My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 48 : Permintaan Terakhir


__ADS_3

Bibi Yumna memeluk tubuh mungil Zara dengan erat akibat rasa rindu yang telah membuncah. Terakhir wanita paruh baya itu bertemu dengan keponakannya ketika berusia 14 tahun. Zara balas memeluk sang Bibi dengan erat, saudari ayahnya itu mengingatkan Zara pada ibunya yang telah tiada. Seketika air matanya menetes mengenang sang ibu.


"Bibi, aku rindu ibu." ucap Zara lirih.


"Iya nak, kita semua rindu. Kuatkan dirimu." balas Bibi Yumna sambil mengelus rambut Zara dengan lembut.


Ran, Saga dan Tahira yang berdiri di sekitar mereka ikut merasa sedih. Karena ketiganya belum pernah merasakan seperti yang Zara rasakan.


Setelah beberapa saat kemudian Zara di antar oleh Tahira menuju lantai dua untuk beristirahat di kamar yang telah disediakan untuk Zara. Mereka berjalan sembari berbicara ringan.


"Bagaimana perjalananmu?" tanya Tahira.


"Lancar. Kau sendiri, sejak kapan berada disini?"


"Sejak satu pekan yang lalu. Kau tahu, aku menunda jadwal masuk kuliah karena ibu tiba-tiba menyuruh kami pulang." curhat Tahira.


"Sabar saja, kau pasti akan kuliah." Zara menepuk pelan bahu gadis itu.


Mereka pun sampai di depan pintu berwarna putih yang merupakan kamar sementara milik Zara.


"Kalau begitu istirahatlah, aku akan menyuruh Kak Saga membawakan mu makanan dan susu. Kau pasti sangat lelah kan?" ucap Tahira.


Zara mengangguk pelan, mendengar Tahira berkata susu membuat Zara teringat bahwa dirinya sudah lama tidak meminum minuman tersebut.


"Baiklah tapi jika Kak Saga tidak keberatan. Kalau dia sedang sibuk biarkan aku saja yang pergi sendiri ke dapur setelah beristirahat."


"Ok. Sampai jumpa." Tahira melambaikan tangannya lalu beranjak.


Zara membaringkan tubuhnya di ranjang, lalu menutup mata. Rasa lelahnya belum menghilang dan sepertinya dia butuh istirahat hingga sore hari.


"Sebenarnya aku ingin sekali berkeliaran, tapi tak ada pilihan lain, aku harus beristirahat. Huufft." gumamnya dalam hati.


Tak lama berselang terdengar suara ketukan pintu, dibenaknya yang mengetuk adalah Saga. Gadis itu berteriak menyuruh sang pengetuk untuk masuk.


Pintu terbuka dan membuat Zara terkejut lalu bengkit dari tidurnya. Bukan Saga yang mengetuk pintu melainkan Ran.


"Makanlah dulu lalu istirahat." ucap Ran setelah menyimpan nampan yang dibawanya.


"Kak kenapa kau yang membawa makanan untukku?" tanya Zara heran.


"Kenapa? Apa kau tidak menginginkanku menemuimu lagi?" jawab Ran begitu duduk di tepi ranjang.


"Ah tidak bukan itu maksudku." Zara menggeleng.

__ADS_1


"Lalu?"


"Tadi Tahira bilang Kak Saga yang akan membawa makanan untukku. Ternyata bukan, itulah sebabnya aku bertanya." jelas Zara.


"Oh seperti itu." ucap Ran diikuti anggukan pelan.


"Kapan kita akan ke makam ibu?" tanya Zara beberapa saat kemudian.


"Besok."


Zara menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang sembari memegang segelas susu hangat dengan Ran yang duduk di hadapannya.


"Istirahatlah, sore ini semua keluarga akan berkumpul. Jadi bersiaplah." ucap Ran.


"Tapi aku tidak yakin jika sekarang aku tidur dan akan bangun sebelum sore, karena masalahnya aku terlalu lelah."


"Aku akan datang untuk membangunkanmu. Tenang saja."


Setelah selesai makan dan meminum susunya, Zara kembali berbaring. Kali ini matanya sudah benar-benar lelah. Ketika perjalanan dia tidak bisa tidur dengan benar karena selalu merasa was-was. Menumpang di mobil orang lain sepertinya adalah hal yang buruk untuk dilakukan kedua kali. Akhirnya Zara terlelap.


...*****...


Di taman belakang rumah bibi Yumna ada ayunan besi yang bertengger di bawah pohon mangga yang rindang. Tempat itu selalu menjadi pijakan yang paling nyaman untuk Saga dan Tahira menikmati kebersamaan mereka, hanya berdua. Ketika yang lain sedang beristirahat, mereka memanfaatkan waktu untuk bisa bersama sebagai pengganti dari istirahat. Tahira berada dalam pelukan Saga siang itu, dan mereka duduk di ayunan dengan nyaman.


"Pernah. Dan jika itu terjadi aku akan sangat bersyukur. Tapi sayangnya, kita memang saudara." jawab Saga yang mengandung sedikit kegetiran.


"Kak, kau tahu kan kondisi Ibu sekarang?" Tahira menatap gamang mata Saga.


"Ya aku tahu. Lantas apa yang kau inginkan?"


"Jangan pernah menampakkan hubungan ini ataupun mengakuinya di depan ibu. Cukup kita berempat saja yang tahu. Aku malu pada ibu dan juga takut jika membuat keadaannya semakin parah."


"Tak akan pernah aku mengatakan hal ini pada ibu. Aku juga tahu bagaimana perasaannya."


...*****...


Keesokan harinya, Bibi Yumna, Saga, Tahira, Ran dan Zara pergi ke tempat makam keluarga yang tak jauh dari kediaman bibi Yumna. Zara melangkahkan kakinya menuju ke sebuah makam yang tanahnya terlihat masih baru. Ia berjongkok sambil menatap nisan yang bertulisakan nama ibunya, Tamara Camelia Zulfa. Mengelus nisan sang ibu sembari menangis, Zara pun mengingat kemabali kapan terakhir kali ia bertemu dan berbicara dengan sang Ibu. 5 bulan yang lalu di dermaga.


Ia ingat hari itu ketika ibunya hanya pulang ke rumah beberapa jam, lalu kembali lagi ke kediaman bibi Yumna. Dan tak disangka, itu adalah pertemuan terakhir mereka. Zara menitikkan air mata. Menutup matanya dalam. Menggenggam semua kenangan yang pernah terlukis bersama ibunya semasa hidup.


Ran mendekat lalu mendekap tubuh Zara. Memberikan kahangatan dan rasa tenang agar gadis itu tak larut begitu jauh. Bibi Yumna, Tahira dan Saga berjongkok di depan mereka. Sama seperti Zara, ketiganya juga menatap dengan kesedihan nisan ibu Zara.


'Setelah kepergianmu, aku pun merasa akan segera menyusul, Kak Tamara. Tunggu aku, dan ketika waktunya telah tiba, kita akan bertemu di dunia yang berbeda. Aku juga rindu pada Kakakku, Kak Albar. Kalian pasti merindukanku juga kan?' batin Bibi Yumna.

__ADS_1


Selesai dari acara peringatan 70 hari kepergian Ibu Zara, mereka kembali menuju rumah. Sesampainya di sana, Bibi Yumna memilih untuk masuk ke dalam kamarnya karena merasa tubuhnya seketika lemas.


"Ibu akan beristirahat di kamar." ucap bibi Yumna kepada Saga dan Tahira.


Mereka berempat duduk di sofa ruang tamu. Tak lama berselang terdengar suara benda jatuh yang berasal dari kamar Bibi Yumna. Saga dengan cepat bangkit lalu berlari menuju kamar, tak lama Tahira juga ikut bangkit. Melihat kedua sepupunya begitu panik, Zara juga ikut menyusul mereka. Tak ada piliahan untuk Ran, ia juga beranjak.


Begitu sampai Saga seketika membulatkan matanya di ikuti rasa takut. Ia melihat sang ibu berada di lantai dengan wajah pucat tapi masih dengan wajah tersenyum.


"Kak, tolong bantu ibu untuk berbaring ke tempat tidur." ucap Bibi Yumna yang terdengar tak bertenaga.


"Ibu, jika ingin sesuatu panggil Saga saja. Jangan melakukan sesuatu sendirian. Aku khawatir ibu akan terjatuh lagi." ucap Saga setelah membaringkan sang Ibu di atas ranjang.


Sekarang mereka berempat berada di kamar bibi Yumna. Saga dan Tahira duduk di kedua sisi sang Ibu sembari menggenggam tangannya. Sedangkan Ran dan Zara berdiri di ujung ranjang sembari menatap sedih sang Bibi.


"Ibu ada satu permintaan untuk Rara." ucap bibi Yumna yang langsung menatap Tahira.


"Permintaan apa ibu?" tanya Tahira.


"Ibu mau kau cepat menikah sebelum ibu pergi."


Sontak keempat orang itu membulatkan matanya mendengar ucapan bibi Yumna. Hati Saga seketika bergemuruh.


"Ah, ibu. Jangan berbicara seperti itu. Ibu akan sembuh, iya kan Kak?" Tahira menatap Saga.


"Iya bu, kami akan selalu menjaga ibu." Saga mengangguk.


"Ibu hanya ingin melihat anak gadis ibu bahagia. Menikahlah Rara, ini permintaan terakhir ibu." ucap Bibi Yumna yang sukses membuat hati Saga hancur.


Jika Tahira menikah maka otomatis mereka akan mengakhiri hubungan terlarang mereka dan akan menciptakan lubang pada hati keduanya. Saga belum siap merasakan hal itu, terlebih lagi ia sudah berjanji pada Tahira akan terus berada di sisi gadis itu selamanya.


Tahira berpikir sejenak, menimbang-nimbang ucapan ibunya. Entah kenapa berat rasanya menerima permintaan terakhir sang ibu. Menerima permintaan itu berarti dirinya siap kehilangan Saga. Tapi jika menolak sama saja ia berani membangkang kepada ibunya. Tahira menatap Saga penuh harap, meminta pendapat agar ia tak salah langkah yang akan mengakibatkan kehancuran pada perasaan mereka. Saga pasrah, tak tahu harus berbuat apa.


"Mm, memangnya ibu ingin menikahkan Rara dengan siapa?" tanya Tahira, iseng sebenarnya. Ia hanya ingin mendengar jika ibunya belum mendapatkan calon, jadi masih ada waktu agar ibunya berubah pikiran.


"Ran." ucap Bibi Yumna.


Sontak suasana ruangan berubah menjadi tegang. Baik Ran maupun Zara seketika saling menatap.


"Ibu telah memberitahukan hal ini kepada Kak Akira dan beliau menyetujuinya." sambung bibi Yumna.


Degg,, suara deberan jantung keempat orang itu berdetak, rasa sakit kini menyeruak di hati mereka.


"Apa?" ucap Ran dengan nada terkejut.

__ADS_1


__ADS_2