My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 50 : Kepergian


__ADS_3

Zara Pov


Aku berharap esok hari tak akan datang, kalaupun datang aku berharap ruh ku telah lenyap. Bagiku esok adalah akhir dari segala kebahagiaanku. Tak ada ayah, tak ada ibu dan tak ada lagi Kak Ran. Aku sendiri dengan semua luka yang telah kugenggam di dadaku. Aku merasa begitu rapuh bahkan hatiku terasa selerti telah mati. Tak ada tangis. Aku tak bisa lagi menangis, mataku terlalu lelah untuk meneteskan cairan bening itu. Dan sekarang aku memejamkan mataku dalam-dalam berharap esok dunia kan berakhir. Biarlah.


Lebih baik duniaku berakhir daripada harus melihat Kak Ran menikahi orang lain. Oh atau sekarang aku mengerti, kami hadir untuk menghentikan dosa Saga dan Tahira. Mereka berdua menciptakan dosa dengan menjalin cinta sedarah lalu aku dan Kak Ran yang harus menanggung dan memisahkan mereka. Lalu kenapa harus kami? Aku berharap esok hari jika ruh ku tak juga hilang maka akan kupastikan takan ada lagi senyum yang akan kutebar untuk siapapun setelah akad mereka selesai.


Dan aku bertekad untuk menghilang dari hidup Kak Ran. Untuk apa aku berada diantara sepasang suami istri? Dan Saga, saat ini dialah orang yang paling aku benci. Karena kebodohannya, Aku dan Kak Ran harus menanggung semua ini. Semua sakit yang kurasakan berasal darinya. Aku benci padanya.


Aku terus memikirkan bagaimana hidupku selanjutnya. Dan keputusanku sudah final, aku akan meninggalkan Kak Ran. Pergi jauh dari kehidupannya agar aku tak menyaksikan bagaimana mereka akan memadu kasih dihadapanku. Sungguh ini rasanya sakit sekali, sesak. Aku menahan rasa sesak ini selama berjam-jam hingga aku mendengar suara ketukan pintu.


Tidak. Aku tidak sanggup membuka mataku. Aku tahu hari telah berganti. Dan sekali lagi ketukan pintu menggema, sungguh hatiku merasa lelah sebelum menyaksikan puncak kesedihanku nanti. Entah aku bisa menghadapinya atau tidak. Aku tidak yakin. Harus kah aku bangkit?


"Zara, keluarlah. Paman Akira dan Bibi Megumi telah tiba."


Entah itu suara siapa, aku tak peduli. Langsung saja aku bangkit dari kasur lalu menuju kamar mandi tanpa menjawab panggilan dari luar kamarku. Sekarang aku sudah berubah menjadi orang yang cuek dan juga dingin, aku tak peduli mereka akan bilang apa.


Setelah 30 menit berlalu aku keluar dari kamar menuju ruang keluarga di lantai satu. Benar, disana sudah ada Paman Akira dan Bibi Megumi, ayah dan Ibu Kak Ran. Bibi Yumna juga sudah duduk di kursi roda, entah sejak kapan benda itu ada dan dipakai oleh bibi. Terlihat Kak Ran dan Tahira yang telah rapi dengan pakaian pengantin mereka. Sungguh ini terlalu cepat kurasa, aku kira ini masih pagi ternyata waktu telah menujukkan pukul 13.30 siang.


Aku melihat Saga duduk di belakang kursi roda bibi Yumna dengan wajah kecewa dan sakit hati, aku tahu itu. Karena dia pasti merasa kehilangan Tahira. Aku duduk tepat di sebelah Saga, kulihat ada beberapa orang yang tidak ku kenali. Lalu acara dimulai, entah sekarang aku masih sadar atau tidak. Semua suara terdengar samar dan astaga, dadaku sesak. Aku merasakan Saga memegang kedua bahuku, seperti tidak nyata. Aku mendengar suara dari semua orang yang ada di sekitarku mengatakan sah, kecuali aku dan Saga. Pendengaranku menghilang, entah sekarang apa yang terjadi. Aku berusaha berkata pada Saga untuk mengantarku ke kamar. Walau aku benci padanya saat ini, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Beberapa detik selanjutnya, aku merasa kesadaranku telah hilang.


...*****...


Suara tangisan terdengar dari bibir gadis yang telah menjadi istri Ran. Ia memeluk tubuh sosok wanita paruh baya yang terbaring tak sadarkan diri dengan wajah yang pucat. Tahira terus menangis sembari memeluk erat tubuh Bibi Yumna, ibunya. Wanita paruh baya itu telah kehilangan kesadaran semenjak akad Tahira dan Ran selesai, beberapa saat setelah Saga membawa Zara ke kamarnya.


"Ibu, bangun." isak Tahira pada sang Ibu.


Ran hanya berdiri menatap Tahira yang sekarang telah menjadi istrinya tersebut tanpa berniat menenangkannya. Terlihat Saga berdiri di belakang Tahira yang sedang berlutut di samping ranjang sang ibu, sebenarnya Saga ingin sekali memeluk adiknya itu. Ia mengalihkan pandangannya kepada Ran seolah meminta izin untuk menyentuh Tahira. Ran mengangguk. Saga akhirnya mendekat dan berlutut di samping Tahira lalu memeluknya dengan lembut.


"Sini Ra, Kakak peluk." ucap Saga.


Tangis Tahira semakin kencang setelah berada di pelukan Saga. Saat ini Saga memerankan posisinya sebagai seorang kakak mengingat Tahira sudah menjadi istri Ran. Ia mengesampingkan egonya demi sang ibu.

__ADS_1


Ran mendekat ke arah bibi Yumna, sedari tadi lelaki itu hanya fokus pada tubuh bibi Yumna yang terlihat kaku dan memucat. Ia mengecek denyut nadi sang bibi, seketika perasaannya mulai tidak enak. Ia tak merasakan adanya denyut nadi, tapi ia belum bisa percaya. Kemudian ia berusaha memeriksa nafas bibi Yumna, Saga membulatkan matanya melihat apa yang dilakukan Ran.


"Jangan tanya padaku, kurasa kau harus memeriksanya sendiri." ucap Ran sambil menatap Saga dengan tatapan getir lalu meninggalkan ruangan.


Saga segera memindahkan tubuh Tahira perlahan lalu mengecek keadaan ibunya. Degg, seketika Saga melemas setelah tak menemukan denyut nadi dan hembusan nafas sang ibu. Saga terduduk di lantai lalu meraih Tahira ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku Ra, maafkan aku. Ibu telah tiada." Saga meneteskan air mata sembari memeluk Tahira.


Tahira tak tahu lagi harus berbuat apa, ia semakin terisak mendengar pernyataan Saga.


Zara terbangun lalu mengerjapkan mata setelah mimpi yang membuatnya merasa sesak. Ia menatap lelaki dihadapannya yang memancarkan kegetiran, seperti merasakan kesedihan mendalam. Zara menatap Ran dengan penuh kebingungan.


"Kakak, ada apa?" tanya Zara dingin, sembari membangunkan badannya.


Ran langsung memeluk tubuh Zara sembari mulai mengeluarkan suara isakan tangis. Zara masih termenung dengan apa yang sedang di hadapinya.


'Ini ada apa?' tanya Zara dalam hati.


Zara seketika memejamkan matanya mendengar berita itu. Ia tidak menyangka semua ini terjadi begitu cepat. Pernikahan Ran dan Tahira, lalu kepergian Bibi Yumna. Sangat sulit dipercaya. Zara kemudian melepaskan pelukan Ran dari tubuhnya lalu berlari menuju kamar Bibi Yumna.


Zara menatap kakak beradik yang sedang terisak sembari berpelukan di hadapannya. Kini ia harus percaya dengan semua perkataan Ran tadi. Tapi lagi-lagi semua ini terasa begitu cepat sehingga semuanya seperti tidak nyata. Pandangan matanya kembali mendingin dan kosong. Tak lama Ran dan kedua orang tuanya masuk ke kamar tersebut.


Suasana haru menyelimuti rumah kediaman keluarga bibi Yumna dengan kepergian sang pemilik rumah. Beberapa tetangga dan kerabat dekat telah memenuhi seisi rumah tersebut dengan pakaian serba hitam. Saga dan Tahira duduk di sisi kanan jasad sang Ibu. Saga terus saja memeluk sang adik untuk menguatkannya, karena sedari tadi gadis itu tak henti-hentinya meneteskan air mata. Pikiran Saga teralih ketika ia kembali ke kamarnya tadi malam setelah menemui Ran.


Flash Back On


Setelah bertemu Ran tadi, ia merasa sedikit tenang dan bisa mengikhlaskan Tahira menjadi istri Ran. Dan sekarang yang harus ia khawatirkan adalah kondisi ibunya yang mulai memburuk. Pikirannya terus berkelana pada ucapan sang ibu yang secara tidak langsung berkata sosoknya akan meninggal. Saga segera bangkit dari pembaringannya lalu berjalan menuju kamar sang ibu. Ia masuk ke dalam dan duduk di tepi ranjang ibunya. Saga menatap dalam wajah wanita paruh baya dihadapannya.


"Ibu." gumam Saga sembari meraih tangan sang ibu.


Mata bibi Yumna terbuka dengan perlahan menampilkan kedua bola mata berwarna coklatnya. Saga terkejut dengan terbangunnya sang ibu, ia langsung memeluk dan mencium keningnya.

__ADS_1


"Ibu, jika Saga punya kesalahan pada Ibu tolong maafkan Saga. Aku sangat menyayangi ibu. Tolong sembuhlah, bu." suara Saga bergetar.


Bibi Yumna mengelus pundak putranya itu dengan lembut, lalu berucap.


"Jangan seperti ini sayang, kau akan menyiksa ibu jika terus bersedih. Sudah, sudah ibu tidak apa-apa."


Saga bangkit lalu menghapus air mata yang rupanya telah menetes sejak tadi. Bibi Yumna menatapnya dengan teduh. Tangan bibi Yumna bergerak mendekati nakas lalu mengambil sebuah amplop berwarna coklat. Ia menyerahkan amplop tersebut kepada Saga.


"Berikan ini nanti kepada keluarga Adijaya." ucap bibi Yumna.


Saga menatap amplop tersebut dengan raut wajah bingung.


"Apa ini bu?" tanya Saga.


"Surat. Ibu tidak yakin akan bertemu lagi dengan mereka, jadi pastikan kau menyerahkannya dalam keadaan utuh." jelas bibi Yumna.


"Baiklah ibu." Saga tak berniat sama sekali menanyakan siapa keluarga Adijaya. Ia hanya menganggu patuh pada perintah sang ibu, karena ia masih berharap Ibunya akan membaik dan menyerahkan sendiri surat tersebut.


Setelah keluar dari kamar sang ibu Saga kembali ke kamarnya, tak ada percakapan yang berarti setelah ia menerima amplop itu. Ia menyimpan amplop tersebut di dalam laci nakas. Sejenak ia memikirkan perkataan ibunya tadi. Perasaan Saga mulai tidak enak, ia berasumsi bahwa ibunya tidak akan hidup lebih lama lagi. Terlebih ketika melihat tanda-tanda sang Ibu yang mulai drop dan perkataannya yang mengarah ke sana. Saga menarik nafas panjang lalu menepis pikirannya.


"Aku tidak tahu siapa keluarga Adijaya dan surat apa itu." ucapnya dalam hati.


Flash Back Off


Saga menarik nafas panjang sembari terus mengelus kepala adiknnya. Beberapa keluarga dekat dan tetangga memberi ucapan bela sungkawa kepada keduanya, Saga mewakili sang adik yang tak bisa berbuat apa-apa lagi. Pertanyaan-pertanyaan dari para pelayat dijawabnya tanpa melepaskan atau merenggangkan pelukannya terhadap sang adik.


"Terima kasih." ucap Saga pada pelayat yang merupakan tetangganya sekaligus teman dekat ibunya. Kemudian orang itu berlalu.


'Inikah yang belakangan selalu kau ucapkan? Bahkan kau hanya ingin melihat Tahira menikah sebelum kau pergi. Lalu kenapa kau tak menikahkan aku juga? Ada apa sebenarnya ini?' gumam Saga dalam hati sembari tatapannya menuju ke arah jasad sang ibu.


Disisi lain Zara menatap kosong tubuh bibi Yumna yang telah terbujur kaku tak bernyawa. Hatinya beku melihat kejadian demi kejadian dalam hidupnya, mulai dari kepergian sang Ayah lalu sang Ibu kemudian pernikahan Ran lalu sekarang sang bibi. Ia merasa sangat terpukul dan naasnya, ia tak memiliki seorang Ran untuk meminjam bahu dan bersandar mencurahkan kesedihannya.

__ADS_1


'Setelah hari ini, esok apa lagi? Setelah ayah, ibu dan bibi Yumna, siapa lagi yang akan pergi dari hidupku?mengapa aku harus menyaksikan semua kesedihan ini? Dan mengapa, Kak Ran harus hadir di dalam hidupku jika pada akhirnya ia akan menjadi milik orang lain?' ucap Zara dalam hati.


__ADS_2