
"Kak, kau mau bilang apa?" tanya Zara sembari tersenyum.
"Em, aku.. Aku ingin mengajakmu ke kampus untuk menemaniku yudisium dan sekalian mendaftarkanmu di sana." Ran mengurungkan niatnya untuk mengutarakan keinginannya.
"Oh ahahaha, kau sudah mengatakan hal itu tadi pagi bukan? Kenapa memberitahuku lagi?" Zara cengegesan.
"Oh benarkah, aku sudah memberitahumu yah?" Ran menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Zara merasa ada hal yang aneh pada Ran, mengapa tiba-tiba lelaki itu gugup dan seperti ada yang disembunyikannya. Akhirnya ia pun mencoba menyelidiki. "Kak, apa ada sesuatu yang menjadi beban pikiranmu?"
"Ah, kurasa tidak. Memangnya kenapa? Apa kau merasa ada sesuatu?" Ran memaksakan untuk tersenyum.
Zara menatap pria itu, dan seketika mengurungkan niatnya untuk menyelidiki lebih dalam. "Tidak apa kak, lupakan saja. Mungkin kau butuh waktu." Zara tersenyum simpul lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela.
Ran menghela napas, kata-kata yang ingin ia sampaikan tadi sudah berada di ujung lidah namun nampaknya keberaniannya menciut. Dengan terpaksa ia kembali mengurungkan niat.
'Kenapa susah sekali bagiku mengucapkannya? Ayolah Ran! Katakan! Zara, ayo kita menikah! Ayolah Ran! Dasar bodoh!' Ran terus berkata dalam hati.
Beberapa menit berselang Zara kembali membuka suara. "Kak, apa kau punya seorang sekertaris?"
"Tidak, aku hanya punya asisten. Memangnya kenapa?" balas Ran sembari pandangannya fokus pada jalanan.
"Tidak, hanya bertanya saja." jawab gadis itu.
"Apa kau tahu, jika sebenarnya perusahaan itu milik ayahmu. Aku hanya memegang mandat sementara, jika kau sudah lulus strata satu barulah perusahaan itu bisa pindah ke tanganmu." jelas Ran.
Zara menoleh tak percaya, "Benarkah? Kenapa aku tak pernah tahu?" kemudian menaikkan sebelah alisnya.
"Karena aku belum membacakan surat wasiat ayahmu. Di situ dikatakan untuk sementara waktu yang memegang perusahaan adalah aku, nah nanti ketika sudah waktunya akan kuberikan padamu." jelas lelaki itu.
"Wah benarkah, ya ampun?" Zara tampak memucat. "Harus aku yah?"
"Jika bukan kau siapa lagi? Apa kau punya saudara?"
"Tidak sih. Tapi aku tidak berniat memegang perusahaan itu." Zara menggeleng. "Mengapa seperti itu?" Zara semakin bingung.
"Aku tidak tahu. Yang penting di dalam surat wasiat tertulis seperti itu." jawab Ran santai.
"Kalau begitu, perlihatkan aku surat wasiat itu!" pinta Zara.
"Nanti, setelah kita pulang ke apartemen." balas Ran.
"Baiklah. Em tunggu dulu! Apa kakak sudah membacanya?"
"Mmm, kurasa belum semuanya. Hari itu aku menyisakan dua lembar terakhir dan kuputuskan untuk membacanya ketika sudah waktunya, yaitu di hadapanmu sebagai ahli waris."
__ADS_1
"Kenapa tak dibaca?" tanya Zara.
Belum sempat Zara mendengar jawaban Ran, seketika Ran berkata.
"Kita sudah sampai!"
"Ah, baiklah." Zara bergegas turun dari mobil dan melupakan pertanyaannya yang tergantung.
Mereka berjalan memasuki kampus hingga ke ruang dimana Ran akan melaksanakan yudisium. Lelaki itu menggunakan kemeja berwarna putih dengan dasi hitam pekat yang melingkar di kerahnya serta celana kain berwara hitam, khas mahasiswa yudisium pada umumnya.
Ran menatap Zara sejenak. "Apa penampilanku sudah bagus?" tanyanya meminta pendapat.
"Kurasa ini lebih dari bagus, kau sangat tampan!" Zara merapikan rambut Ran kemudian meluruskan dasi lelaki itu. Tampak sekali perbedaan jarak tinggi badan mereka hingga mengharuskan Zara berjinjit untuk merapikan rambut Ran.
"Baiklah, terima kasih. Doakan aku!" Ran bergegas masuk ke dalam ruangan.
"Semoga lancar." Zara memberi semangat.
...
Satu setengah jam berlalu, akhirnya Ran keluar dari ruangan tersebut lalu menghampiri Zara yang sedang duduk dengan sebuah novel di hadapannya. "Chibi-chan." panggil Ran.
Zara mendongakkan kepalanya dan mendapati Ran yang sedang tersenyum lebar. Gadis itu menutup bukunya lalu berdiri menyejajarkan tubuhnya pada Ran.
"Yap, aku sangat lega hari ini. Akhirnya perjuanganku selama empat tahun berbuah manis." Ran spontan memeluk gadis itu.
"Selamat untukmu kak, kau hebat!" Zara tanpa sadar membalas pelukan Ran.
"Terima kasih. Sekarang mari kita pulang." Ran melepaskan peluknnya.
Zara baru saja tersadar jika dirinya tadi sedang berpelukan dengan lelaki itu. Seketika ia gelagapan untuk menutupi rasa malunya. Ran hanya tersenyum melihat raut wajah itu.
Tiga puluh menit kemudian mereka telah samapai di apartemen Ran. Secara bersamaan mereka merebahkan tubuh di sofa yang menimbulkan gerakan lucu. Sontak Zara tertawa lepas. Melihat ekspresi spontan gadis itu membuat hati Ran menghangat, entah mengapa hanya dengan melihat tawa Zara hatinya seketika dipenuhi dengan kebahagiaan.
Kemudian lelaki itu mengahdapkan pandangannya ke arah Zara yang tengah bersandar setengah berbaring. Ran meraih tangan mungil gadis itu dan membelainya pelan. "Apa kau mencintaiku?" tanya Ran lirih.
Zara terdiam dengan senyum malu, sebenaranya ia sangat bahagia ketika Ran menyentuhnya hingga membuat dirinya tak pernah menolak. Dan juga gadis itu sangat mencintai Ran. Tak lama berselang lelaki itu semakin mendekatkan wajahnya pada Zara dan sontak gadis itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan sebab tahu apa yang akan terjadi.
"Chibi-chan, bukalah!" pinta Ran sembari kembali memegang tangan Zara di bagian pergelangan.
Perlahan gadis itu membuka kedua tangannya, dan seketika ia menangkap raut wajah Ran mendamba pada dirinya. Karena merasa tak ada alasan untuk menolak, gadis itu membiarkan Ran melakukan apa yang ingin dilakaukannya. Namun sebelum itu, Zara mengabil alih terlebih dahulu sebelum Ran. Ia memeluk lelaki itu dengan kencang dan menyembunyikan wajahnya di dada. Ran sontak terkejut namun tak lama ia pun membalas pelukan Zara.
"Ada apa?" tanya Ran yang terkejut dengan sikap gadis itu.
"Tidak ada. Aku hanya merasa akan lebih menyenangkan jika aku yang memulai." Zara menatap lelaki itu tanpa melepaskan pelukannya sembari menyemburkan senyuman genit.
__ADS_1
"Ya ampun, sejak kapan kau seperti ini hah?" Ran mencubit hidung gadis itu dengan lembut.
"Tidak tahu." jawab Zara malu-malu yang kemudian kembali menyembunyikan wajahnya di dada lelaki itu.
Ran tertawa sejenak yang kemudian meraih wajah gadis itu lalu menatap matanya dalam. Hati Ran mulai menghangat bersama dengan wajahnya yang semakin memangkas jarak dengan wajah gadis itu. Setelah beberapa detik akhirnya bibir mereka saling tertaut. Kali ini Zara sama sekali tidak menolak. Ia mencoba untuk menikmati sembari mengecek perasaanya pada Ran.
Ketika Ran mulai menaikkan level permainan, Zara mulai pasrah sepenuhnya dan membiarkan lelaki itu memainkan mulutnya dengan sesuka hati. Di situlah Zara menyadari bahwa ternyata perasaannya pada Ran tidak hanya sekedar suka dan kagum tapi dia sudah benar-benar menyayangi lelaki itu. Dilihat dari responnya yang sama sekali tak menolak. Bahkan ketika tubuhnya telah terbaring sempurna di sofa itu dengan posisi Ran yang berada di atasnya.
"Peluk aku!" pinta Ran dengan suara lirih yang sudah berbaring sempurna di atas tubuh gadis itu.
Perlahan gadis itu memeluk tubuh Ran, jantungnya berdebar dengan penuh irama. Rasa hangat menyelimuti dadanya, hingga napas yang tadinya normal kini semakin terasa memburu.
Ran mendekatkan bibirnya pada leher Zara dan mengecupnya sekilas. Gadis itu merasakan sensasi aneh sehingga tibuhnya semakin bergetar hebat. Ran hendak bangkit namun sontak gadis itu mencegahnya.
"Jangan! Biarkan seperti ini, kak!" ucap Zara lirih.
Mendengar hal itu membuat Ran urung bangkit dari posisinya, ia kembali mengarahkan bibirnya pada leher gadis itu. Menghirup dalam aroma khas tubuhnya lalu mengecup dengan lebut. . Kehangatan menyelimuti mereka hingga membawa keduanya ke alam mimpi yang panjang.
Di pagi hari yang begitu cerah, Ran telah memakai setelan jas formal sebab akan segera beranjak menuju kantor. Sedangkan Zara hanya akan tinggal di apartemen itu, karena untuk beberapa waktu ia tak memiliki kegiatan apapun di luar.
Zara berjalan menghampiri lelaki itu yang ternyata sudah berdiri di depan pintu. "Kak, jam berapa kau akan pulang?"
"Sekitar jam 5 sore, kenapa?"
"Tidak apa-apa. Oh iya, aku ingin membaca surat wasiat ayah. Kakak simpan di mana biar aku yang mengambilnya."
"Ada di laci meja kerjaku." jawab Ran singkat sembari memakai sepatunya.
"Baiklah, terima kasih. Hati-hatilah di jalan!"
"Hmm." balas Ran dengan senyuman lalu beranjak.
Setelah kepergian Ran, Zara mencari surat wasiat tersebut. Setelah mendapatkannya, ia pun duduk di kursi kerja lelaki itu dan mulai membacanya lembar demi lembar. Hingga dua lembar terakhir, ia berhenti sejenak sembari mengingat ucapan Ran yang mengatakan bahwa lelaki itu belum membaca dua lembar terakhir dari surat wasiat tersebut. Zara menghela napas lalu menyimpan map berwarna cokelat tersebut ke atas meja.
"Aku akan membacanya bersama kak Ran nanti." Gumamnya. Kemudian beranjak meninggalkan ruang kerja Ran.
.
.
.
bersambung....
__ADS_1