My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 68 : Rinai Hujan


__ADS_3

Zara Pov


Dia hadir membawa ketenangan dalam jiwaku, membebaskan rasa takut yang membelenggu. Ayahku telah pergi meninggalkan dunia ini bersama dengan separuh hati yang telah kuberi padanya. Ayah adalah lelaki cinta pertamaku, tujuan hidupku, pelita dalam kegelapanku. Kepergaiannya tergantikan oleh sosok malaikat tak bersayap utusan Ayah, Kak Ran.


Kami duduk berdampingan di sebuah halte bus saat ini. Pagi tadi, Kak Ran mengajakku berjalan-jalan di sekitar gedung apartemen. Sekitar 1 kilo dari gedung apartemen letak halte itu. Duduk berpegangan menunggu hujan reda. Hari ini hujannya turun begitu deras, bahkan jalan sudah tergenang. Sebagian jaket yang kugunakan juga sudah basah.


Saat ku sampirkan anak rambut ke belakang telingaku, tiba-tiba aku merasakan hembusan nafas hangat dari kak Ran. Wajahnya mendekat dengan tatapan sayu yang penuh hasrat. Jantungku berpacu dengan cepat, ternyata walaupun sudah menikah perasaan hangat dan debaran jantung yang terasa aneh ini masih ada bahkan sensasinya lebih kuat. Percayalah menikah itu indah. Semua yang ingin kau lakukan bisa kau lakukan tanpa harus mengingat batasan. Kau tahu apa kata Kak Ran?


"Aku berhak atas seluruh tubuhmu, dan kau tidak bisa menolak. Ingat yah, aku suamimu."


Yah ketika Kak Ran mengatakan itu aku mendengus, pasrah. Setelah ia berkata seperti itu, bibirku akan terus basah oleh hujamannya, hampir setiap seperempat jam ia meminta dicium. Tapi aku selalu menyukai perlakuan Kak Ran, dia tak pernah kasar. Pasti semua dilakukannya dengan lembut dan penuh cinta.


Dan sekarang, di halte ini, Kak Ran kembali membasahi bibirku dengan ciuman lembut. Ia berhenti sejenak. "Bibirmu pucat, kau pasti butuh vitamin dariku." ucapnnya sambil tersenyum, ia selalu bisa menebak pikiranku yang mempertanyakan tindakannya. Dan senyuman itu selalu saja mampu membuatku bertekuk lutut padanya. Menawan dan menghipnotis.


Sunyi tercipta ditengah ciuman hangat kami, hanya terdengar gemercik air hujan yang berjatuhan di atas atap halte. Kak Ran mengelus lembut belakang telingaku menimbulkan rasa geli yang menyeruak hingga ke dadaku.


Setelahnya, Kak Ran melepaskan tautan bibir kami. Masih dengan senyuman yang sama.


"Aku mencintaimu." ucapnya.


"Aku lebih mencintaimu." balasku dengan nada yang begitu lirih. Aku tahu dia mendengar suaraku namun tak begitu jelas karena suara gemercik hujan yang menutupinya.


"Apa kau dingin?" tatapannya berubah khawatir ketika ia memegang tanganku yang pucat.


Aku tersenyum menatap raut khawatirnya, kuangguki pertanyaan itu tanpa ragu. Dan detik itu pula dia membawaku ke dalam pelukannya. Hangat. Itu yang kurasakan.


"Sebenarnya aku mau kita bermain hujan, tapi sepertinya kesayanganku ini sedang kedinginan, aku takut kau sakit."


Aku menatap kancing jaket Kak Ran disisi kerahnya lalu mengarahkan jariku untuk memainkan benda itu. "Kalau kakak mau, aku bisa kok. Lagi pula hujan itu berkah, jadi aku yakin tak akan sakit." ucapku. Terdengar polos sekali memang. Tapi saat ini itulah yang ada di pikiranku.


"Jadi kau juga menginginkannya?" Kak Ran menatap ke arah bawah, mata kami bertemu.


"Sejak tadi. Tapi aku menunggu Kakak yang mengajakku duluan." seperti anak kecil, entah mengapa suaraku menjadi seperti itu. Terkesan polos dan manja.

__ADS_1


"Benarkah?" Kak Ran memastikan. Aku mengangguk. Dan setelah itu ku lihat diwajahnya tercipta senyuman semanis gula.


Detik selanjutnya Kak Ran memperbaiki podisi kami lalu bengkit, tak lupa ia menggenggam tanganku dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya.


"Ayo." ajaknya.


Aku melangkah mengikuti pergerakan Kak Ran. Seluruh tubuh kami telah basah sampai lapisan pakaian terdalam. Berhenti di sebuah tempat yang di kelilingi berbagai macam bunga, Kak Ran memetik satu berwarna ungu lalu menyampirkannya di telingaku.


"Bunga indah untuk kekasih tercinta."


Sungguh jika aku sekarang adalah coklat maka bisa dipastikan wujudku tak padat lagi, aku melumer akibat kalimat indah yang kak Ran lontarkan.


Ran Pov


Cantik. Satu kata yang terlintas di kepalaku ketika memandang maha karya Tuhan yang satu ini, Zara. Puji dan syukur tak henti-hentinya terucap di dalam hatiku, Tuhan memberiku anugerah terindak berupa seorang istri kecil yang sangat kucintai.


Kemarin aku menyebut namanya dalam sebuah janji di hadapan semua orang, menciptakan kesan sakral yang mendalam tatkala kami resmi bersanding menjadi suami istri. Lalu semalam aku membuatnya menangis akibat keisenganku. Setelah itu aku datang meminta maaf padanya dan mengambil hal yang paling berharga darinya, subuh pertama bukan malam pertama. Dan sekarang kami berada di taman indah penuh dengan berbagai macam bunga. Di bawah riani hujan yang membasahi tubuh kami, aku menyampirkan satu bunga yang ku petik tadi ke telinganya. Warnanya ungu, warna kesuakaan Zara.


Aku menggenggam kedua tangannya dan kuarahkan tubuh kami untuk berputar-putar. Zaraku tercinta sedang mengukir senyuman indah dibibirnya. Dia bahagia.


Kami masih berputar-putar sambil berpegangan tangan. Lalu setelah beberapa saat, dia berhenti. Zara melepaskan genggaman tangan kami lalu memegangi kepalanya.


"Ahh pusing." pekik Zara. Nah, tiba-tiba aku merasa khawatri. Aku meraih tubuhnya masuk ke dalam pelukanku.


"Terlalu kencang yah?" tanya ku. Hatiku berdesis mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulutku sendiri. Apa-apaan pertanyaanku ini? Tapi Zara mengangguk.


Setelah itu aku magajaknya berlari mengelilingi taman, berteriak sekencang mungkin dan menyalurkan seluruh kebahagiaan yang memuncak di hati kami. Tidak peduli dengan sekitar, taman ini sepi dan kami tentu sangat leluasa. Hujan pun tak kunjung reda. Yang kurasakan saat ini adalah bahagia. Yah, aku bahagia bisa memiliki teman hidup sepeti Zara.


...*****...


Di sisi lain seorang lelaki berjalan tergesa menuju tebing curam tanpa rasa takut di bawah hujan yang deras. Lelaki itu seperti diliputi masalah, wajahnya tertekuk dan sarat akan pancaran kesedihan. Seorang gadis berlari ke arahnya seraya memanggil nama lelaki itu.


"Rakaaaaa." teriaknnya.

__ADS_1


Raka bergeming dan terusa saja melangkah hinga di ujung tebing, ia berhenti. Menatap ke arah jurang di hadapannya, air mata menetes samar di pipinya akibat air hujan. Gadis yang mengejarnya tadi juga ikut berhenti satu meter di belakangnya.


"Kenapa kau mengikutiku kemari Tahira?" tanya Raka tanpa membalikkan tubuhnya pada gadis yang ternyata Tahira, saudari kembarnya.


"Karena aku masih menyayangimu. Ayolah Raka, tidak seharusnya kau melakukan hal ini. Kau seorang lelaki, kenapa bersikap lemah? Keadaan tak akan berubah jika kau terus berduka." teriak gadis itu. Sengaja agar terkesan tajam di pendengaran lelaki itu supaya ia sadar, jika tindakannya saat ini adalah salah.


Raka berdesis. "Aku tahu kau menyayangiku sebagai saudara. Tapi Kau tak tahu apa-apa!"


"Tentu aku tahu, walaupun hubungan persaudaraan kita masih belum lama. Tapi aku tahu Raka, aku tahu kau terluka melihat Zan menikah dengan orang yang dia cintai sehingga kau mati-matian tak hadir kemarin. Aku tahu Raka, aku tahu! Kau pergi melampiaskan kesedihanmu di bar." Tahira menjeda. Raut wajah Raka seketika berubah. Dari mana gadis itu tahu jika dirinya ke bar? "Seharusnya kau menerima semua ini, garis takdirmu bukan untuk Zan! Hadirmu dalam hidupnya hanya angin berlalu." lanjut Tahira.


Entah kenapa ucapan Tahira membuat Raka merasa terhunus pisau tajam tepat mengenai jantungnya. Sedetik nafasnya berhenti, ucapan Tahira itu kenyataan. Garis hidupnya tak ditakdirkan untuk Zara. Seketika kakinya melemas, Raka terperanjar ke tanah. Terduduk dengan memegang dadanya. Sesak.


Tahira menghampiri saudara kembarnya itu, memeluknya dan mengelus pucuk kepala lelaki itu. "Lupakan Zan! Masih ada milyaran gadis di dunia ini. Kau tinggal pilih dan cintai!"


"Kau kira mencintai itu mudah hah? Cinta bukan telapak tangan yang mudah dibalik dan langsung menampakkan sisi lainnya. Cinta adalah hal rumit, saking rumitnya aku terlambat menyadari jika aku mencintainya. Dan kesadaranku membawa rasa penyesalan dalam diriku hingga hari ini, aku menyesal telah berbuat kasar pada Zara. Aku merasa sangat kehilangan, Tahira!" nafas Raka memburu.


"Kenapa kau merasa kehilangan? Apa kau pernah memiliki Zara?" Tahira mengerutkan keningnya.


"Tentu saja!" Raka berteriak histeris. Perasaan dalam hatinya begitu terluka. "Aku adalah kekasih pertama Zara sebelum lelaki itu! Tapi karena kebodohanku, Zara terlepas. Aaakkkhh."


Saat ini nafas Raka tersengal-sengal akibat teriakan penuh emosi yang di ucapkannya barusan. Punggungnnya bergerak naik turun seiring hembusan nafas berat yang keluar dari indra penciumannya.


Kembali Tahira memeluk tubuh kekar penuh gekolak emosi itu, menenangkannya. Sebagai seorang kakak yang baik, Tahira menyalurkan ketenangan kepada Raka. Perlahan tapi pasti emosi lelaki itu mereda.


"Aurora Antares, Papa menjodohkan wanita itu untukmu." ucap Tahira.


Raka tercengang menatap saudarinya tak percaya. "Kenapa harus dia?"


"Karena Papa tahu, Aurora adalah cinta pertamamu." jawab Tahira. Raka membuang muka.


'Aurora.' batin Raka. Nama itu sepertinya masih membekas di lubuk hati lelaki itu.


Tahira meraih bahu kokoh milik Ran seraya mengarahkan pandangan lelaki itu kembali padanya. "Kau masih mencintainya bukan?"

__ADS_1


Tetesan hujan terus membasahi tubuhnya, Raka tertunduk dengan sorot mata datar. Akankah hari esok lebih baik dari hari ini setelah Aurora kembali? Batin Raka masih menerka. Karena setelah mendengar nama itu disebut, jantungnya berpacu dengan cepat.


__ADS_2