My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 98 : Ayah


__ADS_3

Ketika itu Saga dan Ran sedang berbincang di ruangan kerja milik Saga. Mereka terliat begitu serius. Pembahasan mereka tak lain adalah mengenai sosok lelaki yang merupakan ayah kandung Bara. Mereka telah menemukan sosok itu setelah sekian lama mencari tahu. Tepat ketika acara resepsi pernikahan Saga selesai di hotel lima hari yang lalu.


Lelaki itu memiliki sebuah tahi lalat hitam di bawah telinga kanannya, persis seperti yang ada di bawah telinga kanan Bara. Dan analisa mereka dikuatkan dengan tes DNA. Saga yang tak sengaja berpapasan dengan lelaki itu dengan sengaja menabrakkan dirinya ketika ia sadar jika lelaki itu adalah orang ia cari. Sehingga waktu itu dia segera memanfaatkan situasi dan akhirnya sehelai rambut milik orang itu berhasil ia dapatkan. Orang itu adalah salah satu petugas hotel, dan Ran menenal stafnya itu.


"Dan kita hanya butuh pengakuan Tahira mengenai hal ini. Jika dia benar berselingkuh maka tutup kasus ini, dan jika ini murni karena pemerkosaan maka Bara harus tahu kebenarannya." Ucap Ran.


Saga menghembuskan napas berat, "Aku tidak yakin akan kuat bertemu dia lagi. Setelah semua kebenaran ini, aku bahkan tak akan percaya jika dia berkata jika ia diperkosa. Karena setahuku, dulu lelaki itu memang akrab dengannya selain karena kami berasal dari desa yang sama, kami juga tetangga di apartemen."


"Bagaimana jika itu benar? Siapa yang tahu? Bahkan kau tak pernah benar-benar menanyakan perasaanya teradapmu kan?"


Saga termenung. Semua kebenaran akan segera terungkap namun ada hal yang paling ia khawatirkan. Jangan sampai semua yang ia peroleh disebabkan karena kesalahannya sendiri. Dia memang tak pernah benar-benar mau mendengar isi hati Tahira, mungkin itu sebabnya Tahira tak menceritakan apapun padanya ketika ia bertanya Bara anak siapa.


"Menurutmu jika Bara mengetahui semua ini, apakah dia akan menerima?" Tanya Saga.


"Entahlah, aku tidak begitu mengerti tentang sifatnya." Jawab Ran dengan tatapan kosong ke arah sebuah bingkai foto di atas meja Saga.


Di luar ruang kerja yang pintunya sedikit terbuka itu, Bara telah berdiri dengan tatapan mata datar. Hatinya perlahan mendingin setelah mendengar semua kebenaran itu. Padahal ia hendak menemui Saga untuk menyampaikan jawaban atas tawaran lelaki itu dua hari yang lalu.


'Ayah maaf, sepertinya aku tidak akan pernah menjadi staf divisimu dan juga tidak akan pernah menjadi anakmu yang sebenarnya'


Bara melangkah dengan segenap rasa sakit hati yang tersekam dalam dadanya. Perlahan langkahnya mulai menapaki pintu utama rumah mewah itu kemudian ia berbalik sejenak untuk mengenang sisa-sisa memori kebahagiaan dalam rumah itu yang sempat ia rasakan.


'Bara, anakku.'


Ucapan Saga terdengar memutari kepalanya. Ucapan yang paling indah yang pernah ia dengar selama hidupnya. Bahkan lelaki itu berharap tidak akan pernah tahu siapa ayah kandungnya agar Saga tetap menjadi ayahnya. Tapi sangat disayangkan, hari ini hal itu terungkap.


Sesakit-sakitnya berpisah dari Kira, lebih sakit lagi kabar kebenaran mengenai ayah kandungnya. Bara tak peduli apakah ibunya dengan suka rela melakukan hubungan terlarang itu atau memang ia diperkosa, yang jelas hal ini Bara tidak ingin mengetahuinya.

__ADS_1


Lelaki itu akhirnya berlari meninggalkan rumah mewah itu tanpa kata. Hancur sudah semua rencana yang telah ia tata dengan baik untuk melupakan statusnya yang hanya anak angkat dan hidup sebagai putra Saga dengan bahagia.


Nyatanya hari ini adalah hari terburuk sepanjang ia hidup bahkan luka yang ia rasakan ketika kembalinya sang ibu di hadapan ia dan Saga tak sebanding dengan luka yang ia rasakan hari ini.


Dia tahu siapa lelaki yang dimaksud oleh Saga dan Ran tadi. Lelaki itu yang menolongnya ketika hampir tertabrak limosin yang melintas di depan hotel Rayla saat malam resepsi pernikahan Saga. Dia melihat dengan jelas wajah itu. Bahkan tanda lahir di bawah telinganya, Bara melihat semuanya. Sebelum ia tahu siapa ayah kandungnya ia telah bertemu dalam situasi genting saat itu.


Tapi tetap saja. Bara tak kuasa menerima hal itu. Dia tahu Saga akan memulangkan ia kepada ayah kandungnya, dan hal itu tidak diinginkan olehnya. Bara tetap menginginkan Saga sebagai ayahnya, hanya Saga satu-satunya. Karena selama ia hidup, sosok ayah baginya hanyalah Saga.


'Ayaaaaahhh.' Terikanya frustasi.


Ayah yang ia maksudkan adalah Saga. Ayah yang selalu kuat menerima pahitnya kehidupan akibat pengkhianatan sang ibu. Ayah yang selalu membuat hatinya hangat ketika bersama. Ayah yang selalu memberinya rumah untuk berteduh dari kerasnya badai. Ayah yang selalu ia harapkan menjadi ayah kandungnya.


Bara berjalan dengan rasa putus asa yang sangat besar. Entah sudah sejauh apa ia melangkah. Lelaki itu tak peduli. Bahkan ketika hujan turun. Setetes, dua tetes, tiga tetes hingga ribuan tetes telah


membasahi bumi.


Saat lelaki itu kembali berlari untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya, sebuah taft yang melaju kencang dari perempatan menghantam tubuhnya. Bara terlempar jauh ketika taft itu menabraknya. Di tengah hujan deras sore itu Bara terbaring pilu di aspal dengan linangan darah segar yang keluar dari kepalanya dan menyatu dengan air hujan.


Ayah Saga, aku menyanyangimu.


Kira ku tercinta, maafkan aku. Janjiku tak akan pernah kutepati.


Pandangan Bara telah nanar akibat kesadaran yang mulai lenyap. Matanya yang basah memandang ke arah langit. Awan kelabu, air hujan, semua terasa suram. Bahkan ujung kehidupannya pun sepahit itu. Luka yang tersekam dalam hatinya menjadi rasa terakhir yang memyelimuti hembusan napasnya. Bara, telah menyerah pada hidup.


Seorang lelaki paruh baya terlihat keluar dari taft tersebut. Lelaki itu menatap cemas ke arah Bara yang ia tabrak barusan. Perlahan ia memeriksa keadaan lelaki itu. Darah yang keluar begitu banyak dari kepala Bara membuatnya khawatir. Lelaki itu menoleh ke segala arah hendak mencari bantuan.


Hujan deras saat itu tak memungkinkan seseorang untuk lewat di jalan sepi seperti ini. Akhirnya lelaki itu mengangkut tubuh Bara dengan segenap kekuatannya.

__ADS_1


Ketika mengangkat tubuh Bara dengan susah payah lelaki itu tampak terlonjak. Tulang-tulangnya seolah remuk hingga ia hampir saja menjatuhkan tubuh Bara dari gendongannya.


"Ya ampun, Tuhan tolong jangan mempermainkanku. Dia.. dia Bara, anakku dan Tahira."



Praanngg


Kira menjatuhkan nampan berisi makan siang yang ia ambil dari dapur asrama. Nampan itu berisi piring keramik dan gelas alumunium. Piring yang berisi makan siangnya itu pecah dan tercecer di lantai.


Kira memegangi dadanya seolah firasat buruk sedang menghantamnya. Beberapa pasang mata telah tertuju padanya. Seorang teman sekamarnya menghampiri untuk mengecek keadaannya.


"Kira, apa kau baik-baik saja?"


Gadis itu berusaha menetralkan perasaannya, "Aku, tidak apa-apa." Jawabnya sambil memegangi dada.


Aneh. Selama beberapa hari tinggal di asrama baru hari ini ia merasakan firasat buruk. Kira berpikir, apa gerangan yang telah terjadi pada keluarganya. Namun sekeras apapun ia berpikir takan pernah menemukan jawawaban. Karena tak ada akses menelpon dan juga tak ada perizinan pulang. Akhirnya Kira hanya bisa menghembuskan napas berat.


'Apapun yang terjadi semoga bukanlah hal buruk.'


.


.


.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2