My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 62 : Kunci dari Belenggu


__ADS_3

Di tempat lain Satria tengah membelai surai hitam gadis manis yang sekarang menghiasi hatinya. Di dalam dekapannya Aya sedang menyembunyikan rasa malu setelah kejadian yang mereka lewati hari ini. Sebuah ungkapan cinta yang di awali oleh Aya mampu menyeret mereka hingga titik ini. Dimana mereka telah resmi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Satria membayangkan kembali begaimana sore tadi Aya bertingkah aneh hingga membawa mereka ke tempat yang indah seperti sekarang ini.


Flash Back On


"Manis sekali." ucap Aya. "Apa itu kekasih Zara?" Aya menampilkan senyum manisnya.


"Lelaki itu adalah hidup Zara." jawab Satria, terselip kesedihan dalam ucapannya.


"Aku sudah terbiasa akan hal itu." sela Aura.


Beberapa saat setelah kepergian Zara dan Ran, Bryan suami Aura pun datang. Seperti layaknya Zara dan Ran, sepasang suami istri itu juga melakukan hal yang sama. Saling berpelukan dan mengungkapkan perkataan-perkataan cinta, melihat itu membuat Satria dan Aya kikuk.


"Hei kalian para single, sampai jumpa. Kuharap besok ada yang berubah dari status kalian, hahaha." Aura melambaikan tangannya kepada Aya dan Satria, sembari melontarkan kalimat ejekan.


"Dasar cerewet! Awas saja jika suamimu pergi, akan ku beri kau pelajaran." balas Satria.


"Sudah.. Sudah.." bujuk Aya.


Aura pun berlalu meninggalkan mereka berdua. Tiba-tiba suasana hening beberapa saat. Terasa begitu canggung, baik Satria maupun Aya mereka enggan memulai pembicaraan. Namun pada akhirnya Satria memutuskan untuk mengajak Aya pulang.


"Ayo kita pulang." ajak Satria.


"Baiklah." jawab Aya.


Mereka berjalan meninggalkan kampus menggunakan Pajero Sport milik Satria. Di perjalanan Satria berusaha memecah keheningan, pikirnya mengapa harus menjadi canggung padahal sehari-hari mereka bertemu dan berinteraksi.


"Besok-besok kau tak perlu ke kampusku. Aku yang akan menjemputmu, mengerti?" ucap Satria.


"Tidak masalah. Aku senang menghampirimu di kampus, karena aku ingin lebih dekat dengan Aura dan Zara. Kau tahu kan aku tak punya teman di kampusku." bujuk Aya.


"Tapi kau akan kerepotan." sanggah Satria.


"Tapi aku tidak merasa kerepotan." balas Aya. Satria terdiam sejenak. Hening beberapa saat.


Terlintas di benak Aya ucapan Satria tadi ketika mereka melihat adegan mesra Zara dan Ran. Lalu ia berinisiatif menanyakannya pada Satria sebab ia merasa lelaki itu berucap layaknya orang yang sedang patah hati.


"Emm, Satria. Apa maksudmu tadi berkata lelaki yang memeluk Zara adalah hidupnya? Dan kenapa kau telihat sedih mengatakannya?" Aya bertanya pelan-pelan, takut Satria tersinggung.


Menatap Aya sekilas lalu kembali memandang ke depan, Satria tersenyum getir. Perasaannya terhadap Zara masih tersimpan rapi di lubuk hatinya paling dalam, bahkan kehadiran Aya belum mampu membuatnya Move on.

__ADS_1


"Kau sungguh ingin tahu alasannya?" tanya Satria. Pandangannya tak beralih dari jalanan.


"Tentu." jawab Aya semangat.


Satria akhirnya mengambil nafas panjang. "Dulu, aku menyukai Zara. Saaaangat menyukainya. Sampai akhirnya aku tahu dia telah memiliki kekasih, saat itu juga hatiku hancur. Dan lambat laun aku menyadari, takan ada Satria di dalam hati Zara. Lalu kau datang menepis sedikit demi sedikit rasa ku padanya, tapi sekarang kehadiranmu untuk menepis rasa itu terkesan jalan di tempat. Aku tak bisa membohongi diriku bahwa aku masih menyukai Zara. Setiap hari bersamanya membuatku semakin sulit melupakannya."


Aya menatap lelaki itu penuh arti. Sakit rasanya melihat Satria bersedih. Namun Aya berusaha untuk menghilangkan kesedihan lelaki itu. Walaupun ia harus menerima bahwa dirinya hanya pelampiasan, tapi ia sudah terlanjur mencintai Satria. Maka ia harus memperjuangkan lelaki itu. Harus.


Satria menepikan mobilnya, gerbang menuju jembatan gantung sudah berada di hadapan mereka. Satria membuka sabuk pengamannya perlahan. Lalu dengan cepat Aya menarik lengan lelaki itu. Satria menoleh.


"Ada apa?" tanyanya, dengan raut bingung.


"Aku ingin membuatmu keluar dari rasa sakit karena cintamu yang tak terbalas." Aya menatap manik legam lelaki itu.


"Maksudmu?" Satria mengernyitkan dahinya, uacapan Aya begitu membingungkan di kepalanya.


Aya memeluk tubuh Satria tanpa aba-aba. Satria tersentak lalu mulai menggerakkan tangannya untuk membalas, namun sebelum itu ia ingin memastikan hal ini nyata atau hanya ilusi.


"Aya.. Kau kenapa?" tanya Satria.


"Ayo kita pacaran." ucapnya cepat.


"Aku mencintaimu Satria. Ayo kita pacaran." tanpa melepaskan pelukannya dari Satria.


Satria menarik nafas panjang kemudian membalas pelukan gadis itu. Mengelusnya pelan dan menciumi pucuk kepalanya.


"Apa kau yakin?" Satria memastikan.


"Ya. Aku sangat yakin." jawan Aya. "Aku akan menjadi kunci untuk membuka hatimu agar kau bisa keluar dari rasa sakit yang membelenggu jiwamu." sambungnya.


Satria tersentak untuk kedua kalinya, perlakuan Aya hari ini seperti sebuah hadiah paling indah yang pernah ia terima. Seketika ia merasa beruntung, sangat jarang seorang gadis mengungkapkan perasaannya duluan dan Aya melakukan hal itu. Tersadar dari keterkejutannya, Satria mulai berpikir untuk bergerak menerima pengakuan cinta Aya. Kesempatan tak akan datang dua kali bukan?


"Dan biarkan aku membuka belenggu jiwaku dengan kehadiranmu." ucap Satria, yang menandakan lekaki itu menerima Aya sebagai kekasihnya.


Aya menghembuskan nafas lega. Hatinya diliputi kebahagiaan. Satria menangkup wajah gadis di hadapannya, pelukan mereka telah berakhir. Lalu perlahan Satria memangkas jarak antara wajahnya dan Aya. Deru nafas mereka terasa pada wajah masing-masing. Aya gemetar hebat, jika Satria akan menciumnya maka hal ini adalah pertama kali dalam hidupnya. Bersama dengan deru nafas yang semakin terasa, Aya memejamkan matanya secara spontan. Dan akhinya bibir mereka menyatu. Diam beberapa saat hingga akhinya Satria melu*at bibir atas Aya. Sedangkan Aya, telah terbuai. Tak membalas tetapi menikmati diliputi kekakuan. Wajar saja, mereka berdua baru pertama kali melakukan hal itu. Namun Satria pandai menyembunyikan kekakuannya, seolah ia telah menguasai hal itu.


Satria melepaskan lu*atannya, sedikit enggan meninggalkan bibir gadis itu dengan tempo yang cepat. Sebenarnya Satria masih ingin menyatukan bibir mereka, namun mengingat tempat dan waktu akhirnya Satria mengakhiri.


"Ayo kita masuk." ajak Satria.

__ADS_1


Setelah mereka berada di jembatan gantung, Aya mengajak Satria untuk duduk di pinggiran danau di bawah jembatan yang mereka pijaki tadi. Dan akhinya mereka melangkah ke sana. Aya berlari melepaskan genggaman tangan Satria dengan jari jemari yang saling tertaut.


Flash Back Off


"Kau tahu, kau gadis pertama yang melakukan hal itu padaku." ucap Satria. Aya masih berada dalam dekapannya. Saat ini mereka telah duduk di pinggiran danau di bawah jembatan gantung.


"Kau juga lelaki pertama yang menciumku." balas Aya malu-malu.


"Bairkan aku menjadi satu-satunya lelaki yang pernah melakukan hal itu padamu." tegas Satria dengan nada lembut.


Secara tidak langsung sebenarnya Satria telah melayangkan kalimat lamaran kepada gadis itu, tapi entah Aya memahaminya atau tidak yang jelas maksud dari ucapan Satria tertuju ke arah sana.


"Mommy menyukai mu." ungkap Aya yang sebenarnya diketahui oleh Satria.


"Dan Mommy mu, memintaku menikah denganmu." sambung Satria.


Aya membulatkan matanya. "Se.. Sejak kapan Mommy memintamu?"


"Sejak aku berkunjung ke rumah mu untuk yang kesekian kalinya." jawab Satria.


"La.. Lalu, kau.. Kau bilang apa pada Mommy?"


"Aku berkata pada Mommy, I do. Tapi nanti, setelah aku lulus kuliah."


Aya merasa lega, sejujurnya ia belum mau menjadi istri. Tetapi mendengar pernyataan Satria membuatnya sedikit tenang, keadaan begitu paham akan perasaannya.


"Aku.. Aku mencintaimu." lagi-lagi Aya mengucapkan kalimat itu.


Satria tersenyum, "Aku akan berusaha mencintaimu."


Sekarang perasaan Satria memang masih dipenuhi oleh Zara, tapi tak ada lagi alasan baginya untuk tetap terbelenggu dalam rasa sakit. Aya telah menjadi kunci agar belenggunya terlepas, dan itu artinya kesempatan datang menghampiri.


'Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang telah datang, karena tak ada yang tahu bagaimana kesempatan memberi kita kebahagiaan. Dan keyakinanku selalu benar, better days are coming' batin Satria.


.


.


.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2