My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 88 : Kembali Terbuka


__ADS_3

Ran dilanda rasa cemas berkali-kali lipat. Pasalanya ia telah menghububgi Saga dan Bara untuk menyusul ke rumah sakit. Dan sepertinya tak lama lagi mereka akan tiba. Jika keduanya bertemu dengan sosok Tahira di sini, bisa dipastikan dua lelaki itu akan kembali merasakan luka yang pernah ditorehkan oleh Tahira.


Dan benar saja, Ran baru memikirkan hal itu dan sekarang dua lelaki yang ia khawatrikan tadi terlihat berlari ke arah mereka tanpa sadar ada sosok Tahira di sana. Saga dengan wajah cemasnya berhenti tepat di hadapan Ran dan Zara seraya menanyakan keadaan Kira.


Mereka belum menjawab karena rasa was-was, tidakkah Saga menyadari keberadaan wanita itu? Sementara Bara, pemuda itu terlihat mematung dengan wajah penuh kebencian.


"Bara." Ucap Tahira dengan segenap keberanian yang tersisa.


Bara melengos menghindari tatapan mata ibunya. Rasa benci dalam hati lelaki itu tak terkira. Bukan maksud ingin menjadi anak durhaka, namun sebuah perasaan telah memaksanya melakukan hal itu. Bahkan wanita yang merupakan ibunya itu tak sekalipun menata kembali perasaannya yang telah hancur lebur akibat pengkhianatan.


Saga baru menyadari jika wanita yang satu ini, yang berdiri tepat di sampingnya adalah sosok mantan istri yang dulu sangat ia cintai ketika menyebut nama Bara. Mendadak lelaki itu lemas lunglai bagai tak bertulang. Pertemuan tak terkira ini begitu menyayat hatinya hingga luka lama itu kembali menganga. Saga tak mengenali sosok itu dari awal karena perubahan yang terlihat begitu drastis.


"Kak Saga." Ucap Tahira lagi. Ekspresinya seolah menyiratkan perasaan bersalah. Bahkan kedua sudut matanya terlihat menggenang.


Saga seakan terpaku oleh keadaan. Tak sekalipun ia berniat menatap sosok itu. Seluruh tubuhnya tak bisa merespon peritah dari otak. Bahkan napas lelaki itu hampir pupus jika saja Bara tak membawanya pergi.


"Ayah akan segera menikah dengan Bibi Issaura, tolong jangan pernah muncul di hadapan kami lagi." Ucap pemuda itu sebelum akhirnya menyeret sang ayah pergi dari sana.


Ran, Zara beserta Naura hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan Bara yang terasa begitu menyayat. Bersama dengan itu, Tahira meneteskan air mata seraya menutup mulutnya agar isakan tangis wanita itu tak terdengar.


"Tolong maafkan aku." Ucap Tahira kemudian berlalu bersama rasa bersalah dan tangisannya dari hadapan mereka.


Bara memeluk ayahnya dengan erat. Walaupun tak memiliki ikatan darah, pemuda itu tetap saja menyanyangi Saga. Bahkan rasa sayangnya begitu besar. Sebab oleh perbuatan ibunya, sosok Saga menjadi lelaki yang menyedihkan sepanjang hidup. Jika digambarkan, Saga adalah awan hitam di tengah cerahnya langit.


"Ayah, maaf." Ucap Bara.


"Tidak nak. Bukan kau yang salah, semua ini adalah salah Ayah." Ucap Saga lemah lalu dilanjutkan dengan suara tangis.

__ADS_1


Terlihat dengan jelas, dari tangis yang dikeluarkan lelaki yang sudah hampir berusia senja itu, perasaannya begitu terluka. Bara tak sanggup melihatnya.


"Kita pasti akan bahagia yah. Menikahlah segera dengan Bibi Issaura, dan mari kita membangun keluarga bahagia." Bara berusaha meyakinkan sang ayah dengan kalimatnya.


"Semua itu tidak mudah Bara. Sejujurnya ayah masih mencintai ibumu. Bahkan sampai sekarang begitu sulit untuk kembali merasakan jatuh cinta lagi. Luka untuk penkhianatan itu terlalu dalam dan rasanya tak ada yang bisa mengobati." Ucap Saga.


"Tapi ayah belum mencoba. Untuk kali ini Tolong ayah, lupakan wanita itu. Aku ingin ayah bahagia. Jika ayah bahagia maka Bara juga akan bahagia."


"Apa kau tidak keberatan ayah melupakan ibumu?" tanya Saga dengan wajah menyedihkan disertai air mata yang menganak sungai.


"Jangan lagi menyebutnya dengan sebutan itu, dia tidak pantas menyandang status sebagai seorang ibu. Yang paling penting sekarang adalah kebahagiaan ayah. Tak peduli sesulit apa hidup yang ayah lewati selama ini, Tuhan sudah membukakan kita jalan untuk melangkah menuju kebahagiaan. Dan ayah, melangkahlah. Ayah pasti bisa!"


Seketika semangat hidup Saga kembali menguar di tengah rasa sakir akibat luka yang menganga, sungguh Bara hanya memprioritaskan kebahagiaannya. Dan itu sudah cukup membuat lukanya mereda. Dengan gerakan pelan, Saga merangkul bahu pemuda itu seraya menganggukkan kepalanya.


"Baiklah anakku." Balas Saga.


Bara tersenyum di tengah air mata yang masih menbasahi pipinya. Akhirnya setelah sekian lama lelaki yang ia anggap sebagai ayah itu tersenyum juga. Dan yang lebih penting, Saga memanggilnya dengan sebutan 'anakku'. Apa yang lebih membahagiakan dalam hidupnya selain pengakuan itu, tidak ada. Selama ini sebutan itulah yang ia dambakan disebabkan karena ia tak pernah tahu siapa ayah kandungnya.


"Anda juga menangis tuan." Balas Bara.


Mereka berdua akhirnya tertawa dan sama-sama menyalurkan kekuatan dari tawa itu. Terlihat seperti anak remaja yang sedang putus cinta, mereka saling beradu isak tangis dan tawa. Para perawat yang lewat terlihat memandangi heran ke arah mereka. Namun mereka hanya memilih tak acuh.


Adegan itu disaksikan oleh Ran dan Zara. Mereka berdiri tak jauh dari kursi yang ditempati pasangan anak dan ayah itu. Ran dan Zara merasa lega karena ternyata dua lelaki berbeda usia itu bisa saling menguatkan.


"Semoga kalian selalu berbahagia." Ucap Ran yang hanya di dengar oleh Zara.


Sekitar setengah jam berlalu kelima orang tersebut sudah bisa masuk ke dalam kamar rawat Kira. Para lelaki duduk di sofa, sementara Naura dan Zara duduk di samping ranjang Kira.

__ADS_1


Tadi dokter berkata jika Kira harus segera melakukan transfusi darah. Sementara dokter mengambil sample darah gadis itu untuk memeriksa jenis apa, mereka duduk menunggu hasilnya.


Tak lama seorang suster masuk setelah mengetuk pintu. Zara menyambutnya dengan senyum ramah. Suster itu lalu menyerahkan sebuah kertas kepada Zara yang merupakan hasil dari pengambilan sample darah Kira tadi. Di situ menunjukkan bahwa golongan darah Kira adalah AB.


"Sebelumnya kami meminta maaf karena stok golongan darah AB sedang habis. Ada banyak yang menerima donor hari ini. Mungkin dari pihak keluarga ada yang bisa mendonorkan darahnya?" Ucap suster tersebut.


"Baiklah suster, saya sendiri yang akan mendonorkan darah untuk putri saya." Jawab Zara.


"Baiklah, karena pasien membutuhkan 4 kantong darah bergolongan AB maka kami menyarankan agar nyonya Zara tidak sendiri. Apa ada keluarga lain yang bersedia?" Kata suster lagi.


Zara menatap suaminya yang mendapat jawaban dengan gelengan tanda lelaki itu tidak bergolongan darah AB. Kemudian wanita itu menatap Naura, sama. Gadis itu juga tidak.


Terpaksa matanya berpindah pada Saga. Zara hampir putus asa ketika lelaki itu juga menggeleng. Dan harapan terakhirnya hanya Bara seorang, namun ia malah sudah merasa putus asa. Namun seketika harapannya kembali mencuat ketika Bara menganggukkan kepala tanda golongan darah lelaki itu AB. Zara bernapas lega.


Pandangannya kembali ke arah suster yang setia menunggu dengan senyuman itu.


"Aku dan pemuda itu akan melakukan donor darah." Ucap Zara.


"Baiklah nyonya, setengah jam lagi kami akan memanggil anda untuk melakukan pemeriksaan sebelum pendonoran darah di ruangan sebelah. Terima kasih, saya pamit dulu." Suster tersebut akhirnya beranjak pergi.


Zara kembali menatap ke arah Bara seraya menyunggingkan senyum tulus sebagai rasa terima kasihnya. Sementara Bara mengangguk dengan canggung.


'Aku melakukan hal ini demi dia, Kira kekasihku. Karena aku sangat mencintainya bahkan jika dia meminta nyawaku.' Ucap Bara dalam hati sambil tersenyum menatap Kira.


.


.

__ADS_1


.


bersambung ....


__ADS_2