
Setelah 3 jam berada di salon dan melakukan berbagai perawatan tubuh, akhirnya Zara dan Ran kembali pulang ke apartemen. Mereka berjalan masuk setelah Ran menutup pintu apartemen. Zara merebahkan tubuhnya di sofa diikuti Ran. Hening beberapa saat lalu akhirnya Ran memulai pembicaraan.
"Aku ingin bertanya." ucap Ran memulai perbincangan mereka.
"Tanya saja kak." jawab Zara santai.
"Apa kau sudah membaca surat wasiat ayahmu?" tanya Ran.
"Mmmm sudah. Tapi dua lembar akhir belum. Ada apa?" jawab Zara sembari mengingat waktu itu, ketika ia membaca surat wasiat ayahnya.
"Apa kau ingin membacanya?"
"Sekarang?" Zara menaikkan sebelah alisnya.
"Kau keberatan?" Ran balik bertanya.
"Tidak. Tidak sama sekali." jawab Zara sembari menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu tunggu disini. Aku akan ambilkan." ucap Ran kemudian bangkit lalu melangkah menuju ruang kerjanya.
Sejenak Zara berpikir mengapa Ran tiba-tiba menanyakan hal tersebut. Namun karena tak punya jawaban atas pertanyaannya akhirnya Zara hanya diam sembari menunggu Ran kembali.
Beberapa saat berlalu Ran belum juga kembali membuat Zara sedikit penasaran, lalu ia pun bangkit hendak melangkah menuju ruang kerja Ran untuk melihat apa yang dilakukan lelaki itu. Setelah sampai Zara menatap Ran yang sedang duduk dengan memegang dagunya sambil membaca sebuah dokumen di dalam map. Zara menghampirinya.
"Kak, kenapa malah tinggal disini?" tanya Zara, kini ia telah duduk di pegangan kursi yang diduduki Ran.
Ran tersenyum tanpa berniat menjawab pertanyaan Zara hingga membuat gadis itu bingung. Ran menyodorkan dokumen tersebut. Beberapa detik berlalu dan akhirnya Zara membaca isi dokumen itu, seketika matanya terbelalak.
"Apa ini sungguhan?" tanya Zara dengan raut wajah tercengang.
"Tentu saja. Mana mungkin ini bukan sungguhan. Lagipula lihat saja tanda tangan ini, hanya ayahmu yang bisa membuatnya." ucap Ran sambil mengarahkan jari telunjuknya pada sebuah tanda tangan rumit di kertas tersebut.
"Ja.. Jadi.. Ki.. Kita.. Telah di jo.. Jodohkan begitu?" tanya Zara memastikan dengan nada gugupnya.
__ADS_1
"Yap." jawab Ran singkat.
Zara menundukkan kepalanya. Malu. Mengapa ayahnya menjodohkan dirinya dengan Ran? Tapi ia merasa sedikit tenang karena lelaki yang akan menikahinya adalah Ran, lelaki yang memang ia cintai.
"Hei kenapa? Apa kau tidak mau?" Ran menarik wajah gadis itu agar menghadap ke arahnya. Namun tetap saja pandangan Zara tak tertuju pada Ran, gadis itu tetap mengalihkan pandangan karena masih menahan rasa malunya.
Zara tak menjawab hingga akhinya Ran mendekatkan wajah mereka. Hidung Zara bersentuhan dengan hidungnya, bahkan nafas mereka begitu terasa satu sama lain. Zara memejamkan matanya. Tangan Ran memegang tengkuk gadis itu.
"Kau tahu. Ketika aku membaca dua lembar terakhir ini hatiku sangat bahagia. Membayangkan untuk bisa menjadi suamimu, membuatku semakin mencintai anak pamanku ini. Apa kau bersedia, Chibi-chan?" ucap Ran tanpa mengubah posisi mereka.
Zara tak menjawab. "Apa kau tidak mencintaiku Chibi-chan?" tanya Ran yang tak mendapat respon dari Zara.
Bukan karena ia tak mau menikah dengan Ran, melainkan Zara sedikit malu untuk menjawab apalagi dengan posisi mereka saat ini.
"Chibi-chan, apa kau mencintaiku?" Ran seperti mengulang kembali pertanyaannya untuk memastikan.
Zara mengangguk tanpa suara menandakan ia mencintai Ran, merasakan itu membuat Ran merasa lega.
"Lalu, apa kau mau menikah denganku?" suara Ran kali ini terdengar indah hingga Zara seperti terhipnotis untuk menjawabnya dengan jawaban penerimaan.
"Aku mencintaimu!" ucap Ran dengan nada tegas dan sorot mata yang serius.
Lelaki itu kemudian menarik kembali tengkuk Zara lalu mencium bibirnya pelan. Karena tak bisa berbuat apa-apa akhirnya Zara memasrahkan semua yang terjadi. Ran memainkan bibir Zara dengan pelan, ciuman ini mewakili rasa sayang dan cintanya kepada gadis itu. Semakin lama Ran semakin memperdalam ciumannya hingga membuat nafas Zara sedikit memburu. Gadis itu menepuk bahu Ran sebagai isyarat untuk menjeda aktivitasnya. Ran yang paham segera melepaskan tautan bibir mereka.
Sejenak saling menatap lalu kemudian Ran menggendong tubuh ringkih gadis itu dan membawanya menuju ranjang. Zara yang diperlakukan seperti itu merasa semakin malu dan memutuskan untuk menutup wajahnya. Hingga terasa Ran telah membaringkan dirinya di ranjang, gadis itu masih menutup matanya.
Ran kemudian menindih tubuhnya dan perlahan menarik tangan mungil Zara yang menutupi wajah gadis itu. Ran tersenyum, pasalnya Zara terlihat sangat imut karena sekarang wajahnya yang putih telah berubah menjadi kemerahan.
"Kakak." ucap Zara dengan suara lirih.
"Tidak apa. Setelah menikah, kita akan banyak melakukan hal ini. Kau harus terbiasa." ucap Ran seraya menggoda gadis itu.
Beberapa detik berlalu Ran kembali menautkan bibirnya dengan bibir gadis itu. Dan lagi-lagi Zara hanya bisa pasrah. Semua sentuhan Ran adalah hipnotis baginya, dan itu bermula saat ini. Sebelumnya ia masih sanggup menolak ketika Ran ingin menciumnya, namun kali ini ia merasa seperti medan magnet utara yang selatannya adalah Ran. Saling tarik menarik.
__ADS_1
Setelah merasa lelah dengan aktivitas yang mereka lakukan, yang sebagiannya di dominasi oleh Ran akhinya mereka duduk berhadapan di atas ranjang. Ran menatap dalam bola mata indah milik Zara, ia bagitu bahagia. Sedangkan Zara yang ditatap seperti itu merasa sidikit gugup namun tak segugup sebelumnya. Lalu untuk menghilangkan rasa gugupnya gadis itu langsung saja memeluk tubuh Ran dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang lelaki itu. Ran tersenyum, maklum. Posisi mereka saat ini begitu dekat hingga bisa dikatakan hampir menyatu. Kedua kaki Zara melingkar di pinggang Ran.
"Kak, apa kau yakin ingin menikahiku?" tanya Zara dengan suara yang terdengar sangat kecil.
"Yakin." jawab Ran singkat.
"Tapi bagaimana dengan kuliahku?"
"Tidak masalah, kau bisa melanjutkannya."
Zara terdiam, mungkin memang sudah saatnya ia menikah. Apalagi yang akan menjadi suaminya adalah Ran, lelaki yang sudah jelas baiknya dan juga mereka ternyata sudah di jodohkan. Zara merasa beruntung, dan sangat bersyukur. Tapi sampai saat ini rasa malu dan gugupnya belum juga sirna.
Ran mengelus pucuk kepala gadis itu. "Bahkan jika kau belum siap untuk mengandung juga tak apa. Aku akan menunggu hingga kau siap, karena bagiku akad lebih penting untuk memperjelas hubungan kita. Dengan menikahimu aku bisa sepenuhnya menjadi milikmu dan kau sepenuhnya menjadi tanggung jawabku. Kita bebas melakukan apapun tanpa harus memperhatikan batasan, kau adalah milikku dan aku milikmu. Dan yang paling penting, aku ingin segera melaksanakannya karena aku takut akan merusakmu sebelum waktunya."
Degg,, jantung Zara seketika berdebar. Kalimat itu adalah kalimat yang paling langka yang pernah tertangkap oleh telinganya selama ini. Ran takut merusak dirinya sebelum waktunya, hal itu terdengar menakjubkan. Jika Zara tahu alasan itu dari dulu maka ia akan menerima permintaan Ran ketika pertama kali mengajaknya menikah.
"Jika itu alasanmu, aku tak akan menolak." ucap Zara.
"Aku pernah membaca salah satu catatan harianmu yang kau tulis sebelum aku berangkat ke Jepang, disitu kau bilang tak ingin menikah jika bukan denganku, hahaha." Ran tertawa.
"Mmm, kenapa kakak membacanya?" rengek Zara.
"Aku hanya iseng. Lagi pula kenapa jika aku membacanya?" goda Ran.
"Aku malu. Karena semua isinya tentang.. Tentang.." Zara ragu melanjutkan ucapannya.
"Aku tahu, aku tahu. Semua catatan harian mu berisi tentang diriku. Hahaha." sekali lagi Ran menertawai gadis itu.
"Kakak.. Hentikan." rengek Zara. Sekarang dirinya kembali merasa malu, benar-benar harinya ini hanya dipenuhi oleh rasa malu.
"Tidak usah malu. Aku tahu kau mencintaiku kan, makanya seluruh hidupmu hanya dipenuhi olehku." Ran membanggakan diri.
"Hmm, karena aku tak bisa memberitahu siapapun jadi aku menulisanya. Dan itu adalah bukti bahwa aku memang mencintaimu setulus hatiku."
__ADS_1
Ran terkesima mendengar pernyataan manis gadis yang sedang di peluknya itu. "Wakatta, kimino kotoba tsuki dakara." (Aku mengerti, itulah sebabnya aku mencintaimu.) ucap Ran lalu mengecup sekilas antara bibi dan hidung Zara.