My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 89 : Maaf dan Selamat Tinggal


__ADS_3

Malam dingin kala itu berlalu dengan rasa sedih tak terhingga. Kira bersama dengan rasa sakitnya melewati pergantian hari dalam diamnya. Belum habis rasa sedih itu di hatinya, sekarang dia harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa dirinya mengidap penyakit talasemia. Membuatnya begitu terpuruk, dan nyaris putus asa.


Tetes darah yang terus mengalir ke dalam tubuhnya terasa seperti sumber rasa sakitnya yang baru. Karena darah itu berasal dari Bara, kekasihnya.


Mengingat tentang Bara, gadis itu merasa telah salah menjatuhkan hati. Baginya sakit yang ia derita adalah beban bagi Bara. Ia tahu betapa lelaki itu terluka atas apa yang menimpa dirinya, hanya saja lelaki itu menyembunyikannya. Kira bisa melihat dari sorot mata Bara terpancar dengan jelas perasaan lelaki itu.


Dan akhirnya penyesalan terasa begitu kental menghinggapi dadanya. Andai saja hal bodoh ketika menggoda Bara waktu itu tak ia lakukan, maka mungkin sekarang ia tak akan terbebani. Jika tahu hubungan dengan kakaknya akan merenggang, Kira takan pernah mau merebut Bara dari kakaknya.


Kini gadis itu merasa perbuatannya telah melampaui batas. Semua kesenangan yang ia peroleh dari Bara nyatanya tak bisa menepis keegoisan dirinya dan malah hanya menambah masalah baru.


Kira menutup matanya. Memaksakan air mata yang menggenang untuk keluar dari tempatnya agar rasa sedih itu bisa sedikit berkurang. Gadis itu menghela napas berat sembari mulai memutuskan sesuatu. Yang nampaknya akan terasa mencengkram hatinya sendiri. Dalam keheningan di kamar rawat yang telah padam cahayanya, Kira bergumam.


"Sayonara Kak Bara."



Bara's Pov


Kulihat gadis itu menangis menahan rasa sakit, wajahnya terlihat masih pucat. Darah yang mengalir di transet terlihat begitu kental, perlahan-lahan tetesannya mengalir ke dalam tubuh Kira. Aku merasa begitu kasihan padanya. Selama ini aku tak pernah tahu jika dia memiliki penyakit itu. Ketika tahu rasanya ingin sekali kutukar hidupku dengannya.


Melihat dia menderita sama saja aku mengambil peran sebagai orang jahat dalam hubungan kami. Kupandangi transet itu sekali lagi. Cairan merah berjenis Rh AB present itu seluruhnya dariku. Ya, tadi ketika aku dan bibi Zara hendak mendonor, dokter mengatakan bahwa bibi tidak diperkenankan untuk mendonor. Alasannya karena bibi tak pun pada dasarnya kekurangan darah.


Sebenarnya aku kurang paham, intinya dokter tidak membolehkan bibi untuk mendonor. Jadilah aku sendiri yang mendonorkan darahku untuk Kira. Padahal gadis itu butuh 4 kantong dan aku hanya mampu memberikannya 2 saja.


Dokter berkata pihak rumah sakit akan mencari 2 kantong lainnya di bank darah. Mendengar hal itu membuatku jadi sedikit lemas. Cobaan ini terasa begitu berat. Aku tidak tega melihat Kira menderita. Tapi tak ada yang bisa kuperbuat.


Waktu telah menunjukkan pukul 23.00 ketika aku dan ayah memutuskan untuk pamit pulang. Ayah sudah terlihat begitu lelah setelah seharian beraktivitas. Ditambah lagi kami tadi sempat bersedih karena perempuan itu, aku tidak mau menyebut namanya. Jadi denga enggan aku melangkah bersama ayah meninggalkan kamar inap Kira.

__ADS_1


Ya Tuhan, hatiku terasa seperti terbelah dua. Satu kepingannya kugenggam dan satunya lagi kusinpan di sini bersama Kira. Melalui ekor mataku, kutangkap arah pandangnya terus terarah padaku. Aku sebenarnya ingin sekali membalas tatapan itu. Namun tak ada keberanian yang menghampiriku saat ini. Aku takut jika terus saja menatapnya, yang lain akan curiga terutama Naura.


Langkahku terasa begitu berat ketika mencapai parkiran rumah sakit. Seolah benar-benat tak ingin beranjak dari sisi Kira. Aku menatap ke belakang meneruskan anganku dalam bayang.


Rasanya aku ingin berlari ke sana, kembali ke ruangan itu. Menatap mata Kira lalu memeluknya dengan penuh kasih. Tapi semua itu menguap seperti debu yang ditiup angin begitu ayah menyadarkanku dari angan.


"Apa kau melupakan sesuatu?" Tanya ayah.


Terlihat wajahnya begitu pucat dan kelelahan. Tiba-tiba perasaan tak tegaku mencuat lagi. Mungkin saat ini menepi dari kegundahan hati harus kulakukan demi ayah.


"Tidak ayah." Jawabku.


"Kalau begitu ayo kita segera pulang. Ayah harus istritahat untuk pertemuan penting dengan Dirut Nara Group besok. Ayolah."


"Baik ayah."


Hari-hari berikutnya kujalani dengan rasa hampa tanpa kehadiran Kira. Semenjak aku pulang dari rumah sakit malam itu, kami tak pernah lagi bertemu. Dia seolah menghilang ditelan bumi.


Ketika kutanyakan pada Naura saat kami berpapasan di kampus gadis itu malah hanya membalasku dengan sunyuman lalu setelahnya mengalihkan pembicaraan. Hal itu cukup menimbulkan firasat aneh di benakku, kemana Kira?


Aku merasa frustasi ketika tak melihat gadis itu selama beberapa hari. Kira adalah gadis periang yang mengisi kehampaan dalam hatiku, gadis yang mengalir darahku dalam dirinya, gadis yang kusayangi dengan separuh jiwaku. Mungkin terdengar berlebihan tapi bagiku ungkapan itu adalah bahasa cintaku padanya.


Kehampaanku tak bergenti sampai di situ saja. Hari sabtu kemarin aku berusaha untuk mencarinya lagi dengan cara menjemput ia di depan sekolahnya. Seperti kebiasaan kami dulu. Aku melihatnya, dia berdiri dengan tatapan kosong di depan gerbang sekolah. Pikirku dia sedang menunggu jemputan, mungkin aku?


Namun semua dugaanku itu salah, begitu aku hendak melangkah kulihat sebuah mobil berhenti di hadapan Kira. Sang pemilik mobil keluar lalu mengajak Kira masuk ke dalam mobilnya. Aku kenal lelaki itu. Dia calon saudara tiriku, Noah.


Tiba-tiba dadaku terasa begitu sesak. Detik itu juga aku mencoba menelfon Kira, tapi semua berujung sia-sia. Nomornya tak bisa kuhubungi. Mengirim pesan pun sama saja.

__ADS_1


Semangatku menurun 50% saat itu juga. Aku merasa hatiku terluka karena Kira menjauh. Entahlah, mungkin ini semacam balasan untukku yang awalnya hanya mempernainkan hubungan kami. Tapi semakin kesini perasaanku mulai membesar. Aku menyayangi Kira.


Aku terpuruk hingga merasa setres memikirkan gadis itu. Untuk terbebas dari rasa sakit itu aku memilih bermain game sepanjang hari di ponselku. Awalnya hal itu terasa menyenangkan tapi lama kelamaan rasa hampa itu kembali mengisi hatiku.


Aku merasa muak hingga kuputuskan untuk beranjak menyahut kunci mobil dan jeket lalu pergi meninggalkan rumah.


...


Tujuanku hanya satu. Tempat yang kurasa nyaman, yang selama ini menjadi pelarianku jika ada masalah, yaitu Bar. Segala lara dan duka tak berlaku lagi ketima aku mulai menanggalkan kewarasaku dengan menenggak minuman beralkohol itu. Sesekali kusesap benda berasap yang diapit oleh jari tengah dan telunjukku.


Benar saja, bayangan wajah Kira mengawang di atas langit bar itu. Seolah tak terjadi apapun aku tersenyum dengan lebarnya seperti orang yang kehilangan kewarasan lalu tertawa dengan lepasnya.


Aku menertawakan sikap bodoh yang kulakukan saat ini. Aku tidak tahu akan seperti apa kecewanya Ayah ketika melihat kelakuan burukku ini, dan juga bagaimana tanggapan Kira terhadapku.


Alkohol yang sudah menguasai nyaris seluruh kewarasanku kahirnya membawaku ke dalam ketidaksadaran. Kepalaku pusing. Betapa tidak, 3 botol minuman laknat itu telah kuhabiskan tanpa sisa.


Perlahan keseimbanganku memudar bersama dengan hilangnya cahaya temaram ruangan yang kusewa. Terakhir aku melihat seorang wanita dengan berpakaian minim masuk ke dalam ruanganku lalu duduk di atas perutku. Setelahnya aku benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi.


'Kira, maaf.'


.


.


.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2