
Di ruangan yang didominasi warna putih itu, Ran, Zara, Tahira dan Saga duduk untuk menyelesaikan permasalahan tadi. Langit telah menggelap dan mereka memutuskan untuk meluruskan semuanya, karena setelah ini Ran dan Zara akan segera pamit.
"Aku tahu perasaan kalian. Tapi aku berharap kalian berpikir lagi. Bagaimana perasaan Bibi Yumna jika kalian terus melanjutkan hubungan kalian. Ingat! Kalian berdaudara! Kalian adalah anak dari Bibi, kuharap kalian tidak mengecewakan beliau. Walaupun sebenarnya sudah sangat mengecewakan." ucap Ran lirih pada kalimat terakhirnya.
Saga tahu betul jika nanti ibunya akan kecewa jika mengetahui hal ini. Bukannya malah menjaga adiknya dengan baik malah dia sendiri yang merusaknya.
"Sekali lagi maafkan aku, semua ini salahku." Saga menunduk tanda ia menyesal. Tetapi bukan berarti ia akan memutuskan hubungannya dengan Tahira.
"Jika kalian tidak menghentikan semua ini maka ku pastikan kalian telah memilih akhir perjalanan kalian di neraka." ucap Ran tajam.
Tahira berusaha menengangkan dirinya, sekarang ia benar-benar sadar tapi juga tidak mudah baginya melepaskan perasaannya pada kakak yang telah mengambil hal terpenting dari dirinya itu. Selain ia mencintai Saga, hatinya juga sulit menghilangkan rasa cintanya itu.
"Setelah hari ini aku anggap semuanya selesai. Aku serahkan pada kalian berdua, mau menyelesaikan atau melanjutkan. Aku tetaplah sepupu kalian, dan jangan mengira aku membenci kalian, tidak sama sekali. Ucapanku tadi hanya penegasan dan rasa cinta ku pada kalian. Karena kita keluarga, terlahir dari satu gen yang sama. Saga, maafkan aku. Tahira adikku sayang, maafkan aku. Hidup kalian berharga." ucap Ran sembari menahan air matanya.
Ia berkata seperti itu mewakili perasaannya. Karena memang ia mencintai kedua sepupunya tersebut setelah ia paham makna dari cinta itu sendiri berkat kehadiran Zara. Baginya cinta bermakna saling menjaga. Walaupun dahulu mereka tidak pernah saling akrab tapi tetap saja, mereka berkeluarga.
Setelah beberapa menit berlalu Ran dan Zara meninggalkan apartemen Saga untuk kembali ke habitat mereka, yaitu apartemen Ran.
"Sebaiknya malam ini kita tidur terpisah." ucap Saga kemudian berlalu menuju kamarnya.
Tahira menutup matanya dalam sembari terus memikirkan bagaimana kelanjutan hubungan mereka kedepannya. Mungkin kali ini ia harus sendiri dan merenungkan segalanya.
...*****...
Setelah Ran dan Zara sampai di apartemen mereka bergegas mengganti pakaian kemudian duduk di sofa yang terdapat di kamar Ran.
Semua lampu di apartemen itu telah padam karena waktu telah menunjukkan pukul 23.05 tengah malam. Kamar Ran hanya di terangi cahaya lampu tidur yang remang.
"Dulu aku mengenal Saga sebagai orang yang humoris dan juga baik, dia mampu memberi warna terhadap lingkungan sekitarnya. Tapi kenapa sekarang dia seperti itu." ungkap Zara.
Mereka duduk berdampingan di sofa berukuran untuk dua orang tersebut memandang nanar langit-langit kamar Ran.
"Kita tidak akan pernah tahu Zara, karena kita berdua tidak memiliki saudara." ucap Ran kini lelaki itu menatap Zara.
"Berat rasanya kak. Aku menyayangi Saga dan Tahira, bahkan aku menganggap mereka sebagai saudaraku sendiri." terlihat begitu jelas kesedihan Zara atas ungkapannya.
"Biarkan mereka memilih. Mungkin ini jalan terbaik, kita ditakdirkan untuk mengetahui hal ini hanya untuk memperingatkan mereka. Karena Tuhan masih menyayangi mereka. Aku yakin Tuhan tahu tetapi menunggu." ucap Ran.
Sekarang Zara benar-benar pusing, ia tak bisa lagi berkata apa-apa. Gadis itu menyandarkan kepalanya lalu memejamkan mata. Beberapa detik kemudian ia merasakan kepalanya digeser dari sandaran sofa ke arah dada Ran. Zara membuka mata.
"Apa yang kakak lakukan?" tanya Zara dingin.
"Memberimu rasa tenang. Aku tahu kau sedang banyak berpikir. Maka biarkan aku menjadi tempatmu mencurahkan seluruh emosi yang menghantuimu." jawab Ran terdengar menyejukkan hati Zara.
Seketika hati Zara menghangat, sikap dingin yang ia tunjukkan tadi perlahan menghilang. Ia pun melingkarkan kedua tangannya di tubuh Ran.
"Hontoni daisukidayo." ucap Ran mengulangi kalimat yang ia ucapkan tadi di apartemen Saga.
__ADS_1
Kemudian lelaki itu beralih menangkup wajah Zara. Zara yang tadinya memejamkan mata seketika membuka matanya. Mereka saling menatap bola mata masing-masing. Degupan jantung terdengar di dada Zara, ia gugup. Di mata Ran terlihat kesejukan yang membuat dirinya merasa aman dan tentram. Zara menikmati pandangan itu hingga ia pun terbuai dan rasa gugupnya sirna.
Ran menenggelamkan bibirnya di bibir gadis itu, perlahan ia menghisap bibir atas. Zara hanya pasrah tidak membalas tetapi juga tidak menolak, karena Zara masih terbilang kaku dalam hal seperti itu makanya gadis itu tidak membalas dan menolak adalah pilihan yang kurang tepat saat ini karena ciuman itu benar-benar lembut.
Ran terus mel*mat bibir Zara dengan lembut, beberapa menit. Lelaki itu seolah memberitahu Zara bahwa dirinya benar-benar mencintai gadis itu. Setelah beberapa menit barulah Ran melepaskan tautan bibir mereka.
"Aku ingin kita berbagi kebahagiaan dan juga kesedihan, aku ingin selamanya bersamamu Zara." ucap Ran penuh keyakinan.
Keesokan harinya mereka kembali pada aktivitas masing-masing. Zara berangkat ke kampusnya sedangkan Ran kembali ke kantor. Posisinya sebagai CEO di perusahaan milik Ayah Zara belumlah berubah. Pasalnya lelaki itu telah kembali dari urusan pribadinya dan memang sudah menjadi tugasnya untuk mengisi posisi itu sesuai amanat dari Ayah Zara.
Ran berjalan memasuki gedung kantor menuju ruangannya. Setelah sampai Surya datang lalu menemuinya untuk menyerahkan beberapa dokumen.
"Selamat datang kembali Bos. Bagaimana kabarmu dan kabar Ayahmu?" Sapa Surya dengam ramah.
"Kabarku dan Ayahku baik. Kau sendiri bagaimana?" balas Ran tak kalah ramah.
"Aku baik-baik saja bos." jawab Surya dengan sedikit membungkukkan kepalanya.
Sementara di kampus Zara sedang melaksanakan final untuk semester satu. Beberapa hari lagi gadis itu telah selesai dari perkukiahannya di semester satu dan akan libur untuk beberapa waktu.
Setelah selesai berkutat dengan soal-soal final, Zara bersama dengan Satria dan Aura keluar menuju kantin. Seperti biasa mereka akan pergi ke kantin setelah kelas selesai. Tak ada yang berubah bahkan setelah Aura telah menyandang status sebagai istri dari Bryan. Mereka tetap terlihar akrab layaknya sahabat.
Begitu pula Satria, ia benar-benar menikmati persahabatan mereka walaupun awalanya lelaki itu menaruh perasaan pada Zara tetapi lambat laun ia paham bahwa Zara tidak untuk dimiliki. Namun begitu Satria belum berusaha membuka hatinya untuk siapapun, sekarang ini yang terpernting baginya adalah menjaga kedua sahabat wanitanya itu titik.
"Bagainana akhir pekanmu Aura? Apakah menyenangkan menjalani akhir pekan bersama pasangan?" tanya Zara setelah mereka duduk bersantai di kantin.
"Kau tidak akan percaya. Kami hanya melakukan perbincangan panjang selama akhir pekan. Lebih tepatnya saling mengenal, yang pada akhirnya aku tahu jika Suamiku itu berteman dengan Masahiro Inoe. Kau ingatkan Zara, si tampan yang sombong itu?" Aura tersenyum simpul.
"Apa? Benarkah?" tanya Zara tak percaya.
Masahiro Inoe adalah aktor Jepang yang memerankan tokoh Tsukasa Kadoya dalam tokusatsu Kamen Rider Decade.
"Yah, Suamiku memperlihatkan fotonya bersama Masahiro. Mereka satu kampus ketika berkuliah." jelas Aura lagi.
"Luar biasa." Zara menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lalu bagaimana denganmu Satria?" tanya Zara, ia mengalihkan pandangannya pada Satria.
"Hmm, akhir pekanku kuhabiskan hanya untuk di rumah. Aku banyak membaca buku." ucap Satria.
Waktu berjalan begitu cepat hingga tak terasa siang pun menyapa. Aura telah pulang bersama suaminya beberpa menit yang lalu meninggalkan Zara dan Satria di halte bus depan kampus mereka.
"Ingin pulang bersama?" tanya Satria.
Zara menggeleng "Tidak, aku ada jemputan."
"Siapa?"
__ADS_1
"Kak Ran."
"Dia telah kembali?"
"Ya."
"Syukurlah."
Tak berapa lama akhirnya mobil Ran berhenti di depan halte bus yang mereka tempati menunggu. Ran keluar dari mobil lalu menghampiri keduanya. Ia menatap lelaki di samping Zara dengan tatapan bertanya-tanya. Zara yang melihat tatapan Ran langsung paham.
"Kakak, dia Satria. Sahabatku." ucap Zara.
"Oh yah. Satria, aku Ran. Kakaknya Zara." ucap Ran yang seketika menampilkan semyumannya setelah mendengar ucapan Zara.
"Aku, Satria Kak." jawab Satria sedikit gugup. Pasalnya Satria baru pertama kali bertemu dengan Ran setelah beberapa kali mendengar tentang lelaki di hadapannya itu dari curhatan Zara.
'Zara selalu benar akan keyakinannya bahwa lelaki yang dicintainya ini akan kembali. Dan nyatanya memang lelaki ini kembali. Mungkin memang tidak ada harapan bagiku untuk memiliki Zara. Aku tidak pantas merasa kehilangan, karena aku tak pernah memiliki Zara.' batin Satria.
Setelah kepergian Zara, Satria memasuki bus yang berhenti di depan halte. Ia masuk lalu duduk di bagian jendela. Satria memilih naik bus untuk pulang karena ia sedang menginginkannya. Satria memasang earphone ke telinganya lalu menyetel sebuah lagu bejudul Memiliki Kehilangan yang dinyanyikan oleh gurb band Letto. Walau terdengar jadul tetapi terasa menyentuh di hatinya.
*Tak mampu melepasnya
Walau sudah tak ada
Hatimu tetap merasa masih memilikinya
Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah memilikinya
Pernahkah kau mengira kalau dia 'kan sirna
Walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa
Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah memilikinya
Pernahkah kau mengira kalau dia 'kan sirna
Walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa
Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah memilikinya*
'Maka sekali lagi aku menyimpulkan, aku tak pantas merasa kehilangan karena tak pernah memiliki Zara.' sekali lagi ia membatin.
__ADS_1