
Berita kecelakaan Bara telah sampai pada telinga Saga dan Ran. Segera mereka bertolak ke rumah sakit setelah sebelumnya mereka akan kembali ke kantor utama. Saga telah menghubungi Issaura dan Noah agar segera ke rumah sakit. Sementara Ran juga sedang mengabari Zara dan Naura.
Dengan hati cemas Saga terus saja menenangkan diri di tengah lajunya kendaraan yang dikemudi Ran. Pikirannya hanya tertuju pada anak lelaki yang selama ini ia anggap sebagai anak kandungnua sendiri itu. Walau bagaimana pun, Bara adalah sosok yang menjadi alasan baginya untuk tidak putus asa dalam menggadapi hidup kelamnya di masa lalu.
Ketika mereka sampai di parkiran rumah sakit segera keduanya melesat keluar dari mobil menuju emergency. Saga mendekati meja resepsionis kemudian menanyakan letak ruangan Bara.
"Atas nama Maesabara, kecelakaan mobil sore tadi." Ucap Saga setengah mati.
Napas yang tersengal membuat ia harus terengah-engah. Tak lama berselang sesesorang di balik meja resepsionis memberitahu letak ruangan pasien bernama Maesabara. Setelah itu Saga segera mengajak Ran untuk melangkah ke ruang ICU.
Sesampainya di sana mereka bertemu dengan sosok lelaki yang merupakan ayah kandung Bara. Sontak mata Saga membulat. Ia langsung berjalan menghampiri lelaki itu yang telah berubah posisi dari duduk ke posisi berdiri.
"Tuan Runda, benar?" Tanya Saga pertama kali.
Lelaki itu menunduk sejenak, "Benar." Jawabnya pelan. "Silahkan duduk dulu Tuan, sepertinya kita perlu berbicara."
Akhirnya Saga dan lelaki bernama Runda itu duduk di kusri tunggu. Sementara Ran berdiri di tempat yang lumayam jauh untuk memberi mereka ruang.
"Mungkin anda belum tahu jika saya adalah ayah kandung Bara." Ungkap Runda dengan nada getir.
"Saya sudah mengetahui hal itu." Balas Saga cepat.
"Ada yang perlu anda ketahui di balik kenyataan ini. Mungkin agak sedikit menyakitkan tapi inilah kebenarannya." Sejenak Runda menjeda ucapannya demi memastikan jika Saga tak keberatan mendengar penjelasannya.
"Silahkan lanjutkan," ucap Saga dingin.
Runda pun akhirnya melanjutkan, "Hari itu ketika aku baru saja mendapat pekerjaan di Rayla Hotel aku pulang dalam keadaan mabuk. Lalu aku melihat Tahira keluar dari unit kalian. Karena pengaruh alkohol yang lumayan parah tanpa berpikir aku menariknya masuk ke dalam unit kalian lalu memerkosanya." Runda tampak menunduk, mungkin ia menyesali perbuatannya.
"Lalu?" Sahut Saga berusaha tenang.
"Beberapa pekan kemudian aku mendengar kabar kehamilannya. Saat itu aku berpikir jika semua itu adalah kesalahanku. Ketika kau berangkat kerja di pagi hari, aku menemuinya tapi dia tak ingin berbicara padaku. Aku memaksa agar kami bisa berbicara, dan akhirnya hanya ada satu kata yang ia lontarkan dan itu yang terakhir sebelum kalian menikah dan pindah dari unit itu, dia berkata 'Lupakan semua kejadian itu'. Setelah kalian menikah aku terus mencari tahu. Hingga aku bisa bertemu dengannya dan mengajak ia berbincang di sebuah hotel. Aku terus mengajaknya berbincang mencari jalan keluar dari masalah ini. Tapi Tahira berkata dia tidak ingin menguak kebenaran ini dan hanya akan menyimpanya selamanya. Karena dia telah bahagia bersamamu."
Saga menalan salivanya yang terasa pahit. Ternyata memang benar, Tahira diperkosa. Adalah kesalahan terbesar yang pernah ia buat ketika ia tak pernah mau berbicara dari hati ke hati bersama Tahira. Ternyata kebenarannya sangat pilu. Bahkan Saga tak bisa membayangkan bagaimana perasaan wanita itu ketika mereka bercerai. Tapi mengapa Tahira tidak ingin menceritakannya?
Jika tahu dari awal Tahira tidak berselingkuh maka Saga tak akan pernah mau menceraikannya. Seketika sudut hatinya kembali terluka bahkan luka itu semakin besar mengaga seperti lubang buaya. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
__ADS_1
Dalam berkecamuknya pikiran lelaki 45 tahun itu, Issaura dan Noah menghampiri dengan raut wajah cemas.
"Ayah, bagaiaman keadaan Bara?" Tanya Noah. Saga menggeleng.
Runda berdiri dari duduknya sembari menundukkan kepala ke arah Issaura dan Noah lalu pamit undur diri. Sementara Saga masih tertunduk pilu memikirkan semua kebenaran yang tidak bisa ia terima begitu saja.
Lima belas menit berlalu, Zara dan Naura pun telah berada di sana. Mereka semua duduk menunggu dokter keluar dari ruang ICU. Suasana begitu menegangkan. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Di detik itu, Saga yang sedang menahan isak tangisnya mengalihkan padangan ke arah koridor sebelah. Di sana seorang wanita terlihat berjalan ke arah mereka. Ketika sadar jika wanita itu adalah Tahira, seketika Saga membuang muka sambil mengelus dadanya yang semakin sesak tak karuan.
Wanita itu datang menghampirinya seraya melemparkan tatapan tak berdaya dan rasa sesal yang begitu besar. Tahira menangkupkan kedua tangannya di hadapan lelaki itu. Sontak perhatian Ran, Zara, Naura, Issaura, dan Noah tertuju ke arah mereka berdua.
"Jika Kak Saga telah mendengar semua kebenarannya, tolong maafkan aku kak." Ucap Tahira.
Saga masih saja membuang muka sebab tak kuasa menatap wajah wnaita itu. Rasa sesak yang ia rasakan disebabkan oleh kebodohan Tahira.
"Meminta maaf tak bisa mengembalikan masa lalu yang terlanjut suram." Gumam Saga yang masih bisa didengar oleh Tahira.
Tahira meneteskan air mata. Sekali lagi wanita itu melontarkan permintaan maaf. Namun Saga tetap tak bisa menatapnya.
"Aku melakukan semua itu hanya untuk menjaga perasaanmu." Ucap Tahira.
"Karena aku merasa tidak pantas berada di sisimu. Aku telah dinodai orang lain, bagaimana bisa kau mencintai orang sepertiku? Itulah sebabnya aku menyerah dan pergi dari hidupmu."
Kini Saga beralih menatap Tahira dengan sekuat tenaganya. "Jika kau bisa berterus terang, aku tidak akan keberatan. Masalahnya kau tak pernah sama sekali mengutarakan isi hatimu. Kau selalu berprasangka dengan pikiran berlebihanmu. Apa kau kira karena kau telah dinodai orang lain, aku akan membuangmu?" Saga Menjeda.
"Tidak Tahira, tidaaak! Aku begitu mencintaimu bahkan aku rela mengurus Bara padahal dia bukan darah dagingku. Aahkkhh, aku hampir merasa gila karena semua ini." Saga menjambak rambutnya.
Issaura terlihat khawatir dengan suaminya itu. Wanita itu bergerak hendak menenangkan Saga namun Noah mencegahnya.
"No mom! Biarkan ayah menyelesaikan masa lalunya." Ucap Noah menggeleng. Akhirnya Issaura urung.
Saga tampak menangis menghadap ke sebuah tembok. Punggungnya terguncang. Suara tatikan napasnya terdengar jelas. Tahira pun sama, wanita itu menyekam penyesalan dalam hatinya. Ia merasa sangat tidak berguna.
Di tengah tangis pilu mereka, ruang ICU terbuka. Sebuah brankar terlihat didorong keluar oleh beberapa perawat. Kain punti dengan bercak darah di kepalanya terlihat menutupi seseorang. Pandangan Saga dan Tahira terpaku ke arah benda itu. Brankar bergerak ke arah keduanya. Masih terpaku, seorang dokter kemudian menghampiri.
__ADS_1
"Keluarga pasien?" Tanya dokter. Keduanya mengangguk.
"Pasien telah menghembuskan napas terakhirnya sekitar 15 menit yang lalu. Waktu kematian pasien atas nama Maesabara, 18.33." Lanjut dokter.
Entah perasaan apa lagi yang hinggap di dada Saga. Lelaki itu seketika hilang arah. Ia melangkah mundur lalu terduduk di kusri dengan tatapan kosong ke arah brankar. "Bara."
Sontak semua yang ada di tempat itu meneteskan air mata. Tahira pun akhirnya terisak ketika wanita itu setengah mati meraba keadaan yang seperti dunia maya. Anak semata wayangnya, yang menjadi alasan ia dan Saga bercerai telah pergi meninggalkannya.
'Lalu untuk apa aku tetap bertahan hidup.' Tahira ambruk ke lantai dengan tatapan kosong layaknya Saga.
Tak tinggal diam, Zara langsung menghampiri seraya menopang tubuh Tahira dengan kedua tangannya.
"Kuatkan dirimu, Ra." Ucap Zara sambil beralih memeluk wanita itu.
Tahira menangis dalam pelukan Zara. "Aaaaa, maafkan aku Zan. Maafkan aku karena telah melakukan hal ini kepada kalian."
Dokter dan brankar Bara yang didorong oleh perawat telah berlalu menuju kamar mayat. Meninggalkan isak pilu beberapa orang di koridor ruang ICU.
Pada akhirnya sosok yang paling tersiksa dalam perahara rumah tangga Saga dan Tahira menjemput takdir kematiannya ketika baru saja mengetahui siapa ayah kandungnya yang sebenarnya. Bara pergi dalam keadaan membenci ayah kandungnya sendiri. Dan menyisakan luka bagi Saga, yang merupakan ayah angkatnya. Penyesalan juga menghantam perasaan Tahira. Kesalahan terbesarnya adalah tak memberitahu mereka tentang kejadian yang sebenarnya.
....
Di tempat lain, Runda duduk seorang diri. Menatap ke arah langit malam yang dihiasi awan pekat. Seolah menggambarkan situasi mereka saat ini, semesta juga turut berduka.
Kematian Bara telah didengarnya ketika Tahira dan Saga sedang berdebat. Sebagai ayah yang tak bertanggung jawab, Runda merasa tak berhak ada di sisi mayat anaknya.
Lelaki itu kemudian berdiri kemudian melangkah ke tengah jalan raya yang sedang ramai pengendara. Beberapa langkah menuju tengah jalan, Runda berhenti ketika sebuah truk melaju kencang ke arahnya. Detik yang tak bisa dicegah, Runda menabrakkan dirinya hingga terpental jauh lalu terjatuh di sebuah trotoar.
Lelaki itu menatap awan hitam yang bergumul di atas sana. Lalu memaksa seberkas senyum terukir di bibirnya kemudian matanya beralih terpejam.
'Aku akan menumuimu di dunia yang berbeda, Bara.'
.
.
__ADS_1
.
bersambung....