
Sepanjang perjalanan tak ada yang bersuara. Zara merasa benar-benar meras malu karena membiarkan Ran mencium bibirnya walaupun memang kenyataannya ia menginginkan hal itu. Tapi tidak untuk saat ini, nanti ketika ia sudah menikah.
'Dasar bodoh! Bagaimana bisa kau membiarkan dia mencium mu? Dasar Zara, aku benci padamu Zara!' Gerutu Zara dalam hati.
Sementara Ran berusaha untuk fokus pada jalan. Sesekali matanya melirik Zara yang terlihat sedang menggigit bibir bawahnya. Ran merasa bersalah karena telah mencium gadis itu. Sebenarnya ia tak bermaksud namun entah kenapa seperti ada dorongan untuk melakukan hal itu, ditambah lagi respons Zara yang tiba-tiba menutup matanya hingga membuat ia semakin terlena.
Akhirnya setelah beberapa menit menghening, mereka pun sampai ke tempat tujuan. Ran melepaskan sabuk pengamannya dan hendak turun. Namun sekilas ia mentap Zara yang lagi-lagi masih kesulitan melepaskan sabuknya. Ran menarik napas dalam kemudian perlahan mendekat ke arah gadis itu.
Zara merasakan pergerakan tersebut yang membuatnya kembali merasakan ketegangan yang seketika membuat jantungnya hampir copot. Ran meraih sabuk pengaman yang dikenakan gadis itu dengan gerakan cepat, lalu membukanya. Hanya beberapa detik saja sabuk pengaman itu sudah terlepas. Zara akhirnya bisa bernapas lega.
"Ayo turun!" Ucap Ran dengan nada datar.
Zara mengikuti langkah panjang lelaki itu menuju ke sebuah gedung dimana pameran cosplay diadakan. Ran berjalan dengan cepat hingga membuat Zara kewalahan mengikutinya.
"Auh, Kak.. Kenapa cepat sekali jalannya?" geurutu gadis itu.
Ran berbalik dan mendapati gadis itu sedang menghentikan langkahnya dengan raut wajah menahan sakit.
"Sini biar ku pegang." Ucap Ran. Zara menatap dengan bingung.
"Sudah biarkan saja aku memegang tanganmu, aku tidak mau kau berjalan sendiri di belakang." Ucap Ran yang kemudian memegang tangan Zara dan perlahan melanjutkan langkahnya.
Entah apa yang ada di benak gadis itu, ia merasa setelah ciuman tadi membuat ia kaku dan canggung. Padahal sebelumnya mereka tidak seperti ini, mungkin memang ciuman akan merubah situasi. Pikirnya.
Setelah memesan tiket untuk menyaksikan pameran cosplay, Ran menggiring gadis itu untuk masuk ke dalam sebuah ruangan di mana cosplay akan dipertunjukkan. Ran memilih kursi bagian pinggir tepatnya di sebelah tembok agar bisa melindungi Zara dari ancaman tangan nakal.
"Kenapa di pinggir lagi?" Tanya Zara dengan nada protes.
"Apa kau suka jika ada yang berbuat jahat padamu?" lelaki itu menaikkan sebelah alisnya.
"Memangnya di sini juga ada? Bukannya hal seperti itu hanya ada di bioskop?" Zara berusaha membantah.
"Kenapa kau terlalu polos? Pantas saja aku bisa mengambil satu ciuman darimu." Ucap Ran tanpa sadar.
Mendengar ucapan lelaki itu seketika membuat Zara tertunduk malu dengan wajah memerah. Ran terkekeh dalam hati. Ia sebenarnya tidak bermaksud mengungkit kejadian tadi, namun entah mengapa mulutnya spontan melontarkan ucapan tersebut.
"Maaf karena telah melakukan hal itu padamu." Ucap Ran disertai senyum tipis.
"Ah, tidak. Tidak masalah." balas Zara gugup.
Tak lama berselang acara pembukaan pun dimulai. Para penonton mulai memusatkan pandangan mereka ke arah panggung besar dan megah di hadapan mereka. Satu persatu para cosplayer keluar dengan menggunakan berbagai macam kostum karakter anime. Melihat hal tersebut sontak membuat hati Zara sedikit terhibur. Beberapa menit berlalu tiba-tiba gadis itu bosan. Cosplayer yang tampil belakangan tidak begitu menarik, sehingga ia pun mulai mendengus lesu.
"Kak, ayo kita keluar saja. Aku mulai kurang suka pada cosplayernya ." Ungkap gadis itu, membuat Ran sedikit tercengang.
"Begiukah? Apa yang tampil sekarang terlihat kurang menarik?" Ran bertanya untuk memastikan.
__ADS_1
"Kali ini kukatakan, ya. Karena tiba-tiba saja aku merasa tidak menikmatinya. Ayo kita pergi ke tempat penjualan action figur saja." jawabnya sambil memberi usul pada lelaki itu.
"Eem, baikalah." putus Ran akhirnya.
Mereka pun beranjak dari kursi menuju pintu keluar. Ketika keduanya hampir mencapai pintu keluar tiba-tiba seorang wanita berjalan terburu-buru tanpa memerhatikan sekitar. Wanita tersebut langsung menabrak tubuh Ran hingga mata mereka tak sengaja saling menatap.
"Gomennassai!" Ucap wanita tersebut dalam bahasa Jepang sembari menunduk kepada Ran.
"Tidak apa-apa." Balas Ran dengan bahasa Jepang pula.
Zara menatap dengan raut wajah heran dan tanpa suara. Sementara Ran memerhatikan wanita yang menabraknya tadi. Wanita itu terlihat sangat familiar di matanya. Yah, tidak salah lagi, dia adalah Akiyoshi Kanako. Taman sekelasnya di sekolah menengah atas saat di Tokyo.
Mereka saling melemparkan senyum tipis. Akiyoshi menjabat tangan Ran tanpa ragu. Tentu wanita itu juga masih mengingat Ran dengan baik.
"Amakusa-kun, ogenki desu ka?(Amakusa-kun bagaimana kabarmu?)" Ucapnya dengan ekspresi bahagia.
"Genki desu (sehat). Bagaimana denganmu?" Ran menarik tangannya.
"Yah, seperti yang kau lihat." jawab Akiyoshi yang nampak masih setia memandangi wajah Ran.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Tanya Ran.
"Aku sedang mengecek beberapa hal. Ohya, aku yang mengadakan acara ini, apa kau datang untuk menontonnya?" sahut Akiyoshi cepat. Wanita itu terlihat sangat aktif berinteraksi.
"Yah, tapi aku sudah beranjak." jawab Ran santai tanpa menunjukkan rasa kagum sedikitpun.
"Dia tidak ingin menonton lagi, jadi aku memutuskan untuk membawanya keluar." Ran mengalihkan pandangannya sekilas pada Zara. Gadis itu hanya melongo, ia tidak tahu apa yang Ran dan wanita itu ucapkan.
"Wah seorang gadis, siapa dia?" Akiyoshi menatap Zara dengan sumringah sembari memegang bahu gadis itu.
"Dia.." lelaki iu menjeda seraya tersenyum sekilas. "Adikku." lanjutnya.
"Sejak kapan kau punya adik, setahuku kau anak tunggal." Akiyoshi mengernyitkan dahinya.
Ran menggeleng, "Tidak.. Tidak.. Dia adik sepupuku."
"Oh, syukurlah. Tadi aku mengira dia adalah kemasihmu." sahut Akiyoshi cepat.
"Hmm?" Kini giliran Ran yang mengernyitkan dahinya.
"Ah, tidak.. Tidak.." Dengan cepat Akiyoshi menepis ucapannya. "Apa dia mengerti ucapan kita?" Tanya Akiyoshi begitu melihat ekspresi Zara yang sepertinya tak paham.
Ran menatap gadis itu yang sudah cukup lama terdiam. "Apa kau paham apa yang kami ucapkan?" Zara menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Iiee (tidak).." Jawab Ran singkat pada Akiyoshi.
__ADS_1
"Baiklah Amakusa-kun, sepertinya aku tidak punya banyak waktu. Aku harus pergi." Ucap Akiyoshi.
"Baiklah, Sayonara." balas Ran kemudian kembali menggandeng tangan Zara.
Akiyoshi tampak memerhatikan keduanya berlalu dari hadapannya. "Kenapa aku merasa cemburu yah?" Tanya Akiyoshi pada dirinya sendiri kemudian memutuskan untuk beranjak.
...
"Siapa dia?" Tanya Zara masih dalam mode bingung.
"Dia Akiyoshi Kanako, taman kelas ku ketika SMA." jawab Ran datar.
"Apa yang dilakukannya disini?" tanya Zara penasaran.
"Dia yang mengadakan acara pertunjukan cosplay itu." jawab Ran.
"Lalu apa lagi yang dikatakannya ketika melihatku?" tanya Zara lagi. Ran menatap gadis itu, rasnya meragukan sakali untuk memberi jawaban.
"Sebaiknya kau belajar berbahasa Jepang." sahut Ran.
"Apa?"
"Sudah. Lupakan saja!"
"Hei, jelaskan padaku! Apa maksud perkataanmu?" desak Zara tak sabar.
"Apa kurang jelas? SEBAIKNYA KAU BELAJAR BAHASA JEPANG SAJA!" Ucap Ran dengan penekanan.
"Kenapa aku harus belajar?" gadis itu tampak menaikkan sebelah alisnya.
"Agar kau paham." jawab Ran santai. Zara cemberut mendengar jawaban lelaki itu. Kemudian timbul sebuah ide di kepalanya.
"Kalau begitu, kau ajari saja aku!" cetusnya.
Sejali lagi Ran menatap gadis itu, namun kini dengan ekspresi tercengang. "Kenapa aku?"
"Siapa lagi? Kalau tidak mau ya sudah aku akan mencari tempat kursus sendiri." Zara mengendikkan bahu.
Ran menimbang-nimbang, 'Wah, kesempatan emas.' Ucapnya dalam hati. "Baiklah Nona Zara yang suka memerintah. Aku akan mengajarimu bahasa Jepang yang baik dan benar."
"Benarkah? Ahh, terima kasih." Jawan Zara sumringah. Ran mengangguk seraya tersenyum tipis.
.
.
__ADS_1
.
bersambung...