My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 71 : Kehamilan Pertama


__ADS_3

Lima bulan berlalu setelah pernikahan mereka, kini Ran dan Zara sudah menempati rumah di jalan setapak distrik Kalibara yang diimpikan Zara itu. Selama lima bulan lamanya mereka menjalani hidup dengan baik sebagai suami dan istri. Semua impian yang mereka bangun perlahan terwujud. Rumah sederhana disulap menjadi emperan surga, bentuk dan isinya dirombak oleh mereka. Dan saat ini impian yang paling sulit mereka wujudkan adalah, menjadi orang tua.


Tiga bulan pertama mereka menikah, Ran selalu rutin mengecek kesehatan Zara dan di bulan ketiga itu pula barulah terungkap bahwa sel telur Zara lemah dan hanya memiliki kemungkinan kecil untuk bisa dibuahi.


Ada rasa kecil hati yang menyerang mereka tapi perlahan hal itu tertepis, Ran selalu melapangkan hati Zara untuk menerima kenyataan pahit itu. Jika bukan menjadi orang tua, maka kita yang akan menua bersama di dalam rumah itu, ucap Ran ketika kesedihan menyelimuti mereka waktu itu.


Perlahan namun pasti Zara berlapang dada menerima kenyataan itu, dengan ketulusan cinta Ran dirinya tak perlu takut akan di tinggal oleh lelaki itu.


Terkadang ada lelaki yang ingin memiliki anak dari istri yang dicintainya, dan pada umumnya lelaki akan mencari pengganti jika istrinya tak bisa menghasilkan keturunan. Tak terkecuali Ran. Lelaki itu sangat berharap bisa memiliki keturuna dari Zara, tapi Ran bukanlah lelaki yang suka memaksakan kehendak. Zara pernah meminta Ran untuk mendua agar lelaki itu bisa mencapai kebahagiaan menjadi seorang ayah, Zara rela Ran bahagia walau tak bersamanya. Namun Ran menolak mati-matian usulan Zara tersebut, alasannya sangat sederhana, Ran masih menaruh keyakinan dalam dirinya bahwa nanti Zara akan mengandung. Hanya perlu menunggu waktu yang tepat, Tuhan pasti berkehendak.


Semenjak itulah cinta mereka tak pernah pudar. Hingga lima bulan berlalu, semua berjalan begitu lancar dan mudah. Walau ada sedikit cek cok pada beberapa keadaan. Tapi hal itu tak membuat mereka mengeluarkan kalimat kebencian satu sama lain. Bahkan semakin mereka berselisih maka semakin erat hubungan emosional diantara mereka.


Karena cinta tak selamanya melakukan hal-hal yang romantis, perlu ada duri yang menusuk telapak kaki agar kita sadar hidup tak semalanya indah dan dengan duri itu kita bisa lebih mengetahui cara menyelesaikan masalah sesuai dengan tingkat masing-masing.


Untuk memelihara rasa cinta mereka dalam rumah tangga, Zara selalu menyajikan hal-hal yang disuaki oleh Ran. Ran adalah lelaki dengan bahasa kasih Pelayanan, maka dari itu Zara selalu melakukan apa yang diperintahkan oleh Ran, apapun. Karena dengan itu Ran akan merasa sangat dicintai.


Berbeda halnya dengan Ran kepada Zara, lelaki itu tahu jika bahasa kasih istrinya adalah sentuhan, maka setiap kali Zara melakukan apa yang diperintahkannya, Ran langsung memeluk gadis itu sebagai balasan karena telah memenuhi bahasa kasihnya.


Dan hal itu mampu membuat impian Zara terwujud di dalam rumah mereka, tempat bernaung untuk melepaskan rasa lelah akibat pekerjaan kantor, maka tak usah ditanya mengapa Ran tak pernah absen pulang ke rumah. Karena Ran punya kebahagiaan di dalam rumah tersebut, yaitu Zara.


...*****...


Hari ini Ran dan Zara akan pergi ke acara pernikahan Tahira dan Saga di Rayla Hotel. Oh ya, Rayla Hotel adalah hotel milik Ran. Hotel baru yang dibuka olehnya satu pekan yang lalu, dan hari ini adalah First Reception dari hotel tersebut setelah grand openingnya pekan lalu. Ran sengaja menjadikan pernikahan Tahira dan Saga sebagai icon wedding hotel tersebut, selain sebagai rasa terima kasihnya pada Saga karena telah membantunya dalam beberapa hal itu juga ia lakukan sebagai langkah untuk mempromosikan hotel. Jadi Ran mendapat dua hal, kebahagiaan sepupunya dan keuntungan untuk hotelnya.


"Selamat untukmu sepupu." ucap Ran kepada Saga. Lelaki itu memeluk Saga dengan erat.


"Thanks cousin." balas Saga dengan mengedipkan satu matanya.


"Selamat Saga." ucap Zara lalu memeluk sepupunya tersebut.


"Thanks lil sist." jawab Saga. Zara melepaskan pelukannya lalu beralih memeluk Tahira.


Gadis sebayanya itu terlihat sangat cantik, gaun gold yang digunakannya sangat indah. Dan riasan wajah yang terkesan simple.


"Selamat Tahira." ucap Zara.


"Terima kasih Zan." balas Tahira.


Di pernikahan Saga dan Tahira saat itu banyak yang hadir, dan didominasi oleh rekan bisnis Grand Albar Foundation, perusahaan yang dipegang oleh Ran. Kedua orang tua Tahira pun berada di sana, plus Raka dan tunangannya Aurora Antares.

__ADS_1


Acara pernikahan berjalan begitu lancar dan berakhir pada pukul 20.35 malam. Setelah semua rangakaian acara telah selesai, Tahira dan Saga digiring menuju kamar VIP nomor satu Hotel tersebut.


Ran sengaja menyiapkan kamar paling mahal dan spesial itu untuk mereka, sebagai sepupu yang baik tentunya dan agar pengantin itu merasa nyaman. Apalagi dengan kondisi Tahira yang sedang mengandung anak Saga. Katakanlah Saga adalah lelaki paling brengsek di dunia ini karena telah menghamili Tahira sebelum menikahi gadis itu. Dan lebih parahnya lagi, hanya Ran dan Zara yang tahu. Itulah sebabnya pernikahan dilakukan sesegera mungkin, takut jika perut Tahira membuncit.


Sebelum mereka masuk ke dalam kamar VIP itu, Ran dan Zara menghampiri mereka.


"Selamat bahagia kalian." ucap Zara. Tahira dan Saga menoleh.


"Terima kasih." jawab mereka berdua.


"Kami akan pulang ke rumah. Dan untuk pelayanan kalian, tidak usah khawatir staf ku sudah mengurus semuanya jadi kalian tinggal membuka pintu untuk semua pelayanan yang akan kalian terima. Nikmatilah!" ucap Ran sembari melambaikan tangan hendak pamit.


"Sekali lagi Ran, aku benar-benar berterima kasih atas semua yang kau siapkan hari ini untuk kami." ucap Saga.


Ran tersenyum. "Sama-sama. Kalau begitu kami pamit."


"Hati-hati di jalan." ucap Tahira. Mereka mengangguk lalu melangkah pergi dari hadapan Tahira dan Saga.


...*****...


Beberapa hari berlalu setelah pernikahan Tahira dan Saga. Zara dan Ran kembali ke aktivitas mereka masing-masing. Hari ini Ran akan berangkat ke kantor, lelaki yang menjabat sebagai President Directur di perusahaan milik Zara itu akhir-akhir ini sangat sibuk. Yah jabatan Ran telah berganti dari CEO menjadi Presdir karena telah menjadi suami Zara dan otomatis semua aset milik Zara menjadi milik Ran sesuai isi dari surat wasiat Ayah Zara. Karena usaha Ran yang begitu besar untuk mengembangkan perusahaan peninggalan Ayah Zara itu, pada akhirnya ia mencapai keberhasilan. Perusahaannya menjadi perusahaan besar dan memiliki beberapa cabang yang salah satunya di pegang oleh Saga. Dan bisa terlihat, semakin kesini Ran semakin mendewasa.


"Sudah.. Sudah.. Aku mengalah, iya aku akan mengganti dasi ku dengan dasi berwarna merah. Sudah yah, jangan marah-marah lagi." bujuk Ran sambil memeluk erat gadis itu.


"Kau menjengkelkan." balas Zara ketus. Ran menggeleng.


"Kau selalu seperti ini jika ingin datang bulan." celetuk Ran.


"Tidak. Siapa bilang?" ketus Zara.


"Aku lah. Aku yang selalu mendapat amukan darimu ketika ingin datang bulan."


"Tapi jadwal datang bulanku sudah terlambat dua pekan, Amakusa Ran!" ucap Zara semakin ketus.


"Benarkah? Kenapa bisa? Ayo kita ke dokter sekarang!" tanpa aba-aba Ran langsung menggiring gadis itu keluar dari rumah dan melesat menuju rumah sakit.


...*****...


Sore hari di kediaman Ran dan Zara berkumpul Tahira, Saga, Raka, dan Aurora. Mereka sedang mengunjungi suami istri tersebut karena khawatir dengan kondisi Zara. Gadis itu beringsut di pinggir kasur setelah pulang dari rumah sakit tadi sambil menangis, dan itu membuat Ran merasa frustasi setelah berkali-kali membujuknya.

__ADS_1


Ran yang tak bisa berbuat apa-apa langsung menghubungi Saga. Dan kebetulan mereka sedang di luar makan siang, itulah mengapa Aurora dan Raka ikut serta.


"Zan, sudah yah. Syukuri kehadiran janin itu, karena dia anugrah dari Tuhan." bujuk Tahira.


Ternyata ketika Ran membawa gadis itu untuk check up di rumah sakit ternyata hasilnya adalah Zara telah mengandung 8 minggu. Tapi gadis itu tidak terima, belum siap katanya. Padahal Ran sangat bahagia mendengar kabar baik itu.


"Hueeeeee, Kak Ran telah menghamiliku. Padahal aku baru saja naik semester 3. Bagaimana caraku berkuliah sambil mengandung. Hueee." celetuk Zara sembari terus menangis.


Ran mendesah frustasi, kenapa orang hamil perilakunya sangat aneh? Kemudian lelaki itu mengusap kasar wajahnya.


"Kalian tunggu saja di ruang tamu. Biar aku yang mengurusnya." pinta Ran.


Saga dan Tahira akhirnya keluar dari kamar mereka meninggalkan Ran dan Zara berdua menuju ruang tamu yang disana ada Raka dan Aurora.


"Sayang, ada apa hm?" Ran menangkup wajah Zara.


Dengan wajah berlinang air mata, Zara menatap Ran dengan tatapan kucingnya. 'Astaga, menggemaskan sekali.' pekik Ran dalam hati.


"Kenapa kakak menghamili ku? Kenapa kak?"


"Karena.. Karena kita.. Karena ini semua takdir Zara. Itu artinya Tuhan sudah berkehendak." jawab Ran sekenanya.


"Huee,, aku tidak siap."


"Kau siap sayang. Ingat yah, kita punya mimpi untuk menjadi orang tua. Jadi kau harus kuat yah, aku akan menjagamu dengan baik." Ran memeluk tubuhnya dan mengelus pucuk kepala gadis itu.


Zara hanya mengangguk dalam pelukan Ran tanpa kata. Sekarang suasana hatinya mendadak berubah, ia merasa lebih tenang setelah di peluk oleh Ran.


Dalam hati Ran harap-harap cemas dengan kehamilan pertama Zara ini. Karena tadi dokter berkata bahwa kandungan Zara lemah karena memang pada dasarnya sel telur pada rahim Zara lemah. Dan dokter juga berkata jika Zara keguguran maka kemungkinan untuk hamil lagi akan semakin kecil. Sekarang saja hal ini terbilang langka, maka Ran harus banyak-banyak bersyukur dan menjaga dengan baik kondisi istri kecilnya itu.


Dan mulai saat ini, Ran merasa sudah harus melangkah ke anak tangga selanjutnya untuk mempersiapkan diri sebagai calon ayah.


.


.


.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2