
Setiap kali memikirkan Bara pasti wajah Kira juga ikut terbayang. Entah mengapa Naura merasa ada sesuatu yang akan terjadi pada mereka berdua. Perasaan itu mulai muncul ketika melihat sikap adiknya tadi pagi. Serta perkataan Kira juga turut menambah kekhawatirannya.
Gadis itu sedang memerhatikan gerak gerik Kira yang menatap ke arah Bara. Mereka baru saja pulang dari kampus dan harus singgah mengangkut manusia bernama Kira itu di sekolahnya. Sama seperti tadi, Naura duduk di jok belakang karena Kira yang bersikeras ingin duduk bersama Bara di depan.
"Kak Bara kenapa wajah kakak tampan? Apa kakak memakai skincare atau semacamnya atau kakak operasi plasktik?" Tanya Kira tiba-tiba.
Naura tersentak mendengar ucapan adiknya yang kurang sopan itu. Ia mendengus lalu berusaha menegur Kira.
"Jaga ucapanmu Kira!"
Kira menoleh pada sang kakak kemudian menunjukkan raut tak suka.
"Aku bertanya pada Kak Bara bukan kakak. Jadi kakak diamlah." Ketus Kira yang kemudian membalikkan badannya seperti semula.
Naura membulatkan mata dan hampir saja gadis itu mengumpati adiknya jika saja Bara tak melerai.
"Sudahlah Naura, tidak masalah jika Kira berkata seperti itu." Ucap Bara.
Akhirnya Naura bungkam tapi bukan berarti hal ini akan menjadi sebuah kebiasaan agar adiknya merasa tidak melakukan keslahan. Selepas masuk rumah, Naura akan mengadukan hal itu pada kedua orang tuanya.
"Ayo jawab kak!" Lanjut Kira.
"Apa?" Sejenak Bara terdiam dari tatapan tiba-tiba dari Kira. "Oh masalah pertanyaanmu tadi yah. Kenapa aku tampan? Ya karena ayahku juga tampan." Jawab Bara seadanya.
"Benarkah? Tapi kakak lebih mirip bibi Tahira." Ucap Kira menunjukkan keraguannya.
"Eh? Kau ini. Terserah saja." Bara kemudian mendengus.
Seiring perdebatan mereka di depan, ponsel Naura terdengar berbunyi di belakang. Gadis itu merogoh tasnya lalu mengambil benda persegi panjangnya.
"Iya Otousan?" Terlihat Naura mengerutkan kening.
"...."
"Ah baiklah. Naura ke sana sekarang." Gadis itu mengakhiri panggilan dan menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas.
"Kak, bisakah aku turun di perempatan depan. Aku ingin menyusul Otousan ke kantor." Ucap Naura pada lelaki yang sedang menyetir di hadapannya sambil berdebat dengan Kira.
Keduanya menatap cermin di atas mereka yang menampakkan wajah cantik Naura.
"Baiklah." Jawab Bara.
"Ada apa Otousan tiba-tiba memanggil Kakak?" Tanya Kira.
"Entahlah." Jawab Naura singkat.
__ADS_1
Gadis itu tak bisa memfokuskan pikirannya pada pertanyaan Kira karena telah melayang pada sang Ayah yang tiba-tiba mengajaknya ke kantor. Rasa curiganya menguat seketika. Biasanya jika ada pertemuan untuk memperkenalkan dirinya dengan seseorang sudah pasti ayahnya selalu menelpon untuk datang ke kantor.
'Apa kali ini ada anak teman Otousan lagi yang ingin mengenalku?' Naura mengira-ngira dalam hati.
Beberapa saat kemudian mobil berhenti di tepi jalan. Segera Naura membereskan barang-barangnya untuk turun. Ketika hendak berpamitan gadis itu baru menyadari sesuatu. Ada Kira yang ikut bersamanya. Ia teringat jika bocah 15 tahun itu tidak boleh pulang bersama Bara jika tidak ada dirinya. Karena sama seperti dirinya, Kira pun diwanti sang ayah untuk menjaga jarak dengan lawan jenis tapi tidak seintens dirinya.
Namun seketika suara Kira terdengar menyahut. "Cepatlah kakak turun, nanti kalau terlalu lama jalanan akan macet."
Naura mengalihkan pandangannya keluar jendela. Benar kata Kira jalanan sudah hampir macet karena tempat persinggahan mereka yang kurang strategis.
Spontan Naura melupakan kekhawatirannya lalu segera membuka pintu dan turun. Mobil telah melesat meninggalkannya dan dia baru sadar. Kira. Adiknya itu masih di atas mobil Bara.
"Ya ampun. Kenapa aku jadi lupa? Ah Otousan tolong maafkan aku." Ucap Naura panik sambil merogoh ponsel di tasnya.
Gadis itu hendak menelpon sang ayah tapi ternyata ponselnya mati.
"Hah, jadi ini bagaimana? Ya Tuhan jagalah Kira."
Naura kemudian menatap jam tangan yang melingkar di pergelangannya. Pukul 15.30. Segera ia mengambil taxi karena waktu sudah tidak kondusif. Seharusnya ia bergerak lebih cepat agar bisa sampai pukul 15.45 di kantor sang ayah. Namun karena kendala Kira, dia jadi kebingungan hingga tak terasa waktu terus berjalan.
"Semoga saja tidak terlambat." Gumamnya ketika ia telah duduk sempurna di dalam taxi.
...*****...
Kira terus saja mendebat Bara dengan berbagai pertanyaan dan sanggahan. Kemudian gadis itu tiba-tiba nekat mendekat ke atah Bara dan bersandar di pergelangan tangan lelaki yang sedang menyetir itu.
"Apa yang sedang kulakukan? Bersandar lah, apa lagi memangnya? Apa aku terlihat sedang memperbaiki mesin?"
Mendengar ucapan itu membuat Bara mengumpat dalam hati. Lelaki itu sudah merasa lelah berdebat dengan bocah igusan di sampingnya. Jadi Bara akhirnya membiarkan saja hal itu.
Kira mengembangkan senyum seringaian yang tak biasa. Seperti menyiratkan sesuatu.
"Kak Bara." Panggilnya dengan suara manja.
Bara sedikit terkejut dengan panggilan itu yang seketika membuat bulu-bulunya bangkit. Ada desrian panas yang menghantam dadanya. Sensasi berbeda yang luar biasa.
"Apa?" Lelaki itu berusaha menanggapi.
"Apa kakak suka pada Kak Naura?" Tanya gadis itu sambil melingkarkan tangannya pada lengan Bara dan beralih menidurkan kepalanya pada pundak lelaki itu.
Bara semakin berdesir. "Bisakah kau mengubah posisi ini? Aku kesulitan menyetir."
"Apa kakak mulai tergoda?" Sahut Kira lalu bangkit menatap mata Bara.
Ada kilatan tak terlihat yang Bara tangkap dari tatapan aneh gadis itu. Ia seketika kehilangan fokus dan langsung saja menepikan mobilnya.
__ADS_1
"Kau ini ada apa sih? Kenapa bersikap aneh begitu?" Bentak Bara.
Gadis itu menyeringai. "Apa kakak tau? Sebenarnya aku menyukai kakak dari dulu. Tapi kau begitu jahat karena tak sekalipun menganggapku ada. Selalu saja Kak Naura yang dipedulikan."
"Kau ini sedang membicarakan apa? Aku tidak paham." Bara mengerutkan keningnya.
"Jangan pura-pura tak paham. Apa kurang jelas ucapanku tadi?" Kira mendekatkan bibirnya pada telinga Bara. "Aku menyukaimu kak." Kemudian beralih mencium pipinya.
Bara tersentak dengan mata yang membulat. Lelaki itu secara spontan menjauh.
"Apa yang kau lakukan Kira!" Sergah Bara dengan napas yang memburu.
"Kenapa? Kakak tidak percaya kalau aku menyukai kakak?" Kira menaikkan sebelah alisnya.
"Sudah cukup! Kau ini keterlaluan sekali." Hardik Bara.
Kira tidak akan semudah itu terbawa perasaan dengan hanya mendapatka kalimat hardikan. Karena egonya lebih tinggi dibandingkan apapun. Semua yang menjadi keinginannya harus ia dapatkan dengan cara apapun.
"Jangan salahkan aku jika terus menggoda kakak. Karena yang ku inginkan hanyalah Kak Bara. Kak Bara harus menjadi kekasih Kira." Ujar gadis itu tidak tahu malu.
"Apa kau sudah tidak waras? Umurmu baru 15 tahun dan kelakuanmu ini sudah melampaui kakak mu. Bahkan Naura tidak pernah melakukan hal sejauh dirimu." Bara menatap sinis gadis itu tapi juga merasa miris.
Ternyata jika dipikir, tidak ada salahnya jika Bara mau membuka hati untuk bocah 15 tahun ini. Toh Naura juga tidak pernah memberi kepastian kepada dirinya. Dan dibanding Naura, Kira terkesan lebih berani dan itu membuat Bara cukup merasa tertantang.
"Kau serius ingin menjadi kekasihku anak kecil?" Tanya Bara menyindir.
"Apa yang harus ku lakukan agar kakak percaya?" Kira balik bertanya untuk menantang lelaki itu.
"Kalau begitu mari kita berciuman untuk mengawali hubungan kita." Seringai jahat terpancar dari wajah Bara.
"Apa?" Kira membulatkan matanya karena terkejut. "Kau bercanda? Tadi saja aku mengecup pipi mu dan kau langsung menjauh. Heh, ada-ada saja."
Bara menyunggingkan senyum jahat kepada gadis itu kemudian dengan cepat menariknya kedalam pelukan. Dan akhirnya Bara memaksakan bibirnya menyatu dengan bibir gadis itu.
'Aku tidak peduli ini adalah ciuman pertamamu atau bukan. Yang jelas semua ini terjadi atas dasar keinginan egoismu itu. Jika kau bisa menikung kakak mu sendiri maka aku akan meladenimu dengan senang hati.' Ucap Bara dalam hati.
.
.
.
.
.
__ADS_1
***Bersambung.....
Jangan Lupa Like+Komennya😉😉***