
"Eeh, aku.. Aku bisa jelaskan." ucap Ran terbata.
Tatapan Zara meredup bersama dengan rasa takut yang seketika melanda, "Kak.. Aku takut!" Ucap Zara lalu memeluk Ran dengan erat.
Ran terkejut, mengapa gadis itu tak marah padanya dan malah memeluknya dengan erat. Ia pun membalas pelukan tersebut. Zara tak mempermaslahkan keberadaan Ran yang tiba-tiba, hanya saja ketika ia terbangun perasaanya kalut. Tadi ia bermimpi sesuatu hingga membuatnya terbangun.
"Ka.. Kau kenapa Chibi-chan?" tanya Ran sambil mengelus lembut rambut gadis itu.
"Kak.." Zara terisak, "tadi aku bermimpi buruk.. Tapi anehnya, aku tak bisa mengingatnya. Dan sekarang aku.. Aku sangat takut, kak."
Mendengar ucapan gadis itu membuat Ran merasa cemas, kembali ia mengelus rambut Zara. "Chibi-chan. Tenanglah! Kakak bersamamu." ucap Ran menenangkan Zara lalu mengecup keningnya.
Gadis itu masih terus saja terisak sembari memeluk erat tubuh Ran. Sementara Ran merasa sedikit lega karena kejahilannya tidak direspon oleh Zara. Akhirnya Ran membenahi posisi mereka agar berbaring dengan sempurna. Sambil tetap memeluk Zara, Ran menarik sebuah selimut untuk menutupi tubuh mereka. Kini mereka telah berada di bawah selimut.
"Apa sudah lebih baik?" Ran mencoba untuk memastikan keadaan gadis itu.
Zara menggeleng sembari terus memeluk Ran. Napasnya terdengar kacau, dan jantungnya pun terdengar berdetak tak beraturan. Jujur saja, Ran merasa sangat nyaman dengan posisi seperti itu.
Hingga larut malam tiba mereka tetap dalam posisi tersebut. Tadinya Zara masih terisak, namun karena lelah ia pun tertidur. Sedangkan Ran, ia masih setia memeluk gadis itu. Ia menatap wajah Zara yang putih merona dan bersinar lalu mengelus pipi tirus gadis itu.
Ran tersenyum sambil terus memandang wajah Zara yang kian menyejukkan hatinya. Ada tersebrsit sebuah persepsi yang kemungkinan besar akan terjadi. Jika Ayah Zara memberikan tanggung jawab padanya untuk mengurus gadis itu, maka itu artinya Ayah Zara menghendaki pernikahan di antara mereka. Pikir Ran.
Ia mendengus lalu tersenyum simpul. Jika persepsinya benar, maka suatu kebahagiaan baginya bisa menikahi gadis yang sudah ia cintai itu. Ran memejamkan matanya bersama angan-anagn yang menyelimuti pikirannya. Tak lama, ia pun tenggelam dalam derai mimpi yang panjang.
Tiga hari sudah berlalu, ujian akhir telah usai. Kini para siswa tengah bergembira karena akhirnya mereka telah melalui hari-hari menegangkan tersebut. Zara berjalan bersama sahabatnya Faykah menyusuri koridor, beberapa kali mereka sempat singgah untuk sekedar bertegur sapa dengan siswa kelas lain yang mereka kenal dan tak lupa pula mereka saling memberi selamat.
"Wah Zara, Faykah selamat yah." Ucap Naraya pada Zara dan Faykah.
"Selamat juga untukmu Naraya." Balas Zara dengan senyum manisnya.
Tak lama berselang dua lelaki yang rupanya adalah Akabir dan Raka datang bersama lalu segera menghampiri ketiga gadis itu. Zara yang melihat kedatangan mereka sontak ingin beranjak namun Akabir dan Raka sudah terlanjur memanggil namanya. "Zara."
Gadis itu tersentak, bayangan perlakuan Raka padanya beberapa waktu lalu kembali memyeruak dalam ingatannya. Sekerang ia benar-benar ingin beranjak namun Akabir dengan cepat mencegahnya. "Eh Tunggu.. Zara, ada yang mau Raka sampaikan padamu." Ucap Akabir.
Zara tertunduk karena merasa sedikit takut. Melihat hal tersebut sontak membuat Faykah dan Naraya bertanya-tanya. Namun mereka hanya memilih untuk diam sembari menyaksikan apa yang sedang terjadi.
Raka melangkah menghampiri Zara dengan membawa serta rasa bersalah yang dipendamnya selama beberapa waktu, hendak meminta maaf pada gadis yang telah ia lecehkan itu. Setelah kejadian hari itu, Raka seketika sadar dan tak pernah lagi mengulangi kebodohannya tersebut. Bahkan kecanduannya menonton film tak lazim juga dihentikannya, entah mengapa pengalaman dilaporkan dan ketahuan membuat dirinya tak lagi berhasrat untuk melakukan hal tercela itu lagi. Akabir menjadi saksi taubatnya seorang Raka dari perbuatan tercelanya.
Keduanya beranjak menjauh dari keramaian. Tentunya agar tak ada yang tahu masalah di antara mereka. Raka menunduk kemudian mulai berkata.
"Khem, Zara. Sebelumya aku mohon padamu agar mendengarkanku. Aku.. Aku ingin meminta maaf padamu atas kelakuan burukku hari itu." ucapnya dengan perasaan menyesal.
"Tapi, kau.. Kau sudah meminta maaf kemarin." Balas Zara dengan nada gugup.
"Aku merasa tidak puas. Karena kemarin kau langsung pergi padahal aku ingin memberimu ini.." Raka menyodorkan sebuah kotak yang berukuran lumayan besar.
__ADS_1
"A.. Apa itu?" Zara menatap kotak tersebut dengan ragu.
"Ambilah, ini adalah hadiah dariku sebagai permintaan maaf. Kau bisa membukanya ketika sudah sampai di rumah." Raka tersenyum simpul.
Zara menerima kotak tersebut dengan hati yang mulai lapang. Seketika Raka diterpa angin sepoi-sepoi karena merasa lega. Permintaan maaf yang ia nantikan beberapa waktu belakangan, yang membuat hatinya tidak tenang akhirnya bisa terealisasi, walaupun di hari terakhir mereka bertemu.
"Mmm, ada satu lagi yang ingin ku sampaikan. Dulu, aku memang menyukaimu, bahkan sekarang pun masih sangat menyukaimu. Tapi aku sadar, orang sebejat diriku tak pantas untuk bersama dengan orang baik sepertimu. Dan.. Karena aku menganggapmu sebagai teman ku sekarang jadi, ku beri tahukan padamu bahwa.. Bahwa aku akan pergi keluar negeri untuk melanjutkan kuliahku." dengan nada begitu ragu, Raka tetap menyampaikan isi hatinya.
Walaupun ia tahu hal itu bukanlah sesuatu yang penting bagi Zara, tapi ia harus tetap menyampaikan pada gadis itu agar ia tidak pergi dengan keadaan menyekam rasa sakit karena sudah terlanjur menyukai Zara. Paling tidak gadis itu sudah mengetahui perasaanya walupun ia sangat yakin jika Zara takan pernah membalas perasaannya tersebut.
"Baiklah terima kasih karena sudah mendengarkan isi hatiku. Dan sekali lagi aku meminta maaf atas ciuman pertama yang kurebut darimu secara pakasa. Aku sungguh minta maaf." Raka menundukkan kepalanya.
"Aku memaafkanmu. Dan terima kasih atas hadiahnya, aku menghargai semua ini. Dan yah, maaf karena aku tak bisa membalas perasaanmu." balas Zara dengan senyum simpul.
Raka juga kembali tersenyum simpul, ia tahu Zara akan mengatakan hal tersebut namun entah mengapa ia merasa hatinya begitu kecewa. Tapi tak ada lagi alasan baginya mengharapkan Zara yang telah ia lukai fisik dan batinnya. Kemudian ia pun menatap Akabir untuk memberi kode, yah mereka akan beranjak. Perlahan Akabir menghampiri mereka lalu tersenyum pada Zara.
"Kami pergi dulu." Ucap Akabir lalu mereka pun beranjak dari hadapan gadis itu.
Zara menatap kepergian kedua lelaki itu, ia sebenarnya sangat terkejut dan salut pada sikap Raka yang berubah drastis. Ada sedikit kekecewaan yang menyeruak ke dalam hatinya, kenapa Raka baru mengungkapkan hal itu padanya. Tapi ia langsung menepis perasaan tersebut karena sekarang ia juga telah memiliki kekasih yang tak lain adalah sepupunya sendiri.
Faykah dan Naraya menghapiri Zara. Mereka merangkul bahu gadis itu bersamaan sembari bertanya. "Ada apa dengan kalian?" Tanya Naraya.
Zara menatap mereka dengan senyuman, "Just say good bye." Jawab nya lirih.
Keduanya mengagguk paham. Akhirnya setelah beberapa detik dalam posisi tersebut, Naraya dan Faykah akhirnya melepaskan rangkulan mereka. "Zara, aku pamit dulu yah. Aku ingin segera pulang." Ucap Naraya.
"Baiklah, hati-hati." Balas Zara dan Faykah bersamaan.
"Maafkan kelakuan ku selama ini Faykah." Ucap Zara dengan haru.
"Tidak Zara, tidak. Kita adalah sahabat, dan sudah sepantasnya aku selalu menerima kelakuanmu. Karena.. Aku sangat menyayangimu sebagai sahabat, tak ada yang membuat hariku begitu ceria selain dirimu. Jadi, aku sama sekali tak keberatan dengan sikapmu. Kau adalah sahabat terbaikku." Balas Faykah sembari ikut memeluk Zara.
Gadis itu merasa sangat terharu mendengar ucapan Faykah, ia merasa tak pernah ada orang yang paling tulus menemaninya kecuali sahabatnya itu. Zara melepaskan pelukan lalu mereka saling menatap dengan air mata yang menghiasi pipi masing-masing. Keduanya tertawa.
"Jangan pernah menghapus nomorku! Aku akan selalu menjadi sahabatmu, selamanya!" Ucap Faykah.
Zara mengangguk pasti. "Tidak akan."
Tak lama berselang, nampak sebuah mobil yang tak asing lagi bagi Zara, perlahan ia melambaikan tangan pada Faykah sebagai tanda perpisahan lalu melesat masuk ke dalam mobilnya.
...
"Apa kau habis menangis?" tanya Ran yang sedang menyetir lalu menatap Zara sekilas.
"Yah, tadi aku sempat menangis." Jawab Zara.
"Kenapa?" tanya Ran heran.
__ADS_1
"Sudah tiga tahun lamanya aku bersama Faykah, dan hari ini kami berpisah." jawab gadis itu sedih.
"Sedekat itukah kalian?"
"Yah, kami sudah seperti saudara."
"Kenapa harus bersedih? Kalian masih bisa berjumpa di lain waktu."
"Dia akan menikah."
Ran tercengang. "Benarkah? Astaga, sekarang aku baru paham."
Kemudian tak sengaja Ran melihat sebuah kotak yang sedang dipeluk oleh Zara. "Apa itu darinya?" Tanya lelaki itu, yang mengira kotak tersebut dari Faykah.
"Ah kotak ini. Ini pemberian Raka sebagai permintaan maafnya." jawab Zara santai.
Sementara Ran seketika memanas. "Apa? Anak kurang ajar itu? Mengapa memberimu sesuatu? Sepertinya hukumanku kurang keras baginya. Baiklah aku akan.." belum sempat Ran melanjutkan ucapannya, Zara langsung memotong.
"Tidak Kak. Kau tidak usah bersusah payah, dia sudah meminta maaf dan.. Akan segera pergi keluar negri."
"Baguslah! Anak sepertinya tak pantas.." lagi-lagi ucapan Ran terpotong.
"Sudahlah kak, lagi pula aku sudah memaafkannya. Dan satu hal yang harus kakak tahu, dia telah berubah."
Ran mengernyit lalu kemudian tertawa. "Ahahahah, apa kau sedang bercanda? Mana mungkin anak sepertinya bisa berubah hah?"
"Aku serius!" Zara menaikkan volume suaranya.
Ran menghentikan tawanya "Terserah saja!" ucap Ran ketus.
"Oh ya, aku teringat sesuatu. Aku ingin bertanya padamu, apa kau ingat jika kita sedang berpacaran?" Ran mengalihkan pembicaraan.
"Ingat, memangnya kenapa?" Zara mengernyit.
"Aku ingin kita menjalaninya dengan serius!" Ran melirik sekilas.
"Memangnya selama ini kita tidak serius?" tanya Zara dengan polosnya.
"Bukan itu maksudku! Aku.. Pahamilah! Aku ingin.." Ran tak bisa melanjutkan ucapannya. Ia ragu untuk berkata pada Zara jika ia ingin menikahi gadis itu.
'Katakan tidak yah? Eem, apa kukatakan saja yah? Tapi apa tidak terlau dini mengajaknya meikah? Apa dia mau?' Ran bertanya-tanya dalam hati.
Zara memandang wajah kebingungan tersebut sembari menunggu jawaban. Tak terbersit sama sekali di kepalanya bahwa Ran sedang berencana untuk menikahinya.
.
.
__ADS_1
.
bersambung...