My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 90 : Keputusan Kira


__ADS_3

Pagi-pagi sekali sebuah mobil hitam merk ternama berhenti di depan pekarangan rumah sederhana 'Ran Amakusa'. Sosok lelaki tampan dengan tinggi badan 181 cm terlihat keluar dari kendaraan keluaran terbaru itu.


Dengan seulas senyum yang tampak menawan, lelaki itu melangkahkan kakinya ke pintu utama. Jas formal hitam yang melekat di tubuhnya menambah aura ketampanan yang terpancar.


Di pintu utama telah berdiri sosok Ran yang juga mengenakan jas formal. Tersenyum tak kalah ramah dengan lelaki muda yang tengah menghampirinya.


"Selamat pagi Tuan Ran." Sapa lelaki itu.


"Selamat pagi Noah, selamat bekerja di hari pertamamu ini." Balas Ran.


Lelaki yang adalah Noah itu menunduk hormat kedapa Ran. Karena mulai hari ini dia akan menjadi asisten pribadi Ran menggantikan Saga untuk sementara.


Tak lama berselang dua gadis kakak beradik muncul. Wajah mereka terlihat terkejut begitu mendapati sosok Noah di depan pintu utama bersama ayah mereka.


Naura yang memang memiliki sifat dasar baik dan rendah hati pun langsung menyapa lelaki itu.


"Selamat pagi Kak Noah." Sapa Naura sambil menundukkan sedikit kepalanya.


"Selamat pagi Nona Naura." Balas lelaki itu dengan sopan.


Sementara Kira terlihat hanya menundukkan sedikit kepalanya, bersikap tak acuh. Alasan mengapa ia melakukan hal itu karena semalam ia mendengar ibu dan ayahnya yang sedang berada di balkon lantai dua memperbincangkan tentang dirinya yang akan dijodohkan dengan lelaki itu ketika ia akan menemui mereka.


Tentu saja Kira tidak mau. Dia lebih memilih untuk tidak peduli dan berpura-pura tidak tahu, walau pada dasarnya merasa kesal. Hingga terdengar suara Ran memecah memecah pikiran Kira. Gadis itu segera tersadar dari lamunannya.


"Ayo kita berangkat." Ajak Ran.


"Baik Otousan." Jawab Naura dan Kira serentak.


Mereka akhirnya berjalan menuju mobil yang tadi dikendarai oleh Noah. Lelaki tampan yang duduk di balik kemudi itu pun akhirnya menyalakan mesin kendaraannya. Sementara Ran yang duduk di sebelah lelaki itu terlihat mulai memasang sabuk pengamannya.


"Tujuan pertama kita pagi ini adalah Emperor Junior High School." Ucap Noah sebelum melajukan mobilnya.


Di perjalanan Ran mengajak Noah untuk berbincang, mereka tentunya membahas masalah pekerjaan. Dari percakapan keduanya, Kira bisa menyimpulkan bahwa hari-hari berikutnya mereka akan terus bertemu di pagi hari dan berangkat bersama, sebab Noah telah menjadi asisten ayahnya.

__ADS_1


Gadis itu lalu mengedarkan pandangan ke arah jendela, kemudian tatapannya mulai kosong ketika seberkas ingatan yang memutar kejadian tiga hari yang lalu saat Naura mengancam dirinya.


...


"Jika kau ingin selamat dari mahkamah sidang otousan maka mulai sekarang jauhi saja Kak Bara. Lagi pula anak seusiamu belum pantas memiliki kekasih. Jika kau setuju maka aku tidak akan melaporkan mu pada otousan." Ucap Naura.


Kira memberenggut kesal. Bahkan keadaannya belum pulih, baru saja ia keluar dari rumah sakit beberapa jam yang lalu. Dia baru saja pulang ke rumah dan Naura sudah menyajikan suasana kurang menyenangkan. Kira menatap tajam kakaknya.


"Kenapa harus kulakukan hal itu? Agar Kak Naura bisa kembali dekat dengan Kak Bara? Sanggah Kira kesal.


Naura tersenyum meremehkan, gadis itu lalu melipat kedua tangannya ke dada.


"Di usiamu saat ini kau hanya perlu belajar dan belajar. Semua yang kau lakukan bersama Kak Bara adalah hal yang tidak pantas. Kau tentu tidak mau otousan maupun okaasan kecewa bukan? Jika kau sayang pada mereka berdua maka sekali lagi kuingatkan, jauhi kak Bara!" Tegas Naura.


Ucapannya itu bukan untuk membalas prasangka Kira, tapi lebih ke arah menghindar. Naura sedang mempermainkan kata-kata, agar apa yang dituduhkan Kira melenceng walaupun semua itu benar. Naura sengaja mengalihkan atensi Kira.


Alasan Naura melakukan hal itu adalah selain ia tak ingin adiknya terjerumus ke hal-hal negaitf, Naura juga ingin berusaha kembali dekat dengan Bara.


"Pikirkan baik-baik, jika tidak mau keadaanmu dengan Kak Bara memburuk maka putuskan hubungan kalian." Ucap Naura pelan disertai tekanan.


Kira jika berhadapan dengan sang kakak pasti tak akan pernah menang melawannya. Karena Naura punya sesuatu yang tak bisa menjadi hak milik Kira, yaitu otoritas seorang kakak. Yang tentunya tak bisa menjadi hak milik Kira sebagai seorang adik.


...


Kembali gadis itu berkaca-kaca sambil memandangi kendaraan yang berlalu lalang di luar sana. Ia berusaha menata perasaannya agar lebih baik. Satu keputusan telah diambilnya hari ini juga. Dan keputusan itu sudah bulat. Kira memutuskan akan menjauh dari Bara dan fokus pada pendidikannya karena sebentar lagi dia akan segera mengikuti ujian akhir sekolah menengah pertama.


Mobil berhenti tepat di depan gerbang Emperor Junior High School. Noah menatap ke arah cermin depan lalu menyahuti Kira yang terlihat melamun tak sadar jika mereka telah sampai.


"Nona Kira sudah sampai."


Kira menoleh dengan tatapan datar. Gadis itu lalu pamit kepada sang ayah dan kakaknya. Setelah selesai, Kira beranjak keluar dari mobil tersebut. Sambil berjalan masuk ke dalam sekolah Kira terus dihatui pikiran tentang keputusannya menjauh dari Bara.


Mobil kembali melesat meninggalkan gerbang sekolah. Ran yang duduk di sebelah Noah saat itu juga menunjukkan ekspresi menerawang. Lebih tepatnya khawatir dengan putri bungsunya yang telihat kurang bersemangat selama beberapa hari ini.

__ADS_1


"Ada apa dengan Kira, kemana keceriaan gadis itu. Apa dia masih sakit?"


"Mungkin saja." Dengan cepat Naura menyahut.



Menjelang siang Naura keluar dari kelas menuju kantin setelah selesai menerima final susulan mata kuliah filsafat yang waktunya digeser ke hari itu. Mata kuliah filsafat memang selalu meresahkan bagi para mahasiswa. Jangankan teorinya yang tak jelas itu, dosen yang membawakan mata kuliah yang satu itu pun terasa begitu menjengkelkan.


Tak ingin mengingat soal-soal yang meresahkan dirinya di kelas tadi, Naura akhirnya memutuskan untuk melangkah ke kantin. Sebuah nampan telah memenuhi kedua tangannya, ia lalu berjalan menuju tempat duduk yang kosong. Suasana kantin saat itu terbilang sepi karena sebagian besar mahasiswa sudah mengambil cuti. Hanya fakultasnya saja yang keteteran, terutama pada mata kuliah filsafat. Lagi-lagi masalah gadis itu mengerucut pada filsafat.


Naura mendengus kemudian membuka plastik wrap yang menutupi nampannya. Dari arah depan tampak Bara sedang berjalan menghampirinya. Suapan yang tadinya gadis itu lancarkan ke mulutnya seketika terurungkan karena melihat lelaki itu. Naura memutuskan untuk menunggu sampai Bara duduk di hadapannya.


"Bagaimana kabarmu Naura?" Tanya Bara setelah duduk di hadapan gadis itu.


"Baik Kak, ada apa?" .


"Mm, bagaimana keadaan Kira?"


"Dia juga sudah membaik."


"Lalu dimana dia sekarang?"


Naura tersenyum tapi tak berniat menjawab. Gadis itu memutuskan untuk membahas topik lain.


"Ohiya, tadi pagi Kak Noah menjemput kami. Hari ini dia sudah resmi menjadi asisten otousan untuk menggantikan paman Saga."


Bara tersenyum kecut ketika Naura mengalihkan pembicaraan. Lelaki itu seketika sadar jika ia salah menanyakan keberdadaan Kira pada Naura. Akhirnya untuk menghilangkan rasa canggung Bara terpaksa menyahuti ucapan gadis itu.


.


.


.

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2