
Sepulang dari hujan-hujanan tadi pagi, kini pasangan suami istri yang baru menikah itu tengah duduk di ruang tengah menyaksikan acara televisi. Tubuh mereka bersandar pada kaki sofa dengan dibalut selimut bulu yang sangat tebal, maklum lah sedang hujan deras hingga membuat mereka kedinginan. Tak lupa beberapa cemilan tersaji di hadapan mereka dengan dua cangkir teh hangat.
Zara terus memasukkan cemilan biskuit kecil dengan topping pemanis di atasnya sembari memfokuskan matanya ke arah televisi. Tak lama denyutan terasa pada bagian kewanitaannya, gadis itu meringis. Kenapa harus ada adegan denyut-denyutan disaat posisi enak seperti ini? batinnya.
Ran yang sejak tadi merangkul gadis itu dengan pandangan mata juga ke arat televisi, sontak terkejut mendengar ringisan Zara. Segera ia mengalihkan pandangannya menatap ke arah gadis itu.
Salah satu tangan Zara mencengkram ujung selimut, Zara tertunduk sambil menejamkan mata. "Aaakkkkh." pekiknya.
"Kenapa Chibi-chan?" tanya Ran. Lelaki itu menyingkap selimut yang mereka gunakan dan mendapati tangan Zara yang lainnya memegang bagian sensitifnya.
"Sakit." jawab Zar lirih.
"Apanya?" tanya Ran lagi, seketika lelaki itu linglung.
"Kenapa masih bertanya sih? Kau yang membuat hal ini terjadi." kesal Zara. Ia heran pada lelaki ini, kenapa bisa bertanya seperti itu sedangkan pelakunya adalah dia.
Ran tersentak. Ya, denyutan itu disebabkan oleh perbuatannya subuh tadi. Walaupun lelaki itu melakukannya dengan lembut tetapi tetap saja, yang pertama pasti akan terasa sakit.
"Aamm,, kalau begitu aku akan memberikan obat untukmu." ucap Ran yang merasa gugup di awal kalimatnya.
Setelah beberapa saat tak ada jawaban dari Zara, Ran memutuskan untuk menggendong tubuh gadis itu menuju kamar, kamar Ran yang telah menjadi kamar mereka. Sepanjang jalan Zara terus meringis dengan mata terpejam. Tangannya mencengkram kuat bahu Ran demi menahan rasa sakit itu.
Setelah sampai di kamar secepat mungkin Ran membaringkan tubuh Zara di ranjang. Sedikit kahawatir, Ran kembali menanyakan kondisi gadis yang telah menjadi istrinya tersebut.
"Masih sakit?"
Zara mengangguk dengan tatapan sendu, baru kali ini gadis itu merasa sangat sakit di bagian yang satu itu. Anggukan Zara menuntun Ran untuk memeriksa bagian yang terasa berdenyut tersebut. Ran duduk di tepi ranjang lalu hendak mengarahkan tangannya ke arah rok hitam yang dikenakan Zara, lelaki itu ingin menyibakkannya.
Sementara Zara mengernyit melihat apa yang Ran ingin lakukan, secara refleks gadis itu mengintrupsi.
"Mau apa?"
Ran menoleh dan menatap manik gadis itu, "Aku ingin memeriksanya, ada apa?" dengan santainya lelaki itu menanyakan ada apa.
"**.. Tidak usah kak." Zara menahan tangan Ran agar tidak menyibak rok yang dikenakannya.
Ran tersenyum miring disertai kilatan nakal. Lelaki itu memangkas jarak tubuhnya dengan tubuh Zara. Zara bergidik ngeri.
"Kak... Mau apa sih?" keluh Zara. Pipinya memerah akibat malu ditatap seperti itu oleh Ran.
"Apa kau merasa malu jika aku memeriksa bagian yang sakit itu?" goda Ran.
Zara mengalihkan pandangannya dari lelaki itu. "Aa.. Anu.. Ti.. Tidak." ucapnya gugup.
Ran tersenyum lebar lalu mengelus rambut Zara. "Biar ku periksa saja yah?"
Zara menggigit bibir bawahnya seolah menimbang ucapan Ran. Sungguh jantungnya tak berhenti berdegup, bahkan terasa sangat liar. Ran menaikkan sebelah alisnya seolah menuntut jawaban. Akhirnya dengan sedikit keyakinan di hatinya Zara mengangguk malu-malu.
Setelah itu barulah Ran mengeksekusi, ia mendudukkan Zara di kepala ranjang. Kemudian menyibakkan rok yang dikenakan gadis itu hingga menampakkan **********. Tanpa ragu Ran memelorotkan benda itu sampai terlihat sesuatu yang tadi ditutupi benda itu.
Zara menutup mata karena merasa malu. Sambil bersandar, tangannya mencengkram bantal kecil yang berada di dekapannya. Sementara Ran sibuk memeriksa bagian bawahnya. Lelaki itu terbelalak melihat warna kemerahan disisi kewanitaan Zara, dan juga bengkak.
"Punyamu bengkak Chibi-chan." ucap Ran yang lagi-lagi membuat gadis itu merasa tambah malu.
"Mmm." gumam Zara.
Sambil menarik laci nakas untuk mengambil salep serba guna, Ran berucap. "Maafkan aku Chibi-chan."
Zara membuka matanya perlahan setelah merasakan sentuhan pada bagian bawahnya. "Kenapa harus minta maaf?" tanya gadis itu.
"Karena.." Ran terhenti. Zara menatap penasaran. "Karena yang membuatmu seperti ini, aku." lanjutnya.
__ADS_1
"Tapi bukankah memang hal seperti ini wajar-wajar saja bagi pengantin baru?" Zara menampakkan wajah polosnya. Menatap ekspresi polos itu membuat Ran merasa gemas sendiri.
"Kau benar. Tapi kakak harus tetap minta maaf." jawab Ran, nadanya terdengar sangat lembut.
Setelah mengoleskan salep serba guna itu, Ran duduk di tepi ranjang sembari mengibas-ngibaskan tangannya ke arah milik Zara.
"Kak." pekik Zara.
"Hmm." gumam Ran sembari terus fokus mengibaskan tangannya.
"Zara belum mau hamil." ucap gadis itu pelan sembari memainkan jemarinya.
Sebenarnya Zara ragu mengucapkan kalimat itu karena takut membuat Ran marah. Tapi mungkin tak ada salahnya mengutarakan isi hatinya.
"Tidak masalah." jawab Ran dengan senyuman. Lelaki itu menutup kembali rok Zara setelah salep yang dioleskannya mengering.
Diluar dugaan, Zara mengira lelaki itu akan marah-marah tapi ternyata tidak. Bahkan jawabannya tidak menyiratkan kemarahan. Ran mengelus pucuk kepala isrti kecilnya itu dengan lembut.
"Sebenarnya kakak belum berpikir untuk membuatmu hamil, karena.. Kakak tahu mentalmu belum siap. Lagi pula melakukan hubungan badan sekali atau beberapa kali saja kan belum tentu bisa langsung hamil." Ran tersenyum.
Zara mengangguk paham tapi masih belum bisa tenang. "Eh tapi, apa itu artinya kakak akan sering mengajakku berhubungan?" tanya Zara ragu-ragu.
"Tentu." jawab Ran cepat.
Seketika Zara gelagapan, sepertinya pertanyaan yang dilontarkannya salah.
"Tidak ada yang salah jika kita melakukan hal itu bukan? Apa yang membuatmu merasa ragu dan takut? Aku ini suamimu loh." tanya Ran.
"Aku hanya takut untuk hamil." Zara menunduk.
"Tidak usah takut. Aku yakin jika kau sudah siap, pasti hal itu akan terjadi. Walau sekeras apapun kau menolak, jika Tuhan berkehendak pasti kau akan hamil. Paham kan maksud kakak?"
Zara berpikir sejenak "Maksudnya, jika aku belum siap menjadi seorang ibu maka Tuhan tak akan menghendakiku hamil?" ucap Zara sambil mengernyit.
"Oh seperti itu. Banyak sekali yang belum aku ketahui." rutuknya.
"Tapi sebelumnya kau harus sepakat untuk ikhlas melakukan hubungan badan denganku. Aku kan suamimu." goda Ran sembari menyolek dagu Zara.
"Ihh Kakak." keluh Zara. "Iya aku akan ikhlas, demi keawetan cinta kita. Tapi aku malu kak."
"Kenapa malu?"
"Ya karena.. Entahlah." jawab Zara bingung.
"Yasudah, yang penting jangan pernah menolak." sambil menaikkan alisnya.
"Iya.. Iya.. "
"Masih sakit tidak?" tanya Ran kembali.
"Masih." jawab Zara manja.
"Istirahat saja dulu. Sini berbaringlah, kakak peluk." Ran membaringkan tubuhnya bersama Zara.
"Hmm." gumam Zara.
Setelah berbaring Ran memeluk pinggang Zara. Hari masih siang dan tak ada satupun yang mereka bisa lakukan. Hingga akhirnya Ran kembali membuka pembicaraan.
"Oh iya, soal pekerjaanmu di cafe itu. Kau berhenti saja." ucap Ran.
"Aku sudah berhenti sepekan yang lalu kak." jawab Zara santai.
__ADS_1
"Gadis pintar, tanpa ku suruh ternyata kau sudah berinisiatif yah." puji Ran. "Lalu rumah kontrakan itu bagaimana?"
"Issaura yang mengurusnya."
"Oh begitu."
Hening sejenak.
"Mm kak. Aku ingin bertanya." ucap Zara setelah hening sejenak.
"Tanya saja."
"Apa kau masih marah?"
"Marah kenapa?" Ran mengernyit.
"Karena kajadian dua hari sebelum kita menikah itu, apa kau marah sekali padaku? Apa kau kecewa?" Zara menunjukkan wajah bersalah.
"Hmm, tidak. Memang sih aku sempat kecewa, makanya aku mengirimmu ke apartemen Saga." Ran tersenyum kecil. "Tapi rasa cinta ku lebih besar, jadi aku tak bisa marah padamu."
"Maafkan aku kak. Aku terlalu egois."
"Sudah. Sudah. Jangan dibahas lagi." Ran mengelus rambut Zara pelan. "Setelah hari ini aku ingin mengajakmu memulai hidup baru dengan konsep rumah tangga yang baik. Apa kau siap?"
"Aku harus siap." Zara tersnyum. Selain baik, ternyata Ran juga mudah memaafkan.
Padahal Zara sudah menyiapkan diri jika harus dimarahi oleh lelaki itu. Tapi ternyata, bukannya marah Ran malah mengajaknya untuk menata hidup. Zara bersykur karena telah dinikahi oleh sosok Ran yang sangat baik ini.
"Aku akan ke kampus lusa." ucap Zara lagi.
"Hmm, aku juga akan ke kantor lusa." timpal Ran. "Eh tapi apa kau yakin dengan ucapanmu waktu itu yang kita tak ingin melakukan Honeymoon?" lanjut Ran.
"Tidak usah kak, ada hal yang lebih penting dari itu. Kerjaanmu dan kuliah ku. Honeymoon bisa kapan-kapan kan?"
Ran terperanjat, 'Wah, pengertian sekali anak ini.' batin Ran.
"Baiklah, nanti saja honeymoonnya." Ran tersenyum. "Oh iya, jam berapa sekarang?" ucap Ran sambil meraih ponselnya.
"Hooaaaamm, setengah empat sore." sembari menggeliat, Ran menyimpan kembali ponselnya di atas nakas.
"Sayang, ayo mandi bersama." ajak Ran dengan nada menggodanya.
"Ihh kakak, kenapa harus mandi bersama sih?" Zara terlihat sedikit kesal.
"Karena kita suami istri lah." Ran semakin menggoda gadis itu. Pipi Zara bersipu merah.
Karena gemas, Ran bangkit dari pembaringannya lalu menggendong tubuh Zara menuju kamar mandi. "Kakak, apa yang kau lakukan." protes Zara.
"Membawamu ke kamar mandi, apa lagi?"
"Tapi aku tidak ma.." ucpan Zara terhenti karena Ran telah membungkam mulutnya dengan bibir sebelum gadis itu menyelesaikan kalimat penolakannya.
"Kita sudah sepakat kan, kau harus ikhlas jika aku meminta apapun." ucap Ran setelah menarik bibirnya dari Zara.
"Mmm." gumam Zara dengan wajah cemberutnya. Ran meletakkan Zara ke dalam bathub.
"Ikhlas yah Chibi-chan." goda Ran sembari mengelus pelan rambut gadis itu. Zara hanya mendengus pasrah.
Dan akhirnya mereka pun mandi bersama untuk kedua kalinya setelah mereka menikah. Tak ada lagi batasan, dan tak ada lagi penolalan dari Zara. Semua rahasia mereka telah nampak pada mata masing-masing.
Bersambung...
__ADS_1
HOLA MINNA-SAN, JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YAH😉😉 DUKUNGAN KALIAN ADALAH POWER BUAT AUTHOR. TERIMA KASIH.💞💞