My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 91 : Antara Kira dan Noah


__ADS_3

Noah mempersilahkan gadis berumur 15 tahun yang merupakan putri bungsu dari dirut Amakuda Foundation itu masuk ke dalam sedannya. Kemudian ikut masuk ke balik kemudi.


Sedan itu melaju meninggalkan Emperor Junior High School menuju jalan raya. Di perjalanan pulang siang itu suasana tampak sunyi senyap. Noah belum mendapatkan topik pembicaraan yang tepat. Sementara gadis yang duduk di sebelahnya juga seperti tak berminat membahas apapun.


Tak lama tangannya berinisiatif menyalakan musik agar suasana sedikit mencair. Sambil menyetir Noah memencet-mencet layar di hadapannya. Sebuah USB kecil tertancap di sisi kanan benda itu. Dari USB, Noah memilih salah satu lagu kesukaannya yang dinyanyikan Band terkenal Jepang, One Ok Rock berjudul Stand Out Fit In.


Begitu lagu terputar senyum di bibir Noah mengembang. Sementara Kirara terlihat mulai merespon. Gadis itu menoleh kepada Noah seraya menanyakan lagu yang sedang terputar memenuhi mobil dan menghibur telinganya.


"Kak Noah suka One Ok Rock juga?" Tanya gadis itu.


"Yap. Sepertinya kau juga menyukainya, benar?" Balas Noah.


"Ya. Aku dan Kak Naura sangat menyukai One Ok Rock." Jawab Kirara yang saat itu telihat mulai kembali ceria. Noah tersenyum menanggapi keceriaan Kira.


Noah kembali fokus pada jalan di depannya sembari menikmati alunan musik. Di sebelahnya, beberapa kali Kira terdengar menggumamkan lirik mengikuti lagu yang sedang terputar.


Big boys don't cry


Shoot low, aim high


Eat up, stay thin


Stand out fit in


Good girls don't fight


Be you, dress right


White face, tan skin


Stand out fit in


Stand out fit in


Stand out fit in


"Beautiful voice, aku suka." Celetuk Noah.


Kira menoleh dengan senyum malu yang terbentuk tipis di bibirnya. Rasa senang ketika suaranya dipuji membuat kesedihan dalam hatinya menghilang. Seakan lupa pada sesuatu yang membuatnya bersedih, Kira tertawa dengan rasa bangga.

__ADS_1


"Apa aku cocok menjadi seorang penyanyi?" Balas gadis itu.


"Kurasa cocok. Apa kau memang bermimpi menjadi penyanyi?"


"Yah sebenarnya sejak kecil aku suka bersenandung menyanyikan apa saja. Tapi Otousan bilang hal itu tidak terlalu bagus untuk seorang perempuan." Curhat Kira.


"Hmm, mungkin ayahmu tak ingin hidupmu berisiko. Karena yang aku tahu penyanyi apa lagi perempuan memang punya banyak risiko, apa lagi di negeri kita ini. Kebanyakan penyanyi akan tenar ketika disewa untuk menjadi mainan seorang konglomerat." Tanggapan Noah membuat Kira mengangguk paham.


"Itulah sebabnya aku tidak jadi melanjutkan mimpi itu. Aku lebih memilih mengikuti keinginan Otousan. Menjadi gadis pintar berprestasi agar kelak ketika memiliki keturunan, aku menjadi sekolah pertama bagi anak-anakku. Seperti Okaasan." Timpal gadis itu seraya menampilkan senyum tipisnya.


Noah mengangguk-anggukkan kepala dengan tetap fokus pada jalanan. Sedikit banyak ia telah mengetahui sifat Kira setelah bercakap sejenak. Menurutnya gadis itu terlihat menarik, yah walaupun masih begitu belia. Namun bukan masalah bagi Noah. Justru yang muda seperti itu yang menjadi tipenya. Dan sejujurnya, ketika pertemuan keluarga waktu itu dirinya sudah jatuh hati pada Kira.


"Bagaimana denganmu Kak Noah? Setahuku kau sudah lulus universitas, mengapa memilih menjadi asisten pribadi Otousan?" Tanya Kira.


Salah satu yang Noah sukai dari Kira adalah bagaimana gadis itu membangun suasana menyenangkan dengan lawan bicaranya. Padahal sejak pagi tadi ketika diantar sekolah, gadis itu terlihat murung. Sambil fokus pada jalan di depan, Noah menjawab.


"Alasan pertama karena calon ayahku yang meminta, aku menghormatinya layaknya ayahku sendiri maka aku mengindahkannya." Jawab lelaki itu.


Kira mengangguk paham. Tiba-tiba ia teringat sosok Bara. Gadis itu berinisiatif lagi menanyakan suatu hal. "Lalu apa pendapatmu tentang Kak Bara yang nantinya akan menjadi saudara tirimu?" Tanya Kira.


Noah tertawa pelan, "Aku akan menyayanginya seperti adikku sendiri." Jawab Noah.


"Ah tidak juga. Ini semua kulakukan untuk menebus keburukan ku di masa lalu." Sanggah Noah merendah.


"Keburukan apa?" Tanya Kira tanpa berniat menyudahi pembicaraan.


Noah menghela napas, sepertinya lelaki itu sedang mempersiapkan diri untuk bercerita lebih dalam mengenai hidupnya.


"Yah seperti yang orang-orang tahu tentang ayahku, dia adalah lelaki buruk. Waktu itu aku egois. Aku tidak ingin memiliki ayah sepertinya. Aku membencinya dan mengutuk dirinya. Bahkan aku tidak lagi ingin menganggapnya sebagai ayah, tapi aku melupakan satu hal penting. Bahwa yang namanya ayah kandung akan tetap menjadi ayah kandung sampai kapan pun bahkan jika dia seorang penjahat. Ketika aku sadar betapa salahnya keputusanku untuk membencinya, keadaan sudah tidak lagi memihak. Mereka bercerai, dan aku menyesal karena tak bisa menjadi alasan mereka bertahan." Noah tampak berkaca-kaca. Kira bisa melihat hal itu.


Gadis itu termenung. Ia baru saja paham satu hal dari cerita Noah. Bahwa keputusan akan selalu memengaruhi masa depan. Hal itu menjadikan pikiran dalam kepalanya menghubungkan antara ia dan Bara. Tentang keputusannya menjadikan lelaki itu kekasih. Apakah salah?


Selama ini dia hanya terobsesi pada Bara. Karena keingintahuannya tentang memiliki sosok spesial menjadikan ia nekat menyosor lelaki itu. Yang pada akhirnya hanya menyisakan lubang kepedihan di hatinya akibat luka karena sulitnya melepaskan lelaki itu.


Kira kembali fokus pada Noah. Masih ada banyak hal yang ingin ia ketahui tentang lelaki itu. Tak bisa dipungkiri jika ia tertarik dengan pesona sosok lelaki dewasa seperti Noah. Karena pembicaraan mereka seperti menanamkan hal baru bagi Kira. Dan hal itu menjadi daya tarik baginya.


"Semoga kebaikan senantiasa menghujani hidupmu kak." Ucap Kira penuh dengan aura penyemangat.


Noah tersenyum dengan lembutnya hingga lekukan pada sudut bibir lelaki itu tampak dan terlihat sangat menawan. "Terima kasih banyak." Balas lelaki itu.

__ADS_1


Kira mengembangkan sebuah senyum yang sejak sepekan terakhir tak terlihat lagi di wajahnya. Karena hari ini ia merasa kembali bersemangat jadi gadis itu memutuskan untuk berbahagia.


"Lalu apa alasan kedua kak Noah menjadi asisten pribadi Otousan?" Tanya Kira.


Noah tampak berpikir lalu sedetik kemudian wajahnya memerah. "Alasan kedua adalah privasi. Bukan untuk konsumsi publik." Jawab Noah.


Kira tampak tak terima. "Kenapa begitu?" Dengan sebelah alis yang dinaikkan serta tawa yang hampir pecah.


"Karena setiap orang punya alasan mengapa ia melakukam sesuatu yang tak butuh disuarakan." Jawab Noah masih dengan wajah memerah.


Kira terkekeh pelan, "Baiklah aku terima hal itu. Tapi suatu hari nanti Kak Noah harus memberitahu hal itu padaku."


"Kenapa?" Tanya Noah.


"Karena tak ada yang tahu dengan masa depan. Siapa yang bisa menebak jika nanti aku dan Kak Noah menjadi sahabat? Maka dari itu kau harus berjanji!"


"Tapi bukankah sahabat tak harus mengutarakan segalanya?" Sanggah Noah.


"No way! Jangan berbuat seperti itu padaku. Aku harus tahu semua tentang sahabatku agar hubungan persahabatan itu lebih terasa berharga." Jelas Kira.


"Hmm, begitu rupanya? Baiklah nona Kira, aku akan mengatakan alasanku suatu hari nanti." Akhirnya Noah memutuskan.


"Okay, dan mulai hari ini kita akan menjadi sahabat." Lanjut Kira sembari mengulurkan tangannya ke arah Noah sebagai tanda persahabatan mereka.


Noah sedikit ragu dengan hal itu namun tak ada salahnya kan jika bersahabat dengan gadis belia seperti Kira. Karena mau bagaimana pun, sesak di hatinya selama ini berkurang sedikit akibat bercerita dengan gadis itu. Yah mungkin sekarang saatnya Noah berubah. Dengan pelan ia menyahut tangan gadis itu lalu menjabatnya.


"Yah kita sahabat." Ucap Noah.


Kira tersenyum dengan gembiranya. Gadis itu terlihat kembali segar setelah sepekan lebih terkungkung dalam kesedihan. Sementara Noah, di balik wajah yang kemerahan itu tersimpan sebuah rahasia yang hanya ia dan orang tua Kira saja yang tahu.


'Alasan keduaku adalah kau!' Batin Noah.


.


.


.


bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2