
Dua hari menuju pernikahan Zara dan Ran, waktu terasa begitu cepat. Semua persiapan pernikahan telah selesai secera keseluruhan, baik tempat pelaksanaan, dekorasi, makanan dan tamu undangan. Namun persiapan pernikahan tak berbanding lurus dengan hubungan mereka yang bersitegang sejak pagi tadi. Ran kesal dengan sikap Zara yang begitu keras kepala. Gadis itu berkata akan bertemu dengan Raka hari ini karena mereka telah membuat janji. Itulah yang membuat Ran sangat kesal.
"Kau ini sebaiknya mendengarkan ucapanku! Dua hari lagi kita kan menikah dan kau ingin pergi menemui lelaki lain. Seharusnya mulai hari ini kau tidak usah kemana-mana, persiapkan diri saja." ketus Ran, nadanya benar-benar penuh penekanan.
"Kakak, hanya hari ini saja. Lagi pula kami hanya akan bertemu sebentar saja." ucap Zara dengan nada memohon.
"Tidak Zara, kau tidak boleh pergi. Aku akan marah jika.." ucapan Ran terpotong karena Zara telah melangkah pergi meninggalkan apartemen.
Ran mengacak-acak rambutnya frustasi. Tidak biasanaya gadis itu membangkang. Ada apa dengan Zara, bahkan mereka akan menikah dua hari lagi dan gadis itu menunjukkan sikap membangkang yang membutnya berang. Sorot mata Ran tiba-tiba mendingin dan datar. Ran menutup pintu apartemennya dengan keras lalu berjalan ke kamarnya. Mengambil ponsel lalu menghubungi Saga.
"Awasi Zara, bawa dia pulang ke apartemenmu sampai acara pernikahan." ucap Ran dingin. Belum sempat Saga menbalas ucapannya, Ran langsung mematikan panggilan.
Di sebuah taman tepatnya di tengah kota Zara menghampiri lelaki bertubuh tinggi yang sedang duduk di bangku taman. Zara tersenyum sembari duduk di samping Raka.
"Sudah lama menunggu?" tanya Zara.
"Belum, sekitar lima menit." jawab Raka.
Dari kejauhan Saga memerhatikan mereka dengan malas. Pikirnya, apa yang Ran khawatirkan dengan mereka? Saga tak ingin ambil pusing dengan keadaan saat ini. Karena merasa sedikit malas, Saga akhirnya mengirimkan pesan kepada Zara untuk pulang ke apartemennya setelah selesai bertemu dengan Raka. Setelah itu Saga meninggalkan mereka.
"Aku akan kembali ke Australia." Raka memulai percakapan mereka.
"Mm lalu?" Zara menaikkan sebelah alisnya.
"Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu hari ini, jika kau tidak keberatan." Raka menatap mata Zara.
"Eh tapi, aku hanya meminta izin kepada Kak Ran untuk keluar sebentar."
"Begitu yah. Padahal aku telah berencana mengajakmu melihat konser One Ok Rock." ucap Raka kecewa.
Melihat kekecewaan yang terpancar dari wajah Raka membuat Zara sedikit iba. Namun ia tak bisa menuruti ucapan lelaki itu karena jika ia ikut menonton konser maka mereka akan pulang larut malam dan pastinya Raka tidak hanya sekedar akan mengajaknya menonton konser, tetapi di tambah embel-embal makan siang dan segala macam. Zara juga ingat, dulu karena rasa ibanya pada Raka membuat dirinya terjerumus dan mengalami hal buruk. Karena tak ingin mengulang hal tersebut untuk kedua kalinya Zara memutuskan untuk menyudahi pertemuan mereka, untuk menjaga perasaan Ran yang ia tinggalkan tadi. Sudah bisa di pastikan lelaki itu marah.
"Maafkan aku, harusnya hari ini kita tidak bertemu." akhirnya Zara menyadari kesalahannya. "Aku akan menikah dua hari lagi dan tidak sepantasnya aku melakukan hal ini. Maafkan aku Raka, aku ingin pulang."
"Tapi, aku hanya ingin bersamamu sebelum aku kembali ke Australi. Lagi pula kau akan menikah." ucap Raka.
"Justru itu aku tak ingin membuat semua ini terjadi, aku akan menjadi istri orang. Mengertilah."
"Aku hanya ingin bersamamu untuk yang terakhir kali. Karena setelah ini aku akan melupakanmu. Aku mencintaimu Zara, hatiku tak bisa berbohong." Raka menggenggam tangan Zara. "Melihatmu akan menikah dengan orang lain membuat hatiku terasa ditusuk."
"Tidak Raka. Kau salah. Ini salah. Tidak sepantasnya kau menyatakan hal ini pada ku. Dengar, kau berhak mencintai orang lain jangan menyusahkan hatimu dengan mengharapkan ku." Zara melepaskan tangan Raka.
__ADS_1
"Tidak bisa Zara. Aku hanya mencintaimu. Dan aku.." ucapan Raka terhenti.
"Sudah ku bilang ini tidak pantas. Aku pergi." Zara bangkit lalu meninggalkan Raka sendiri.
Zara kembali ke apartemen Ran, ia memencet bel beberapa kali namun tak ada jawaban dari dalam. Kemudian ia berusaha membuka pintu namun ternyata terkunci.
"Apa Kak Ran pergi yah?" gumam Zara. Kemudian ia merogoh tasnya mencari ponsel.
Zara membaca pesan dari Saga. Saga menyuruhnya pergi ke apartemen lelaki itu. "Kenapa aku tak membacanya dari tadi? Kalo seperti itu aku kan tidak perlu datang kemari."
Akhirnya Zara beranjak meninggalkan gedung apartemen. Ketika sampai di lantai satu ternyata Saga telah berada di sana menunggunya dengan wajah penuh kemalasan.
"Saga. Apa yang kau lakukan disini?" Zara terkejut.
"Apalagi jika bukan menjemputmu. Ran akan membunuhku jika membiarkanmu pergi sendiran." ucap Saga malas.
"Oh begitu."
"Cepatlah, aku sangat malas hari ini." Saga berjalan meninggalkan Zara.
"Hei tunggu." teriak Zara. Lalu dengan terpaksa ia mengikuti langkah Saga menuju mobil.
"Saga." panggil Zara.
"Hmm." jawab Saga.
"Kak Ran pergi?"
"Tidak tahu."
"Lalu mengapa dia menyuruhku ke apartemenmu?"
"Tidak tahu."
"Ihh kau ini menyebalkan sekali. Mengapa jawabmu tidak tahu terus sih?" gerutu Zara.
"Karena aku memang tidak tahu, Zara." balas Saga. Wajahnya mulai menunjukkan kekesalan.
"Lalu kenapa kau menyuruhku ke apartemenmu?"
"Karena aku disuruh membawamu ke apartrmen. Sampai hari pernikahanmu. Puas!"
__ADS_1
"Apa?" Zara mengeryit. "Kenapa kak Ran menyuruhmu seperti itu?"
"Aku juga tidak tahu, kau tanya dia sendiri. Bahkan saat dia menelfonku, aku tak dibiarkan bertanya dia langsung mematikan panggilan." jawab Saga masih dengan nada ketus.
"He? Apa Kak Ran marah yah?"
"Aku juga tidak tahu. Lagi pula ada masalah apa kau dengan Raka? Mengapa Ran menyuruhku mengawasimu dengan cecunguk itu?"
"Apa? Mengawasiku? Jadi tadi kau melihatku bersama Raka?"
"Tentu saja!"
"Ya ampun. Pasti Kak Ran marah padaku." ucap Zara.
Kemudian Zara berusaha menghubungi Ran. Beberapa menit berlalu, dan Ran tak menjawab satu panggilan pun dari Zara.
"Apa Kak Ran benar-benar marah yah?" tanya Zara lagi.
"Mungkin saja. Lagi pula itu salah mu kan. Oh aku mengerti sekarang, Ran tidak mau kau bertemu cecunguk itu kan tapi kau memaksa?" selidik Saga.
Zara menunduk tanda ucapan Saga benar. "Astaga Zara, kau ini. Kau mau menghancurkan pernikahanmu hah? Harusnya kau menghargai perasaan Ran sebagai calon suamimu. Kalau sudah begini, aku juga merasa muak padamu."
"Lalu aku harus apa?" rengek Zara. Air matanya telah menetes membasahi pipinya.
"Minta maaf, apa lagi?" tegas Saga.
"Tapi.. Dia tak mengangkat panggilannya." jawab Zara lirih.
Saga hanya mengendikkan bahu tanda ia tak tahu harus berbuat apa. Saga tahu Ran pasti kecewa, dan mungkin lelaki itu berusaha menenangkan diri.
"Bagaimana jika Kak Ran membatalkan pernikahan kami? Ohh tidak, Saga bantu aku. Hiks.. Hiks.. Hiks.."
"Diamlah. Ran sudah dewasa, mana mungkin membatalkan hal sebesar itu. Pernikahan bukanlah hal untuk bermain, apalagi waktunya sisa dua hari lagi. Jangan berpikir yang tidak-tidak." tegur Saga dengan nada kesal.
Zara hanya menunduk terisak. Kini ia menyadari perbuatanya yang membuat Ran mungkin marah padanya. Zara merasa sangat menyesal menemui Raka. Jika bukan karena merasa iba, maka tidak akan Zara lakukan hal itu. Tapi hari ii sudah terlanjur, keretakan pada hubungannya dengan Ran di buat olehnya.
Mereka akhirnya sampai di apartemen Saga. Ketika masuk, Zara masih terisak dan segera saja ia duduk di sofa ruang tamu diikuti Saga. Saga tak bisa apa-apa lagi, ia hanya bisa diam menatap Zara yang terus menangis. Hingga Tahira muncul dari arah dapur.
"Hai Zara." mata Tahira terbelalak ketika melihat Zara dalam keadaan tidak baik-baik saja. "Apa yang...?" belum sempat Tahira melanjutkan pertanyaannya, Saga memberi isyarat agar diam. Tahira mengangguk.
Hola Minna-san!! Jangan lupa tinggalkan jejak😉 Dukungan kalian adalah kekuatan baut Author.
__ADS_1