My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 86 : Terungkap?


__ADS_3

Menjelang siang Bara baru saja mengabari pamannya tentang kondisi Kira yang saat ini tengah dirawat di rumah sakit. Dokter telah memeriksa keadaan gadis itu dan dinyatakan mengidap talasemia, atau kekurangan sel darah merah.


Gadis itu bersandar pada kepala ranjang dengan tampang pucat. Cairan infus berangsur masuk ke dalam tubuhnya melalui selang kecil. Di sisi kanan ranjang, Bara duduk dengan pandangan tak terbaca ke arah Kira. Gadis itu sedari tadi hanya diam yang membuat Bara kebingungan.


Perlahan tangan Bara menyentuh tangan Kira yang sedang tertancap benda mendis itu kemudian mengelusnya pelan. Menyalurkan kehangatan agar Kira merasa lebih tenang. Berselang beberapa saat gadis itu tiba-tiba meneteskan air mata.


Bara membulatkan mata karena terkejut melihat bulir bening dari sudut mata gadis itu mengalir deras seperti anak sungai. Dengan rasa panik yang mulai mencuat, timblul gerakan spontan dari lelaki itu. Tangannya terangkat menghapus jejak air mata di pipi Kira dengan perlahan.


"Sayang ada apa?" Tanya Bara.


Kira tidak menjawab. Lantas tangisnya itu semakin tak karuan hingga suaranya perlahan terdengar yang akhirnya membuat Bara semakin kelabakan.


Lelaki itu bingung ingin berbuat apa ketika berhadapan dengan seorang gadis yang tiba-tiba menangis. Bertanya pun hanya berakhir pada kesia-siaan sebab gadis itu tak ingin berbicara. Lalu apa? Haruskah ia memeluk atau bagaimana?


Sebab hanya satu ide yang muncul di benak Bara maka akhirnya lelaki itu beralih memeluk Kira. Dengan gerakan kaku Bara mencoba untuk menenangkan Kira, berharap tangis gadis itu mereda.


Sebenarnya Bara sedikit ragu memeluk Kira, karena sebentar lagi pamannya Ran akan segera tiba. Bisa saja mereka akan tertangkap basah jika terlalu lama dalam posisi seperti itu. Tapi tak bisa juga membiarkan Kira terus menangis, rasa tak teganya begitu besar. Kasihan gadis itu jika dibiarkan menangis tanpa pelukan. Pikirnya.


Kira semakin terisak dalam pelukan lelaki itu. Saluran pernapasannya mendadak macet hingga rasa sesak menyergapnya. Perlahan ia mulai berucap namun kalimat yang ia lontarkan tak dipahami oleh Bara. Hingga lelaki itu berkata untuk mengulang kalimat Kira barusan.


"A..ak..aku.. aku.. lelah." Ucap Kira berusaha menyempurnakan kalimatnya di tengah rasa sesak yang masih menyelimutinya.


"Lelah kenapa? Apa yang kau masksudkan? Perjelaslah!" Bara mendesak seolah diliputi rasa kesal. Pasalnya ia begitu cemas namun kalimat Kira membingungkannya.


"Aku lelah kak." Setelah ucapan itu tangis Kira semakin kuat memecah hening di antara mereka.


Bara menarik napas dalam, berusaha menetralkan emosinya.

__ADS_1


"Aku lelah menyembunyikan semua ini dari otousan dan okaasan. Aku lelah berbohong pada mereka, aku lelah memendam rasa dendamku pada Kak Naura. Aku lelah bersikap egois. Aku lelah dengan kehidupanku yang terasa kurang normal ini kak. Aku lelah." Seluruh kata yang dikeluarkan gadis itu dibersamai oleh isak tangis dengan volume bergelombang yang terdengar seperti teriakan.


Bara terpaku dalam suasana yang kurang bersahabat itu. Otaknya mencerna maksud dari seluruh kata yang Kira ucapkan. Hingga lelaki itu perlahan memahami.


"Jadi kau ingin paman Ran dan Bibi Zara tahu tentang ini semua?" Tanya Bara.


"Ya, aku ingin mereka tahu. Tapi aku takut." Jawab gadis itu.


Bara ingin berucap namun ponselnya tiba-tiba berdering tanda ada panggilan masuk. Peluka mereka sontak terlepas. Bara merogoh saku celananya kemudian beranjak pergi dari ruangan tersebut tanpa kata.


Kira menatap kepergian lelaki itu dengan air mata yang meluap-luap membanjiri pipinya. Detik berikutnya gadis itu beralih dari rasa sedih ke rasa terkejut. Secara tiba-tiba, Naura muncul di hadapannya dengan wajah datar tak terbaca seperti sedang mengungkapkan sebuah rasa yang kemungkinan adalah kekecewaan. Gadis itu buru-buru menghapus air matanya.


"Kak Naura." Ucap Kira sedikit tersentak.


Naura menatap dalam kedua bola mata adiknya. Rasa yang tumbuh pada hatinya seakan meletup bagaikan gunung berapi yang meletupkan asap vulkanik.


Kira membulatkan matanya tak percaya. Seolah tak paham apa yang terjadi dan bagaimana kakaknya bisa ada di hadapannya saat ini. Kepala Kira seketika terasa pening. Jantungnya berdebar tak karuan.


"Kak kau salah pah..." Kira berusaha membela diri namun Naura memotong ucapan gadis itu.


"Aku mendengar semuanya. Bahkan aku melihat semuanya. Kalian berpelukan, dan Kak Bara memanggilmu sayang. Kau telah mengkhianati kami semua. Kau berhubungan dengan Kak Bara tanpa sepengetahuan okaasan dan otousan. Sungguh kau begitu berubah Kira." Naura menggelengkan kepala, matanya mulai memerah.


Kira kembali meneteskan air mata ketika kalimat itu menerobos masuk ke telinganya. Sungguh menyakitkan! Naura menyebut tindakannya sebagai pengkhianatan.


"Kau salah Kak, aku tidak...."


"Diam Kira! Kau yang membuatku menjadi bermulut kasar seperti ini. Tak perlu membela diri, semua sudah terungkap. Dan sudah pasti kau takan pernah mau jujur. Akan kuadukan semua ini pada okaasan dan otousan, bersiaplah." Naura menekan seluruh kata dalam ucapannya.

__ADS_1


Kira melengos menghindari tatapan intimidasi dari Naura. Debaran dalam dadanya semakin kuat. Perasaannya memanas seperti tersiram air mendidih. Ketakutannya mencuat dengan cepat hingga membekukan seluruh saraf tubuhnya. Keringat dingin mulai tampak ke permukaan kulitnya dalam suhu ruangan yang begitu dingin.


Suara handle pintu yang terbuka menyita suasana tegang yang tercipta di antara kedua gadis kakak beradik itu. Mimik wajah Naura berangsur terkendali ketika melihat ayahnya dan Bara masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Naura, ternyata kau sudah di sini. Mengapa tak memberitahu otousan?" Tanya Ran begitu mereka saling berhadapan.


"Maaf otousan, aku lupa." Jawab Naura sekenanya. Perasaan gadis itu masih tak karuan karena perdebatannya tadi dengan Kira.


Bara terkejut dan nyaris kehilangan napas. Sudah berapa lama Naura berada di ruangan ini. Terbersit dalam benak lelaki itu sebuah kemungkinan, bahwa mungkinkah Naura melihatnya memeluk Kira tadi? Sama seperti Kira, lelaki itu juga mengeluarkan keringat dingin hingga tampak pada dahinya.


"Jika kau mengabari otousan lebih cepat maka Bara tidak usah repot-repot menjemput otousan di loby." Ucap Ran dengan nada santai seperti tak terjadi apapun.


Suasana di antara ketiga anak muda itu tak tertangkap sama sekali oleh Ran. Karena memang lelaki 45 tahun itu belum mengetahui apapun.


Ran duduk di kursi yang tadi sempat diduduki oleh Bara. Lelaki itu menatap putrinya dengan senyum semangat yang menghiasi wajah tampan awet mudanya. Sementara yang ditatap malah semakin takut hingga tak mampu menciptakan ekspresi apapun selain raut datar.


Bara dan Naura masih berdiri, mereka sama-sama menatap Kira dengan tatapan berbeda. Detik berikutnya Naura menatap Bara dengan tatapan persis seperti ia menatap Kira tadi.


Bara menoleh dengan perasaan bingung. Sedetik kemudian dia baru sadar jika tatapan Naura itu adalah kekecewaan dipadu dengan amarah.


'Mungkinkah, Naura sudah mengetahui hubungan kami? ' Tanya Bara dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2