
Langkah kaki terdengar begitu tergesa di koridor lantai 8, menunjukkan seorang lelaki berpakaian rapi tengah tergesa-gesa menuju ruangannya. Para karyawan menyapanya tetapi hanya dijawabnya dengan berdehem singkat. Pasalnya ada urusan penting yang harus diselesaikannya pagi ini. Bukan mengenai pekerjaan, melainkan mengenai asistennya yang secara tiba-tiba ingin mengundurkan diri.
Ran mengedarkan pandangannya ke arah ruangan Surya, pintunya terbuka dan menampakkan lelaki berperawakan tinggi dan berwajah tampan maskulin itu. Surya berjalan di belakang Ran menuju ruang CEO. Ran duduk di kursinya diikuti Surya yang duduk di hadapannya.
"Kenapa kau tiba-tiba ingin mengundurkan diri? Apa aku terlalu menyusakanmu?" tanya Ran pertama kali.
Wajahnya terlihat begitu cemas, Ran tak ingin Surya berhenti menjadi asistennya. Karena ia merasa sudah sangat nyaman jika Surya yang mengambil alih pekerjaan ketika dirinya sedang berkendala.
"Sebelumnya maafkan aku bos, bukan apa-apa. Hanya saja aku telah lama bergabung di GAF ini, dan kurasa Ayah membutuhkanku di agensinya. Selain itu, aku juga ingin mencari pendamping hidup." jawab Surya dengan penuh penghormatan.
Walaupun Ran lebih muda darinya tetapi tetap saja ia harus menghormati lelaki itu karena posisi Ran sebagai bosnya.
"Baiklah. Tapi bisakah pengunduran dirimu setelah aku menikah pekan depan?" bujuk Ran. Sebenarnya berat sekali bagi Ran melepaskan asisten kesayangannya itu. Apalagi Surya bersifat loyal baginya.
"Menikah? Pekan depan? Dengan siapa?" bukannya membalas ucapan Ran, Surya malah fokus pada kata menikah. Dalam kepalanya, mungkinkah bosnya ini akan menikahi Zara?
"Ya, aku akan menikah pekan depan dengan Zara. Dan kau harus hadir. Setelah itu barulah aku melepaskanmu." jawab Ran dengan nada tak rela.
"Baiklah bos. Semoga pernikahanmu berjalan lancar, aku turut bahagia mendengarnya." jawab Surya patuh sembari memberi ucapan turut bahagianya.
"Terima kasih. Aku juga berharap kau bisa segera meminang seseorang." Ran tersenyum simpul.
Setelah Surya keluar dari ruangannya Ran terlihat berpikir keras. Benar-benar rasa tak relanya begitu besar, karena selain Surya tak ada yang bisa bekerja sesuai keinginannya. Jika saja Surya bisa dicopy, maka Ran akan melakukan hal itu dengan senang hati.
"Andai saja Surya punya pengganti." gumamnya sembari memijat pelipisnya. Ia memikirkan masa depan perusahaan ditangannya tanpa ada Surya.
Beberapa saat, sosok Saga terlintas di kepalanya. Ran mencoba menimbang, bagaiaman jika lelaki itu yang menggantikan Surya. Tapi, bisakah Saga bekerja seperti Surya? Ran mengusap kasar wajahnya, baru kali ini ia dibuat pusing. Untung saja urusan pernikahannya dengan Zara diurus oleh Saga dam Tahira.
Memikirkan tentang pernikahan yang ditangani Saga, Ran jadi berpikir untuk memberi lelaki itu peluang menggantikan Surya apabila ia mendapatkan kepuasan dari hasil kerja Saga untuk pernikahannya.
"Hmm, menarik." gumam Ran yang kemudian diikuti senyum simpul.
...*****...
Sore hari, Ran mengemudikan mobilnya menuju kampus Zara. Sudah menjadi rutinitas baginya untuk menjemput gadis kecil calon istrinya tersebut. Tepat di depan gerbang kampus Ran menghentikan mobilnya, terlihat Zara melambaikan tangan padanya kemudian gadis itu pamit kepada teman-temannya, bisa dilihat dari kejauhan Satria dan Aura serta seorang gadis yang terlihat anggun dan manis.
Ran berdiri di depan mobilnya sembari merentangkan tangan, Zara dengan cepat berlari untuk masuk ke dalam pelukan lelaki itu. Lelaki bermata sipit calon suaminya. Ran mendekap gadis kecilnya dengan penuh cinta, begitu pun Zara. Mereka berpelukan ditengah situasi kota yang sedang sibuk berlalu lalang kendaraan.
Dari arah gerbang Aura, Satria dan Aya memperhatikan mereka.
"Manis sekali." ucap Aya. "Apa itu kekasih Zara?" Aya menampilkan senyum manisnya.
"Lelaki itu adalah hidup Zara." jawab Satria, terselip kesedihan dalam ucapannya.
__ADS_1
"Aku sudah terbiasa akan hal itu." sela Aura.
Ran melepaskan dekapannya lalu menuntun Zara masuk ke dalam mobil. Mereka melesat menuju ke sebuah restoran.
"Bagaimana hari mu di kampus, calon wanita sukses?" Ran mengawali percakapan mereka di dalam mobil.
"Menyenangkan. Aku menikmati studiku hari ini." jawab Zara dengan senyum manis penuh cinta.
Diantara mereka tak ada lagi kecanggungan untuk mengekspresikan perasaan satu sama lain. Apalagi status mereka sekarang bukan hanya sekedar kekasih melainkan calon suami dan istri. Sungguh, bagi Zara hal ini adalah langkah terbesar yang pernah ia lakukan dalam hidupnya, menerima Ran sebagai calon suaminya.
"Bagaimana denganmu? Apa pekerjaanmu berjalan lancar?" sambung Zara, senyumannya tak luntur sedikitpun.
"Tidak begitu lancar." jawab Ran lesu.
Raut wajah Zara berubah ketika Ran mengatakan hal itu. "He? Ada apa? Apa kau punya maslah di kantor?"
"Yah dan masalahnya sangat besar."
"Benarkah? Astaga kakak, maslah apa yang terjadi?" Zara menampakkan wajah seriusnya.
Ran menghela nafas berat. "Surya akan mengundurkan diri."
"Hah?" pekik Zara. Dalam hati merutuki sikap Ran yang menurutnya terlalu dibesar-besarkan.
'Hanya karena kak Surya akan mengundurkan diri maslah dianggap besar? Sepertinya Kak Ran sudah kurang waras.'
Zara mengerjap-ngerjapkan matanya, apa Ran benar-benar serius akan perkataannya? Karena tak ingin mengambil pusing, Zara hanya diam.
"Dua tahun aku bersamanya, dia tak pernah sekalipun mengecewakanku. Termasuk ketika aku memperjuangkanmu, dia membantuku. Merelakan waktu berharganya untuk menggantikan pejerjaanku demi membujukmu ketika kau marah waktu itu." Ran menjeda.
Inilah yang membuat Zara akhirnya paham, mengapa lelaki bermata sipit di sebelahnya begitu mengelu-elukan sosok Surya. Dari semua alasan yang Ran tuturkan, hanya alasan mengenai dirinyalah yang paling logis. Intinya, Ran menganggap Surya sangat berharga karena lelaki itu sangat pengertian, apalagi soal memperjuangkan dirinya. Pikir Zara.
"Kadang kita harus merelakan hal yang paling berharga dalam hidup, karena di masa mendatang akan ada hal berharga lain yang akan menghampiri." sahut Zara, terdengar bijak namun sebenarnya kalimat itu hanya terlintas saja, Zara tak benar-benar memahami kalimat yang ia keluarkan.
"Kau benar. Tapi sangat sulit bagiku." keluh Ran.
"Nanti kau akan merasa lapang ketika Surya telah bernjak dari hidupmu lalu hal berharga selanjutnya menghampirimu. Misal, Kak Surya tak lagi menjadi asistenmu, sebagai gantinya aku menjadi istrimu, bukankah itu hal yang berharga?"
Ran mencerna, ucapan Zara seperti tertuju pada implikasi roda berputar. Dimana kehidupan tak selamanya akan berjalan seperti keinginan dan tak hanya berjalan di situ-situ saja.
"Kau benar. Karena hidup ini tak akan berhenti berputar. Ada masa dimana kehidupan dirombak." Ran tersenyum. Hatinya mulai lapang. Tak sia-sia ia mencurahkan isi hatinya pada Zara. Karena akhirnya gadis itu telah membuatnya bernafas lega.
"Terima kasih, kau membuatku terbebas dari jeratan diriku sendiri." ucap Ran. Zara hanya tersenyum.
__ADS_1
Sampailah akhirnya mereka di restaurant ternama di kota tersebut. Zara membulatkan matanya, terkejut. Ternyata tujuan mereka bukan untuk pulang ke apartemen melainkan singgah di restaurant.
"Aku kira kita akan pulang." sahut Zara setelah mereka berjalan masuk ke dalam resaturant.
"Tidak, aku ada janji dengan seseorang. Tidak masalah kan?" Ran menatap gadis itu.
"Tidak." jawab Zara singkat.
Sebenarnya janji dengan seseorang bukanlah satu-satunya alasan bagi Ran mengikut sertakan gadis kesayangannya itu, tetapi ia juga ingin memberi kejutan pada Zara karena orang yang akan mereka temui adalah Faykah dan Aizuko. Pikir Ran, pasti Zara akan senang bertemu dengan sahabat lamanya. Dan satu lagi, Ran berencana memberitahukan rencana pernikahan mereka pada Aizuko dan Faykah.
Mereka duduk di dalam ruang privasi restaurant tersebut, masih berdua. Zara menengok kesana kemari mencari orang yang membuat janji dengan Ran. Ia heran, kemana orangnya?
"Kak, mana orang yang membuat janji denganmu?" tanya Zara.
Ran hendak menjawab, namun didahului oleh suara Faykah yang menyapa mereka terlebih dahulu. Zara membulatkan matanya mendengar suara familiar itu, kemudian ia menoleh.
"Fay.. Aku merindukanmu." sapa Zara dengan nada sangat manja. Ia merasa begitu bahagia bisa bertemu kembali dengan sahabatnya itu.
"Aku pun." balas Faykah.
Aizuko menjabat tangan Ran sembari saling melempar senyum ramah. Lalu akhirnya Faykah dan Aizuko duduk di hadapan mereka.
"Aku senang bisa mengadiri undangan makan malam mu Tuan Ran." Aizuko memulai.
"Terima kasih. Sebuah kehormatan bisa mendatangkan mu kemari Tuan Aizuko." balas Ran. Beberapa detik berikutnya mereka pun berbincang bincang.
Sedangkan Zara dan Faykah juga asik dengan dunia mereka. Perbincangan kedua gadis itu jelas sangat berbeda dari kedua lelaki dewasa di sebelah mereka. Jika Ran dan Aizuko membahas mengenai pekerjaan dan bisnis maka Zara dan Faykah membahas mengenai kehidupan mereka dan saling bertukar cerita.
Satu jam berlalu, makan malam telah usai dan mereka menjeda sejenak perbincangan sebelum beranjak. Ran merangkul bahu Zara.
"Kami mengundang kalian secara khusus untuk acara pernikahan kami pekan depan." ucap Ran.
Faykah terkejut, ternyata sahabatnya ini akan menikah. "Ooh, jadi kalian akan menikah? Wah wah, selamat yah." ucap Faykah.
Zara menunduk malu, sedangkan Ran tersenyum ke arah mereka.
"Selamat Tuan Ran, semoga pernikahan kalian lancar. Kami akan datang." ucap Aizuko.
"Terima kasih Tuan Aizuko." balas Ran.
.
.
__ADS_1
.
bersambung....