
"Besok Ayah dan Ibu Ran akan tiba, dan pernikahan kalian akan dilaksanakan setelah mereka tiba." ucap bibi Yumna pelan.
"Tapi bibi, otoosan dan okaasan tidak berkata apa-apa padaku." ucap Ran, tampak sekali wajahnya begitu tegang.
"Bibi sudah berbicara dengan mereka. Dan kau harus memenuhi permintaan bibi. Ran sayang, apakah kau tidak menyayangi bibimu ini?" suara bibi Yumna semakin lirih.
Entah situasi macam apa ini, mereka berempat merasa tercekik atas permintaan Bibi Yumna. Saga menampakkan wajah masam, ia benar-benar tidak rela Tahira menikah apalagi yang akan menikahi Tahira adalah Ran, kekasih Zara dan sepupunya sendiri. Ini tidak adil, lagi pula Ran tidak mencintai Tahira dan begitu pula sebaiknya.
"Te.. Tentu saja aku menyangi bibi." jawab Ran dengan nada terbata. Perasaannya mulai tidak enak.
"Kalau begitu kau harus menikahi Tahira, sayang. Bibi Mohon." pinta bibi Yumna.
Ran menjadi gelagapan, tak tahu harus berbuat apa. Disisi lain ia ingin menjaga hati Zara, karena bagaiamana pun Zara adalah tanggung jawabnya dan telah menjadi kekasihnya. Tapi permintaan bibi Yumna juga tak bisa ditolak, apalagi bibi Yumna sudah berbicara dengan orang tuanya.
Ran mengangguk pelan, tersirat keengganan pada gerakannya. Melihat respon Ran yang menyetujui permintaan Ibunya, seketika membuat Saga mengepalkan tangannya. Sungguh situasi ini membuatnya hampir kehilangan kewarasan. Ia segera meninggalkan kamar bibi Yumna tanpa kata. Melihat itu Zara pun ikut meninggalkan kamar tersebut dengan tatapan dingin dan kosong.
"Ibu, ibu bisa minta apa saja tapi jangan yang ini. Aku tidak mencintai kak Ran. Tolong ibu mengertilah." bujuk Tahira. Sekarang hatinya mendadak gelisah, apalagi setelah melihat reaksi Saga yang sungguh membutnya sedih. Ia tahu Saga hampri setres.
"Kau tidak ingin melihat ibu bahagia?" bibi Yumna meneteskan air mata kali ini.
"Tidak bu, tidak." Tahira menggeleng lalu dengan segera memluk ibunya.
"Aku permisi." ucap Ran setelah terdiam lama.
Saga meninggalkan rumah saat itu juga akibat tidak bisa menahan emosinya dan sekarang hatinya begitu terluka. Ia merasa Ran mengkhianatinya karen telah setuju untuk menikahi adik sekaligus kekasihnya.
Sedangkan Zara, gadis itu sedari tadi duduk di taman belakang kediaman bibi Yumna. Tatapannya kosong dan hatinya mendingin. Bayangan perpisahannya dengan Ran terlintas dan membuatnya seperti ditusuk belati berkali-kali hingga hatinya mengeras. Ingin menangis tapi tak ada kekuatan, air matanya mendadak kering akibat kejadian tiba-tiba hari ini. Bagaimana bisa takdir berubah begitu cepat? Hari ini Ran adalah miliknya, dan besok akan menjadi milik Tahira. Sungguh alur kehidupan terasa seperti lelucon di benaknya.
"Zara."
Terdengar suara panggilan dari arah belakang, Zara tahu suara itu. Dan besok pemilik suara itu akan menjadi suami orang.
__ADS_1
Zara tak menoleh hingga lelaki itu duduk di sebelahnya. Ran memeluk tubuh Zara yang terasa seperti manekin. Merasakan pelukan Ran membuat Zara tersadar dan memilih untuk menarik dirinya dengan kasar.
"Menjauh!" ucap Zara yang mulai bangkit dari duduknya.
"Zara. Maafkan aku." ucap Ran lembut.
"Tidak perlu. Ini bukan salahmu." ucap Zara dingin, ia hendak melangkah meningglkan Ran.
Dengan cekatan Ran menghentikan langkah Zara. Ia menarik gadis itu dan membawanya masuk ke dalam rumah. Tepatnya di lantai dua kamar milik Ran. Mereka masuk lalu mengunci pintu. Ran menarik Zara lalu dengan gerakan cepat ia membaringkan gadis itu di sofa lalu menindihnya.
"Aku sudah bilang, menjauh!" ucap Zara dingin.
Ran menatap dengan lekat kedua bola mata Zara yang sekarang teasa begitu dingin. Tatapan lembut penuh kasih sayang yang sering dilihat Ran telah lenyap.
"Kenapa kau tiba-tiba berubah? Ini bukan dirimu. Sadarlah!" ucap Ran lembut.
"Pindah!" suara gadis itu pelan namun sangat menyayat. Zara tidak akan pernah menolak secara terang-terangan perlakuan Ran padanya namun kali ini gadis itu benar-benar berubah.
Tak ada respon dari Zara dan itu membuat Ran merasakan perih di dadanya. Mungkin saat ini Zara telah kehilangan kepercayaan padanya. Tapi untuk meyakinkan gadis itu Ran nekat mendaratkan ciuman pada bibir Zara. Kali ini Zara tidak tinggal diam, ia berusaha memberontak. Ran melepaskan tautan bibir mereka.
"Lepaskan aku! Kau tak pantas lagi memperlakukanku seperti ini. Ingatlah jika besok kau akan menikah."
"Hentikan Zara! Hentikan semua ini! Jangan membuatku merasa bersalah padamu. Jika kau merasa sakit hati, aku pun sama. Kita berempat merasakan hal yang sama. Apa kau mengira hanya kau yang merasakan? Mereka juga sakit Zara!" ucap Ran masih dengan nada pelan.
"Lantas, harus kah aku berpura-pura bahagia dan menerima semua ini? Sulit kak. Sulit." air mata Zara mulai menetes.
Ran memikirkan ucapan Zara baik-baik. Lelaki itu bangkit dari tubuh Zara lalu duduk bersandar di kaki sofa. Zara bangkit dan hendak keluar. Namun lagi-lagi Ran menghentikannya. Ran memeluk gadis itu dari belakang seerat mungkin.
"Lepaskan!" teriak Zara.
"Maafkan aku. Jika bukan karena bibi kau pasti tahu ini semua tidak akan terjadi. Jika kau berada di posisiku saat ini, pasti kau juga akan melakukan hal yang sama." ucap Ran lirih.
__ADS_1
"Kau berkata seperti itu karena situasimu memihak, kau akan menikah dan akan bahagia nantinya. Sedangkan aku, entah siapa yang akan menjagaku setelah kau menikah?" Zara melepaskan pelukan Ran yang merenggang dan dengan cepat ia membuka pintu kamar lalu berlari keluar menuju kamarnya.
Suasana rumah itu seperti diselimuti kabut hitam tebal, suram. Tengah malam Saga baru saja pulang dari pelariannya tadi. Ia berjalan menyusuri rumah dengan lampu yang telah padam seluruhnya. Setelah sampai di depan kamar Tahira, ia langsung membuka pintu. Sebelum pulang tadi ia sempat menghubungi Tahira untuk tidak mengunci kamarnya karena ia ingin berbicara.
"Apa kita benar-benar akan mengakhiri semuanya?" tanya Saga yang kini telah duduk di tepi ranjang Tahira.
"Mungkin inilah cara Tuhan memisahkan kita dari hubungan salah yang kita jalin." jawab Tahira lirih. Sebenarnya hatinya menolak untuk menyetujui permintaan ibunya, tapi demi kesehatan sang ibu ia rela kehilangan Saga.
"Aku tahu kau berkata seperti itu untuk menguatkan hatimu. Tapi apapun alasannya, aku masih belum bisa menerima. Aku sangat mencintaimu Rara." Saga menatap mata Tahira dengan lekat. Tahira tak merespon ucapan Saga.
"Kita semua terluka. Jangan menganggap dirimu korban tunggal. Kak Ran dan Zan pasti juga merasakan sakit." ucap Tahira setelah beberapa saat.
Saga semakin kalut. Ia bangkit lalu meninggalkan kamar Tahira. Kakinya melangkah dengan cepat menuju kamar Ran. Ada yang harus ia selesaikan dengan lelaki itu.
"Kenapa kau menyetujui permintaan ibuku? Bukankah kau mencintai Zara?" tanya Saga dengan tatapan yang tajam.
"Aku menyayangi bibi dan kedua orang tuaku, sebagai rasa hormatku kepada mereka aku tidak akan membantah. Perihal rasa cintaku pada Zara, kau pasti tahu jika kita sama-sama terluka. Tapi, bisakah kau merubah takdir?" ucap Ran dengan emosi yang berusaha di kendalikan. Sebenarnya sejak tadi ia ingin sekali mengamuk tapi hal itu bukanlah gayanya. Ia lebih senang meredam emosi dengan diam daripada harus mengamuk, walaupun tadi hampir saja ia melampiaskannya pada Zara.
"Lalu aku harus apa? Tahira adalah hidupku dan aku telah berjanji padanya akan selalu berada disisinya selamanya. Kau pasti paham itu kan Ran?" entah sejak kapan Saga meneteskan air mata. Sungguh Saga adalah lelaki yang lemah dalam urusan hati.
"Biarkan semuanya terjadi!" jawab Ran.
"Apa? Apa kau sudah gila?" Saga meneriaki lelaki di hadapannya.
"Jika tidak ingin mengecewakan bibi maka kau harus membiarkan semuanya terjadi. Aku akan menikahi Tahira tapi aku berjanji padamu untuk tidak menyentuhnya, dan jika saatnya tiba aku akan menyerahkannya kembali padamu. Tapi kau juga harus menjaga Zara dengan baik sebagaimana aku menjaganya, tapi ingat! Jangan pernah jatuh cinta padanya karena aku akan mengembalikan Tahira padamu."
Ucapan Ran terdengar seperi jalan terbaik menurut Saga. Tanpa berpikir panjang ia menyetujui ucapan Ran. Walaupun ia mendapatkan kembali Tahira dalam keadaan janda. Karena pasti jika Ran telah mengembalikan Tahira padanya itu artinya Tahira telah menyndang status janda disebabkan oleh pernikahan mereka yang akan terjadi esok hari. Tidak masalah, masih ada kemungkinan esok hari akan berubah walaupun nihil.
"Aku setuju. Tapi ingat! Jangan pernah menyentuhnya apalagi jatuh cinta padanya."
Ran mengangguk pelan tanda perjanjian mereka telah sama-sama disetujui.
__ADS_1