
Tahira bersama Saga muncul dari lantai dua menuju ruang tamu, yang disana sudah ada tiga orang asing yang sama sekali tidak di kenal oleh Tahira. Sementara kedua orang tua Ran meninggalkan ruang tamu karena merasa mereka tidak punya urusan dengan hal tersebut terlebih oleh ibu Ran yang tak paham dengan bahasa Indonesia. Ran masih duduk dengan mereka untuk menemani dan malayani sang tamu dengan baik walaupun mereka bukanlah tamunya.
Tahira dan Saga duduk berdampingan, kedua orang tua Raka menatapnya dengan penuh kerinduan. Walau bagaimana pun, Tahira tetaplah anak kandung mereka yang telah mereka titipkan kepada Bibi Yumna. Tahira memandang mereka dengan penuh tanda tanya di kepalanya. Kemudian Mama Raka tersenyum sembari mulai menjelaskan semuanya kepada Tahira.
"Kami adalah orang tua kandungmu, nak. Dan Raka adalah saudara kembarmu." ucap wanita paruh baya tersebut.
Jujur saja, Tahira merasa sangat bingung setelah mendengar pernyataan wanita di hadapannya. Ia seperti tidak percaya.
"Benarkah?" nada suara Tahira terdengar begitu kebingungan.
Wanita paruh baya itu menatap sang suami seolah mengatakan jika dirinya ingin memeluk Tahira. Pak Adijaya mengangguk memahami tatapan sang istri.
"Lakukanlah Sofiyyah, dan jelaskan padanya bahwa dia adalah anak kandung kita." ucap Pak Adijaya yang kini menyebutkan nama istrinya.
Sofiyyah bangkit lalu segera ia melangkah mendekati Tahira seraya duduk di samping gadis itu. Saga bergeser untuk memberi ruang kepada wanita tersebut agar bisa duduk di antara dirinya dan Tahira. Sofiyyah memeluk Tahira dengan kasih sayang, melihat hal itu membuat Raka merasa tersentuh. Karena setelah ini ia akan hidup bersama saudari kembarnya yang belum lama ini diketahuinya. Raka tersenyum.
Sofiyyah menceritakan kembali kisah antara dirinya dan Bibi Yumna di masa lalu, Tahira mendengarkan dengan seksama.
"Jadi, Kak Saga bukanlah saudara kandungku?" Tahira bertanya untuk memastikan.
Tahira menatap satu persatu wajah ketiga orang asing yang sebenarnya adalah keluarga aslinya. Mereka semua mengangguk dengan penuh keyakinan.
Jika dirinya bukanlah saudara dari Saga, maka itu artinya hubungan yang ia jalin selama ini dengan Saga bukanlah sebuah kesalahan. Tapi sayangnya kemarin ia telah menikah dengan Ran. Seketika hatinya merasa terpukul, kali ini rasanya sangat berbeda. Ada penyesalan telah menerima permintaan terakhir sang ibu yang telah tiada. Jika ia tahu dari awal maka ia tidak akan mau menikah dengan Ran dan saat itu juga akan memilih untuk dinikahi Saga. Tahira menatap Saga dengan tatapan menyesal.
'Jika saja aku tahu, maka aku tidak akan pernah menikah kecuali dengan Kak Saga, karena ternyata selama ini dia memang bukanlah saudara kandungku. Aaaakhh.' teriak Tahira dalam hati.
Kemudian ia membalas pelukan wanita yang merupakan ibu aslinya. Tahira menangis mengetahui semua kebenaran ini, dan juga rasa penyesalan menuyeruak ke dalam batinnya.
Beberapa saat berlalu akhirnya mereka semua telah mengetahui jika Tahira adalah putri dari Adijaya. Lalu tibalah waktunya untuk Saga menjelaskan hubungannya dengan Tahira tanpa melibatkan pernikahan Ran dan Tahira kemarin.
"Jadi kau mencintai Tahira?" tanya Pak Adijaya dengan wajah serius. Saga mengangguk dengan cepat.
"Kalau begitu aku akan menyerahkannya padamu tapi nikahilah dia terlebih dahulu." ucap Pak Adijaya.
Seketika jantung Saga berdegup kencang. Bagaiman bisa ia menikahi Tahira sedangkan gadis itu sekarang adalah istri Ran. Saga menatap mata Ran seolah meminta pendapat lelaki itu. Ran dengan entengnya menganggukkan kepala, karena memang mereka sebelumnya telah membuat kesepakatan yang berisi Ran akan mengembalikan Tahira pada Saga pada waktunya.
Sebelum membalas ucapan pria paruh baya dihadapannya, Saga menelan ludahnya terlebih dahulu sembari mengumpulkan kekuatan.
"Baiklah, saya bersedia." jawab Saga yang membuat hati Tahira bahagia, karena sebentar lagi ia tidak perlu merasa bersalah kepada Zara atas pernikahan terpaksanya dengan Ran.
"Kita akan bicarakan ini nanti. Sekarang yang terpenting kami akan membawa Tahira pulang bersama ke villa di desa sebelah. Apa kau bersedia Tahira?" Pak Adijaya menatap putrinya.
"Mmm, aku belum siap sebenarnya. Bisakah kalian kembali esok hari? Aku perlu waktu untuk mengemasi barang-barangku." ucap Tahira dengan kepala menunduk.
"Baiklah, jika itu membuatmu nyaman. Maka kami akan datang lagi besok." Sofiyyah tersenyum.
Mereka pun bangkit hendak pamit, Raka berjalan mendekat ke arah Tahira seraya melemparkan senyuman hangat. Kemudia ia memeluk saudari kembarnya tersebut. Tahira awalnya gugup namun akhirnya membalas pelukan saudaranya itu.
__ADS_1
"Aku tak menyangka memiliki saudari kembar secantik dan sebaik dirimu, semoga kebaikan selalu menyertai kita." ucap Raka lembut.
"Terima kasih pujiannya. Aku senang sekali mengetahui semua kebenaran ini. Dan aku bersyukur, kak." balas Tahira sembari tersenyum.
Ucapan Raka mengundang rasa heran bagi Ran, karena setahu dirinya Raka adalah orang yang buruk kelakuannya, tapi kenapa sekarang begitu berbeda. Lalu teringat olehnya ucapan Zara bahwa Raka telah berubah dan telah meminta maaf atas kesalahannya.
'Mungkin Zara memang benar mengenai anak ini.' ucap Ran dalam hati sembari memperhatikan Raka dan Tahira.
Akhirnya Tahira dan Raka melepaskan tautan tubuh mereka. Tak lama Pak Adijaya berpamitan untuk kembali ke villa mereka.
"Kami akan kembali lagi besok. Saga, jaga Tahira baik-baik." ucap Pak Adijaya sembari mengelus lembut rambut putrinya.
"Baiklah paman." jawab Saga dengan sedikit menundukkan kepalanya.
Pak Adijaya, Bu Sofiyyah dan Raka akhirnya meninggalkan kediaman bibi Yumna menyisakan Ran, Saga dan Tahira di ruang tamu.
"Aku harus memberi pengertian kepada orang tuaku mengenai perceraian kita." ucap Ran memulai percakapan dengan Tahira.
Tahira mengangguk dengan cepat, gadis itu sangat antusias akan hal itu karena setelah bercerai dengan Ran ia akan menikah dengan Saga.
"Dan.. Kita harus memberitahu hal ini pada Zara." ucap Saga kemudian.
"Ya kau benar. Aku ingin pergi menemuinya dulu." Ran bangkit lalu beranjak.
"Aku juga ikut. Aku merasa sangat bersalah padanya." Tahira ikut bangkit mengikuti langakah Ran.
Setelah sampai di depan kamar Zara, Ran segera membuka pintu. Ia merasa tak perlu lagi mengetuk. Pintu terbuka dan tak menunjukkan keberadaan Zara di dalam kamar tersebut. Ran berjalan masuk sembari memanggil nama Zara. Tak ada jawaban.
Tahira dan Saga memasuki kamar tersebut dan mendapati Ran berdiri sambil memanggil Zara.
"Mana Zara?" tanya Saga.
Ran menoleh ke arah mereka sembari menaikkan bahunya tanda tak tahu keberadaan Zara.
"Tahira, coba kau periksa kamar mandi." pinta Saga yang langsung diindahkan oleh Tahira.
Tahira kembali dari kamar mandi dengan raut kecewa karena tak menemukan keberadaan Zara disana. Seketika Ran khawatir, ada perasaan aneh yang menggerayang di dadanya.
"Apa dia sedang keluar yah?" tanya Ran berusaha tenang.
"Kenapa kau malah bertanya pada kami? Tadi pagi kau yang terlebih dahulu berada di rumah ini. Mana mungkin kau tak bertemu dengannya?" Saga sedikit kesal melihat tingkah Ran yang tidak tahu keberadaan Zara.
"Aku tidak melihatnya, tadi aku hanya pulang bersama otoosan dan okaasan. Aku kira dia pulang bersamamu." balas Ran.
"Kenapa kau bodoh sekali hah? Aku hanya pulang bersama Tahira tadi. Apa kau melihat kami datang bersama Zara memangnya? Tidak kan." ucap Saga kali ini ia benar-benar kesal.
Ran mulai tersulut emosi karena ucapan Saga.
__ADS_1
"Kau yang menyuruhku pulang bersama orang tuaku, mengapa malah menyalahkanku?"
"Dasar kau benar-benar bodoh! Mengapa kau kurang peka hah? Maksud ku tadi menyuruhmu pulang bersama orang tuamu sepaket dengan Zara. Tapi ternyata kau malah meninggalkannya." Saga menunjuki wajah Ran.
"Jaga bicaramu Saga.." ucapan Ran terpotong.
"Cukup!" teriak Tahira menegur keduanya.
Ran dan Saga tersentak akibat teguran dari Tahira membuat mereka seketika sadar atas kelakuan mereka barusan.
"Maaf." ucap Ran dengan suara paling rendah.
"Harusnya kalian berinisiatif menelfonnya saja. Bukan malah saling menuduh. Kak Ran, telfon Zara sekarang." ucap Tahira.
Ran mengangguk lalu kemudian mengambil ponselnya di saku celana. Ran menghubungi ponsel Zara, tersambung. Namun suara dering ponsel yang berasal dari arah ranjang mengagetkan mereka. Mereka saling menatap lalu berjalan mendekat kearah ranjang. Di atas Ranjang ponsel Zara berdering, ternyata gadis itu meninggalkannya.
"Ponselnya ada disini, lalu kemana dia?" tanya Ran yang langsung mematikan panggilannya lalu mengambil ponsel Zara.
Ia manatap lockscreen ponsel Zara yang menampakkan foto mereka berdua ketika memakai pakaian couple hitam hari itu. Ran tersenyum. Ternyata semarah-marahnya Zara pada dirinya, tetap saja gadis itu masih memasang foto mereka dan itu artinya Zara masih mencintainya.
"Kak Ran." panggil Tahira, gadis itu sedang memegang secarik kertas yang di ambilnya dari atas nakas.
Ran menoleh lalu mendekat sedikit agar mengetahui apa yang sedang di pegang Tahira.
"Apa itu?" tanya Ran.
"Oh tidak. Ya Tuhan, apa ini adalah hal buruk? Zara.. Zara sepertinya telah meninggalkan desa ini." ucap Tahira dengan nada ketakutan setelah membaca surat tersebut.
"Maksudmu?" Ran masih mencerna ucapan Tahira.
Tahira menyerahkan kertas tersebut kepada Ran dan mulai merasa sesak didadanya. Ia memeluk Saga untuk menangis.
"Ada apa?" tanya Saga heran. Tahira tak menjawab.
Ran membaca isi surat tersebut.
Siapapun yang menemukan surat ini.. Aku meminta maaf.. Aku pergi.. Alasan kepergianku karena aku merasa tidak sanggup berada di antara kalian.. Aku sadar kehadiranku hanya menyusahkan kalian.. Jangan mencariku.. Aku tak pulang ke apartemen Kak Ran.. Aku ingin mencari tempat lain untuk tinggal agar tak mengganggu pernikahan Tahira dan Kak Ran.. Oh iya, selamat atas pernikahan kalian.. Sampaikan maafku kepada Paman Akira dan Bibi Megumi.. Sekali lagi maafkan aku.. Aku tak sanggup berada diantara kalian karena aku bukanlah Tahira yang memiliki Ran sebagai suami dan Saga sebagai kakak.. Aku hanyalah gadis sebatang kara yang menyedihkan.. Jangan pernah mencariku..
Setelah membaca surat tersebut Ran langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat sehingga dua ponsel yang di pegannya terjatuh.
'Kenapa kau melakukan ini? Aku dan Tahira bahkan akan bercerai. Dan untuk apa kau pergi? Serapuh itukah kau sehingga meninggalkan ku? Tidak! Aku tidak ingin semua itu terjadi, aku tidak akan membiarkanmu pergi dari hidupku. Tidak akan. Setelah perceraianku dengan Tahira aku akan mencarimu dimanapun itu. Aku sudah sangat mencintaimu. Jangan membuatku sakit akibat kepergianmu.' ucap Ran dalam hati.
"Ini semua salahmu! Kau meninggalkannya di pemakaman sendiri dan juga kau terlihat tak peduli padanya. Itulah sebabnya ia pergi." tuding Tahira dengan suara serak karena menahan tangis.
Saga menenangkan Tahira dengan mengelus elus pundaknya seraya berkata "Sudah-sudah, tenanglah."
Ran menunduk lalu menatap keuda ponsel yang tergeletak di lantai. Ia merendahkan tubuhnya kemudian memungut kedua ponsel tersebut.
__ADS_1
"Aku akan mencarinya!" ucap Ran dengan nada tegas.