
Lain halnya dengan Kira dan Bara yang jika ingin bertemu, mereka bisa malakukan kesepakatan tanpa harus melibatkan orang tua. Naura, justru selalu dipertemukan dengan Ren dalam keadaan makan bersama antar keluarga. Kali ini Ren bersama kedua orang tuanya datang berkunjung ke rumah kediaman Ran untuk makan malam.
"Kami merasa terhormat bisa memenuhi undangan makan malam ini Tuan Amakusa." Ucap Tuan Kitora mewakili keluarganya.
"Terima kasih atas kesediaan Tuan Kitora dan keluarga, kami begitu senang kalian bisa datang." Balas Ran yang kemudian mendapatkan senyum ramah dari ketiga tamu mereka.
Mereka pun dipersilahkan menyicipi hidangan makan malam istimewa buatan Zara itu dengan tenang. Selepas makan malam usai, mereka beranjak ke ruang tamu guna membahas rencana perjodohan Naura dan Ren.
"Jadi Tuan Amakusa, Ren putra kami menyetujui jika dijodohkan dengan putri anda. Bagaimana dengan Naura sendiri, apa setuju?" Dengan begitu tenang Tuan Kitora bersuara.
Ran dan Zara menatap putri mereka meminta jawaban. Tampak Naura hanya menyunggingkan senyum tipis yang menawan. Gadis itu sepertinya masih memikirkan jawaban atas pertanyaan dari Ayah Ren.
"Naura sayang, bagaimana?" Tanya Zara sambil mengelus kedua bahu putrinya.
Naura menunduk hormat kepada kedua orang tua Ren yang duduk di hadapannya. Keduanya terlihat menanti jawaban yang keluar dari mulut gadis itu.
"Bisakah saya meminta waktu untuk menjawab, mengingat keputusan selalu ada risiko yang harus ditanggung di kemudian hari. Saya rasa, semua ini butuh waktu." Tutur gadis itu tanpa memudarkan senyum tipisnya.
Tuan Kitora dan istrinya saling menatap sejenak. Lalu lelaki paruh baya itu beralih pada putranya seolah menanyakan pendapat. Terlihat Ren mengangguk tanda pemuda itu setuju. Tuan Kitora akhirnya menatap gadis cantik yang ia harapkan menjadi menantunya, dengan penuh harap seolah dirinya hanya ingin Naura yang menjadi istri Ren.
"Berapa lama waktu yang Naura minta?" Tanya Tuan Kitora.
"Dua bulan kedepan saya akan memberi tahu tentang keputusan saya, paman." Jawab Naura.
"Apa tidak terlalu lama, nak?" Sela Ran.
"Iya sayang, coba pikirkan lagi. Akan lebih baik jika kau menjawabnya dalam waktu dekat. Ren pasti butuh kepastian." Sahut Zara menguatkan selaan Ran.
Gadis bernama Naura itu tampak kembali berpikir. Wajahnya terlihat begitu tenang dan tetap tersenyum. Diam-diam pemuda yang duduk di sofa seberang memerhatikannya dengan rasa kagum. Tak menyangka jika seorang Naura bisa setenang itu ketika dimintai keputusan, yang setahunya perempuan akan sulit melakukan hal itu.
'Sematan Limited Edition itu sungguh pantas untuknya. Selain cantik, sopan dan pandai, dia juga langka. Apakah aku bisa bersanding dengannya yang hanya lelaki biasa tak punya kelebihan yang patut dibanggakan. Aku iri padanya' Ren merendah dalam hati sambil bibirnya membentuk garis senyum simpul.
Hening sejenak mengisi suasana di antara mereka yang kemudian memancing rasa canggung. Tak lama Naura mulai menghela napas, merasa mantap dengan isi pikiran yang akan diutarakannya. Gadis itu akhirnya membuka suara.
"Baiklah, setelah ujian semester genap pekan depan. Naura janji akan memberi jawaban." Tutur gadis itu.
Tuan Kitora yang tadinya hampir merasa kecewa, kembali dibuat sedikit berharap untuk bisa mendapatkan jawaban persetujuan dari Naura. Ia yakin, dalam sepekan kedepan ada cahaya terang dari rencana perjodohan antara Ren dan gadis itu.
"Pikirkan yang terbaik nak, kami sangat berharap bisa mendengar jawaban terbaik dari mu." Kini Istri Tuan Kitora yang berbicara.
"Tentu saja Bibi. Naura tidak akan mengecewakan kalian, jika sekalipun menolak." Balas Naura.
"Maksudnya?" Suara Ren yang khas itu terdengar untuk pertama kalinya.
Yang lain tampak memusatkan pandangannya kepada pemuda yang tiba-tiba menyahut itu.
"Untuk keputusan, saya belum tentu bisa memberi jawaban setuju. Tapi jika memang hati saya tidak condong ke arah sana, saya bisa menawarkan adik saya untuk menggantikan posisi saya." Jawab Naura sedikit bergetar karena rasa gugup yang tiba-tiba menyerangnya akibat pertanyaan dari Ren.
Ran menatap putrinya heran. "Belum waktunya membahas perjodohan untuk Kira. Mana mungkin posisimu akan digantikan adikmu?"
"Tunggu," Tuan Kitora tampak kebingungan. "Apa saudara Naura juga perempuan?" Lanjutnya.
"Iya Tuan, adik Naura perempuan." Jawab Ran tersenyum.
Tuan Kitora tampak berpikir seolah ada ide di dalam kepalanya yang berkoar-koar.
"Bagaimana jika semisal Naura tidak bisa menerima perjodohan ini, adiknya saja yang menggantikan?" Sahut lelaki paruh baya itu.
Ran tertegun sejenak untuk mencerna. Tidak buruk juga usulan tersebut namun ia tidak bisa terima begitu saja karena Kira masih kecil dan bagaimana jika Naura benar-benar menolak.
"Maafkan saya Tuan Kitora, tapi putri kedua kami masih belia." Ran berusaha menunjukkan sikap tenang.
"Lalu bagaimana?" Tanya Tuan Kitora lagi. "Saya sangat berharap bisa menjadi besan anda Tuan Amakusa." Ujarnya kemudian.
__ADS_1
"Maaf Paman Kitora. Bukan maksud Naura ingin menyela ucapan paman," gadis itu menjeda sambil menatap Ayah Ren.
"Silahkan nak, lanjutkan ucapanmu." Tuan Kitora memepersilahkan.
"Masih ada waktu satu pekan kedepan, siapa tahu Naura setuju dengan perjodohan ini. Karena tidak ada yang tahu kedepannya. Jadi Naura minta Paman tidak terlalu berharap dan tidak pula merasa putus asa." Lanjut Naura.
Tuan Kitora akhirnya paham, semua ini hanya menunggu waktu saja. Dalam hati lelaki paruh baya itu berdoa agar hati Naura bisa condong untuk menerima perjodohan tersebut.
"Baiklah jika seperti itu. Kami dengan senang hati akan menunggu jawaban dari Naura." Putus Tuan Kitora.
Ran mengangguk dengan seribu ucapan maaf yang terpancar dari wajahnya atas keputusan yang akan diutarakan putrinya di pekan depan mendatang.
"Terima Kasih atas pengertiannya Tuan." Ucap Ran.
"Tidak masalah Tuan Amakusa, kami paham. Naura adalah anak permpuan dan memiliki hak untuk ikut memutuskan hidupnya." Tuan Kitora tersenyum penuh arti. Hatinya dipenuhi kekaguman pada Naura.
"Semoga semuanya bisa berjalan sesuai harapan." Timpal Istri Tuan Kitora yang diangguki oleh Ran dan Zara.
Tak lama keluarga Tuan Kitora pun memutuskan untuk pamit pulang. Ran, Zara dan Naura mengantar mereka sampai ke depan pintu. Di pekarangan rumah sederhana mereka, mobil mewah berwarna putih milik Tuan Kitora terparkir. Salah satu ajudan lelaki paruh baya itu terlihat masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin.
"Sampai nanti Tuan Amakusa, Nyonya Amakusa dan Naura." Pamit kedua orang tua Ren.
Keduanya pun melangkah menuju mobil. Sedangkan Ren meminta sedikit waktu untuk berbicara dengan Naura berdua. Izin diberikan Ran kepada mereka dengan syarat hanya boleh di depan mata lelaki itu.
"Terima Kasih paman, saya hanya sebentar saja. Di sana, kami akan berbicara berdua." Ren menunjuk ke arah sudut pekarangan yang masih bisa dijangkau mata kedua orang tua Zara.
"Silahkan."
Ren mengajak Naura menepi ke sudut pekarangan yang tadi ditunjuk lelaki itu. Ketika ruang telah tersedia untuk mereka berdua berbicara, Ren mengawalai.
"Bisakah aku bertanya apa alasan kau tidak langsung menerima perjodohan ini?"
Ren memerhatikan raut wajah gadis itu yang tampak datar tak terbaca. Seketika hal itu membuat Ren ingin membatalkan pertanyaannya.
"Tidak begitu. Maafkan aku," sejenak Naura tersenyum. "Hanya saja ada orang lain di hatiku. Mungkin kau tidak paham dengan hal ini tapi, cinta itu punya objek dan objek dari rasa cintaku ditujukan ke orang lain." Lanjutnya.
Ren terdiam sesaat. Setelah itu ia menghela napas perlahan. "Tentu aku paham. Dulu aku juga pernah merasakan hal itu. Tapi karena harapan orang tuaku yang begitu besar menginginkan kita dijodohkan, maka aku tidak punya alasan menolak. Mereka adalah bahagiaku."
"Sekali lagi aku minta maaf atas ucapanku tadi." Naura menunduk merasa bersalah.
"Tidak apa. Itu tidak membuatku merasa rugi." Ucap Ren.
"Jadi, bagaimana? Masikah kau ingin meneruskan?" Tanya Naura mengembalikan topik bahasan mereka semula.
"Tentu. Seperti yang ayahku katakan tadi, jika bukan Kau adikmu pun jadi." Jawab Ren terlihat begitu santai.
"Kurasa ini sedikit rumit, sekali lagi maafkan aku. Karenaku, semua jadi terasa sulit."
Seolah merasa bosan dengan pernyataan maaf dari Naura yang entah sudah berapa kali lelaki itu dengar, Ren berusha untuk memperhalus bahasanya agar Naura tak merasa bersalah terus.
"Tidak, ini bukan salahmu. Mmm baiklah sepertinya sudah cukup obrolan kita. Aku bisa cukup paham dengan situasimu. Aku pamit." Selepas kalimat itu terucap, Ren mengangkat tangan seraya melambai pelan pada gadis itu kemudian berlalu.
Naura menatap kepergian mobil berwarna putih itu dari gerbang rumahnya. Setelah itu ia kembali ke sisi kedua orang tuanya.
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Ran saat mereka berjalan masuk ke dalam rumah.
"Tidak begitu penting Otousan." Jawab Naura.
Sambil melangkah masuk, mereka terlibat pembicaraan ringan hingga terdengar suara teriakan dari arah pintu. Ketiganya menoleh pada asal suara. Tempak sosok Kira yang terlihat lesu lemas dan lelah melangkah masuk ke arah mereka. Gadis 15 tahun itu berhambur ke pelukan sang ibu.
"Okaasan maafkan Kira sudah pulang selarut ini." Shutnya pelan.
Zara menatap suaminya dengan bibir yang mengatup rapat. Kemudian Ran mulai menyahut.
__ADS_1
"Kira sayang, sini."
Kira melepaskan pelukannya pada sang ibu lalu berlaih memeluk Ran.
"Maafkan Kira Otousan." Ucapnya syahdu.
Ran tersenyum lalu mengelus kepala putrinya. "Anak Otousan, sudah besar yah. Jaga diri baik-baik ketika di luar, ayah begitu menyayangimu. Jangan sampai dunia membuat putri Otousan ini terlena. Ingat, Kira punya masa depan untuk diperjuangkan. Hindari berpacaran dan pergaulan bebas."
Kira tertegun dan agak sedikit merasa bersalah. Pasalnya, seharian ini dia hanya melakukan apa yang ayahnya larang. Mengahbiskan waktu untuk memadu kasih bersama Bara dan juga pergi ke tempat para pemuda sebaya kekasihnya yang rata-rata peminum alkohol.
"Iya Otousan." Terpaksa Kira menyahut demikian.
Setelah pelukan penuh nasihat itu berakhir mereka memutuskan untuk pergi ke kamar masing-masing.
Kira berjalan lesu ke arah kamarnya, ketika hendak masuk langkahnya terhenti karena mendengar suara lembut sang kakak.
"Kira, darimana?" Tanya Naura.
Sebenarnya Naura tidak ada niat mengehentikan langkah kaki adiknya tapi kebetulan lewat ia pun memutuskan untuk berbasa basi sejenak.
"Kira dari rumah teman Kak, belajar bersama sebelum ujian. Ada apa kak?"
"Tidak. Kakak hanya bertanya. Oh ya, kakak ingin meminta pendapatmu."
Kira menatap mata Naura. "Tentang apa?"
"Jika kakak menolak dijodohkan dengan anak Paman Kitora, apa kau bersedia menggantikan kakak?" Tanya Naura pelan-pelan.
Kira merasa ucapan Kakaknya tidak terdengar seperti meminta pendapat melainkan menanyakan kesediaan.
"Tentu saja tidak. Lagi pula kenapa kakak ingin menolak?"
Naura tersenyum. Tersemat raut bahagia di wajahnya. "Kakak menyukai Kak Bara."
Kira membulatkan mata tidak terima. Hampir saja sumpah serapah keluar dari bibirnya. Namun dengan cepat gadis itu menenangkan diri.
"Lalu?" Sahut Kira yang tampak menyembunyikan sesuatu.
"Kakak berharap bisa bersama Kak Bara walaupun mustahil." Jawab Naura.
Ucapan Naura terdengar ambigu di telinga Kira. Gadis itu tidak tahu apakah kakaknya berharap bisa bersama Bara dalam hal apa, kekasih atau istri. Tidak mau ambil pusing, Kira malah meruntuhkan harapan di hati Naura.
"Memangnya Kak Bara menyukai Kak Naura sampai kakak berharap seperti itu?"
Naura tertohok dengan ucapan sang adik. Seingatnya Bara memang tidak pernah mengungkapkan perasaan padanya. Hingga gadis itu merasa sedikit sesak di bagian dadanya.
"Kakak pergi dulu, selamat malam." Ucap Naura yang akhirnya berlalu.
Kira menyunggingkan senyum remeh sebelum akhirnya gadis itu masuk ke dalam kamarnya.
"Kak Bara hanya menyukai Kira, Kak Naura. Kakak tidak perlu berharap." Gumam Kira dengan nada datar dan sorot mata tajam.
.
.
.
.
.
***Bersambung......
__ADS_1
jangan lupa like+komen๐๐***