My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 53 : Sesal


__ADS_3

Dua hari berlalu sejak kedatangan keluarga Adijaya ke rumah bibi Yumna untuk menjemput putri kandung mereka yang telah di besarkan oleh bibi Yumna. Kemarin Tahira telah meninggalkan desa bersama keluarganya tersebut, sementara Saga dan Ran tetap tinggal di kediaman bibi Yumna untuk menemani kedua orang tua Ran. Rencananya hari itu kedua orang tua Ran akan kembali ke Jepang tepatnya di sore hari. Lalu setelah itu Saga dan Ran juga akan kembali ke kota.


"Jika kalian kembali ke kota maka siapa yang akan tinggal disini?" tanya Paman Akira pada Ran dan Saga yang duduk di hadapan mereka.


"Tidak ada yang akan tinggal disini, paman." jawab Saga.


Suasana rumah bibi Yumna begtu sepi, dan terasa lebih suram apalagi pemilik rumah telah tiada.


Saga tidak bisa tinggal di rumah tersebut karena harus bekerja di kota. Ran telah menempatkan Saga sebagai menejer tim kreatif di perusahaan. Sebelum nantinya akan menikahi Tahira. Karena pernikahan membutuhkan banyak biaya, jadi Ran ingin sedikit menolong sepupunya itu.


Sore hari tiba, mereka beranjak meninggalkan rumah bibi Yumna menuju kota. Ran dan Saga akan mengantar Paman Akira dan Bibi Megumi menuju bandara, dan mereka akan sampai esok hari. Saga menyetirkan mobilnya meninggalkan tanah kelahirannya itu.


"Ran, otoosan berharap kau bisa segera menemukan Zara. Otoosan tak ingin terjadi hal buruk padanya. Setelah kau menemukan Zara, jagalah dia baik-baik. Otoosan ingin melihat kalian bahagia." ucap Paman Akira pada putranya, Ran.


"Baiklah, otoosan." jawab Ran.


Saga hanya mendengar percakapan mereka yang tak ia pahami karena Ran dan Ayahnya memakai bahasa Jepang.


"Apa urusan perceraianmu sudah selesai?" tanya Ibu Ran.


"Sudah okaasan." jawab Ran.


"Maafkan okaasan sayang, kami terpaksa menyetujui permintaan Bibimu." sesal bibi Megumi, ia memeluk Ran erat.


"Tidak okaasan. Jangan berkata seperti itu. Semua ini takdir."

__ADS_1


"Hiduplah bahagia anakku." ucap bibi Megumi lagi.


...*****...


Keesokan harinya mereka telah sampai di bandara. Kedua orang tua Ran telah beranjak beberapa menit yang lalu. Ran tak hentinya menatap ke arah dimana orang tuanya telah menghilang. Ia merasa seperti tak ingin melepas kepergian mereka, ada perasaan tidak enak yang meneruak di dadanya. Terasa seperti orang tuanya tak akan pernah lagi dilihatnya. Ran mengambil nafas panjang. Apapun yang menjadi takdirnya maka ia akan menerima.


"Ayolah, kita tidak punya banyak waktu. Kita harus segera mencari keberadaan Zara." Saga menepuk bahu Ran.


Akhirnya mereka melesat meninggalkan bandara menuju apartemen Ran.


"Kurasa kita cari Zara besok saja, aku merasa lelah sekali." ucap Ran dengan mata terpejam.


Lelaki itu merasa sangat lelah setelah perjalanan jauh dari desa. Ia menyandarkan tubuhnya. Saga yang mengemudikan mobilnya hanya bergumam sekilas tanda menyetujui ucapan Ran.


Setelah membersihkan diri akhirnya Ran bisa merebahkan tubuhnya di ranjang. Sejenak ia memikirkan kejadian beberapa hari belakangan yang mengubah sebagian besar hidupnya. Menikah dengan Tahira lalu dua hari kemudian mengurus perceraian. Dan yang paling menyakitkan, Zara meninggalkan dirinya.


Ran mengambil ponsel Zara yang ia letakkan tadi di atas nakas. Rasa rindu kini menyeruak ke dalam hatinya. Ran memeriksa isi ponsel Zara. Ia tersenyum ketika memecahkan pin ponsel Zara yang ternyata adalah gabungan antara tanggal lahirnya dan tanggal lahir Zara. Entah kenapa ia berinisiatif memasukkan angka tersebut. Setelah pin ponsel, ia kembali tersenyum setelah melihat wallpapper Zara yang menampilkan gambar sepatu couple mereka.


"Kau pergi untuk apa, jika masih mencintaiku? Aku yakin kau pasti akan kembali, dan memelukku." gumamnya.


Ran terus mengotak atik ponsel Zara dan melihat selurh isinya. Bahkan Ran membaca catatan harian Zara di ponselnya tersebut. Seluruh catatan harian Zara hanya mengisahkan tentang Ran. Bagaimana awal gadis itu jatuh cinta padanya dan bagaimana ia mendapat ciuman pertama hingga kebiasaan-kebiasaan yang Ran lakukan ketika mereka tidur bersama.


{....Kak Ran, jika kami tidur bersama aku selalu memunggunginya. Jika tidak dia pasti akan selalu mencium bibirku, bukannya aku tidak mau tapi aku selalu merasa malu jika sudah melakukannya. Aku tahu wajahku akan memerah saat itu juga.


Dan ketika aku memunggunginya sudah kupastikan jarinya yang nakal itu akan selalau menggelitik telingaku. Terkadang aku merinding diperlakukan seperti itu dan aku akan memberontak jika Kak Ran tidak menghentikan kejahilannya. Tetapi walaupun begitu aku sangat menyukai kelakuannya yang hangat dan romantis itu.

__ADS_1


Kak Ran mengambil banyak peran dalam hidupku, dia terkadang bisa menjadi kakakKu, di lain waktu Kak Ran juga menjadi ayah bagiku, menjadi teman, pelindung, dan yang paling kusukai adalah ketika ia menjadi kekasih sekaligus teman bagiku karena disaat sepeti itu aku merasa begitu nyaman. Padahal Kak Ran adalah sepupuku. Dan hanya satu yang tak bisa ia lakukan.. Yaitu menjadi ibu.......}


Setelah membaca catatan harian Zara yang di penuhi oleh kisah dirinya, Ran menyimpulkan bahwa selama ini Zara memang sudah nyaman berada di dekatnya. Tapi ia menyesali perbuatannya yang membuat gadis malang itu pergi. Ran menyesal telah menikahi Tahira.


Setelah merenung sejenak Ran kembali membaca catatan harian terakhir yang ditulis oleh Zara empat hari yang lalu tepatnya setelah pamakaman bibi Yumna.


{.... Pukul 11.55..... Aku bukanlah Tahira yang memiliki Saga sebagai kakak dan Kak Ran sebagai suami yang akan selalu menyayangi dirinya. Aku hanyalah sebatang kara yang menyedihkan, no mother and no father. Maka aku memutuskan untuk pergi dari hidup mereka, karena aku tak sanggup menghadapi situasi ini dimana kekuatan terbesarku yaitu Kak Ran tak lagi memperdulikan ku. Bahkan ia tak sama sekali memeluk untuk sekedar menenangkan ku layaknya Saga dan Tahira. Hatiku begitu sakit mengingat tadi ketika di pemakaman Kak Ran pergi meninggalkan pemakaman bersama kedua orangtuanya tanpa menoleh sedikitpun padaku. Dan aku melihat Saga dan Tahira juga pergi tenpa menoleh ke arahku. Aku mematung dan tak bisa melangkahkan kakiku. Sakit sekali rasanya......}


Tanpa sadar Ran ternyata telah meneteskan air mata membaca catatan harian Zara. Kepergian Zara memang akibat dari ulahnya yang kurang memperdulikan gadis itu. Ran mengutuk dirinya sendiri.


"Baka! Baka! Baka!" ucapnya setengah berteriak.


Ran merasa sangat bodoh karena telah membuat Zara patah hati dan menghancurkannya berkeping-keping. Benar kata Saga, dirinya memang bodoh. Seharusnya ia menjelaskan semua rencanya pada gadis itu dan membuatnya paham bahwa sebenarnya dirinya akan menceraikan Tahira dan akan kembali menjadi milik Zara.


Setelah meratapi kebodohannya sendiri, Ran meletakkan ponsel gadis itu ke dalam laci nakasnya. Dengan posisi duduk di tepi ranjang Ran menatap ponselnya sendiri yang berdering menandakan panggilan dan menampakkan nama Saga. Ran mengangkat panggilan tersebut.


"Ada apa?" tanya Ran.


Dengan suara yang terdengar panik Saga memberitahu Ran. "Pesawat yang ditumpangi ayah dan ibumu terjatuh dan tenggelam di laut."


Degg,, Ran menjauhkan layar ponsel dari telinganya. Ia meneteskan air mata dan mulai terisak. Kenapa semua ini harus terjadi? Dari seberang telfon Saga mendengar sepupunya itu terisak dan seketika ia juga seperti merasakan apa yang dirasakan Ran. Kemudian Ran memutuskan sambungan telfon setelah Saga berkata akan menjemputnya. Ran meletakkan ponselnya kembali di atas nakas.


Inilah kejadian yang membuatnya tidak merelakan kepergian kedua orangtuanya dari hadapannya ketika di bandara. Ternyata persaan tidak enak tadi adalah tanda bahwa mereka akan pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya. Impas sudah. Ia telah kehilangan Zara dan sekarang kedua orang tuanya. Sama persis seperti yang dirsakan Zara saat ini. Mereka sama-sama kehilangan orang tua dan kehilangan kebahagiaan.


"Hiks.. Hiks.. Hiks.. Aku menyesaaaaal." ucapnya sambil terisak.

__ADS_1


__ADS_2