My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 23 : Jadilah Kekasihku (!)


__ADS_3

Malam itu Zara sedang berkutat dengan semua buku pelajarannya, karena dua hari lagi ia akan segera melaksanakan ujian nasional. Gadis itu terlihat sangat sibuk dengan semua soal latihan sehingga ia tidak memerhatikan panggilan masuk di ponselnya. Berkali-kali benda itu terus berbunyi.


Di dering ketiga, pintu kamar terbuka. Tampak Ran masuk dan berdiri di depan meja belajar gadis itu. Mendengar deringan ponsel yang tak kunjung berhenti, Ran meraih benda yang terletak di atas buku journal Zara itu lalu duduk di kursi sembari membaca nama pemanggil.


"Teman terbaik Faykah.." Eja Ran bertujuan agar Zara mengalihkan pandangannya.


Disebabkan karena gadis itu sangat fokus pada apa yang tengah ia lakukan, menjadikan suara Ran juga tak terderngar di telinganya. Ran hanya mengendikkan bahu tak acuh, namun tiba-tiba saja timbul sebuah ide konyol di kepala Ran, ia pun menatap ponsel gadis itu kemudian mengangkatnya.


"Good night, princess. Kau sedang apa?" sapa Faykah dengan suara bahagia. Mendengar itu membuat Ran terkekeh dalam hati.


"Khem.. Maaf Aku bukan Zara." balasnya dengan suara datar yang dibuat-buat.


"Hah, lalu siapa?" Tanya Faykah dengan nada terkejut sekaligus heran.


"Emm, aku kekasihnya, ada apa mencari Zara?" Keisengan Ran semakin menjadi. Lelaki itu terus saja cekikikan.


"Hah, kekasih? Sejak kapan Zara punya kekasih?" tanya Faykah dengan suara yang terdengar terkejut.


"Sejak kapan Zara punya kekasih, itu tak penting bagimu. Sekarang aku tanya, ada perlu apa biar kusampaikan padanya nanti." sahut Ran.


"Ah tidak ada. Na.. nanti saja. Masalahnya ini urusan pribadi." suara di seberang sana terdengar gugup.


Sekali lagi Ran terkekeh dengan suara yang ditahan, "Baiklah. Nanti kusampaikan jika kau tadi menelfon."


"Ya sudah kalau begitu. Aku tutup dulu." Faykah pun segera menutup telfonnya dengan perasaan tidak percaya.


'Sejak kapan anak itu punya kekasih? Apa yang terjadi selama aku tidak bertemu dengannya?' Pikir Faykah.


Ran kembali menyimpan ponsel Zara ke tempatnya semula dengan cepat sebelum gadis itu sadar. Kemudian ia bangkit seraya menghampiri ranjang.


"Zara." Panggilnya. Akhirnya Zara menoleh.


"Ya?" Balas gadis itu singkat.


"Mau dibantu?" tawar Ran.


"Mmm, iya. Boleh." Jawab Zara sambil menggaruk dahinya dengan ujung pulpen.


Ran beralih naik ke atas ranjang memperbaiki posisinya kemudian mendekat pada gadis itu. Zara kemudian memperlihatkan lembaran soal tersebut kepada Ran yang membuatnya kesulitan menjawab. Dengan cepat Ran meraih lalu membaca kertas-kertas berisi soal. Lelaki itu memberitahu Zara cara mengerjakan soal, sontak Zara pun akhirnya paham dan berusaha mengerjakan soal dengan baik seperti yang diajarkan Ran. Hal itu mereka lakukan selama 2 setengah jam. Pukul 10.40 tepat, akhirnya mereka pun menyudahi. Zara tampak kelelahan, matanya mulai memerah menahan kantuk.


"Hoaaa." gadis itu menguap sembari menutup mulutnya.


"Istirahatlah. Aku akan kembali ke kamar." Ucap Ran tersenyum.


"Baiklah. Terima kasih untuk malam ini." Balas Zara.


...


Sementara di sisi lain Faykah terlihat sangat gelisah di atas pembaringannya. Ia tak henti-hentinya berpikir tentang hal yang terjadi tadi. Sungguh ia tak percaya jika sahabatnya telah memiliki kekasih. Dan jika didengar dari suaranya, sepertinya lelaki yang mengaku sebagai kekasih Zara itu adalah orang lain. Bukan Raka.


"Aku tidak percaya. Kalau memang dia memiliki kekasih, kenapa anak itu tak memberitahuku. Sepertinya ada yang tidak beres." Pikir Faykah. Karena sangat penasaran akhirnya gadis itu memilih untuk mengonfirmasi. Karena ia sangat yakin jika hal itu tidak tepat.


Faykah :


Zara


^^^Zara :^^^


^^^Apa?^^^


Faykah :


Ini Zara kan?


^^^Zara :^^^

__ADS_1


^^^Iya kenapa?^^^


Faykah :


Telfon aku!!


Zara mendengus kesal, segera ia memencet tombol panggilan.


"Ada apa?" Suara Zara terdengar ketus.


"Hei santai!" Faykah menimpali.


"Ada apa?" tanya Zara sekali lagi.


"Itu.. Apa kau benar-benar sudah memiliki kekasih?" Faykah bertanya dengan penuh keraguan.


Zara terkejut, angin apa yang menyambar sahabatnya hingga bertanya dengan pertanyaan aneh seperti itu. "Maksudmu?"


"Itu.. Tadi.. Aku menelfonmu tapi yang mengangkatnya bukan kau. Tapi kekasihmu, dia mengatakan jika ia adalah kekasihmu tapi aku kurang yakin. Benarkah itu?"


Zara semakin kebingungan, "Tunggu.. Tunggu.. Tunggu.. Sejak kapan kau menelfon?"


"Aduh Zara, aku menelpon sebanyak 6 kapi tadi. Coba kau periksa lagi riwayat panggilanmu."


"Tunggu sebentar!" Zara beralih mengecek riwayat panggilannya tanpa memutuskan sambungan telpon. "Hei benar, tapi siapa yang mengangkatnya?" Pikir Zara.


Kemudian seketika ia teringat oleh Ran yang tadi sempat berada di kamarnya beberapa jam. Gadis itu membulatkan matanya dan membungkam mulut yang mulai menganga.


"Haaaa.. Jangan bilang ini semua ulah Kak Ran." Pikir Zara.


"Hei Zara, bicaralah! Mengapa jadi diam?" sahut Faykah yang masih saja setia menunggu di seberang telpon.


"Kurasa kau salah paham." Ucap Zara.


"Salah paham apa?" Faykah mengernyitkan dahinya.


"Hah, Kak Ran? Bukankah kalian bermusuhan, kenapa bisa dia yang mengangkatnya?"


"Sudah lupakan saja. Aku akan menjelaskannya ketika kita bertemu. Sekarang sudah malam, aku tutup!"


Tuuut..


Zara memutuskan panggilan secara sepihak. Sementara Faykah menjadi cemberut karena baru saja ia ingin menjawab, sahabatnya itu malah sudah menutup panggilan lebih dulu.


"Ya sudah, dasar menyebalkan." Faykah mengendikkan bahunya.


...


Zara kesal pada Ran karena merasa sudah dikerjai. Sebagai aksi protesnya gadis itu melangkah ke kamar Ran untuk meluapkan rasa kesal yang memenuhi dadanya. Tok.. Tok.. Tok.. Zara mengetuk pintu kamar lelaki itu dengan keras.


Tak lama berselang, Ran membuka pintu dengan wajah tertekuk sebab lelaki itu ternyata sudah terlelap. "Ada apa?" Tanya Ran ketus.


Tanpa menjawab Zara dengan cepat langsung mendorong tubuh lelaki itu hingga masuk kembali ke dalam kamarnya.


"Hei ada apa denganmu?" Tanya Ran bingung sembari tubuhnya berjalan mundur akibat dorongan Zara.


Zara menghentikan aksinya. "Tidak usah pura-pura gila! Aku tau kau sudah mengerjaiku. Mengapa kau berkata pada Faykah melalui panggilan suara jika kau adalah kekasih ku?"


Mendengar celotehan Zara yang keluar tanpa henti, bukan rasa bersalah yang timbul di hati Ran tetapi malah lelaki itu merasa gemas, ingin rasanya ia mencium bibir cerewet itu. 'Dasar cerewet, kucium tau rasa kau!' Ucap Ran dalam hati.


Dengan tatapan mendamba lelaki itu berjalan mendekat pada Zara. Dengan gerakan cepat Ran langsung merangkul tubuh kurus itu lalu seketika membaringkannya di atas ranjang. Menatap wajah gadis itu yang seketika memerah, Ran semakin gemas lalu meluummaatt habis bibir merah muda gadis itu. Ran tak peduli jika setelah ini Zara akan marah padanya, karena menurutnya yang salah adalah gadis itu bukan dirinya.


Hal itu tidak terprediksi sama sekali oleh Zara. Hingga membuatnya tidak bisa berbuat ataupun berkata apa-apa. Zara membatin. 'Kenapa dia lakukan ini padaku? Apa aku menggodanya tadi? Bukankah aku sedang marah? Kenapa dia malah melakukan ini?'


Zara berusaha mendorong tubuh lelaki itu agar ia bisa terbebas, namun karena tidak kuat disebabkan tubuh dan tangannya yang lemah membuatnya pasrah namun tetap meronta. Setelah terpuaskan walau hanya sedikit Ran menghentikan aksinya tanpa mengubah posisi.

__ADS_1


"Sudah mau diam?" Tanya Ran disertai seringai nakal. Gadis itu memberenggut kesal.


"Maaf," gumam gadis itu pelan.


"Tidak akan kumaafkan," balas Ran kemudian melanjutkan, "Jika kau menolak menjadi kekasihku."


Zara terkejut bukan main, "Ma.. maksudmu?"


"Jadilah kekasihku, sungguhan!" jelas Ran. Zara terdiam. Waktu seolah berhenti saat itu juga.


"Zara, bicaralah! Jawab aku!" desak Ran dengan nada pelan. Gadis itu hanya menggelengkan kepala.


"Jika kau tidak menjawab maka aku tidak akan melepaskanmu. Sampai pagi aku akan membuat kita berdua tetap dalam posisi seperti ini. Selain karena kau telah menggodaku walupun mungkin tak sengaja, kau juga telah membuatku terganggu. Kau mengetuk kamarku dan mendorongku masuk." ancam Ran.


Zara terkejut, betapa bodoh dirinya melakukan semua hal itu. Ia tak habis pikir jika akan berakhir seperti ini. "Ma.. Maafkan aku kak." Ucap Zara yang beralih menutup matanya.


"Kau tahu memberi maaf tak mudah bagiku. Maka dari itu sebagai permintaan maafmu, kau harus menjadi kekasihku. Sungguhan!" Sontak Zara membelalakkan matanya karena terkejut.


"Apa? Mengapa harus menjadi kekasihmu?" protesnya tak terima.


"Karena aku sudah mencintaimu!" cetus Ran.


Zara semakin kehabisan kata-kata. Gadis itu benar-benar tak menyangka dengan semua hal yang telah terjadi. Ia memang sangat menyukai Ran tapi ia tidak pernah tahu jika lelaki itu juga memiliki perasaan padanya.


"Bagaimana, mau tidak? Jika kau mau maka kulepaskan kau sekarang juga tapi jika tidak maka jangan bermimpi bisa keluar dari kamar ini!"


Zara semakin tidak terima, "Dasar jahat! Kau.." Belum sempat Zara menlanjutkan ucapanya lelaki itu segera membungkam mulutnya dengan tangan.


"Sudahlah, tidak usah menggerutu. Jawab iya atau tidak saja. Apa susahnya? Oh, atau kau suka yah posisi ini?" Zara menjadi gusar, tatapannya beralih tak menentu.


Pada akhirnya gadis itu pun menjawab, "Baiklah.. Baiklah.. Aku setuju untuk menjadi kekasih mu tapi.."


"Tapi apa?" sahut Ran cepat.


"Bisakah kau mengubah posisi ini biar aku nyaman," jawab Zara pelan dengan rona merah yang menghiasi pipinya.


"Baiklah." Ran menyanggupi sesuai janjinya tadi.


Akhirnya lelaki itu mengubah posisi. Kini Zara duduk di tepi ranjang bersama Ran yang sedang memandang dirinya menunggu jawaban.


"Kau harus berjanji tidak akan melakukan hal ini lagi padaku, itu syarat yang pertama!" Ucap Zara memberi penegasan.


"Aku tidak bisa berjanji." Jawab Ran spontan.


"Dasar mesum!" Teriak Zara sambil memukul-mukul bahu Ran.


"Auhh, baiklah.. Baiklah.. Aku tidak akan melakukannya lagi." Ran menunjukkan dua jarinya membentuk huruf V.


"Jangan bercanda!" gadis itu memastikan.


"Iya.. Iya.." jawab Ran.


Zara melanjutkan, "Berjanjilah untuk tidak melupakan tanggung jawabmu padaku, yang kedua."


"Itu saja?" Ran mengernyit. Zara mengangguk pasti. "Aku sanggup, itu artinya sekarang kita sepasang kekasih kan?"


"Hmm." Jawab Zara singkat sambil mengangguk.


Entah mengapa Zara merasa banyak sekali perubahan pada diri Ran. Terutama sifatnya, mengapa orang setempramen Ran bisa menjadi begitu konyol dan mesum seperti ini. Benar-benar di luar dugaan.


.


.


.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2