
Saga membuka pintu apartemennya lalu masuk, melepaskan sepatunya asal, kemudian melanjutkan langkahnya sembari membuka kaos kaki yang di kenakannya dan melempar benda itu ke sembarang arah. Sembari melangkah satu persatu pakaiannya di lepaskan dan meninggalkannya begitu saja. Dan sekarang apartemennya sangat berantakan. Kemeja dan juga jasnya tergeletak begitu saja di lantai. Hingga Tahira datang dari dapur setelah mendengar suara-suara. Betapa tercengangnya gadis itu melihat kelakuan Saga, Tahira berdecik kesal. Ia kemudian memunguti satu persatu pakaian Saga yang tercecer sambil merapalkan sumpah serapa untuk lelaki itu.
'Dasar sanguinis, menyusahkan. Jika saja kau bukan orang yang ku cintai maka aku akan membuangmu dari jendela apartemen ini. Setiap hari harus melakukan hal ini, huh dasar manusia menyebalkan.' ucapnya dalam hati.
Setelah memunguti pakaian Saga gadis itu pun melangkah memasuki kamar lelaki kurang rapi dan serampangan itu. Tahira membuka pintu kamar hendak berteriak memprotes kelakuan Saga, namun ketika pintu terbuka tak ada tanda-tanda Saga berada di sana. Kemana lelaki itu?
Tahira hanya mengendikkan bahu sejenak lalu melanjutkan langkahnya memasuki kamar. Tepat di depan lemari milik Saga ia berdiri lalu membukanya, memasukkan pakaian Saga dengan menggantungnya. Setelah selesai matanya kembali menengok ke sana kemari mencari keberadaan Saga.
"Dia kemana sih?" gumamnya. Tahira berjalan ke arah kamar mandi dan tak mendengar suara apapun dari dalam sana. Ia mulai jengah.
"Kenapa dia seperti hantu saja sih, hah terserah. Aku tak peduli. Dia selalu saja membuatku muak." Tahira membalikkan badannya untuk meninggalkan kamar tersebut.
Sedetik kemudian terdengar suara pintu terbuka, Tahira berbalik dan melihat Saga berdiri tepat di depan kamar mandi hanya memakai handuk yang dililitkan ke pingganganya dengan rambut yang masih basah. Melihat itu membuat Tahira perlahan menelan ludahnya. Saga terlihat begitu menggoda. Segera Tahira mengalihkan pandangannya lalu beranjak namun ketika hampit sampai di ambang pintu tangannya dicekal Saga.
"Apa yang..." ucapan Tahira terpotong melihat Saga yang menutup rapat pintu kamar lalu menguncinya. Lagi-lagi Tahira menelan ludahnya.
Tanpa aba-aba Saga menarik tangan gadis itu menuju ranjangnya. Jantung Tahira mulai berdebar tanpa kendali, ia tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Dan benar saja, Saga membaringkan tubuhnya di atas ranjang lalu perlahan melucuti pakaiannya.
"Kak, kau baru pulang kerja. Apa tidak lelah, sebaikanya kita makan malam saja dulu." Tahira berusaha mencuci otak Saga agar menunda penyaluran hasrat lelaki tersebut.
"Tidak mau. Aku hanya menginginkanmu, Ra." ucap Saga dengan nada lirih penuh gejolak.
Tahira tak bisa berkata apa-apa lagi, Saga jika sudah seperti itu maka akan susah membujuk ataupun mencuci otaknya agar menunda apa yang ingin dilakukannya.
Perlahan Saga membenarkan posisinya lalu mulai menaiki tubuh Tahira. Selimut pun ditariknya ketika tubuh mereka sudah sama-sama tak mengenakan apapun. Saga menatap manik legam gadis itu penuh cinta. Dari tatapan tersebut Tahira menangkap bahwa Saga akan melakukan aksinya itu dengan gerakan pelan dan tentu saja menikmati.
Saga mendekatkan wajahnya dan Tahira menutup mata perlahan. Bibir mereka tertaut dalam beberapa detik hingga Saga mulai menaikkan level permainan.
Dua jam berlalu Saga baru menyerah karena sudah merasa kelelahan. Sedangkan Tahira telah terlelap beberapa menit yang lalu. Tanpa mengubah posisi Saga memejamkan matanya di atas tubuh Tahira. Hari ini kelelahan akibat pekerjaan kantornya terobati oleh kepuasan yang ia dapatkan dari Tahira.
__ADS_1
Beberapa menit berselang ponselnya berbunyi tanda panggilan masuk. Saga meraih benda persegi panjang itu yang berada di atas nakas. Tertera nama seorang lelaki yang memiliki mata sipit dan berkebangsaan asing yang merupakan sepupunya. Ran.
"Apa?" tanya Saga dengan nada lemas akibat aktivitasnya tadi.
"Ketus sekali kau." balas Ran.
"Mm, katakan saja apa maumu." Saga memejamkan matanya seolah malas mendengar suara Ran.
Mereka berdua memang sering seperti itu, berucap seolah mereka musuh namun nyatanya saling memperhatikan.
"Aku mau memberitahumu, pekan depan aku berencana menikahi Zara dan kau harus menjadi walinya." ucap Ran santai.
Tapi Saga menanggapi ucapan Ran dengan tergesa, ia langsung membulatkan matanya.
"Siapa yang menyuruhmu menikahi anak di bawah umur hah? Tidak.. Tidak.. Kau tidak boleh menikahi adiku Zara." tolak Saga.
"Astaga, seolah Zara adik kandungmu saja. Aku hanya menyuruhmu menjadi walinya." gerutu Ran, suaranya terdengar muak.
"Benar juga. Kebetulan sekali otakmu encer yah. Kalau begitu kau bantu aku yah menyiapkan semuanya, sepupu. Hahaha."
"Siapkan saja sendiri, aku sibuk."
"Oh begitu yah, baiklah jika nanti kau meminta bantuanku untuk menikahi Tahira maka aku juga akan berkata bahwa aku sibuk." ancam Ran.
"Ck,, kau ini selalu saja bisa mengamcam. Baiklah, akan kubantu. Tapi bukan untukmu, ini kulakukan untuk adikku Zara, mengerti?"
"Terserah saja. Aku tak peduli. Kalau begitu terima kasih. Aku akan menjadi sponsor utama untuk pernikahanmu dengan Tahira nanti, itupun jika kalian jadi menikah, hahaha." sekali lagi lelaki itu mengejek Saga.
"Tutup mulutmu sipit. Aku pasti akan menikahi Tahira." ucap Saga sarkas.
__ADS_1
"Dasar pribumi. Baiklah sudah dulu, aku banyak pekerjaan. Sampai nanti."
Tuuuuttt..
Panggilan pun diakhiri. Saga menyimpan kembali ponselnya di atas nakas. Lalu memandang wajah Tahira yang tengah tertidur pulas di bawahnya.
"Aku pasti akan menikahimu, aku berjanji." ucap Saga lalu mengecup bibir Tahira sekilas.
"Maafkan aku telah merusakmu sebelum waktunya."
"Maafkan aku karena belum bisa menikahimu."
"Maafkan aku karena pernah menjadi lelaki pecundang ketika pernikahanmu dengan Ran."
"Maafkan aku karena tak pernah menganggapmu adik walaupun memang kau bukanlah adikku."
"Aku sungguh mencintaimu dari lubuk hatiku yang paling dalam."
"Tolong teruslah bersamaku sampai mati."
Saga terus menerus membisikkan kalimat-kalimat itu di telinga Tahira yang sedang tertidur pulas. Saga memeluk tubuh lemas itu dengan erat, menangis. Ia menangis ketika mengingat kembali saat pertama ia merenggut mahkota milik Tahira. Jika saja ibunya tahu, maka pasti wanita itu akan sangat kecewa. Tetapi Tahira dan Saga membiarkan Yumna pergi dari dunia tanpa harus merasakan kekecewaan itu. Persoalan Tahira telah kehilangan kesuciannya, hanya Ran dan Zara yang tahu. Saga menghela nafasnya panjang, ia mulai merenungi kelakuannya selama ia hidup. Tak ada yang baik menurutnya, terutama pada Tahira. Karena merasa bersalah pada gadis itu, maka ia memutuskan akan menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk Tahira, bekerja keras demi kebahagiaan gadis itu.
Lalu akhirnya Saga pun terlelap dan memasuki alam mimpi yang panjang.
.
.
.
__ADS_1
bersambung...