
Pemakaman telah usai dilaksanakan pagi itu. Terlihat Tahira, Saga, Ran, kedua orang tuanya dan Zara berjongkok disisi makam bibi Yumna. Tahira sejak kemarin tak henti-hentinya terisak sembari memeluk tubuh sang kakak. Ia seakan tak peduli pada Ran yang telah menjadi suaminya karena memang ia tak ada niat menjadi bagian dari hidup lelaki itu. Dan anehnya kedua orang tua Ran sama sekali tak menaruh curiga pada sikap mereka.
Dengan keadaan tubuhnya yang lemas, Tahira berusaha bangkit dibantu oleh Saga. Mereka memutuskan untuk menggalkan makam lalu kembali ke rumah beristirahat.
"Pulanglah terlebih dahulu bersama Ibu dan Ayahmu, aku akan mengajak Rara ke suatu tempat untuk menenangkan diri." ucap Saga pada Ran.
"Baiklah." jawab Ran kemudian mengajak kedua orang tuanya pulang.
Sedangkan Zara, sedari tadi gadis itu hanya berdiri menatap Saga dan Ran yang saling berbicara hingga kepergian Ran bersama kedua orang tuanya dari hadapannya. Hati Zara terasa begitu sakit sebab Ran tak lagi memperhatikan dirinya. Setelah Ran dan keuda orang tuanya pergi Saga dan Tahira pun beranjak menyisakan Zara yang masih menatap kosong kedepan. Seketika air matanya menetes tanpa permisi, ia merasa tak sanggup untuk melangkah kan kakinya.
'Mengapa mereka semua seakan tak peduli dengan keberadaannku, terutama Kak Ran. Mengapa situasi ini membuatku begitu rapuh dan yang lebih parah, aku tak punya siapapun untuk mecurahkan semua kesedihanku. Apakah aku benar-benar sendiri?' tanya Zara dalam hati.
Zara berusaha menguatkan hatinya, sakit memang. Tapi ia harus terus bangkit agar tidak terus berlarut dalam kesedihan karena ia sadar tak ada lagi orang yang akan meminjamkan bahu untuknya bersandar dan mencurahkan segala kesedihannya. Zara menghapus air mata yang membasahi pipinya. Kemudian beranjak meninggalkan makam sang bibi.
Ketika sampai di rumah kediaman bibi Yumna, ia melangkah menuju kamarnya dengan sebuah niat. Ia memperhatikan keadaan rumah yang begitu sepi, tak ada orang rupanya. Mungkin Ran dan kedua orang tuanya sedang beristirahat sehingga Zara memanfaatkan situasi. Ia menulis sebuah surat dan meletakkannya di atas nakas. Kemudian mengemasi semua barangnya, dan berencana untuk kembali ke kota siang itu juga.
"Semuanya.. Maafkan aku, aku sudah tidak sanggup berada diantara kalian. Ini terlalu sakit dan berat bagiku. Karena aku bukan Tahira yang memiliki Saga sebagai kakak dan memiliki Ran sebagai Suami. Aku Zara, gadis sebatang kara yang menyedihkan. Aku pamit." gumamnya lalu melangkah meninggalkan rumah itu tanpa ada yang tahu.
Waktu berputar begitu cepat hingga sore pun datang. Saga dan Tahira melangkah masuk ke dalam rumah mereka dengan Tahira yang sudah sedikit membaik. Gadis itu tak lagi bersedih. Sedangkan di ruang tamu Ran dan kedua orang tuanya tengah duduk bersantai.
"Darimana saja kalian, mengapa tidak beristirahat terlebih dahulu?" tanya Paman Akira, ayah Ran.
"Maafkan aku paman, tadi aku membawa Tahira bertemu dengan ayahku di desa sebelah." jawab Saga dengan menundukkan kepalanya sejenak.
"Bagaiman kabar ayahmu? Mengapa dia tidak datang di acara pemakaman ibumu?" wajah paman Akira terlihat sangat serius.
"Ayah sudah tidak bisa bangun lagi paman." jawab Saga getir.
Ibu dan Ayah Saga telah lama berpisah, mereka memutuskan untuk bercerai setelah Tahira hadir di sisi mereka. Dan ayah Saga memutuskan untuk tinggal di desa sebelah.
"Kalau begitu kalian beristirahatlah." pinta Paman Akira.
Akhirnya mereka pun beranjak dari ruang tamu menuju ke kamar mereka masing-masing. Ibu Ran meminta izin untuk pergi ke dapur sebentar.
"Otoosan tau jika kau tidak mencintai Tahira. Apa kau akan menceraikan Tahira?" paman Akira menatap putranya.
Ran belum menjawab hingga paman Akira kembali bersuara.
"Sejak kalian telah resmi menjadi suami istri, tak sekalipun Otoosan melihatmu menyentuhnya. Malah kau membiarkan Saga yang terus menjaganya, itu membuktikan bahwa kau tidak mencintai Tahira bukan?"
"Iya Otoosan. Maafkan aku. Mungkin kau akan kecewa tapi.." ucapan Ran terhenti.
"Karena Zara kan?" paman Akira menaikkan sebelah alisnya sembari tersenyum. Entah apa maksud dari senyumannya itu.
__ADS_1
Ran menunduk. "Aku masih mengingat janjiku kepada paman Albar. Aku harus menjaga Zara."
"Lalu kenapa kau menerima permintaan Yumna untuk menikahi Tahira?"
"Keadaannya berbeda otoosan, aku tidak mendapatkan pilihan jadi aku menerima permintaan bibi." Ran masih menunduk.
Tak lama ibu Ran kembali dari dapur dengan membawa teko berisi teh hangat dan beberapa cangkir kosong. Terdengar suara ketukan pintu, mereka kompak menoleh ke arah pintu. Lalu Ran berdiri untuk melihat siapa yang sedang bertamu. Ran membuka pintu yang menampakkan tiga orang dengan umur yang berbeda-beda. Mungkin lebih cocok jika disebut sebagai keluarga kecil, karena ada seorang pemuda serta wanita dan pria paruh baya. Tunggu! Ran seperti mengenal pemuda itu, dia mirip teman Zara yang pernah terlibat kasus pelecehan dengan Zara.
"Ada yang bisa dibantu?" tanya Ran yang telah mengalihkan pandangannya pada pria paruh baya di sebelah pemuda itu.
"Kami ingin bertemu dengan Yumna." ucap pria paruh baya itu.
Ran terperanjat sesaat lalu mempersilahkan mereka masuk. Kedua orang tua Ran yang melihat mereka seketika berdiri lalu bertanya siapa mereka.
"Mereka mencari bibi." jawab Ran dalam bahasa Jepang.
"Silahkan duduk dulu." ajak Ran pada ketiga orang tersebut.
Mereka pun duduk lalu segera Ran berjalan menuju kamar Saga.
"Ada tamu, mereka mencari bibi. Mungkin mereka belum tahu jika bibi sudah meninggal. Tamuilah mereka, sepertinya penting." ucap Ran setelah Saga membuka pintu kamarnya.
Akhirnya mereka segera melangkah menuju ruang tamu. Setelah sampai Saga langsung menyalami mereka kemudian duduk di sofa seberang.
"Ada apa mencari ibu Saya?" tanya Saga dengan sopan.
"Ah Adijaya? Maaf paman sebelumnya, tapi baru saja ibuku dimakamkan pagi tadi." Saga sedikit tercengang dan seketika paham. Ternyata inilah keluarga Adijaya yang dimaksud Ibunya.
"Hah, benarkah? Kami turut berduka cita." ucap Adijaya yang menampakkan raut sedih.
"Terima kasih paman. Ibu menitipkan sesuatu untuk Anda. Sebentar, saya akan ambilkan di kamar." ucap Saga kemudian berlalu.
Setelah mengambil surat tersebut Saga segera memberinya kepada lelaki paruh baya bernama Adijaya itu. Pak Adijaya membukanya lalu membaca isi surat tersebut.
Sementara itu Ran terus saja menatap pemuda yang datang bersama Pak Adijaya. Dugaannya tidak salah lagi jika pemuda di hadapannya adalah Raka, lelaki yang pernah melecehkan Zara.
'Tidak salah lagi, dia ini Raka Adijaya si sialan itu! Tapi apa urusan mereka dengan keluarga bibi?' tanyanya dalam hati.
Pak Adihaya terlihat sudah selesai membaca surat tersebut lalu menampilkan senyum bahagia.
"Kita menemukannya." gumam Pak Adijaya sembari mengelus pelan rambut istrinya.
Saga, Ran dan kedua orang tua Ran menatap mereka penuh tanda tanya. Kemudian Saga memberanikan diri untuk bersuara.
__ADS_1
"Maaf paman, apa yang disampaikan oleh ibuku?" tanya Saga.
"Sebelumnya kami berterima kasih kepada keluarga besar Yumna karena telah merawat Tahira dengan baik." ucap Pak Adijaya.
Semua orang merasa bingung, Saga memandang Ran dan Paman Akira menatap istrinya.
"Maksud paman?" Saga mengernyit.
"Tahira, dia putri kami dan juga saudara kembar Raka." jawab Istri Pak Adijaya sembari memgang bahu Raka singkat.
"Apa?" Saga seperti tidak percaya dengan apa yang didengarnya, jantungnya seketika berdebar kencang. Benarkah Tahira bukanlah adiknya?
Kemudian Pak Adijaya menceritakan semua kejadian di masa lalu, keluarga mereka begitu dekat. Ketika itu Ibu Raka dan bibi Yumna sama-sama akan melakukan persalinan. Setelah mereka melahirkan, duka merundung bibi Yumna disebabkan oleh anak yang dilahirkannya meninggal dunia. Singkat cerita Ibunya Raka memberikan salah satu anak mereka yang terlahir kembar kepada bibi Yumna karena merasa begitu kasihan.
Tapi sayangnya ayah Saga yang merupakan suami bibi Yumna tidak menerima keberadaan anak tersebut hingga menimbulkan pertengkaran hebat diantara mereka dan akhirnya bercerai.
Setelah Pak Adijaya menjelaskan semuanya Saga segera memanggil Tahira untuk bertemu dengan mereka.
Tok.. Tok.. Tok..
Tahira membuka pintu kamarnya dan melihat Saga menatapnya dengan raut wajah yang penuh dengan kebahagiaan. Tahira menautkan alisnya, bingung.
"Kakak kenapa?" tanya Tahira.
"Rara, aku mencintaimu. Ternyata kita tidak bersudara." jawab Saga yang langsung memeluk Tahira.
"Apa? Kata siapa?"
"Temui mereka dan kau akan tahu semuanya." Saga melepaskan tautan tubuh mereka.
"Mereka siapa? Kau jangan membual kak, aku tahu kau mencintaiku tapi jangan pernah melupakan status kita. Kita tidak mungkin bukan saudara." Tahira terlihat kesal dengan ucapan sang kakak.
"Kalau kau tidak percaya, turunlah! Mereka adalah orang tua mu." Saga mentap bola mata Tahira dalam, tanda ia serius dengan ucapannya.
'Apa semua ini?' tanya Tahira dalam hati sembari menatap kakaknya penuh tanda tanya.
Sementara itu, tak ada yang mengetahui jika sekarang Zara sudah pergi meninggalkan rumah itu bahkan telah meninggalkan desa. Dua peristiwa ini terjadi begitu cepat, kepergian Zara meninggalkan Ran karena tak sanggup lagi menahan sakit didadanya dan juga kebenaran tentang status Tahira yang bukan saudara kandung Saga. Mungkin jika Zara tak memutuskan untuk pergi, maka pasti ia akan mendengar kebenaran ini, karena sebenarnya Tahira adalah saudara kembar yang dimaksud oleh Raka ketika mereka bercerita tempo hari di acara reuni.
Ketika Zara memutuskan untuk pergi dari kehidupan Ran, maka pasti akan ada penyesalan yang ia rasakan di masa mendatang terlebih pernikahan Ran dan Tahira akan segera berakhir.
.
.
__ADS_1
.
bersambung....