
Hari berlalu begitu cepat. Kenangan tertinggal begitu mencekik. Kira dan Bara benar-benar selesai. Sejak hari itu mereka tak pernah bertemu lagi. Bahkan kabar pun tak ada. Semakin hari semesta semakin mengurung rasa keduanya dalam angan. Atau bahkan mereka sudah saling melupakan? Tidak, hal yang paling mustahil di dunia ini adalah melupakan orang yang pernah memberi seribu macam rasa dalam hati. Dan itu berlaku pada Kira dan Bara.
Hari ini merupakan hari penting bagi keluarga Saga dan Issaura. Sebab mereka tengah melangsungkan pernikahan di Rayla Hotel milik Amakusa Foundation. Di usia yang sama-sama memasuki pertengahan 40 an, keduanya sedikit malu ketika sorakan dan pujian menghujani. Ada yang mengatakan jika mereka seperti daun muda dan ada pula yang memuji kecantikan dan ketampanan mereka.
Ran sekeluarga telah hadir di tengah-tengah resepsi pernikahan yang dilaksanakan malam hari itu. Hingar bingar ballroom Rayla Hotel menjadi tanda betapa meriahnya acara pernikahan Saga dan Issaura malam itu.
Tampak di sisi kiri dan kanan kedua mempelai Bara dan Noah berdiri dengan setelan jas senada yang begitu menawan. Hanya saja Noah terlihat lebih berwibawa ketimbang Bara.
Beberapa jam menyambut tamu yang memberi selamat kepada orang tuanya, Noah akhirnya meminta izin untuk turun dari pelaminan bergaya kerajaan itu. Noah berjalan ke arah salah satu meja yang terletak di sudut ballroom dengan sosok Kira di sana. Gadis itu duduk menyendiri memisahkan diri dari keramaian. Sementara itu Noah memerhatikan sekitar, tepatnya mencari di mana keluarga Kira berada.
Setelah matanya menangkap Ran, Zara dan Naura lelaki itu terlebih dahulu menghampiri mereka. Noah langsung saja menyapa lalu menjabat tangan Ran dengan hormat. Kemudian beralih meminta izin menemani Kira di meja sudut sana.
"Silahkan, sekalian jaga dia dengan baik." Ucap Ran mengizinkan.
"Terima kasih, Tuan." Balas Noah sembari menundukkan sedikit kepalanya.
Ran menggeleng, "Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi, sekarang kita sudah menjadi keluarga. Panggil aku paman, mengerti?"
"Baik, paman." Tanpa ragu Noah menyetujui hal itu.
Noah beralih pada Zara. Wanita itu terlihat sangat anggun malam ini. Dengan rasa hormat yang besar, Noah melemparkan senyum kepada Zara.
"Jadilah lelaki spesial baginya, kuyakin kau mampu menjaga dia dengan baik." Ucap Zara kepada lelaki itu.
Noah terkekeh sejenak, ucapan Zara seperti sedang menempatkan dirinya sebagai calon suami Kira. Padahal Noah hanya meminta izin untuk berbincang sedikit dengan gadis itu.
"Terlalu dini rasanya untuk menjadi lelaki spesial bagi Kira. Kurasa dia belum bisa menerimaku, kami masih saling menganggap sahabat satu sama lain." Balas Noah merendah.
"Tidak masalah, semakin cepat kau melangkah ke arahnya maka semakin cepat dia akan sadar pada kehadiranmu." Celetuk Ran.
Noah kembali tertawa pelan. "Kalau begitu aku pamit, paman, bibi, Naura." Ucap Noah kemudian diangguki oleh Ran dan Zara.
Langkah Noah berhenti di depan meja Kira. Gadis itu terlihat sedikit terkejut dengan kehadirannya. Namun sedetik kemudian Kira mempersilahkan lelaki itu duduk. Noah pun duduk di debelah gadis itu.
"Bagaimana kabarmu, girl?" Noah memulai permbicaraan.
__ADS_1
"Baik kak. Bagaimana denganmu?" Kira berusaha terlihat baik-baik saja di depan lelaki itu.
"Baik. Sepertinya ada yang berbeda darimu malam ini. Apa ada masalah, girl?" Noah menatap Kira dengan tatapan teduh, berharap gadis itu mau berbagi rasa dengannya.
"Sebenarnya sih aku memang punya banyak masalah, tapi aku akan menceritakan masalahku padamu nanti. Karena sekarang bukanlah waktu yang tepat." Jawab Kira.
"Kalau begitu aku menunggu waktu itu tiba. Btw, kita sekarang adalah sepupu benar kan?"
"Hei, benar. Sekarang Kak Noah adalah anak tiri paman Saga. Wah senang sekali rasanya aku bisa memiliki sepupu baru hehe." Kira terkekeh.
"Jadi aku bukan hanya sekedar sahabatmu lagi tapi juga sepupumu. Lucu sekali, sahabat rasa sepupu." Kemudian Noah terlihat mengembangkan senyum.
Benar-benar atmosfer terasa berbeda ketika Kira bersama dengan lelaki itu. Dari penampilannya, Noah tak punya cela sama sekali begitupun sifatnya yang baik. Sedikit terpercik rasa kagum dalam hati Kira padanya. Namun tetap saja gadis itu belum bisa melupakan Bara.
Pandangan mereka berpusat pada senyum kedua pengantin di atas pelaminan. Noah kemudian menoleh pada Kira seraya menatap arah pandang gadis itu.
"Apa kau tahu, aku merasa kurang paham dengan saudara tiriku. Dia terlihat pendiam setelah acara akan selesai. Aku jadi bingung sendiri, ingin menyapa tapi canggung. Apa ada saran, girl?" Noah mengungkapkan keluh kesahnya pada gadis itu.
"Maksudmu Kak Bara?" Tanya Kira.
"Aku tidak tahu."
Noah menangkap sebuah ekspresi getir pada wajah Kira. "Benarkah?"
Kira menoleh pada Noah dengan senyum tipisnya. Gadis itu mengangguk.
"Kami tidak saling mengenal." Ucap Kira santai namun mengandung rasa pedih yang tersirat.
Noah memutuskan untuk percaya saja. Apapun yang Kira ucapkan, tak ada hak untuknya menanyakan benar tidaknya. Sebab hal itu hanya akan menciptakan cela pada hubungan persahabatan mereka yang baik-baik saja. Tak lama berselang, Ran, Zara dan Naura menghampiri mereka.
"Ayo, sudah saatnya sesi berfoto." Ucap Naura kepada keduanya.
Kira dan Noah mengangguk ramah. Mereka berdua akhirnya berdiri kemudian menyusul langkah Ran, Zara dan Naura.
Begitu sampai di atas pelaminan yang indah itu. Segera mereka mengatur posisi berdiri di sebelah Issaura dan Saga. Semua lelaki berdiri di sisi Saga sedangkan semua wanita berdiri di sisi Issaura.
__ADS_1
Saga, Ran, Bara dan Noah berdiri sejajar sembari menatap kamera yang siap menjepret moment bahagia itu. Issaura, Zara, Kira dan Naura pun melakukan hal yang sama.
Usai sesi berfoto, Ran dan Zara memutuskan berbaur dengan rekan bisnis mereka. Sementara Naura terlihat mulai lelah hingga kini giliran ia yang beristirahat di meja yang diduduki Kira tadi.
Di tempat lain, Kira sedang menikmati minuman jenis ekstrak buah bersama Noah. Memang sedari tadi keduanya terus saja bersama. Kemudian Bara melintas tanpa menyadari keberadaan keduanya. Karena lelaki itu sedang tidak punya keinginan untuk memerhatikan sekitar.
Ketika Bara melintas seorang pelayan menjatuhkan garpu, hingga Noah dan Kira menoleh. Beberapa detik mata Kira dan Bara bertemu, saling menatap dalam luka.
'Kak Bara.'
'Kira.'
Tanpa sadar hati keduanya saling menyapa dalam ketidaktahuan. Sakit, perih dan apapun itu terasa memenuhi suasana keduanya. Detik berikutnya mereka tersadar ketika suara Noah memecah hening.
"Bara, butuh sesuatu?"
Bara menatap kakak tirinya itu lalu menggeleng. "Tidak kak, terima kasih." Kemudian berlalu begitu saja.
Kira menatap kepergian lelaki itu. Tentunya dengan hati yang terasa memanas. 'Ternyata kita memang tidak saling mengenal.' Ucap gadis itu dalam hati.
Bara berjalan keluar dari ballroom hotel. Rasa pekat yang masih menyelimutinya terus mencuat seiring dengan langkah kakinya menuju suatu tempat. Lagi-lagi Bara tak sanggup menghadapi kenyataan. Kemana lagi tujuannya jika bukan ke Ruhi dan Bar.
'Maaf kita tak lagi saling mengenal. Aku akan melepaskanmu selamanya. Ruhi adalah pilihan terakhirku. Selamat tinggal!'
Bersama dengan langkah kaki Bara yang semakin jauh dari ballrom. Seorang pria dengan pakaian serba hitam terlihat memantau pergerakannya. Senyum miring tercipta ketika orang itu mengambil gambar Bara menggunakan kameranya.
"Bara. You are my son." Gumamnya disertai seringai.
.
.
.
bersambung....
__ADS_1