My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 76 : Perasaan, Kebenaran, Perubahan


__ADS_3

Malam itu Naura disibukkan dengan pikiran yang melanglang buana pada kejadian tadi sore. Pertemuannya dengan anak teman ayahnya itu menimbulkan sebuah tanda tanya. Siapa nama pemuda yang berencana dijodohkan dengannya itu.


"Kenapa Otousan dan paman Kitora tidak memperkenalkan kami satu sama lain?" Tanyanya dalam hati.


Gadis itu mengetuk-ngetukkan penanya di atas meja. Pandangannya tertuju pada sapu tangan pemuda itu yang dipakai sang ayah untuk mengelap sudut bibirnya tadi.


"Dan kenapa aku jadi penasaran dengan nama pemuda itu? Ya Tuhan, jangan biarkan aku menyukainya. Aku masih memiliki perasaan pada Kak Bara." Ucapnya lagi.


Naura kemudian membuka sebuah buku yang tampak seperti journal dari luar. Ketika halaman pertama tertangkap retinanya, foto masa kecil dirinya dan Bara menyapa. Gadis itu tersenyum kemudian ingatannya melayang ketika Bara menyerahkan buku itu kepadanya.


"Ini.. Aku mengumpulkan semua moment masa kecil kita." Ucap Bara sambil menyodorkan buku itu kepada dirinya.


"Wah cantik sekali." Kata Naura sambil menunjukkan senyum berbinar.


"Apa kau suka?"


"Ya aku suka."


"Kalau begitu ambil saja. Itu untukmu."


Naura kemudian tersenyum lalu memeluk journal itu.


Lalu lamunannya terhenti ketika ketukan pintu terdengar. Naura mengalihkan pandangannya seraya bertanya dalam hati siapa yang mengetuk.


Pintu terbuka dan menampakkan sosok sang Ibu yang sedang membawa nampan yang berisi cemilan dan teh hangat.


"Okaasan, masuklah." Ucap Naura tersenyum.


Zara masuk ke dalam kamar putrinya lalu meletakkan nampan cokelat yang dibawanya ke atas nakas. Keduanya lalu duduk di tepi ranjang.


Wanita 39 tahun itu mengelus rambut putrinya lalu mulai menghela napas.


"Putri Okaasan sudah besar yah. Bagaimna tadi pertemuannya?"


Naura terlonjak lalu seketika merasa gugup. Ternyata Ibunya pun tahu tentang pertemuan antara dirinya dan anak teman ayahnya. Pipi gadis itu memerah dan berusaha menahan senyumannya.


"Mmm Naura sedikit gugup Okaasan." Jawab gadis itu malu-malu.


"Kenapa gugup sayang? Apa kau menyukai putra Tuan Kitora?" Goda Zara.


"Tidak. Bukan itu Okaasan. Aku gugup karena baru pertama kali bertemu." Elak Naura lalu tersenyum simpul.


"Hmmm benarkah? Lalu apa pendapatmu tentangnya?" Tanya Zara. Matanya menatap wajah bersemu Naura.


"Kurasa anak paman Kitora itu baik. Dia tadi sempat memberiku sapu tangan untuk menghapus dissert di sudut bibirku." Terang Naura tanpa ada selipan kekaguman. Hanya pengakuan biasa.


"Benarkah?" Pancing Zara lagi. Ia yakin putrinya akan bercerita lebih banyak.


"Ya. Tapi Otousan yang menghapusnya bukan dia. Pemuda itu memberi sapu tangannya pada Otousan."


Zara terkikik dalam hati. Sebenarnya ia sudah mendengar ceritanya dari Ran. Ia sengaja bertanya pada Naura hanya untuk melihat reaksi putrinya itu. Ternyata ekspektasinya tidak terlalu buruk. Walaupun ia tahu Naura belum menyukai pemuda itu.

__ADS_1


"Okaasan." Panggil Naura.


"Iya?"


"Siapa nama pemuda itu?" Tanya Naura dengan wajah yang begitu penasaran.


Zara tertawa kecil lalu bangkit dari tepi ranjang. "Mana Okaasan tahu." Jawabnya sambil pergi meninggalkan Naura.


"Hah?" Naura terkejut dengan kepergian ibunya. "Kenapa sulit sekali hanya untuk mengetahui namanya?"


...*****...


"Kak, apa tidak terlalu dini meperkenalkan Naura pada sesorang?" Tanya Zara pada suaminya.


Saat ini mereka sedang berbaring saling berhadapan di bawah selimut putih tebal . Malam sudah begitu larut namun mereka belum juga tidur.


"Kurasa tidak. Memangnya kenapa, apa yang membuatmu khawatir hmm?" Ran menatap istrinya itu dengan tatapan lembut.


"Sebenarnya aku tahu jika Naura menyukai Bara. Tidak kah kau merasa jika perjodohan ini akan sulit baginya?"


"Justru jika tidak segera dijodohkan Naura akan merasakan hal yang lebih sulit lagi. Kau tahu kan, siapa Bara. Aku tidak bisa menjodohkannya dengan lelaki itu. Bahkan Saga pun ragu jika itu anaknya." Guratan kekhawatiran Ran seketika muncul di wajahnya. Setiap kali lelaki itu membahas tentang Bara selalu saja ia merasakan hal itu.


"Kau benar. Aku jadi berpikir bagaimana Tahira bisa melakukan hal itu." Zara menerawang kejadian 20 tahun yang lalu.


"Kurasa dia tidak benar-benar mencintai Saga." Sahut Ran.


"Aku juga memikirkan hal yang sama. Tapi siapa yang menghamilinya? Bukankah kita sama-sama tahu jika hanya Saga yang melakukannya." Zara menghembuskan napas kasar.


"Aku kasihan pada Saga. Melihat ia menua dan menduda membuatku ikut bersedih." Zara beralih ke dalam pelukan Ran.


"Aku pun sama. Dulu aku begitu lega menikahkannya dengan Tahira tapi ternyata mereka hanya ditakdirkan berada dalam ikatan pernikahan selama 9 tahun. Jika saja Saga tidak curiga dan tidak melakukan Tes DNA maka mungkin sampai sekarang mereka masih bersama. Tapi dalam hubungan yang ditutupi oleh kebohongan." Ran kemudian mengecup kening Zara.


"Kalau begitu aku setuju jika Naura dijodohkan dengan Ren." Ucap Zara akhinya.


Ran tersenyum dengan persetujuan istrinya. Sebab kemarin Zara tidak begitu menginginkan hal ini. Karena mempertimbangkan perasaan Naura yang sudah terlanjur memiliki perasaan pada Bara. Tapi demi kebaikan putri mereka, maka keduanya pun harus kompak dalam menentukan masa depan Naura. Bagaimana dan dengan siapa mereka akan menyerahkan putri mereka itu. Permaisuri hati keduanya.


"Lalu bagaimana dengan Kira? Aku melihat putri bungsu kita itu sangat aktif dan pembangkang." Ran mengalihkan pembicaraan.


Zara mendengus. Dia juga tidak tahu harus melakukan apa terhadap Kira. Tadi saja ia mendapati gadis 15 tahun itu pulang dari sekolah dengan diantar oleh Bara pukul 18.30 dan mengajukan alasan yang kurang meyakinkan.


"Tadi dia pulang terlambat bersama Bara." Ucap Zara.


"Lalu apa yang dia katakan sebagai alasan?" Tanya Ran.


"Dia bilang ada tambahan pelajaran jadi setiap hari ia akan pulang terlambat." Jelas Zara.


"Kalau begitu aku akan menjemputnya langsung ketika sudah selesai dari pelajaran tambahannya. Sudah dulu, aku sepertinya sudah lelah. Mari kita tidur." Ran mengakhiri semua percakapan mereka malam itu.


...*****...


Pagi hari yang cerah menyambut Naura yang hendak pergi ke kampus. Hari ini Ayahnya yang akan mengantar. Mereka tak punya supir jadi Ran selalu memenuhi perannya sebagai ayah yang baik bagi kedua putrinya.

__ADS_1


Naura berjalan beriringan bersama Kira menuju mobil disusul Zara yang berjalan di belakang. Di sana sudah ada sang Ayah yang duduk di balik kemudi.


"Kami berangkat Okaasan." Pamit Naura lalu memeluk ibunya.


"Jane Okaasan." Ucap Kira sambil melambaikan tangannya pada Zara.


Zara menggelengkan kepalanya melihat sikap Kira yang kurang sopan. Naura memperhatikan ibunya, ia jadi merasa bersalah karena tidak menegur sang adik.


"Maafkan Kira Okaasan. Mungkin Naura selalu membiarkannya berbuat kesalahan jadi sikapnya jadi kurang sopan." Ucap Naura sambil menunduk.


"Tidak sayang. Ini bukan salahmu. Berangkat lah, Otousan menunggumu."


Naura mengangguk kemudian perlahan berbalik dan meninggalkan sang ibu. Hatinya jadi merasa tidak enak karena kelakuan Kira yang semakin hari semakin keterlaluan.


Gadis itu duduk di jok depan samping Ran kemudian mobil melesat meninggalkan rumah.


"Kira pulang jam berapa hari ini, Otousan akan jemput." Sahut Ran pada Kira yang sedang duduk di belakang dengan memainkan ponselnya.


Gadis itu menoleh. "Jam enam sore Otousan." Lalu kembali fokus pada ponselnya.


Naura melirik cermin di atasnya yang menampakkan kelakuan sang adik. Bahkan pada Ran pun gadis itu tetap bersikap tidak sopan.


"Kau ingin menjadi anak durhaka Kira?" Suara Naura menembus telinga Kira yang kemudian membuat gadis itu sedikit terusik.


"Apa maksud kakak?" Tanya Kira ketus.


Naura pun mendengus kesal melihat Kira dengan wajah ketusnya. Sunggu ia merasa Kira sudah sangat keterlaluan.


"Kau tidak menghormati Otousan saat berbicara bahkan tadi kau juga bersikap tidak sopan pada Okaasan." Tutur Naura dengan sedikit penekanan.


Kira tersadar lalu teringat akan ucapan Bara kemarin untuk tidak bertingkah aneh di hadapan Naura ataupun kedua orang tuanya agar mereka tak curiga. Seketika Kira menyimpan ponselnya ke dalam tas lalu menundukkan kepala.


"Maafkan aku Otousan. Lain kali tidak akan ku ulangi. Maafkan Aku Kak Naura." Ucapnya untuk menutupi sesuatu.


Ran tersenyum simpul kemudian menatap Naura dengan bangga. Ia terkesan dengan sikap dewasa Naura yang bisa mengendalikan adiknya. Ran menyukai hal itu. Melihat itu tentu saja menimbulkan kecemburuan pada hati Kira.


'Aku tidak pernah dibanggakan oleh Otousan. Jadi tidak ada salahnya aku mengkhianati janjiku dan melalaikan ucapannya.' Ucap Kira dalam hati.


.


.


.


.


.


***Bersambung........


Jangan Lupa Like+Komen๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰***

__ADS_1


__ADS_2