My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 57 : Back to Me, Zara


__ADS_3

Setelah sampai di rumah sakit, ketiganya langsung melangkah menuju ruang rawat Zara. Di dalam sana, tampak Ran sedang duduk di samping tempat tidur Zara sembari memegang tangan gadis itu.


Ketika memasuki ruangan tersebut hati Raka terasa begitu perih, ia menghentikan langkah kakinya. Sementara Saga dan Tahira melangkah lebih dekat ke arah Ran meninggalkan dirinya.


"Bagaimana? Apa dia baik?" tanya Saga degan nada khawatir.


"Dia hanya kelelahan. Selama sebulan ini dia bekerja di kafe yang kita datangi dua malam yang lalu." jelas Ran.


"Apa? Dia bekerja?" Tahira mencoba untuk memastikan ucapan Ran.


"Iya, dia juga ternyata tinggal di gang kecil yang berada di dekat kampusnya. Dan aku menemukannya disana." jawab Ran atas pertanyaan Tahira tadi.


"Bagaimana semua ini bisa terjadi? Lalu, apa ini? Mengapa rambutnya pendek?" Tahira mendekat seraya memegang sehelai rambut Zara.


Ran menghela nafas pelan. Lalu kembali memandangi wajah Zara.


"Aku tidak tahu alasan dia mengubah gayanya. Sejak semalam dia juga selalu menghindariku, dia bilang dia membenciku." ucap Ran lesu.


Mendengar ucapan Ran yang seperti hampir putus asa, membuat Saga merasa kasihan. Jika saja pernikahan mereka tak terjadi maka semuanya tak akan seperti ini.


"Dia berkata seperti itu karena belum tahu jika kalian telah bercerai." ucap Saga yang berusaha menenangkan sepupunya itu.


Hening sejenak lalu akhirnya Tahira baru mengingat jika Raka ikut bersama mereka. Tahira menatap Saga memberi kode untuk menyuruh Raka masuk. Saga mengangguk.


"He cecunguk! Masuk! Apa kau ingin menjadi penjaga pintu kamar Zara?" ejek Saga ketika memanggil Raka di depan pintu.


"Ti.. Tidak." ucap Raka dengan nada lesu.


Saga memperhatikan raut wajah calon saudara iparnya itu. 'Ada apa dengannya?' batin Saga. Kemudian ia menatap ke arah tempat tidur, Ran sedang menciumi punggung tangan Zara dengan sayang. Seketika Saga paham kelesuan cecunguk di hadapannya ini.


"Sudahlah, ini waktunya kau Move on. Kau tak akan pernah bisa mendapatkan Zara selama Ran masih hidup, hahaha. Masuklah!"


Ucapan Saga itu sebenarnya sangat pedas menurut Raka, tapi kenyataannya memang seperti itu. Sambil berjalan masuk, Raka memikirkan nasibnya yang tak bisa mendapatkan Zara. Ada sedikit rasa penyesalan pada dirinya terhadap kelakuan buruk yang ia lakukan di masa lalu, seandainya ia berperilaku baik bukan tidak mungkin jika ia mendapatkan Zara saat ini bukan? Raka menghela nafas.


"Kau.. Kenapa ada disini?" Ran menatap Raka dengan tatapan tercengang.


Mendapat tatapan seperti itu membuat Raka gugup setengah mati, ia tahu Ran tidak menyukai dirinya karena ia telah melecehkan Zara di masa SMA dulu.

__ADS_1


"Aaa.. Aku.. Aku.." belum sempat Raka melanjutkan ucapannya Tahira menyambar.


"Kak Ran, dia saudara ku. Lagipula dia teman SMA Zara bukan? Apa masalahnya dia berada disini?" ketus Tahira.


Ran tersadar dan megalihkan pandangannya dari Raka, sejenak ia berpikir. Benar kata Tahira, apa salahnya Raka berada disini? Ran lalu berdehem untuk menghilangkan suasana tegang yang terjadi barusan.


"Duduklah." ucap Ran sembari mengarahkan pandangannya ke arah sofa ruangan tersebut.


Raka bernafas lega, dalam hatinya begitu memuji Tahira yang telah menyelamatkannya dari tatapan menakutkan Ran. Raka mengangguki ucapan lelaki bermata sipit tersebut. Lalu kemudian berjalan menuju sofa dan duduk disana. Tahira yang sedari tadi berdiri di sebelah tempat tidur Zara seketika melangkahkan kakinya menuju sofa dan duduk bersama Raka.


"Kau kurang gentle, baru ditatap begitu saja sudah tidak berkutik." sindir Tahira pada Raka.


"Jika saja aku tak punya kesalahan di masa lalu, pasti tidak akan seperti ini." balas Raka.


"Huh, sudahlah."


...*****...


Pukul 12.30. Zara membuka matanya perlahan dan menatap langit-langit ruangan. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih, lalu ia mengedarkan pandangannya ke sebelah kanan dan melihat ada Ran yang sedang tertidur dengan posisi duduk di tepi tempat tidur sambil memegangi tangannya. Sedetik Zara tersenyum lalu perlahan kesadarannya mulai sempurna.


Lalu akhirnya ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Tepat di arah sofa pandangannya terhenti. Ada sesuatu yang ganjal menurutnya. Kenapa bisa ada Raka diantara Saga dan Tahira? Mereka sedang tertidur pulas.


Tak lama kemudian Ran terbangun karena merasa pegal di bagian lehernya. Matanya mengerjap beberapa saat sebelum kemudian teralihkan ke arah Zara yang sudah membuka matanya. Ran tersenyum hangat namun tak di tanggapi oleh Zara.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Ran sembari memegang tangan Zara.


Zara tak menjawab, ia masih terbawa suasana saat kejadian sebelum dirinya pingsan. Ditambah lagi kehadiran Tahira dan Saga yang seperti membuatnya merasakan luka akibat kejadian sebulan lalu. Tapi yang membuatnya heran, mengapa Ran lebih memilih tertidur di sebelahnya? Harusnya lelaki itu duduk bersama Tahira di sofa.


Ran paham gadis itu masih marah padanya terlebih ketika Zara berkata bahwa dia membenci dirinya, sakit memang. Tapi yang membuat Ran tetap bertahan adalah ucapan Saga, bahwa Zara belum tahu bahwa mereka telah bercerai. Dan sekarang, sebelum semua kesalah pahaman Zara semakin jauh Ran akan menjelaskan semuanya.


Ran memindahkan posisi duduknya menjadi ke pinggir tempat tidur. Lelaki itu menatap wajah Zara. Sementara gadis itu mulai merasa tegang dan jantungnya hampir copot. Terpaksa ia harus bersuara untuk mengusir Ran dari hadapannya.


"Turunlah, istrimu ada.." ucapan Zara terhenti ketika jari telunjuk Ran menahan bibirnya.


"Ssttt.. Jangan berbicara. Aku tak mengizinkan mu. Sekarang hanya aku yang boleh bicara."


Zara tercengang mendengar kalimat itu. Jika Ran sudah berkata begitu maka ia harus diam. Akhirnya Zara pasrah, apapun yang Ran katakan ia akan berusaha menerima.

__ADS_1


"Aku sudah bercerai dengan Tahira." Ran tersenyum sebagai pesan tersirat bahwa Zara harus kembali padanya.


Zara tercengang, sungguh perkataan Ran membuat hatinya sesak. Sejak kapan mereka bercerai, dan apa ini artinya ia harus kembali pada Ran?


Tak menjawab, Zara menunggu ucapan selanjutnya yang akan di ketakan oleh Ran.


"Di hari kau pergi meninggalkan rumah bibi, keluarga Raka datang. Ternyata anak itu adalah saudara kembar Tahira. Jadi Tahira bukanlah saudari kandung Saga, dan hari itu juga aku memutuskan untuk mengurus perceraianku. Karena aku berpikir akan mengembalikan Tahira pada Saga dan juga kita bisa kembali bersama. Tapi ternyata kau pergi meninggalkanku. Jujur, aku sangat terluka bahkan hampir putus asa mencarimu. Jika bukan karena ucapan otoosan yang menyuruhku untuk mencarimu dan menjagamu, maka aku tak tahu lagi akan mendapat kekuatan dari mana. Otoosan dan Okasaan mengalami kecelakaan pesawat satu bulan yang lalu. Aku merasa begitu rapuh. Jika seandainya kau ada ketika itu, maka mungkin dengan cepat kesedihanku akan hilang. Tapi sayangnya, aku telah kehilangan mu sebelum mereka. Hiks.. Hiks.." Ran sampai terisak mengenang kejadian hari itu.


Perasaan Zara terguncang mendengar semua cerita itu, ada rasa bersalah yang tiba-tiba menghantamnya. Ternyata Ran bukan tidak mencari dirinya tetapi lelaki itu mengumpulkan kembali kekuatannya yang hilang akibat kepergian dirinya dan orang tuanya. Zara menyesali perbuatannya itu, dengan perlahan ia membangkitkan tubuhnya agar bisa memeluk Ran yang telah meneteskan air mata di hadapannya.


"Aku begitu terbawa perasaan sedih ketika itu sampai otakku tak lagi berpikir jernih dan akhirnya aku pergi meninggalkanmu, tapi sekarang aku menyesal." Zara kemudian meraih pundak lelaki itu kemudian memeluknya perlahan.


Ran menautkan telapak tangannya melingkari pinggang Zara dan menyandarkan dagunya pada pundak gadis itu sembari terisak pilu.


"Maafkan aku Kak Ran." ucap Zara disertai isakan.


"Kembalilah Zara, aku masih mencintaimu. Aku menginginkanmu menjadi orang yang paling penting di masa depan. Tolong kembalilah." pinta Ran.


Mereka saling memeluk satu sama lain selama beberapa saat. Suasana seketika menjadi syahdu akibat suara isakan mereka. Akhirnya setelah peristiwa tiba-tiba yang merenggut kebahagiaan mereka sebulan lalu, mereka bisa kembali memperbaiki perasaan.


"Aku juga masih mencintai kakak." ucap Zara lirih setelah mengumpulkan kekuatan yang sempat hilang akibat tangisnya.


Tiga makhluk yang duduk di sofa terbangun mendengar suara tangisan dari arah tempat tidur. Mata mereka terbelalak setelah melihat dengan jelas adegan yang dilakukan oleh Zara dan Ran. Saga menoleh ke arah Tahira dan Raka lalu memberi isyarat agar mengembalikan posisi tubuh mereka semula. Ia tak mau Ran dengan acara peluk-pelukannya terganggu oleh keberadaan mereka. Raka dan Tahira mengangguk lalu kembali menutup mata, pura-pura tidur.


'Kenapa hatiku sakit sekali?' ucap Raka dalam hati sembari memegang dadanya. Melihat Zara dipeluk oleh Ran seperti hatinya diremas-remas.


Siang berlalu dan tibalah sore hari yang begitu sejuk. Di ruang rawat yang dihuni oleh Zara kini terdengar begitu bising. Pasalnya Saga dan Raka terus saja beradu mulut, saling menyudutkan. Dan hal itu mereka lakukan demi membuat Ran dan Zara terhibur, dan usaha mereka sukses. Zara sedari tadi menampilkan wajah bahgia setelah mengetahui semua yang telah terjadi setelah ia pergi. Ditambah aksi kocak Saga dan Raka.


"Kalian berdua lucu sekali, terima kasih telah membuatku tertawa, hahaha." pekik Zara.


"Apapun akan kulakukan demi kebahagiaanmu Little sister." ucap Saga dengan gaya khasnya yang lucu.


Lagi-lagi Zara dibuat terbahak-bahak. Namun Tahira mencubit perut Saga.


"Ucapan itu harusnya di lontarkan oleh Kak Ran, bukan dirimu." ucap Tahira.


"Hahahahahaha...." kekeh Saga. Tanggapan Saga sontak membuat mereka semua ikut terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2