempatnya semula. Lalu ia memandang Kira dengan rasa penuh sesal. Karena hari ini mereka batal ke restaurant Clover untuk menyucipi menu baru.


"Ayahmu meminta agar kau segera diantar pulang. Jadi kurasa kita tidak bisa ke restaurant Clover hari ini, maaf." Ucap Noah.


"Tidak masalah, kapan-kapan kita bisa pergi bersama. Jangan khawatir, masih ada hari esok dan seterusnya." Balas Kira tanpa memudarkan keceriaannya sedikitpun.


"Sungguh, apa kau masih bersedia pergi bersamaku setelah hari ini?" Noah memastikan.


"Tentu saja. Kak Noah adalah sahabatku, jadi aku akan bersedia pergi bersama mu kapan saja asal aku masih hidup, hehe." Kira terkekeh.


Noah juga ikut terkekeh mendengarnya. Lelaki itu belum merespon ucapan Kira, ia menghentikan laju sedan mewahnya dahulu ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merah.


"Baiklah. Kapan-kapan aku akan mengajakmu lagi saat aku memiliki waktu luang." Noah pun akhirnya tersenyum karena senang dengan respons Kira.


Beberapa menit berlalu akhirnya mereka sampai di pekarangan rumah gadis itu. Noah dan Kira secara bersamaan melepaskan sabuk pengaman mereka kemudian beranjak turun dari mobil dan melesat masuk ke pintu utama.


Keduanya berjalan secara beriringan memasuki ruang tamu. Terlihat begitu ramai di sana. Kira baru saja menyadari jika ia tadi melihat mobil Bara di pekarangan depan rumah yang terparkir cukup jauh dari mobil Noah.


'Ah, jangan-jangan..' baru saja ia akan menerka, tiba-tiba suara Paman Saga mendahuluinya.


"Noah, kemari nak."


Kira membulatkan mata saat menatap ke arah sofa ruang tamu yang ternyata telah duduk kedua orang tuanya, Naura, Bara dan Paman Saga. Melihat sosok Bara di sana membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Tubuhnya sontak gemetar saat pandangannya bertemu dengan mata tajam lelaki itu.


Noah telah melangkan dan duduk bergabung di salah satu sofa. Namun Kira masih tetap berdiri dengan tatapan nanar ke arah Bara. Seolah dunia terhenti saat itu juga. Mereka saling menatap penuh damba, namun sayangnya hal itu tak bisa menjadi alasan bagi Kira untuk tetap terlena. Ia cukup merasa tahu diri jika mereka tak bisa lagi bersama. Dan juga kehadiran Naura di sana mampu membuat keinginannya menyapa Bara menguap.


Kira berjalan menghampiri ayah dan ibunya, sebagai bentuk hormatnya kepada dua insan berusia senja itu. Kemudian melangkah pergi dari keramaian untuk membenahi dirinya yang sudah mulai lusuh akibat aktivitas sekolahnya seharian.


Langkah gontai Kira mulai terlihat begitu sampai di lantai dua. Ia berjalan dengan asal ke kamarnya sambil memikirkan Bara. Kehadiran Bara membuat perasaan baik yang terbagun bersama Noah tadi hancur kembali. Bara membuat rasa di dalam dadanya bercampur aduk. Ingin menyapa tapi teringat keadaan yang tidak kondusif. Didiamkan pun terasa semakin mencekik.


'Rasa macam apa ini? Kenapa aku dibuat lemas tak berdaya.' Batin Kira.


Akhirnya gadis itu menutup pintu kamar tanpa menguncinya. Terdiam sejenak, sebuah firasat merasuk ke dalam dadanya. Seolah pintu tak terkunci itu adalah alasan ia membiarkan seseorang masuk. Dan ia berharap orang itu adalah Bara. Tersadar, Kira menggelengkan kepalanya untuk menepis firasat itu. Seketika gadis itu merasa bodoh.


Tanpa minat Kira akhirnya beranjak masuk ke dalam kamar mandi. Sepuluh menit beralalu, ia pun keluar. Suasana sepi di dalam kamar menyambut, hingga menambah kalut perasaannya siang itu. Bara benar-benar menjadi penguasa pikirannya saat ini.


Bahkan saat memilah baju untuk dikenakan pun, Kira merasa kurang fokus. Bayangn Bara menghantuinya. Memblokir segala perintah di otaknya untuk tidak melakukan sesuatu. Seolah dalam kepala kecilnya itu ia hanya diperintahkan untuk memikirkan Bara, Bara dan Bara.


Kira mendengus. Sebesar apapun ia berjuang melupakan Bara, nyatanya otak di dalam kepala kecilnya hanya memerintahkan satu pekerjaan. Jadi untuk apa ia berusaha? Mendadak gadis itu tak ingin melakukan apapun.

__ADS_1


'Aku putus asa.' Desisnya dalam hati.


Kira menjatuhkan tubuhnya di atas sofa kecil dalam kamarnya, gadis itu memejamkan mata. Tarikan napas panjang yang penuh beban itu terdengar hingga berlalu menyekutui udara.


Suasana baru tercipta ketika suara pintu kamar itu terbuka. Kira tak berniat menoleh sebab ia tahu yang masuk pastilah Naura. Siapa lagi? Tak mungkin orang tuanya, mereka sedang sibuk.


Namun firasat gadis itu berubah tidak enak ketika mendengar putaran kunci di pintu. Apakah Naura sedang ingin membicarakan sesuatu berdua? Karena merasa sedikit terganggu, Kira lantas membuka mata.


Deg. Bunyi degup jantung yang khas itu kembali memenuhi rongga dadanya. Apa yang ia lihat saat ini melemahkan seluruh perasaan dalam dirinya. Bara. Orang yang masuk ke kamarnya lalu mengunci pintu adalah Bara, kekasihnya.


Kira mengerjap tak berdaya. Tatapannya melemah dengan air mata yang mulai jatuh. Pertahanannya runtuh. Bara menghampirinya lalu menarik tubuh kecilnya masuk ke dalam dekapan kerinduan pilu yang tercipta akibat perpisahan mereka. Napas gadis itu tertahan, seolah udara yang ia hirup kehilangan fungsinya sebagai O2.


"Sayang, aitakatta! (Aku rindu)." Ucap Bara dengana nada parau.


Kira menutup mata, dalam. Hampir saja ia kehilangan hidup saat napasnya tertahan. Utung saja belum ajal.


"Kenapa kau menghindar dariku?" Tanya Bara sambil mengencangkan pelukannya.


"Karena Kak Naura telah mengetahui semuanya. Aku tak punya alasan lain." Jawab Kira sekuat tenaga menahan rasa sesak.


"Benarkah, tapi mengapa dia tak mengatakan apapun padaku?" Bara melepaskan pelukannya lalu menatap kedua bola mata Kira yang basah.


"Aku tidak tahu alasannya. Yang jelas saat ini aku tidak bisa lagi kembali padamu." Jelas Kira.


"Why? Kita saling menyayangi! Tak ada alasan kecuali kematian yang bisa memisahkan kita! Apa kau sudah lupa pada perasaanmu untukku?" Bara menepis tak terima.


"Aku tidak pernah lupa. Rasa itu yang selama ini menyiksaku. Yang terus membayagiku dengan rasa bersalah kepada otousan dan okaasan. Yang terus menyudutkan ku dari otoritas Kak Naura terhadap tanggung jawabnya sebagai kakak. Aku... maafkan aku Kak. Aku tidak sanggup menghadapi kekecewaan kedua orang tuaku jika tahu aku mengkhianati mereka." Kira terlihat mulai menghindari tatapan Bara, gadis itu melengos membelakangi kekasihnya.


"Apakah rasa sayang yang kuberikan padamu kurang, hingga kau tak punya kekuatan untuk bertahan menghadapi badai besar ini? Apa aku setidakberharga itu lagi sekarang di matamu?" Bara menaikkan nada suaranya.


Mendengar bentakan itu Kira terkejut hingga spontan tubuhnya bergetar. "Tidak kak, tidak!"


"Lalu apa?" Bara menanggapi dengan cepat.


"Aku yang terlalu lemah. Aku yang tidak bisa menjaga kepercayaan otousan. Aku yang salah karena telah menjeratmu dalam rasa sakit ini. Dan sekarang aku sadar bahwa, kita tak semestinya bersama. Tolong tinggalkan saja gadis labil sepertiku. Aku tak berharga bagi siapapun." Ucap Kira benar-benar merendah.


"Tapi sayangnya, mauku hanya kau!" Bara membalas dengan nada dingin.


"Tidak! Jangan pernah menginginkanku lagi. Aku bukan gadis yang cocok untukmu. Lebih baik sudahi hubungan kita sekarang juga. Aku akan berterima kasih padamu karena telah menjadi cahaya dalam dadaku selama beberapa waktu belakangan ini." Sanggah Kira telak.


"Semudah itu? Apa kau mengira rasa sayangku padamu hanyalah ilusi?"


Bara menarik tangannya dari pundak gadis itu. Rasa frustasi menyelimuti hatinya yang baru saja terluka. Sedetik kemudian lelaki itu menoleh pada Kira dengan tatapan penuh permohonan. Kira menggeleng sebagai tanda tak ada lagi harapan untuk saling mengikat.


Tak termia, Bara nekat mendorong tubuh Kira hingga tertidur di sofa yang mereka duduki. Lelaki itu punya tujuan memberi Kira rasa hangat hingga gadis itu bisa kembali menjadi dirinya yang dulu, dimana hubungan mereka masih dalam keadaan baik-baik saja.


"Apa kau tak tahu sudah berapa dalam hatiku terjatuh ke lubang hatimu? Mengisi ruang kosong itu dengan rasa sayangku? Apa kau tega melihatku terluka?" Ucap Bara dengan sorot mata kesedihan.


Kira menggeleng. "Tak seperti itu seharusnya kau bertindak. Kak, kau lelaki dewasa. Tolong jangan mengalah dengan perasaan. Tidak ada yang kekal di dunia ini, bahkan rasa sayangmu padaku. Suatu saat nanti rasa ini pasti akan hilang. Jadi sebelum rasa sayangmu semakin besar, maka sudahi sekarang juga. Aku takut luka yang akan kau dan aku terima akan lebih besar lagi."

__ADS_1


"Enteng sekali kau berkata seperti itu! Setelah memberiku harapan untuk hidup dari cengkraman kematian di tengah laut, sekarang kau sendiri yang malah menenggelamkanku bersama rasa cinta itu. Kau jahat!" Ucap Bara penuh penekanan.


Lelaki itu menutup matanya rapat-rapat. Hingga terlihat setetes air mata muncul dari permukaan kelopaknya lalu jatuh menetesi wajah Kira yang berposisi di bawah tubuhnya.


Mereka terdiam dalam tangis masing-masing. Suara isakan mereka menjadi soundtrack yang menghiasi suasana pilu. Adegan itu menjadikan Bara nampak seperti korban elgegi cinta yang penuh luka. Sungguh lelaki lemah.


"Beri aku kesempatan lagi." Pinta Bara.


"Aku tak bisa memberi diriku ataupun dirimu kesempatan lagi untuk saling menyayangi. Aku belum pantas merasakan hal itu, masa depanku akan menjadi taruhannya jika kau memaksa kak." Ucap Kira sambil menangis.


Bara tersadar dari rasa egoisme yang selama ini menutupi akal sehatnya. Benar, masa depan Kira akan menjadi taruhan jika ia memaksa. Perlahan Bara menarik tubuhnya menjauh dari Kira. Bersama dengan itu Kira juga ikut bangkit seraya duduk di posisi awalnya.


"Katakan untuk yang terakhir kali jika kau menyayangiku!" Sahut Bara lirih.


Kira menggeleng sebagai tanda menolak hal itu. Menyuarakan rasa sayangnya berarti ia nekat melebarkan luka di hati mereka. Yang nantinya pasti akan menjadi alasan ia ataupun Bara terus bersedih. Tidak, untuk kali ini Kira menahan diri dari kesalahan yang akan timbul nanti. Sudah cukup semua kesedihan yang ia ciptakan hari ini. Dia tak ingin lagi merasakan sakit yang lebih.


"Kalau begitu berikan aku bibirmu sebagai tanda perpisahan!" Sekali lagi Bara meminta.


Lelaki itu mungkin kurang memahami akibat dari kontak fisik yang sering mereka lakukan, yang sesungguhnya begitu melukai perasaan Kira. Sebab semakin sering Bara menyentuh maka semakin besar rasa yang memenuhi hati Kira dan hal itu berjalan beriringan dengan rasa sakit akan perpisahan.


Bara menangkup wajah Kira lalu menyatukan bibir mereka dalam sesapan basah yang memabukkan. Kira lemah dan tak kuasa menolak. Sekali lagi ia menegaskan pada dirinya bahwa sekuat apapun ia menolak, hal ini pada akhirnya terjadi juga tanpa diminta.


Dalam waktu yang lama bibir mereka tertaut. Sesapan yang terus dilancarkan Bara tak mampu membawa Kira dalam rasa terlena. Gadis itu sadar, ia sudah salah. Maka hal ini akan ia sesali setelahnya.


"Hentikan!" Kira berucap dengan lemah dalam keadaan bibir mereka yang masih tertaut.


Bara menutup matanya sejenak untuk merasakan manis terakhir dari bibir Kira. Lalu perlahan ia melepaskan tautan bibir mereka. Dalam hati Bara yang paling dalam ia merasa seperti ada sesuatu yang menancap. Membelah isi hatinya kemudian mengoyaknya hingga tak terbentuk. Bara patah hati!


Setelah drama saling melepaskan itu usai. Mereka keluar bersama dari kamar itu dengan perasaan dan suasana yang berbeda. Sekarang mereka bukan lagi sepasang kekasih. Tiba di koridor depan tangga, mereka bertemu Naura. Suasana berubah semakin pekat.


"Kalian?" Ucap Naura terkejut.


Jari telunjuknya terangkat naik dan mengarah pada Bara. Hal itu membuat Kira menutup matanya rapat-rapat. Tamatlah riwayatnya.


"Bukankah sudah kukatakan padamu untuk tidak lagi bersama? Apa kau membohongiku lagi?" Naura bertanya dengan nada penuh amarah kepada Kira.


"Ini bukan salah Kira. Tapi ini salah...." baru saja Bara akan menjelaskan semuanya, Naura menarik adiknya pergi dari hadapan lelaki itu.


"Aku tidak pernah mau melibatkan orang lain dengan urusan pribadi. Jadi Kak Bara bisa pergi sekarang." Ucap Naura sebelum berlalu.


Gadis itu membawa Kira menuju kamarnya. Mendudukkan Kira di sofa lalu menatapnya tajam seolah ia akan menguliti adiknya sendiri.


"Sudah cukup permainan mu yang keterlaluan ini, Kira. aku tak tahan lagi. Aku akan segera mengadukan hal ini kepada Otousan. Ku kira setelah ancaman ku tempo hari kau bisa berpikir jernih dan memilih untuk meninggalkan Kak Bara. Tapi ternyata kau sungguh keras kepala. Kau membuat kesabaranku habis. Besok jagan harap hidup mu lebih baik dari hari ini. Otousan akan tahu semua ini."


.


.


.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2