
Pagi hari Zara telah bersiap-siap untuk berangkat menuju kampus, begitu juga dengan Ran yang hendak pergi ke kantor. Mereka berdua sedang kompak merapikan penampilan mereka di depan cermin kamar Zara. Sesekali gadis itu melirik Ran yang hendak memasang dasinya. Tak lama Zara berbalik dan berinisiatif untuk memasangkan dasi untuk lelaki itu.
"Biar kubantu!" ucap Zara sembari meraih dasi Ran.
Lelaki itu tersenyum dan membiarkan Zara melingkarkan dasi miliknya di kerah kemeja yang ia kenakan. Tampak sekali perbedaan tinggi badan mereka, hingga terpaksa Zara harus berjinjit. Ran melingkarkan tangannya pada pinggang gadis itu. Seketika Zara menunduk malu. "Kakak, apa yang kau lakukan?" tanya Zara malu.
Ran tertawa kecil sembari menaikkan dagu gadis itu agar menatapnya, dengan malu-malu Zara memandang lelaki tampan di hadapannya. Ran menatap gadis itu dengan lekat, masih tampak raut pucat pada wajahnya. Perlahan Ran mengusap wajah putih nan mulus itu.
"Apa kau masih sakit?" tanya Ran. Zara menggeleng mantap. "Benarkah?" Zara mengangguk.
"Tapi kau kelihatan masih pucat." kini Ran menyampirkan anak rambut Zara ke telinganya.
"Aku tidakk apa-apa kak, jangan khawatir." ucap Zara.
"Baiklah. Kau jagalah kesehatanmu ketika di kampus nanti. Jangan terlalu memaksakan diri jika tak bisa. Mengerti?" ucap Ran.
"Tentu." jawab Zara sembari tersenyum.
Mereka pun beranjak menuju mobil kemudian melesat meninggalkan rumah. Pagi itu mereka sudah seperti biasa, Ran tak lagi merasakan beban yang begitu berat disebabkan kehadiran Zara. Sementara Zara sudah memaafkan sepenuhnya Ran dan berharap agar hubungan mereka tak lagi merenggang.
Di perjalanan tiba-tiba Zara memegangi dada, perasaannya mulai tidak enak. Dadanya sedikit sesak dan debaran jantungnya mulai tak teratur. Napasnya hampir tak bisa dikendalikan namun sesaat kemudian ia mulai menenangkan perasaan kalutnya itu.
Entah mengapa belakangan ini ia sering merasakan perasaan tidak enak secara tiba-tiba. Terkadang setelah merasakan hal itu ia tiba-tiba teringat pada ibunya. Yah, ibunya yang telah pergi selama lebih dari dua bulan tanpa kabar. Zara melirik Ran yang sedang fokus menyetir, karena kebetulan Ran sedang bersamanya jadi gadis itu memutuskan untuk memberitahu lelaki itu mengenai perasaan aneh yang belakangan ini sering menyerangnya.
"Kak." panggilnya lirih.
"Iya?" jawab Ran tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
__ADS_1
"Perasaanku kurang enak." ucap Zara.
"Kenapa? Apa kau masih sakit?" Ran sedikit cemas.
"Bukan. Bukan itu. Perasaanku sering seperti ini, tiba-tiba aku merasa tidak enak. Dadaku sedikit sesak dan jantungku berdebar tak normal. Lalu setelah itu aku selalu teringat pada ibu." jelas Zara.
Ran terkejut pada kalimat terakhir gadis itu. Sejenak ia berpikir, apakah Zara merasakan tanda? Karena memang belakangan ini kondisi Tamara yang ia ketahui sedang memburuk, bahkan sangat buruk. Kemarin Bibi Yumna memberi kabar bahwa Tamara sudah tidak bisa lagi bangun dari pembaringannya dan juga kadang ia sudah tidak sadarkan diri.
Seketika Ran merasa bersalah pada gadis di debelahnya itu karena tak memberitahu mengenai kondisi ibunya. Namun ia punya alasan untuk tidak memberitahu hal itu, ia tak ingin Zara bersedih dan kehilangan semangat hidup.
"Kak? Apa kau mendengarkanku?" suara Zara membuyarkan lamunan Ran.
"Ah, iya. Tentu saja, Chibi-chan." ucap Ran gugup. Ia pun menarik napas panjang lalu melanjutkan. "Apa kau rindu pada bibi?" Zara mengangguk dengan senyum simpul.
"Jika aku sudah ada waktu luang maka kita akan pergi mengunjunginya. Mau kan?" Ran berusaha menghibur gadis itu dan menutupi kebenarannya.
...
Setelah selesai mengantarkan Zara ke kampus lelaki itu langsung melesat ke kantornya. Setelah sampai lelaki itu lalu masuk ke dalam ruangannya. Tak lama ponselnya berdering menandakan panggilan masuk. Ketika menatap layarnya yang menampakkan nama Bibi Yumna seketika perasaannya mulai gemuruh. Dalam hatinya berharap semoga kali ini bukan kabar menyedihkan yang akan didenganrnya. Ran mengangkat telfon lalu terdengarlah suara isak tangis dari bibi Yumna. Jantungnya mulai berdebar tak karuan, namun ia masih berharap bukan kabar duka.
"Bibi, ada apa?" tanya Ran berusaha tenang.
"Kau bawalah segera Zara kemari! Hiks.. Hiks.. Karena.. Ibunya telah tiada.. Hiks.. Hiks.."
Ucapan bibi Yumna seperti tombak yang tertancap tepat di jantung lelaki itu. Apa yang ia cemaskan terjadi. Ran menarik napas panjang sembari menenangkan dirinya. "Baiklah bibi." jawab Ran singkat.
Perlahan Ran menyimpan ponselnya lalu mengusap wajahnya kasar. Perasaan sedih bercampur kekesalan menyeruak ke dalam relungnya. Ia bersedih karena bibi yang ia sayangi telah tiada sedangkan ia juga merasa kesal karena ia tak bisa menjadi kakak yang baik untuk Zara. Jika gadis itu tahu bahwa selama ini ia merahasaiakan kondidsi ibunya, maka pasti gadis itu akan sangat marah padanya ditambah lagi sekarang Tamara telah tiada.
__ADS_1
Apa yang harus dirinya katakan pada gadis malang itu? Bahkan baru 3 tahun rasanya ayah gadis itu berpulang dan sekarang giliran ibunya. Ran merasa jika hal ini terjadi padanya maka ia akan sangat rapuh. Lalu bagaimana dengan Zara yang notabene memang sudah rapuh?
Seketika Ran menepis pikirannya tersebut, ia yakin keberadaanya akan menepis kesedihan Zara. Dengan segera ia beranjak keluar ruangan menemui Surya.
"Aku serahkan satu pekan perusahaan padamu! Bibi Tamara meninggal, dan aku harus pergi." ucap Ran datar lalu dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.
Setelah sampai di depan kampus Zara untuk yang kedua kalinya, Ran turun dari mobil sembari menunjukkan sikap tenang. Satu jam lamanya ia menunggu gadis itu selesai dari mata kuliahnya. Ia sengaja melakukan hal itu agar Zara tidak panik dan juga agar tidak terjadi hal yang tidak ia inginkan.
Beberapa saat berlalu akhirnya lalaki itu menangkap sosok Zara yang napak berjalan dengan senyuman manis menghiasi wajahnya. Senyum gadis itu semakin bertambah ketika ia melihat Ran sedang berdiri menunggunya. Zara berlari menghampiri sepupu sekaligus kekasihnya itu.
"Kak. Kenapa menjemputku?" tanya Zara. Senyuman itu membuat Ran tak tega, sudah bisa ia pastikan jika gadis itu mengetahui kabar duka kepergian ibunya maka senyum itu akan hilang.
Ran memegang tangan Zara lalu menariknya masuk ke dalam mobil. Setelah mereka duduk sempurna barulah lelaki itu menarik napas lalu menyampaikan semuanya. "Zara, bibi telah.. Meninggal." ucap Ran sedikit terbata.
Benar saja dugaan Ran, senyum gadis itu berangsur menghilang dan digantikan dengan tatapan tak percaya sekaligus sedih karena telah kehilangan. Mendengar ucapan Ran membuat Zara perlahan mengatur napasnya lalu tak lama air matanya pun menyusul. Ran buru-buru mendekap gadis itu.
"Maafkan aku Zara!" ucap Ran.
Tanpa kata gadis itu semakin terisak dalam dekapan Ran. Mungkin baginya hari ini adalah hari terberat dalam hidupnya. Kedua orang tua yang ia cintai telah meninggalkan dirinya. Duniannya seperti berakhir saat itu juga. Seakan tak sanggup melihat Zara bersedih, Ran tanpa sadar juga telah menitikkan air mata. Namun, ia buru-buru menghapusnya lalu mendekap Zara lebih erat.
.
.
.
bersambung....
__ADS_1