
Kira bersandar pada dinding toilet. Jemarinya menggengam sebuah ponsel. Dengan tubuh gemetar serta jantung yang berdebar kencang, gadis itu berusaha memencet tombol untuk melakukan panggilan yang ditujukan pada seseorang. Di dering pertama, panggilan tersebut langsung terhubung.
"Ha.. halo?" Sapa seseorang di seberang telpon dengan nada gugup.
'Sykurlah' gumam Kira. Air mata gadis itu menetes membasahi pipinya.
"Halo kak." Balasnya sambil sesekali menyeka air mata itu.
"Ada apa?" Sahut Bara datar.
Antara bahagia bercampur sakit hati. Kira menelan ludahnya atas sikap dingin lelaki itu. Namun jika saja bukan karena rasa rindu, ia tak akan melakukan hal ini. Karena moment ini adalah moment langka yang waktunya kurang kondusif maka ia harus memanfaatkannya dengan baik. Sebab setelah hari ini ia tak akan bisa lagi bertemu lelaki itu.
"Aku ingin kita berbicara. Tolong sekarang datanglah menemuiku di toilet umum. Aku berada di pintu nomor 9." Pinta Kira dengan sesekali terdengar menahan isakannya.
Bara tak menjawab, tiba-tiba panggilan terputus. Seketika sebuah pisau seolah menancap tepat di jantung Kira. Dengan penuh rasa sesak, gadis itu memegangi dadanya seolah di tempat itu benar-benar telah tertancap sebuah pisau tajam.
'Benarkah dia telah melupakanku? Benarkah sudah tak ada lagi kesempatan bagi kami?'
Gadis itu akhirnya mulai menguatkan hatinya yang terlanjur cidera. Dengan satu tarikan napas dalam, Kira mulai merasakan kekuatan menghampirinya. Tak menunggu lama, segera ia meraih handle pintu untuk segera keluar dari kamar mandi yang ukurannya kecil itu.
__ADS_1
Ketika pintu terbuka sosok lelaki bertubub tinggi berdiri menatap ke arahnya, gadis itu sontak terkejut. Bahkan belum sempat ia berucap lelaki tinggi di hadapannya itu melangkah cepat ke arahnya hingga tanpa bisa dicegah, tubuh mereka masuk ke dalam kamar mandi secara bersamaan. Lalu lelaki itu mengunci pintu kamar mandi dengan cepat.
Ketegangan kembali menyerang Kira saat mata indahnya bersirobok dengan mata tajam lelaki itu. Mereka saling mengunci pandangan dalam rasa rindu yang cukup menyesakkan. Tak lama sebuah pelukan menghampiri tubub mungil Kira.
Bara memeluk gadis itu dengan erat hingga dengan sengaja ia menyandarkan tubuh gadis itu ke tembok kamar mandi. Sementara Kira mulai menyuarakan tangisannya di dada lelaki itu.
"Aku juga merindukanmu, siang dan malam hanya ada kau dalam pikiranku." Ucap Bara.
"Kak aku begitu mencintaimu, bahkan ketika kau tak lagi mengharapkan kehadiranku dalam hidupmu. Jika saat ini kita tak bisa bersama, maka aku berharap 3 atau 5 tahun lagi kita akan dipertemukan kembali. Dan aku berharap di waktu itu kita masih saling mencintai." Ungkap Kira dengan sepenuh jiwanya.
"Aku juga masih mencintaimu, bahkan rasaku seluas samudera. Jangankan untuk waktu 3 atau 5 tahun lagi, 10 tahun ke depan pun aku hanya akan tetap mencintaimu, Kirara ku tersayang." Balas Bara tak kalah dalam dari ungkapan sepenuh jiwa Kira.
"Berjanjilah untuk menunggu aku kembali. Hingga di waktu yang tepat nanti kita bisa saling mencintai lagi seperti sekarang."
"Aku berjanji padamu wahai kasihku, cintaku, kesayanganku. Selama aku masih memiliki napas, aku akan tetap mencintaimu."
Bara melepaskan tautan tubuh mereka. Tanpa memberi jeda, ia menyatukan bibirnya dengan bibir gadis itu. Semakin waktu berjalan tautan bibir mereka semakin dalam. Hingga sensasi kehangatan merambat membelai dada keduanya. Seluruh rasa yang bercampur aduk menyatu dalam ciuman iu.
Bara melluumatt pelan bibir atas Kira, membasahinya dengan sesapan hangat. Matanya memejam menikmati ciuman menghanyutkan itu. Untuk waktu yang tak dapat diperkirakan mereka akan segera berpisa dan ciuman itu adalah ciuman terakhir mereka.
__ADS_1
Untuk pertama kali setelah sekian lama, Bara meneteskan air matanya ketika menyesap bibir ranum itu. Lelaki itu seolah dihantam oleh sebuah firasat aneh. Biasanya ia akan merasa baik-baik saja setelah menikmati bibir Kira. Namun kali ini terasa benar-benar berbeda. Jika digambarkan, perasannya saat ini mungkin adalah sebuah warna putih lalu semua rasa cinta dan bahagia adalah warna pelangi, mereka menari-nari mengelilingi warna putih itu dalam sebuah ruangan tak bertuan. Di tengah tarian pelangi sebuah warna asing menyusup masuk lalu menghancurkan warna dari pelangi tersebut.
Mungkin kah mereka takan bertemu lagi selepas hari ini berlalu? Apakah Kira ataupun dirinya bisa menjaga rasa yang mereka miliki selamanya? Ataukah salah satu dari mereka akan saling meninggalkan?
Pertanyaan itu terus menghujam kepala Bara. Hingga sesapannya pada bibir Kira ia hentikan. Lelaki itu menatap mata Kira, dalam. Mencari sebuah alasan untuk mereka agar bisa tetap bersama. Namun, di mata itu Bara tak menemukan apapun. Lebih tepatnya hanya ada sepasang bola mata yang memancarkan kesedihan.
Lelaki itu seolah tak sanggup menahan rasa sakit di dadanya. Namun jika mereka harus berpisah dan patah hati karena perpisahan itu, maka Kira adalah patah hati terindahnya.
"Wasurenaide (jangan lupakan aku)." Ucap Bara. Kira mengangguk.
Selepas pertemuan itu mereka tak pernah lagi saling bersinggungan. Mendengar kabar, titipan salam, suratan angin bahkan sampai menyebut nama tak pernah lagi terjadi. Mereka sibuk dalam dunia masing-masing.
.
.
.
bersambung....
__ADS_1