
Sore hari, Ran bergegas keluar dari ruangannya untuk pergi menemui Zara. Melihat langkah Ran yang begitu terburu-buru membuat Surya yang tengah berjalan hendak menemui lelaki itu sontak terkejut.
"Bos, kenapa buru-buru?" tanya Surya.
Ran menghentikan langkahnya. "Sedang ada urusan." ucapnya singkat lalu melanjutkan langkahnya. Surya hanya mengendikkan bahu.
Setelah mengemudi kurang lebih tiga puluh menit Ran akhirnya memarkirkan mobilnya di depan rumah. Tampak hari mulai menggelap. Ran berjalan masuk bersama sepasang mata yang menatapnya dari jarak cukup jauh. Mata itu terus mengikuti langkahnya hingga lelaki itu tak nampak lagi oleh pandangan sepasang mata itu. Pemilik sepasang mata tersebut adalah Satria yang hendak menemui Zara untuk kedua kalinya setelah tadi ia sempat meninggalkan gadis itu untuk suatu keperluan.
"Rupanya aku harus merasakan kekecewaan lagi." gumam Satria setelah melihat seorang lelaki masuk ke dalam rumah Zara yang ia yakini adalah kekasih dari gadis itu. Perlahan Satria mulai memundurkan langkahnya yang terasa berat akibat kecewa, lalu pergi sepenuhnya dari sana.
Sementara Ran mulai membuka pintu kamar Zara yang tidak terkunci. Begitu masuk pandangannya langsung terpaku pada sosok yang tengah bersandar di sandaran ranjang dengan wajah yang berbalik ke arah tembok. Lelaki itu melangkah masuk lalu duduk persis di samping Zara yang tengah memejamkan matanya menahan sakit. Nampak keringat membasahi seluruh tubuh gadis itu. Ran terkejut, ada apa dengan Zara? Mengapa ia begitu pucat dan penuh keringat.
Tanpa ragu Ran meraih wajah Zara yang saat itu dipenuhi keringat. "Sayang.. Ada apa denganmu?" tanya Ran dengan suara lembut.
Mendengar suara lembut itu seketika membuat hati Zara terpaku, ia merindukan suara itu. Suara yang sejak semalam tak lagi didengarnya. Perlahan ia membuka mata lalu menatap sendu wajah tampan Ran. Tanpa kata.
"Apa ini semua karenaku?" tanya Ran lirih.
Merasa begitu bersalah, Ran langsung memeluk tubuh gadis itu erat. Seketika ia merasakan hawa tubuh Zara yang hangat berpindah ke tubuhnya. Bisa ia ketahui bahwa saat ini Zara sedang demam. Ia kemudian mengelus rambut gadis itu perlan.
"Maafkan aku karena telah membuatmu sakit hati." ucap Ran yang membuat hati Zara perlahan menghangat.
Sebenarnya Zara menunggu ucapan itu dari semalam namun tak kunjung datang hingga membuat dirinya melemah dan akhirnya sakit. Gadis itu masih saja tak berucap membuat Ran bertambah khawatir. Ia tahu gadis ini sedang demam disebabkan oleh ulahnya kemarin. Ran mengalihkan pandangannya pada wajah Zara, masih tampak keringat yang membasahi wajah putih mulusnya itu.
"Apa kau kecewa?" tanya Ran. Zara menggeleng pelan dengan mata yang kembali dipejamkan.
"Lalu mengapa kau pergi?" kali ini intonasi Ran terdengar berbeda, ia seperti takut mendengar jawaban gadis itu.
"Karena.. Kau.. Tak butuh.. Aku." jawab Zara terpotong-potong.
"Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?" kini Ran ikut terpejam sambil menempelkan keningnya di keninga Zara.
Gadis itu mulai mengatur napas agar bisa menjawab pertanyaan Ran, sebenarnya ia tak bisa berucap mengingat tubuhnya yang dalam kondisi lemah. Namun ia merasa pertanyaan itu haruslah dijawabnya agar lelaki itu tahu.
"Karena sikapmu belakangan ini sangat mengusik pikiranku. Kau terus saja diam dan bersikap dingin padaku, dan hal itu membuatku sadar bahwa kau tak lagi mencintaiku." ucap Zara sekuat tenaga.
__ADS_1
Ran tertegun, rasa bersalah seketika menyelimuti dirinya. "Sungguh Zara, aku tidak bermaksud membuatmu merasa tak dicintai. Aku hanya merasa beban pekerjaanku sangat berat belakangan ini dan melampiaskannya padamu. Aku benar-benar minta maaf. Aku sungguh mencintaimu, tak pernah sedetikpun aku berpikir untuk berhenti." jelas Ran.
"Jangan memaksakan dirimu untuk mencintaiku, jika memang rasa itu telah hilang maka biarkanlah ia hiang. Aku takkan menuntutmu karena aku tahu diriku tak berhak." ucap Zara.
Seketika Ran merasa tersayat, seberapa dalam ia melukai hati gadis itu hingga membuatnya berani berucap demikian.
"Tidak Zara! Aku memang mencintaimu, jangan berkata seperti itu! Kau tahu betapa sulitnya aku hidup tanpamu? Itulah sebabnya aku datang kemari. Aku ingin mengajakmu pulang." Ran semakin mengencangkan pelukannya.
"Tapi kau terlambat! Kepercayaanku telah luntur." Ran merenggangkan pelukannya sembari menatap wajah gadis itu yang nampak dipenuhi keringat.
"Aku akan mengembalikan kepercayaanmu!" ucap Ran dengan nada tegas.
Ran mendekatkan wajahnya pada gadis itu, dilihatnya kumpulan keringat di antara hidung dan bibir Zara, sontak ia menghapusnya. Kemudian mendaratkan bibirnya tepat di bibir Zara. Merasakan hal itu membuat Zara seketika terkejut. Ia hendak melepaskan pelukan Ran namun lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya.
'Kenapa kau harus membuatku kembali yakin ketika kepercayaanku perlahan luntur? Jika memang kenyataannya kau mencintaiku, maka aku bisa apa? Tanpamu aku pun merasa kehilangan.' ucap Zara dalam hati.
Malam itu Ran berbaring di atas ranjang sembari memeluk Zara yang juga berbaring membenamkan wajahnya di dada lelaki itu. Sudah lama sekali rasanya Ran tak pernah lagi menyentuh Zara, dan malam ini kesempatan itu datang padanya. Keinginannya untuk menikahi Zara kembali menyeruak, dan nampaknya keinginan itu tak bisa lagi ditahannya. Ran mengelus lembut punggung gadis itu.
"Hmm." sahut Zara.
"Aku begitu mencintaimu, aku ingin membuatmu sepenuhnya percaya padaku. Jadi, aku ingin kita menikah." ucap Ran.
Zara terkejut mendengarkan ucapan Ran hingga membuatnya menoleh pada lelaki itu. "Menikah?" tanyanya dengan suara lemah.
"Apa kau keberatan?" Ran mengernyit.
"Apa kau bisa memberiku waktu untuk menjawabnya?" tanya Zara lagi.
"Tidak masalah, aku paham. Sekarang istirahatlah!" Ran mengakhiri.
Zara kembali membenamkan wajahnya di dada Ran sembari meneteskan air mata. Sementara Ran menarik napas lesu.
'Bukannya aku tak ingin menikah denganmu Kak Ran, hanya saja aku takut. Aku takut jika aku mengecewakanmu. Aku punya banyak kekurangan.' ucap Zara dalam hati.
__ADS_1
...
Sementara malam itu Satria sedang mengunjungi Aura sepupunya untuk meluapkan segala kekecewaan yang dirasakannya hari ini. Mereka duduk di ayunan taman belakang rumah Aura. Sembari memandang langit Satria berucap. "Kenapa aku selalu kurang beruntung Aura? Di saat aku mencintai seseorang, di saat itu pula aku merasakan kekecewaan." ucap Satria sedih.
"Sabar Satria, mungkin kau harus berhenti mencintai Zara dan mulai membuka hatimu untuk orang lain." Aura memberi saran.
"Tapi aku tidak bisa. Aku hanya mencintai..." ucapan Satria terpotong oleh Aura.
"Sut.. Sut.. Sut.. Shut up. Mulai sekarang kau harus melupakan orang yang sudah memiliki kekasih. Mengerti?" Aura menaikkan sebelah alisnya.
"Aura, kau ini menyebalkan sekali." gerutu Satria.
"Hei jangan seperti itu! Apa kau mau merasakan sakit hati terus sepanjang hidupmu?" balas Aura.
Satria mendengus pelan, ia memikirkan perkataan Aura yang ada benarnya. Sesaat ia menatap Aura sembari mempertimbangkan. "Mm tapi, apa ada orang yang mau padaku?" Satria tampak meragukan dirinya.
"Hei, apa kau lupa? Banyak wanita yang selalu berusaha mengejarmu! Kau balaslah perasaanya itu!" Aura merasa geram mendengar ucapan Satria.
"Aduh, haruskah aku membalas hah? Kau kan tau aku memang tidak suka pada wanita seperti mereka itu." gerutu Satria.
"Eits, jangan berkata seperti itu! Kau cobalah dulu, jika sudah terbiasa maka perasaan itu pasti akan timbul." Aura berusaha membujuk.
Satria mengusap wajahnya kasar. "Baiklah! Tapi jika aku tak bisa, jangan paksa aku oke?"
"Iya. Kau ini, belum juga mencoba sudah merasa ragu."
"Mau bagaimana lagi?" Satria mengandikkan bahu.
Akhirnya mereka pun mengedarkan pandangan masing-masing ke arah langit.
.
.
.
__ADS_1
bersambung.....