
Saga menyeruput minuman yang di siapkan oleh Zara. Lalu kembali membuka pembicaraan dengan gadis itu.
"Kau dan Ran, bagaimana kalian bisa menjadi kekasih?"
Terdengar seperti nada bercanda, Zara tertawa sejenak.
"Loh, kenapa tertawa?" Saga heran.
"Khemm, maafkan aku. Hanya saja aku merasa pertanyaanmu terdengar lucu." jawab Zara setelah menghentikan tawanya.
"Ayolah Zara, sekarang aku serius. Ceritakan padaku bagaimana kalian bisa saling menyatakan.. Pe-ra-sa-an." Saga menggoda Zara lagi untuk yang kesekian kalinya.
"Hei kau ini. Aku tidak pernah menyatakan perasaanku pada Kak Ran. Dia duluan yang mengajakku berpacaran." jawab Zara ketus.
Selalu saja Zara menjawab dengan ketus godaan dari Saga, dan itu yang membuat Saga selalu puas menggoda sepupunya itu.
"Ahahaha, Zara.. Zara.. Bagaimana kalian bisa berpacaran jika hanya Ran yang ingin, hah?" tanya Saga dengan nada mengejek.
"Ya.. Ya.. Aku.. Aku.. Awalnya aku juga tidak mau, tapi dia memaksaku." jawab Zara terbata dengan pipi yang mulai memerah.
"Wah wah, pipimu merah Zara. Kau sudah seperti kepiting rebus saja, hahaha." Saga semakin mengejek gadis itu.
"Hei diamlah." Zara menunjukkan wajah cemberutnya.
Saga yang melihat tingkah sepupunya merasa gemas, saking gemasnya ia menarik pipi gadis itu.
"Ciee, ngambek. Sudah.. Sudah.. Aku hanya bercanda."
Zara kembali tersenyum.
"Kau ini selalu saja mempermainkanku. Apa kau puas sekarang?"
"Tentu, hahaha." Saga terkekeh.
"Aku lelah tertawa, sekarang ceritakan bagaimana Ran menyatakan cinta padamu?" tanya Saga setelah beberapa jenak.
__ADS_1
"Mm, hari itu dia hanya bilang 'Zara, aku menyukaimu.' seperti itu." jawab Zara santai, entah ia ingin menceritakan bagian yang mana ketika Ran menyatakan perasaan padanya.
"Hah? Sangat jauh dari kesan romantis." Saga menggelengkan kepalanya atas pernyataan yang baru saja ia dengar.
"Memang Kak Ran orangnya seperti itu kan?" Mereka berdua tertawa serempak.
...*****...
Malam hari di apartemen Saga.
"Kak, pelan-pelan." ucap Rara lirih.
Saga sedang mengikatkan rambut panjang nan lebat milik Rara didepan meja rias kamarnya, gadis itu selalu mengeluh kesakitan ketika Saga mengikatkan rambutnya. Bukan karena Saga melakukannya dengan kasar tetapi kulit kepala Rara memang tipis sehingga baru ditarik sedikit saja akan terasa sangat sakit baginya.
"Aku sudah pelan-pelan, Ra." balas Saga lalu menyudahi aktivitasnya.
"Finally." ucap Saga lagi.
Rara menatap hasil ikatan rambut Saga, sangat rapi dan indah. Rara tak pernah kecewa dengan hasil dari jari jemari Saga, karena selain rapi dan indah Saga juga melakukannya dengan sepenuh hati.
Saga beralih menuju sofa yang ada dikamarnya tersebut, lalu memanggil Rara dengan lambaian tangannya. Rara segera beranjak menuju sofa dan langsung merebahkan dirinya dalam pelukan Saga.
"Apa kita salah jika saling mencintai kak?" tanya Rara dengan nada lirih.
Pertanyaan itu selalu ia lontarkan ketika hatinya kembali menjenuh, dan diliputi rasa bersalah.
"Tidak, tidak sayang. Cinta ini datang tanpa kita inginkan, kita tidak salah." Saga berusaha menghibur adiknya.
"Jangan dipikirkan lagi yah. Kakak sangat menyayangimu." ucap Saga lagi. Rara mengangguk.
Saga mengelus lembut pipi Rara lalu memangkas jarak antara wajanya dengan wajah gadis itu. Rara merasakan hembusan nafas Saga lalu seketika ia memejamkan matanya. Bibir mereka kembali tertaut dalam waktu yang lama. Mereka sama-sama menikmati.
'Aku sangat berharap kak Saga bukan kakakku, aku sangat mencintainya sebagai seorang lelaki. Entah sampai kapan hubungan kami akan bertahan, aku harap aku bisa bersama Kak Saga selamanya. Ibu, maafkan aku. Aku telah mengecewakanmu.' batin Rara.
Tautan bibir mereka terhenti sejenak ketika Saga merebahkan tubuh sang adik disofa lalu ia beralih menindihnya.
__ADS_1
"Jangan pernah menyesal telah menyerahkan sesuatu yang paling berharga mu padaku, karena aku mencintaimu dan tak akan pernah meninggalkanmu." bisik Saga ditelinga Rara.
"Tidak akan." balas Rara disertai air mata yang menetes.
Detik-detik berikutnya adegan panas antara mereka kembali terjadi. Saga melakukannya dengan perlahan karena mengingat ulahnya tadi siang yang membuat Rara benar-benar kelelahan. Malam itu ia berjanji akan membuat Rara merasa dicintai. Rara menikmati setiap sentuha dari sang kakak. Untuk apa dia menolak, hal ini sudah yang ketiga kalinya. Toh, dirinya juga sudah menyerahkan hal yang paling penting dalam hidupnya pada Saga.
"Aku mencintaimu." ucap Saga disela-sela adegan panas antara mereka.
...*****...
Dering ponsel Zara berbunyi di tengah malam tanda panggilan masuk. Entah siapa yang menelfonnya selarut ini, Zara mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat nama pemanggil.
"Zara." panggil seseorang di seberang telfon.
Zara mengerjapkan matanya setelah mendengar suara lembut yang sangat ia rindukan. Ran.
"Kakak. Aku merindukanmu." balas Zara dengan nada bergetar menahan tangis.
"Aku juga merindukanmu, bagaimana keadaanmu?"
"Aku hampa tanpamu kakak. Kembalilah, kumohon." pinta Zara, sekarang dirinya benar-benar terisak.
"Tenang Zara, tenang. Kakak akan kembali beberapa waktu lagi. Setelah Ayah sembuh aku akan kembali dan menjagamu." ucap Ran.
"Janji?"
"Aku berjanji Zara." balas Ran.
"Tidurlah, kuyakin disana masih larut malam kan?" tanya Ran kemudian.
"Hmm, aku akan tidur." Zara mengangguk sambil menghapus air matanya.
"Oyassumi." tutup Ran.
Setelah panggilan terputus Zara menatap ponselnya lalu tersenyum lirih.
__ADS_1
Waktu tidak akan pernah berhenti pada suatu masa. Semuanya akan terus berjalan sesuai kehendakNya. Pun dengan rindu. Rasa itu ada agar kita mengira masih ada cinta yang tak pernah berhenti bergetar, meski kita sudah tak saling bertatap mata. Meski kita tak tahu kapan kita bisa kembali bersama.. Ran, mencintaimu, anugerah terbesar bagiku. Ran, You are My Lovely Cousin.