My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 41 : Couple


__ADS_3

Kedua insan yang saling melepas rindu itu terlelap hingga siang tiba. Karena kelelahan membuat mereka memutuskan untuk beristirahat. Ran lelah setelah melakukan perjalanan panjang dari Tokyo. Sedangkan Zara kelelahan akibat aktivitasnya selama sepekan yaitu berkuliah dan kurusus bahasa Jepang.


Waktu menunjukkan pukul 12.31 siang, Ran mengerjapkan matanya dengan nyawa yang masih setengah. Pandangannya tertuju pada bantal di sebelahnya yang kosong. Tak ada Zara disana. Mungkin gadis itu sudah bangun dan membersihkan diri, pikirnya.


Setelah nyawanya sudah terkumpul sempurna, Ran membangunkan tubuhnya lalu hendak berjalan menuju kamar mandi. Zara keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk kimono.


"Jam berapa?" tanya Ran basa basi.


"Mm, setengah satu. Ada apa?" jawab Zara setelah melihat jam dinding yang ada dikamar tersebut.


"Saga ada disini kan?" tanya Ran lagi.


"Ya." jawab Zara singkat semabri mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil yang tersampir di pundaknya.


"Apa kau mau mengunjunginya?"


"Tentu. Mandilah cepat!"


Setelah bebrapa menit berlalu Ran keluar dari kamar menuju runang tamu. Pria itu memakai baju kaos hitam dengan jeans senada. Tampak begitu santai dan dibalut dengan jaket tebal yang juga berwarna hitam.


Zara duduk memainkan ponselnya disofa, lalu pandangannya beralih ketika mendengar langkah kaki Ran mendekat. Zara tersenyum sambil menatap dari atas hingga ke bawah tubuh Ran.


"Kenapa hitam?" tanya gadis itu.


"Aku suka." jawab lelaki bermata sipit itu.


Zara berdiri lalu membuka sedikit jaket yang dikenakannya, memperlihatkan kaos hitam yang ia gunakan pada Ran.


"Entah ini kebetulan atau memang kita sekemistri. Aku juga memakai kaos hitam, dan rok ku juga hitam." ucap Zara menatap Ran.


Ran tersenyum lebar. "Aku punya sesuatu untuk menyempurnakan ke-couple-an kita."


Zara mengernyit. "Apa?"


Ran menarik lengan gadis itu menuju rak sepatu yang berada di dekat pintu apartemen. Zara benar-benar dibuat kebingungan dengan tingkah Ran yang tiba-tiba membawanya begitu saja. Lalu mereka berhenti di depan rak sepatu. Ada dua kotak sepatu yang tersimpan di rak pertama. Zara kembali mengernyit, dari mana asal kedua benda ini?


"Duduklah." ucap Ran sembari mendudukkan Zara di lantai yang lebih tinggi.


Hah? Pekik Zara dalam hati. Ia tak ingin berkata apapun sampai Ran menghentikan aktivitasnya.


Lelaki itu mengambil dua kotak sepatu tersebut lalu membuka salah satunya. Ran mengeluarkan sepasang sepatu kets denim model wanita berwarna hitam putih lalu memakaikannya pada kaki mungil Zara.

__ADS_1


"Ketika aku pergi mengunjungi temanku yang memiliki toko sepatu di Shibuya, aku memesan dua pasang sepatu ini untuk kita. Kau tahu, sepatu ini dirancang untuk sepasang kekasih. Dan aku memesannya secara khusus." ucap Ran yang telah selesai mengikatkan tali sepatu Zara.


Mendengar pernyataan manis dari Ran membuat hati Zara tersentuh. Secinta itukah Ran padanya? Sepatu adalah benda yang paling disukai Zara hingga ia banyak mengoleksi sepatu-sepatu yang tengah trend. Tapi sepatu yang diberikan Ran adalah sepatu terspecial yang pernah ia punya.


"Terima kasih." ucap Zara lalu memeluk Ran.


"Kau suka?" tanya Ran memastikan.


"Aku sanagat menyukainya." jawab Zara sembari melepaskan pelukannya.


Ran berdiri diikuti Zara. Ran memasang sepatunya sendiri lalu mendekatkan kakinya di samping kaki Zara. Mereka menatapnya dengan raut wajah bahagia.


"Aku ingin mengabadikannya." ucap Zara.


Ran tersenyum melihat Zara yang sedang mengeluarkan posnel dari tas kecilnya lalu memotret sepatu couple mereka. Setelah mengambil satu gambar, Zara memperlihatkannya pada Ran.


"Sudah? Ayo kita berangkat." ucap Ran lembut.


Zara mengangguk lalu mereka pun keluar dari apartemen. Setelah 30 menit menempuh perjalanan mereka akhirnya sampai di apartemen Saga.


Mendengar suara bel berbunyi, Tahira segera berjalan menuju pintu lalu membukanya. Tampak dua orang dengan setelan couple berwarna hitam di hadapannya.


"Datang juga kau rupanya." ucap Tahira dengan menyilangkan kedua tangannya didada.


"Hei, jangan marah Sista. Kau tahu kan aku sangat sibuk." balas Zara sembari memeluk sepupunya itu seperti sudah akrab begitu lama.


"Aku tidak marah aku hanya kesal. Ayo masuklah!" ucap Tahira sembari membalas pelukan Zara dengan singkat.


Mereka pun masuk ke dalam apartemen tersebut lalu duduk di sofa ruang tamu. Dari arah dapur Saga muncul dengan senyum yang mengembang dibibirnya.


"How are you, bro." sapa Saga sambil menjabat tangan Ran.


"Seperti yang kau lihat, aku baik." jawab Ran.


Mereka berempat duduk di sofa dengan posisi Ran dan Zara yang duduk berdampingan dengan Tahira dan Saga dihadapan mereka.


"Aku dengar kau telah menyelesaikan pendidikanmu di Australi." Ran memulai pembicaraan.


"Ya, benar. Dan sekarang aku tinggal disini." jawab Saga.


"Apa rencanamu?" tanya Ran.

__ADS_1


"Aku ingin mencari pekerjaan, dan menguliahkan Rara." jawab Saga santai.


"Oiya Kak Ran, bagaimana kabar Paman Akira?" tanya Tahira ramah.


"Otoosan sudah membaik." jawab Ran dengan sulas senyum.


"Syukurlah. Mungkin kita perlu sekali-sekali menjenguk paman, Kak." ucap Tahira kini ditujukan pada Saga.


"Ide yang bagus. Aku akan usahakan." balas Saga dengan senyuman penuh arti.


Mereka pun akhirnya berbincang-bincang mengenai banyak hal. Saga menanyakan beberapa hal tentang kehidupan Ran dan Zara, terlebih pada hubungan keduanya. Ia merasa jika lelaki bermata sipit dan gadis cantik di hadapannya beruntung, karena mereka menjalin hubungan yang wajar. Disaat yang bersamaan, Tahira dihujam rasa bersalah atas hubungannya dengan Saga. Tahira hanya bisa menghembuskan nafas.


"Bagimana jika malam ini kalian menginap?" tawar Saga.


Ran dan Zara saling menatap sejenak lalu,


"Baiklah." jawab mereka bersamaan.


Waktu berjalan dengan cepat, tak terasa awal malam telah beranjak dan kini jam telah menunjukkan pukul 23.54. Mereka duduk di atas karpet berbulu yang terletak di ruang tengah sambil menonton TV dengan lampu ruangan yang telah padam. Acara yang mereka tonton sejak dua jam yang lalu telah usai. Dan sekarang film bergenre horor di cahnnel yang sama mulai terputar.


Awalnya Zara merasa baik-baik saja, tak ada ketakutan. Namun, karena terpicu oleh pekikan histeris dari Tahira membuatnya perlahan terbawa arus ketakutan. Ia seketika was-was dan langsung memeluk Ran.


Tahira menyembunyikan wajahnya di dada bidang Saga sembari mengalungkan tangannya di leher pria itu. Saga balas merangkul Tahira. Melihat adegan itu membuat kepala Zara menimbulkan tanda tanya. Namun segera ia menepisnya.


"Wajar saja, mereka kan adik kakak." pikir Zara.


Setelah itu Zara kembali fokus pada layar. Sesaat setelah ia kembali fokus, tiba-tiba kantuk menyerangnya. Ran menatap gadis di sebelahnya yang duduk bersandar di kaki sofa setelah melepaskan pelukan darinya. Kemudian ia merangkul pundak Zara agar kembali ke posisi tadi dimana Zara memeluknya duluan. Merasakan hal itu tak membuat Zara mengalihkan fokusnya. Baginya sentuhan Ran adalah hal yang sudah menjadi kebiasaan.


Tak lama, wajah Ran mendekat pada wajah Zara. Kemudian lelaki itu mendaratkan kecupan dipipi Zara. Merasakan hal itu membuat Zara semakin ngantuk. Tanpa ia sadari, dirinya mulai beranjak ke ambang mimpi. Namun sebelumnya, ia merasa kecupan halus menyentuh bibirnya. Zara membuka matanya sedikit dan menangkap wajah Ran yang tengah serius melangsungkan aksinya.


Setelah itu pandangannya beralih ke arah Saga dan Tahira yang juga sedang melakukan hal yang sama. Apa? Seketika Zara tersentak namun tak bisa melawan rasa kantuk. Alam mimpi terus melambai memintanya untuk segera masuk.


"Apa aku sedang berkhayal? Ya Tuhan, katakan padaku jika ini hanya mimpi. Tidak mungkin mereka berciuman kan? Mereka bersaudara. Aah, kak Ran tolong bangunkan aku. Astaga, kenapa susah sekali untuk membuka mata. Kuharap apa yang kusaksikan malam ini hanyalah mimpi." ucap Zara di ambang mimpinya.


Ran terus mengecup bibir Zara hingga lidahnya menembus mulut gadis itu. Ia sama sekali tidak mengetahui jika Tahira dan Saga melakukan hal yang sama karena terlalu menikmati aksinya. Dengan tidurnya Zara membuatnya leluasa melakukan apapun pada gadis itu. Karena jika dalam keadaan sadar Zara tidak pernah membiarkan Ran memasukkan lidah pria itu kedalam mulutnya. Karena bisa dibilang gadis itu masih sangat kaku. Kebanyakan ciuman mereka hanya didominasi oleh Ran.


Sementara Saga dan Tahira melepaskan tautan bibir mereka lalu segra bangkit meninggalkan ruang tengah menuju kamar meninggalkan Ran dan Zara. Beberapa menit kemudian Ran baru sadar jika kakak beradik itu sudah pergi meninggalkan mereka.


"Apa mereka terganggu?" gumam Ran.


Ia kemudian mengangkat tubuh Zara setelah mematikan televisi lalu beranjak menuju kamar tamu yang disediakan untuk mereka.

__ADS_1


__ADS_2