My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 54 : 1 Bulan Kemudian


__ADS_3

Seorang gadis bertubuh ceking berjalan keluar dari kelasnya setelah mata kuliah terakhir usai. Hari ini adalah hari pertama semester genap membuatnya harus berangkat ke tempat kerja di malam hari. Gadis itu sudah sebulan bekerja sebagai pelayan kafe.


Sore menjelang malam ia sudah berangkat menuju ke Clover Cafe tempatnya bekerja. Mulai hari ini ia akan terus bekerja di sif malam. Meninggalkan masa lalunya membuat ia harus bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup. Dan sekarang ia tinggal sebatang kara di sebuah rumah kontrakan kecil di gang kecil sekitar kampusnya. Gadis itu masuk ke ruang ganti khusus pegawai di kafe tersebut dan akan segera menjalankan pekerjaannya.


Menjelang kafe ditutup tiga orang pelanggan datang dan duduk di salah satu meja yang berdekatan dengan jendela kafe. Seorang pelayan menghapiri mereka lalu dengan cepat mencatat pesanan. Setelah itu pelayan tersebut menyerahkan pesanan ketiga pelanggan itu kepada gadis di hadapannya.


"Zara, tiga moccacino untuk meja 9." ucap pelayan tersebut sembari menyodorkan secarik kertas.


"Baiklah." jawab gadis itu, yang sebenarnya adalah Zara.


Tiga moccacino telah siap dan akhirnya Zara membawanya menuju ke meja 9. Matanya terbelalak ketika melihat pelanggan yang duduk di meja 9. Seketika jantungnya berdebar kencang lalu terlintas kejadian sebulan yang lalu ketika menyaksiakan orang yang ia cintai menikah dengan orang lain. Zara gemetar, ia belum siap bertemu ketiga orang tersebut sekarang yang tak lain adalah Ran, Saga dan Tahira.


"Zara, kenapa belum diantar?" tanya pelayan yang tadi memberikan kertas pesanan kepada Zara.


Zara menoleh ke arah pemilik suara tersebut. "Maafkan aku. Bisakah kau yang membawanya ke sana, sepertinya perutku tiba-tiba sakit."


"Baiklah berikan padaku." ucap pelayan tersebut.


"Terima kasih." Zara berlalu menuju kamar mandi setelah memberikan nampan itu kepada pelayan yang merupakan partnernya.


Di kamar mandi Zara meneteskan air mata sembari terisak tanpa suara. Ia menahan agar suaranya tak terdengar.


'Kenapa aku harus melihat kebahagiaan mereka? Ini cukup menyakitkan, bahkan Kak Ran terlihat sangat menikmati hidupnya bersama Tahira. Dan mereka sama sekali tidak mencari keberadaanku.' ucapnya dalam hati.


Dirinya benar-benar kalut malam itu. Setelah kafe tutup Zara dan partnernya meninggalkan kafe. Mereka berjalan bersama menuju ke halte bus terdekat sembari berbincang.


"Apa perutmu pasih sakit Zara?" tanya partner Zara.


"Ah, mm.. Ku.. Kurasa tidak lagi." jawab Zara gugup. Karena tadi ia hanya menjadiakan sakit perut sebagai alasan agar tak bertemu dengan ketiga orang itu.


Partnernya itu mengangguk tanpa ingin memperpanjang percakapan. Tak lama menunggu, bus pun berhenti tepat di depan mereka. Zara dan partnernya itu masuk ke dalam bus.


Zara terlihat murung setelah bus berjalan meninggalkan halte.


"Kau sedang ada masalah?" tanya gadis di samping Zara.

__ADS_1


"Mmm tidak. Aku hanya merasa lelah." jawab Zara dengan sedikit senyum yang dipaksakan.


Seketika ia merasa tidak enak karena telah membohongi partnernya tersebut. Tentu saja sekarang ia sedang tidak baik-baik saja setelah melihat ketiga orang tadi yang sama sekali tidak ia harapkan kemunculannya.


"Issaura." panggil Zara lirih pada partnernya itu.


Issaura berbalik dan menatap wajah Zara yang murung. "Yah?"


"Aku ingin bertanya." sahut Zara pelan.


"Katakan saja." Issaura melemparkan senyuman hangat.


"Misal, jika kau pernah merasakan sakit hati pada seseorang dimasa lalu dan meninggalkannya kemudian secara tiba-tiba kau melihatnya di hadapanmu, maka apa yang akan kau lakukan?" Zara terdengar ragu menanyakan hal itu, karena takut membebani Issaura.


"Tergantung. Jika hatiku sudah merasa baik maka aku akan menerima kehadirannya kembali tapi jika hatiku masih sakit maka aku akan menghidar. Ada apa memangnya kau bertanya seperti itu?"


"Ah tidak. Ini hanya misal saja. Hehe." ucap Zara dengan sedikit tertawa.


"Hmm seperti itu. Tapi kurasa kau ada sedikit masalah." Issaura menatap intens wajah Zara.


"Tidak apa. Jika suatu waktu kau butuh teman untuk bercerita maka kau bisa datang padaku." Issaura mengelus bahu Zara. Mereka saling melemparkan senyuman hangat.


...****...


Beberapa Jam yang lalu di Clover Cafe


Ran, Saga dan Tahira masuk ke dalam kafe untuk sekedar beristirahat setelah searian mencari keberadaan Zara. Mereka telah mengelilingi kota selama sepekan tapi tak menemukan keberadaan gadis itu. Ran sebenarnya merasa sangat kalut tetapi pasangan kekasih di hadapannya itu selalu menguatkan dan menghiburnya. Yah, Saga dan Tahira merasa bersalah atas kepergian Zara itulah sebabnya mereka harus tetap berada disisi Ran untuk menguatkan pria itu.


"Kita harus mencari kemana lagi, jujur saja aku merasa hampir putus asa." ucap Ran lesu.


"Jangan pernah berkata seperti itu! Kau harus tetap berusaha agar Zara tahu kau masih mengharpkannya." Saga menasihati sepupunya itu. Ran mengangguk.


"Aku sudah menyuruh Surya untuk turut serta mencarinya, tapi sama saja. Surya bahkan berkata tak pernah melihat Zara lagi selama sebulan terakhir." jelas Ran.


"Bagaimana jika kita mencarinya di kampus, mungkin saja kan dia masih kuliah?" ucap Tahira yang membuat mereka seperti mendapat jalan keluar.

__ADS_1


"Benar juga, kenapa aku baru berpikir ke situ yah?" ucap Saga.


Ran mendesah putus asa. "Aku tidak yakin Zara masih berkuliah. Darimana ia akan membiayai kuliahnya? Aku tahu anak itu belum mandiri."


"Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Tahira dengan alis yang saling tertaut.


"Entahlah." jawab Ran.


Saga menghela nafas, ia merasa Ran ini selalu saja ingin berputus asa sebelum melakukan. Dan karena sifatnya itu membuat pencarian mereka selama sepekan ini terkesan lamban.


"Paling tidak kita harus berusaha. Jika kau tidak ingin mencarinya di kampus maka aku dan Kak Saga yang akan pergi." ucap Tahira.


Ran mendengus. Sekilas kemudian ia mengedarkan pandangannya ke arah koridor kamar mandi yang bisa terlihat dari tempatnya duduk. Seorang pelayan kafe terlihat keluar dari koridor tersebut, dan pikirannya melayang pada sosok Zara.


Ran kembali menatap koridor kamar mandi tersebut sembari berpikir.


'Apa tadi aku hanya salah melihat? Mengapa gadis pelayan itu terlihat seperti Zara? Huh, tidak mungkin. Mana bisa Zara bekerja seperti itu? Lagipula gaya pelayan itu terlihat sedikit timboy. Hah sudahlah.' ucap Ran dalam hati.


Akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan kafe tersebut.


...*****...


Pikiran Ran terus melayang pada sosok pelayan gadis di kafe tadi. Ia duduk di pentri sembari menikmati secangkir teh hangat untuk merilekskan pikirannya. Wajah gadis itu terlihat jelas oleh kedua mata Ran. Sangat mirip dengan Zara. Bedanya gadis itu berambut pendek dan benar-benar terlihat seperti gadis tomboy.


'Sepertinya aku harus memastikan hal itu besok. Aku akan kembali ke kafe itu.' ucap Ran dalam hati.


Setelah menikmati teh hangatnya Ran memutuskan untuk beranjak ke dalam kamarnya.


Di tempat lain Zara menatap bayangan dirinya di cermin. Ia memperhatikan gayanya sekarang yang telah berubah. Entah mengapa gadis itu lebih menyukai gaya tomboy setelah ia mumutuskan untuk meninggalkan Ran. Rambut yang tadinya sepinggang dipotongnya hingga tak bisa lagi diikat. Lalu ia selalu mengepang bagian kanan dengan kepangan kecil yang berjejer tiga menghiasi kepalanya. Warna rambutnya pun tak lagi hitam tetapi merah maron. Zara tersenyum pilu melihat dirinya yang seperti orang asing.


"Sebenarnya aku sangat rindu padamu kak." ucapnya seorang diri.


"Tapi apa gunanya aku kembali, kau sekarang sudah jauh lebih baik. Kau bahkan terlihat bahagia bersama Tahira."


Zara menarik nafas panjang. Sebenarnya ia masih mencintai Ran dan ingin kembali pada pria itu. Namun pemandangan hari ini membuatnya urung kembali, karena ia merasa tak ada alasan untuk kembali.

__ADS_1


"Aku akan berusaha melupakanmu dan mulai menata hidupku dengan baik. Selama sebulan ini aku berusaha untuk mandiri dan aku berhasil menaiki satu tangga. Tapi aku tidak bisa berjanji untuk mencari penggantimu, sebab jatuh cinta lagi adalah hal yang sulit untuk kulakukan. Biarkan saja aku seperti ini sampai hatiku muak mencintaimu." ucapnya lagi kemudian beranjak dari meja rias menuju ranjangnya.


__ADS_2