
Surya datang menemui Zara di apartemen yang menjadi tempat tinggal gadis itu sekarang, apartemen milik Ran. Setelah di persilahkan masuk, Surya duduk di sofa sembari meletakkan barang bawaannya di meja. Zara duduk lalu menatap Surya. Suasana sedikit canggung.
"Apa yang Kak Surya bawa untukku?" tanya Zara datar.
"Beberapa bahan makanan dan beberapa barang yang kau minta." jawab Surya dengan seulas senyum tipis.
"Terima kasih."
"Yah, sama-sama."
Beberapa detik menghening kemudian Surya teringat akan pesan Ran yang menyuruhnya menyampaikan semua tentang perusahaan.
"Zara, apa kau siap memegang perusahaan ayahmu?" tanya Surya memecah keheningan.
"Tidak." masih dengan nada datarnya, Zara kembali menatap Surya setelah beberapa saat mengalihkannya ke arah meja.
"Lalu, siapa yang akan memegang kuasa?" tanya Surya lagi. Sebenarnya ia tahu, yang akan menggantikan posisi Ran adalah dirinya namun ia hanya ingin memastikan bahwa Zara benar-benar belum mampu menanggung beban untuk menjadi pemilik perusahaan.
"Kakak saja, lagi pula aku benar-benar belum sanggup. Aku masih harus kuliah, bahkan sekarang aku masih semester satu." jawab Zara.
"Baiklah, tapi setidaknya kau harus sesekali ke kantor untuk melihat perkembangannya."
"Nanti aku lihat, apakah aku bisa atau tidak."
Surya mengangguk paham. Kemudian mengganti topik pembicaraan sebab ia merasa Zara seperti tidak ingin membahas hal tersebut.
"Aku akan melakukan perjalanan bisnis selama dua pekan, kau jagalah dirimu baik-baik. Dan yah, aku sudah menyewa ART untuk membantumu memasak dan membersihkan apartemen ini. Jika terjadi sesuatu cepat hubungi aku." ucap Surya panjang lebar.
Zara menghembuskan nafas panjang. Jika saja Ran ada, maka ia tak perlu memasukkan orang lain ke dalam apartemen itu. Jujur, ia keberatan jika ada orang lain yang masuk ke apartemen tersebut, kecuali Surya. Rasanya seperti privasinya diterobos oleh orang lain, namun apa boleh buat, dirinya tak bisa mengerjakan pekerjaan rumah sendirian.
"Hmm." balas Zara yang terdengar enggan.
"Bersabarlah, hidup itu berat. Kuatkan dirimu." ucap Surya kemudian bangkit.
Zara ikut bangkit lalu mengantar Surya menuju pintu. Setelah kepergian Surya, Zara mengambil dua kantong plastik diatas meja ruang tamu yang dibawa oleh Surya tadi lalu membawanya ke dapur.
Beberapa saat berlalu Zara membaringkan tubuhnya diatas ranjang King size milik Ran. Sekarang Zara lebih sering masuk ke kamar lelaki itu, bahkan ia juga memutuskan untuk tidur disana. Entah kenapa, ia selalu saja rindu pada Ran. Sejenak ia berpikir, apakah rasa cintanya pada Ran sangat besar? Kenapa sulit sekali menerima kenyataan bahwa mereka telah mengakhiri hubungan. Entahlah.
Walaupun rindu yang ia rasakan sangatlah berat, Zara tak berinisistif menelfon Ran. Bukan karena sakit hati, tapi ia tak ingin jika nanti setelah berbicara dengan Ran akan menimbulkan luka baru dihatinya yang sudah pasti sulit disembuhkan.
Ran sudah seperti pelindung baginya, karena Ran mampu membuatnya merasa aman. Ketika dirinya diselimuti oleh rasa takut, dekapan Ran adalah tempat terbaik untuk merasakan ketenangan hingga ia bisa terbebas dari rasa takut tersebut. Seketika Zara menyadari sesuatu, di dalam dadanya terasa begitu sejuk mengingat kenangan indah bersama Ran. Dan sepertinya, rasa cintanya pada Ran benar-benar tak bisa diukur lagi. Dan membuat dirinya sulit melupakan lelaki tampan bermata sipiti itu.
'Kenapa kau harus pergi disaat perasaanku padamu sudah begitu besar? Ini benar-benar sulit, tapi aku tak akan pernah membuka hatiku untuk siapapun lagi. Cukup kau yang terakhir, aku tak akan mencintai siapapun lagi setelahmu. Walau aku harus tidak menikah sekalipun.' ikrar Zara dalam hatinya.
...*****...
Hari berlalu begitu cepat dan kini, tapat di hari Ahad Aura melangsungkan pernikahan. Setelah melalui beberapa proses akhirnya keluarga kedua belah pihak menyepakati pernikahan antara Bryan dan Aura. Walaupun umur Aura yang masih belia, gadis itu sama sekali tak menolak kepurtusan orang tuanya dan orang tua Bryan. Mereka menikah dengan perbedaan umur yang cukup jauh, yaitu 9 tahun. Aura berumur 19 tahun, sedangkan Bryan berumur 28 tahun. Bryan adalah seorang Wakil Direktur perusahaan kertas yang dipegang ayahnya. Wajahnya tampan, bermata biru. Bryan adalah keturunan Inggris dari ayahnya, sedangkan ibunya pribumi. Orang-orang mengatakan bahwa Bryan adalah blasteran.
Sejauh ini, tak ada hambatan yang mereka rasakan pada proses pernikahan. Dan ketika akad telah selesai, mereka dipertemukan lalu saling memasangkan cincin pada jari masing-masing. Semua yang hadir merasa behagia melihat kedua insan yang baru bersatu dalam ikatan pernikahan beberapa menit lalu itu. Tak terkecuali Zara. Ia menatap dengan penuh kebahagiaan sosok yang sedang menjadi ratu sehari itu, ia baru ingat jika Aura baru saja menjadi sahabatnya dan sekarang sudah menjadi istri orang.
"Beruntung sekali, aku sangat bahagia melihatnya." ucap Zara yang saat itu berdiri di sisi Satria.
"Tentu. Siapa yang tidak bahagia melihat sahabatnya bahagia bukan?" ucap Satria dihiasi senyum manis.
Beberapa saat mereka bertemu pandang, sebelum akhirnya seseorang memanggil nama Zara.
Zara memandang wajah gadis yang memanggilnya sambil menyipitkan mata, ia mengenal gadis ini. Disisi gadis itu ada seorang pria dewasa yang juga tak asing baginya. Entah ini kebetulan atau memang Tuhan telah merencanakan, Zara benar-benar tak percaya terhadap apa yang dilihatnya. Faykah dan juga Aizuko, seorang direktur Nara Group.
__ADS_1
"Kau.. Akhirnya aku melihatmu lagi." ucap Zara pertama kali. Ia mendekat pada Faykah lalu memeluk sahabatnya tersebut.
Faykah membalas pelukan Zara dengan erat.
"I miss you, Zanzara."
"I miss you too, Faykah. Kenapa kau baru muncul? Apa kau sengaja tak menemui ku? Eh, tunggu sebentar.." Zara melepaskan pelukannya kemudian mengalihkan pandangannya pada Aizuko yang sedang berdiri menatap mereka dengan seulas senyum.
"Kak Aizuko.. Senang bertemu denganmu lagi." Zara menundukkan sedikit kepalanya.
"Senang bertemu denganmu juga, Zara." balas Aizuko.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Faykah. Zara mengangguk.
"Sayang, dia adalah adik Amakusa Ran. Pemegang perusahaan yang bekerja sama denganku." jelas Aizuko pada Faykah.
Zara memicingkan matanya mendengar ucapan Aizuko, Sayang? Apa mereka berpacaran? Pikir Zara.
"Hei, tunggu sebentar. Apa kalian punya hubungan?" tanya Zara penasaran.
Faykah dan Aizuko saling berpandangan.
"Tentu saja. Kami sudah menikah Zara." jawab mereka bersamaan.
Zara terperangah. "Ja.. Jadi.. Pria yang kau maksud dijodohkan denganmu, kak Aizuko?"
"Yah tepat sekali." jawab Faykah sambil tersenyum. Zara mengangguk pelan.
"Kenapa kau tak bilang padaku? Bahkan kau tak pernah menelfonku." Zara memprotes.
"Apa katamu? Aku tak bilang? Aku rasa kau harus mengecek kembali ingatanmu Zara. Aku telah mengirimkan undanganku ke perusahaan Kak Ran, dan saat pernikahanku kau tak hadir. Ran bilang kau sedang sakit." jelas Faykah.
"Jadi jangan salahkan aku." ujar Faykah.
"Lalu, kalian berdua. Apa kalian mengenal Aura?" tanya Zara sembari menatap Faykah dan Aizuko secara bergantian.
"Tidak. Kami hanya mengenal Bryan. Aku teman dekat Bryan." jawab Aizuko.
"Oh seperti itu. Hei, Faykah. Apa kau tahu, Aura telah menggantikan posisimu." ucap Zara tersenyum miring.
"Benarkah? Sepertinya kau menantangku yah. Baiklah karena kau yang memulai maka jangan salahkan aku jika aku membuatmu sedih. Kau tahu Zara, Aizuko telah menggantikan posisimu. Hahaha." ucap Faykah benar-benar mengejek.
"Astaga kau ini.. Tidak pernah mengalah. Kau selalu saja memenangkan perdebatan denganku." ucap Zara.
"Hahahaha.." mereka tertawa bersama.
Lalu sesaat Faykah menatap pria disebelah Zara.
"Apa dia kekasihmu?" tanya Faykah.
Zara menoleh. "Oh, ahaha, bukan. Dia sahabatku, dan dia juga sepupu Aura. Namanya Satria."
"Satria." ucap Satria memperkenlkan dirinya semabari bersalaman dengan Aizuko.
"Aizuko dan istriku, Faykah." balas Aizuko.
"Ohya, aku lupa. Diamana Ran?" tanya Aizuko pada Zara setelah melepaskan jabatan tangannya pada Satria.
__ADS_1
Zara tersentak. Sesaat yang lalu ia melupakan pria bermata sipit itu namun Aizuko mengingatkannya kembali, Zara merasakan sesak namun ia berusaha menahan.
"Kak Ran, dia sudah kembali ke Jepang." jawab Zara.
"Benarkah? Sejak kapan dan dalam rangka apa?" tanya Aizuko.
"Empat hari yang lalu, dia kembali kesana karena ayahnya sekarat." jawab Zara seadanya.
"Lalu, kapan akan kembali?"
Deg,, pertanyaan ini yang Zara hindari. Ia tak ingin menerima kenyataan bahwa Ran tak akan pernah lagi kembali.
"Mmm, entahlah. Terakhir dia bilang padaku jika dia tidak tahu kapan akan kembali. Mungkin dia tak akan kembali." jawab Zara dengan suara lirih.
Aizuko menyadari kegetiran yang terpancar dari sahabat istrinya itu lalu memutuskan untuk menyudahi pembahasan tentang Ran.
Satria juga menyadari hal tersebut, ia meraih bahu Zara dan mengelusnya pelan.
"Em, kalau begitu aku dan Faykah pergi dulu." pamit Aizuko.
Zara dan Satria mengangguk pelan. Setelah Aizuko dan Faykah berlalu, Satria membuka suara.
"Apa kesedihanmu selama beberapa hari ini karena kepergiannya?" tanya Satria masih dengan memegang bahu Zara.
"Bisakah kita mencari tempat yang sepi? Aku akan menjelaskannya disana." ucap Zara dengan raut wajah getir.
"Baiklah, kita akan ke taman belakang." akhirnya Satria menuntun Zara ke taman belakang.
Mereka duduk di sebuah bangku taman berbahan kayu jati. Sesekali Zara terlihat mengatur nafas. Satria yang melihat hal tersebut mendengus.
"Sekarang ceritakan!" ucap Satria.
Zara menatap sekilas lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Empat hari yang lalu, kak Ran kembali ke Jepang dan memutuskan hubungan kami. Alasannya karena dia tidak ingin membuatku berharap dan menunggunya yang tak tahu kapan kembali." Satria mendengarkan penjelasan Zara dengan seksama.
"Lalu, apa yang lagi yang kau harapkan?" tanya Satria.
"Aku.. Aku masih berharap jika nantinya dia akan kembali dan menepati janjinya pada Ayahku. Dia telah berjanji akan menjagaku. Dan bahkan aku sudah mencintainya begitu dalam." kali ini Zara melemah dan akhirnya meneteskan air mata.
Spontan Satria menarik gadis itu dalam pelukannya. Satria merasa begitu banyak penderitaan yang dialami gadis ini. Hingga membuatnya tak tega membiarkan Zara terus bersedih.
"Aku akan selalu ada disimu. Aku janji." ucapnya menghibur Zara.
"Tidak.. Tidak Satria. Jangan lakukan apapun untukku, aku tak bisa membalasmu." Zara berusaha menepis ucapan Satria. Ia takut jika nantinya Satria akan merasakan kekecewaan yang mendalam jika harus menanggung kesedihan yang dicurahkannya pada lelaki itu.
"Jangan menolak apapun dariku! Aku sahabatmu dan sudah sepantasnya aku menanggung kesedihanmu." tegas Satria.
"Tidak.." ucapan Zara terhenti ketika jari telunjuk Satria menahan bibirnya.
"Sudah kukatakan, jangan menolak! Biarkan aku menanggung semuanya, kau hanya perlu melanjutkan kehidupanmu dan terus bahagia."
Zara menatap manik legam Satria yang saat itu juga menatapnya. Tak ada keraguan yang terpancar disana hanya ketulusan yang Zara lihat hingga membuat dirinya perlahan menerima.
"Tapi aku tak bisa melupakan Kak Ran, aku sangat mencintainya." ucap Zara.
"Tidak masalah. Aku hanya akan membuatmu terus bahagia, aku sama sekali tak mengharapkan balasan apapun darimu. Aku sahabatmu dan aku tulus membantumu."
Satria sadar apa yang ia lakukan untuk Zara nantinya akan membuat dirinya terluka. Dan ia tahu luka yang akan timbul akan sangat besar dan menyakitkan. Tapi, demi Zara apapun akan ia lakukan. Karena gadis itu adalah cinta pertamanya. Hanya senyuman Zara yang ia harapkan tak ada yang lain, bahkan jika perasaanya tak terbalas pun Satria rela.
__ADS_1
"Kadang kita bertindak bodoh hanya untuk melihat senyuman dari seseorang yang kita cintai. Dan sekarang aku melakukannya. Lalu setelah hari ini, esok apa lagi Satria? Entahlah." ucap Satria dalam hati.