
Mata Kira membelalak ketika melihat mobil sang ayah terparkir di depan sekolahnya siang itu. Jantungnya berdetak kencang. Cepat-cepat gadis itu berjalan masuk kembali ke dalam sekolah.
"Ya Tuhan gawat, aku harus menghubungi Kak Bara." Ucapnya pelan sambil menekan ikon telpon di ponselnya.
Tak lama panggilan tersambung. Gadis itu akhirnya bernapas lega.
"Kak, hari ini tak usah menjemputku." Ucap Kira pertama kali.
"Hah, kenapa?"
"Tadi aku melihat mobil ayah di depan gerbang." Jawab Kira.
"Yasudah. Jadi hari ini kita tidak akan bertemu?" Tanya Bara.
"Maaf kak, aku tidak tahu jika akan seperti ini jadinya." Kira menunduk.
"Baiklah babe, sampai jumpa di lain waktu."
"Hmm, sekali lagi maafkan aku."
"Tidak masalah."
Panggilan pun telah usai dan kemudian Kira segera memasukkan ponselnya ke dalam tas. Tak lama gadis itu pun akhirnya beranjak menuju gerbang.
Terlihat Ran sedang berdiri di samping kendaraannya menunggu kedatangan Kira. Gadis itu mengulas senyum sekilas kemudian berhenti tepat di depan ayahnya.
"Kebetulan sekali Otousaan menjemputku di jam segin?" Sahut Kira.
Ran tersenyum kemudian mengusap lembut rambut putri bungsunya itu. "Sore ini kita akan bertemu keluarga Tuan Kitora untuk mendengar jawaban dari Kakakmu, apakah dia menerima atau menolak. Sekalian memperkenalkanmu dengan mereka. Siapa tahu jika Naura menolak, Ren bisa memilihmu sebagai gantinya." Jelas Ran.
Kira menatap ayahnya dengan tatapan tercengang. Dia begitu terkejut dengan semua ini. 'Apa? Aku second choice?' Batin Kira.
Selanjutnya mereka pun melesat meninggalkan sekolah. Waktu telah menunjukkan pukul 15.05. Terik matahari tak lagi terasa membakar kulit. Dengan kecepatan sedang, Ran mengemudikan mobilnya menuju restaurant 'Clover'.
Sepanjang jalan Kira begitu kalut memikirkan pernyataan sang ayah. Jika Naura menolak untuk dijodohkan dengan lelaki itu, haruskan dirinya menerima? Tentu saja tidak! Dia juga memiliki otoritas untuk menolak kan? Oh atau dia juga bisa mendesak lelaki yang akan dijodohkan untuk Naura itu agar bertahan di barisannya.
Senyum seringai tipis terpancar di bibir Kira setelah itu. Yah, gadis itu telah memutuskan untuk melakukan pendesakan kepada lelaki yang akan dijodohkan dengan kakaknya.
Setelah sampai di restaurant anak dan ayah itu melangkah masuk menuju meja yang disana sudah ada Naura dan Zara. Mereka terlihat melambaikan tangan ke arah keduanya.
"Kira, kemari sayang." Pinta Zara.
Gadis itu segera melangkah ke arah ibunya lalu duduk bersebelahan. Sementara Naura duduk di seberang dengan wajah tertunduk. Tak seperti biasa, gadis 19 tahun itu terlihat kurang bersemangat.
'Apa dia akan menolak?' Tanya Kira dalam hati sambil melirik kakaknya.
"Sebentar lagi keluarga Tuan Kitora akan tiba." Ucap Ran.
Zara dan Kira mengangguk bersama, namun Naura hanya bergeming.
Ran memegang bahu anak sulungnya itu seraya berbisik, "Memilih lelaki baik untuk hidupmu adalah pilihan terbaik."
Naura menghela napas berat. Ini bukan masalah baik atau tidaknya. Tapi baginya perasaan lah yang paling penting karena nanti akan terluka jika sosok yang ia pilih adalah sosok yang tak ia cintai.
'Entahlah Otousan, hatiku tidak condong pada Kitora Ren-san. Maafkan aku, sepertinya aku harus menolak.' Batin Naura.
Dua jam berlalu, keluarga Tuan Kitora belum juga datang. Ran dan Zara mulai cemas, mereka saling memandang penuh tanya. Makanan yang mereka pesan pun sudah tidak lagi utuh.
"Mungki aku harus menghubungi mereka lebih dulu." Ucap Ran kemudian bangkit.
Zara mengangguk lalu mengalihkan padangannya ke arah Naura. "Sayang, ada apa denganmu? Mengapa tidak terlihat bersemangat?"
Naura menatap ibunya seraya mengulas senyum tipis. "Tidak ada Okaasan, aku hanya sedikit gugup."
"Baiklah, kalau begitu habiskan makananmu. Jangan disisa yah." Kemudian Zara tersenyum.
Naura menunduk sekilas. Kemudian gadis itu mulai menjamah pudding di depannya.
'Tuhan Maha Baik, disaat aku belum siap untuk menjawab Dia mendatangkan situasi seperti saat ini.' Batin Naura.
Berbeda halnya dengan Kira. Sebenarnya dia begitu kesal karena keluarga Tuan Kitora belum datang.
'Sepertinya persoalan ini mulai rumit. Pokoknya tidak akan kubiarkan Kak Naura menolak lelaki itu. Aku tidak mau Kak Naura terus berharap pada Kak Bara yang sebenarnya adalah kekasihku. Tidak!' Batin Kira.
Terdengar suara langkah kaki Ran yang telah kembali dari arah kamar mandi. Lelaki 45 tahun itu duduk dengan tatapan yang tak lepas dari sang istri.
"Mereka tidak jadi datang. Tadi aku sudah menghubungi Tuan Kitora tetapi dia sedang di luar jangkauan. Lalu aku menghubungi asisten pribadi baliau dan berkata, Tuan Kitora dan Ren serta mamanya secara tiba-tiba berangkat ke Jepang karena ada hal urgent. Asisten itu juga menyampaikan permintaan maaf Tuan Kitora karena tak bisa mengabari kita lebih dulu." Jelas Ran.
Zara mengangguk paham. Naura juga terlihat lega. Sementara Kira bertambah kesal.
'Sial.' Decik Kira dalam hati.
__ADS_1
Seketika gadis itu menunjukkan ekspresi lesu seolah sedang bergiliran dengan Naura yang tadinya juga merasakan hal yang sama.
Mereka akhirnya meninggalkan restaurant dengan perasaan sedikit kecewa. Pada dasarnya Ran dan Zara mengharapkan jika hari ini jawaban Naura akan menjadi awal hubungan kekeluargaan mereka terjalin. Tapi sekali lagi semua ini kehendak Tuhan, tak ada yang bisa mencegah. Mungkin ada hikmah di baliknya. Di tengah perjalanan pulang, Ran tiba-tiba saja mendapatkan ide.
"Bagaimana jika malam ini kita mampir ke rumah pama Saga?" Usul lelaki itu.
"Ide yang bagus. Bagaimana anak-anak, apa kalian mau?" Tanya Zara pada kedua putrinya.
Naura mengangguk antusias yang membuat Kira membulatkan matanya tak percaya. Gadis itu seperti curiga pada kakaknya sendiri.
'Sepertinya dia ingin sekali menemui Kak Bara.' Tebak Kira dalam hati.
Ran pun mengendarai sedan mewah itu menuju ke kediaman Saga. Menempuh perjalanan sekitar 25 menit, akhirnya mereka pun sampai.
Keempatnya beranjak turun dari mobil kemudian melangkah masuk. Terlihat Naura melangkah dengan semangatnya, Kira semakin terbakar curiga. Ia tak mau kalah hingga menyejajarkan langkah kakinya dengan Naura.
"Saga, kami datang." Ucap Ran.
Tak lama keluarlah sang pemilik rumah dan menghampiri mereka.
"Hei Ran, Zara. Tumben sekali kalian kemari." Ucap Saga sambil menjabat tangan Ran lalu memeluk Zara sekilas.
"Iya, tadinya kami ingin pulang. Tapi kurasa ada baiknya kami mampir." Balas Ran dengan seulas senyum.
"Baiklah, kalian masuklah."
Saga mengajak mereka duduk di ruang tengah. Di sana terlihat Bara sedang duduk bersantai sambil menonton televisi dengan segelas jus alpukat di tangannya.
"Hei anak muda, kita kedatangan tamu." Saga menghampiri Bara seraya menepuk bahunya.
Lelaki itu berbalik dengan gerakan spontan dan terpaku ketika melihat pamannya sekeluarga datang menyambangi kediaman mereka.
"Paman Ran, Bibi Zara, Naura, Ki.. Kira." Ucap Bara terdengar gugup ketika menyebut nama Kira.
Lelaki itu berdiri lalu menghampiri Zara dan Ran bergantian untuk menyalami mereka.
"Ayo paman, bibi, Naura, Kira. Duduk dulu." Ajak Bara sambil mengarahkan mereka ke sofa yang tadi ia duduki.
Keempatnya pun duduk diikuti Saga. Menit-menit awal mereka semua terlibat pembicaraan ringan. Selanjutnya para orang tua mulai dengan dunia mereka masing-masing.
Kira tampak kikuk berada di antara Naura dan Bara. Ia tak tahu ingin membahas apa bersama Bara jika ada kakaknya.
"Aku ke belakang sebentar." Pamit Bara pada kedua gadis kakak beradik itu.
Kita tampak mendengus dengan wajah tak bersahabat. Gadis itu mulai merasa malas.
Tiba-tiba Naura juga terlihat berdiri. "Aku ingin ke kamar kecil dulu." Ucapnya.
Kira nampak sedikit kesal. Kecurigaannya semakin bertambah.
'Kak Naura ini benar-benar meresahkan. Apa dia sungguh ingin bertemu dengan Kak Bara?'
Tak bisa tinggal diam, gadis itu pun ikut beranjak membuntuti kemana Naura pergi. Ketika sampai di ruang makan, samar-samar terdengar suara Naura sedang berbicara pada seseorang. Kira mendekatkan diri ke arah dapur dimana suara Naura berasal. Suara lelaki turut memenuhi telinganya ketika ia menempelkan telinga ke tembok dapur.
"Sungguh? Apa kakak kecewa padaku?" Kira mendengar Naura berkata seperti itu.
"Sedikit kecewa sebenarnya. Aku kira kau tidak akan dijodohkan tapi ternyata aku salah." Ucap Bara.
"Jadi apa perasaan Kak Bara sudah tidak ada lagi untukku?" Tanya Naura.
"Mungkin saja." Jawab Bara Singkat.
Hati Kira mendidih mendengar semua itu. Gadis itu menyeka air mata yang jatuh begitu saja. Kemudian melangkah pergi dari sana.
"Bisakah Kakak memperjelas semuanya, agar aku tidak lagi berharap." Lirih Naura.
"Maafkan aku Naura. Dulu memang aku menyukaimu tapi sekarang aku telah memiliki kekasih. Aku mulai menyukai kekasihku dan kurasa aku juga akan setia padanya." Jelas Bara.
Naura mengangguk dengan perasaan kecewa. Ternyata harapannya telah sirna. Bara tak lagi menyukai dirinya.
"Baiklah jika seperti itu. Aku akan berusaha melupakan Kak Bara. Terima kasih karena pernah menyukai gadis sepertiku." Naura menuduk dalam.
"Jangan berkata seperti itu. Kesannya kita seperti akan berpisa saja. Kita bersepupu, tak ada salahnya saling menyayangi kan."
"Kau benar. Sekali lagi terima kasih."
...*****...
Malam semakin larut hingga membuat Ran, Zara dan Saga tersadar dari pembicaraan mereka. "Hei sudah pukul setengah sebelas malam. Bagaimana ini?" Ran mengadu.
"Ya ampun kita terlalu asik berbincang hingga lupa waktu." Timpal Zara.
__ADS_1
"Tidak masalah. Malam ini kalian menginap saja." Saga menawarkan.
Ran tampak berpikir sambil mengedarkan pandangan pada kedua putirnya yang duduk lesu di sofa. Mungkin mereka kelelahan.
"Mmm baiklah. Kami akan menginap." Putus Ran.
Saga akhirnya mengangguk. Tak lama berselang mereka beranjak dari ruang tengah menuju lantai dua. Karena semua kamar di rumah Saga berada di atas.
Ran dan Zara masuk ke kamar yang cukup besar. Untuk Naura dan Kira, kamar mereka dipisah. Alasannya daripada tidak ada yang menempati lebih baik mereka saja. Toh cuma semalam.
Naura masuk ke kamar minimalis di sebelah kamar orang tuanya. Sementara Kira masuk ke kamar belakang yang berdekatan dengan kamar milik Bara.
"Terima kasih paman." Ucap Kira kepada Saga karena telah mengantarkan dirinya ke kamar tersebut.
"Sama-sama. Jika butuh sesuatu kau bisa memanggil Bara untuk membantumu. Selamat beristirahat."
Kira menundukkan kepalanya bersama dengan beranjaknya Saga dari sana. Gadis itu hendak berbalik untuk masuk ke kamarnya tapi tiba-tiba saja seseorang memeluknya dari belakang lalu menyeret gadis itu masuk ke dalam sebuah ruangan yang sudah gelap.
"Hei, lepaskan." Kira memberontak.
"Kecilkan suaramu. Kau tidak mau kan jika hubungan kita terbongkar, hm."
Kira menengok wajah lelaki itu. Ternyata Bara.
"Ada apa kakak menarikku kemari?" Tanya Kira ketus.
"Aku rindu padamu." Jawab Bara. Wajahnya mulai mendekat ke ceruk leher Kira.
"Aku kira kakakku telah merebutmu dariku."
"Bicara apa kau ini? Mana mungkin seperti itu?" Bara tampak heran dengan sikap Kira.
"Aku melihat kakak dan Kak Naura berdua di dapur tadi."
"Hmm jadi kau cemburu?"
"Entahlah." Jawab Kira datar.
"Syukurlah. Sepertinya kau sudah cemburu dan itu artinya kau benar-benar mencintaiku kan?" Bara terkekeh.
Pipi Kira memanas hingga menimbulkan rona kemerahan. Memang benar dia sedang cemburu.
"Jangan khawatir, aku sudah memberitahu Naura jika sebenarnya aku memiliki kekasih." Perlahan Bara menarik gadis itu untuk memasuki kamarnya lebih dalam.
Hingga mereka terduduk di kaki ranjang Bara dengan keadaan lelaki itu memeluk Kira dari belakang.
"Apa? Apa kakak memberitahu Kak Naura tentang hubungan kita?" Sontak Kira membulatkan mata.
"Tidak, aku tidak berkata jika kau lah kekasihku."
"Huuuhh syukurlah. Jika Kak Naura mengetahui hal itu sekarang, habislah aku." Kira menghembuskan napasnya.
"Hm, jangan khawatir. Mereka juga tidak akan tahu jika kita berdua saat ini." Bara beralih menenggelamkan wajahnya di pundak Kira.
"Mengapa seperti itu?" Tanya Kira sambil berusaha menahan rasa geli akibat wajah Bara yang menempel di pundaknya.
"Karena kamar ini sangat jauh, kita tidak akan terjangkau dari siapapun." Jawab Bara.
"Oh begitu yah."
"Hmm, malam ini tidurlah bersamaku." Ucap Bara serak.
"Eh, ti... tidur bersama?" Kira sontak merasa gugup.
"Hm." Gumam Bara.
Tak lama setelah itu. Bara menarik Kira untuk berbaring di atas ranjang miliknya. Timbul rasa tagang di dada Kira ketika Bata memosisikan tubuh ke atasnya. Gadis itu menelan ludah sesaat.
"Kak." Pekik Kira lirih.
"Tidak apa, nikmati saja. Malam ini tidak akan lebih dari ciuman."
Kira merasa lega. Pikirnya, tadi Bara ingin melakukan adegan dewasa itu. Ternyata tidak. Bara menemplkan bibirnya pada bibir tipis milik Kira. Sontak gadis itu menutup matanya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
bersambung...