
Kira hanya bisa menangis mendengar kemarahan yang keluar dari mulut Naura. Baginya Naura tak tahu apa-apa mengenai kejadian tadi. Karena sesungguhnya ia dan Bara telah selesai. Bukankah Nuara sudah berjanji tidak akan melaporkan ia kepada ayahnya? Tapi semua sudah terlanjur. Sebab Naura memiliki perangai yang teguh, dimana jika ia sudah memutuskan maka keputusannya tidak bisa diganggu gugat.
Pada akhirnya kesalah pahaman Naura tetap berjalan. Kira pun tak ingin bersuara lagi untuk hanya sekedar meluruskan. Sebab ia tahu, hal itu hanya akan membuat suasana semakin runyam. Biarkan saja ia dilaporkan, agar setelah ini dirinya bisa mengoreksi diri. Dan hidup normal kembali tanpa dihantui rasa bersalah.
"Gomen (maaf)," sahut Kira lirih dengan air mata yang mulai basah di pipinya.
"Turunlah segera, sudah waktunya makam siang." Naura kemudian berlalu meninggalkan adiknya.
Setelah kepergian Naura, gadis itu menutup mata dalam-dalam. Dilaporkan, hal itu menjadi paranoid di kepalanya. Kira membayangkan bagaimana ayahnya akan murka padanya. Kemudian mengusir dirinya dari rumah atau bahkan kemungkinan terburuk, ayahnya akan memasukkan ia ke dalam asrama. Bagi gadis sepertinya yang hanya menyukai kebebasan, asrama adalah mimpi buruk yang paling meresahkan hati.
Dengan susah payah Kira menguatkan hatinya lalu membenahi rambut dan wajahnya yang berantakan. Kemudian menampakkan keceriaannya hingga kekalutan hatinya terkelabui.
"Okay, aku baik-baik saja." Ucapnya berusaha menenangkan diri.
Tak butuh waktu lama ia sudah berada di ruang makan. Di sana sungguh ramai, jika ia datang dalam keadaan kusut seperti tadi maka sudah pasti akan menjadi sorotan. Akhirnya Kira menarik kursi di sebelah Zara lalu duduk sembari terus menampakkan senyum tipis di bibir mungilnya.
Meja makan berbentuk persegi panjang itu dipenuhi berbagai hidangan spesial buatan Zara. Siapa lagi yang memiliki tangan ajaib selain wanita 39 menjelang 40 tahun itu? Dengan dibantu Naura, semua makanan itu siap dalam waktu yang singkat.
Makan siang saat itu terdengar sedikit bising. Suara pembicaraan Ran dan Saga mendominasi. Kira serta Noah pun sesekali terlihat saling berinteraksi. Dan sisanya, Zara, Naura dan Bara hanya menyantap makanan mereka dalam diam sembari memerhatikan.
Bara sedikit iri melihat Kira begitu akrab dengan calon kakak tirinya itu. Tapi ia merasa tak berhak lagi merasakan apapun, terhadap apapun atas Kira. Mereka telah selesai.
"Apa Kak Noah menyukai currosnya?" Tanya Kira sambil sesekali melirik curros di tangan Noah.
"Of course, ini enak." Jawab Noah sambil tersenyum.
Kira mengangguk santai seolah keadaannya baik-baik saja. Menutupi perasaan kalut dalam hati adalah keahliannya. Tak lama berselang gadis itu kembali melanjutkan makan siangnya dalam keheningan.
Sore hari Saga, Bara dan Noah pamit pulang. Mereka masuk ke dalam mobil yang berbeda dan melesat ke arah yang berbeda. Rumah Ran kembali ke keadaan sunyi.
__ADS_1
Malam pun tiba dengan membawa kegelapan, bersama dengan itu bulan ikut tampak menerangi bumi. Lampu-lampu di setiap sudut kota juga ikut meramaikan panorama sehingga tercipta sebuah pemandangan yang menyejukkan mata ketika dipandang dari atas.
Kira tampak murung menatap lampu-lampu yang sedang berkelap kelip di tengah kota sana. Dari balkon kamar, ia bisa melihat jembatan pusat kota yang masih saja dipadati kendaraan. Juga ujung dan pangkal jembatan itu terdapat sebuah lampu warna-warni yang menyala memberikan kesan kontras.
Indah sekali pemandangan yang sejatinya hadir setiap malam itu. Yang seharusnya Kira bisa merasakan keindahan itu membelai matanya namun saat ini tak ada rasa yang bersemai di hatinya kecuali kesedihan. Baru saja ia kembali dari ruang kerja ayahnya dengan membawa rasa sedih yang begitu besar. Yah, Naura telah membuka semua kejahatannya di depan Ran.
Sebenarnya Ran tak memarahinya, hanya saja Kira diberi sebuah sanksi sebagai penebus untuk kesalahannya. Dan sanksi itu adalah mimpi buruknya. Yah, katakanlah masuk asrama bagi gadis penuntut kebebasan seperti dirinya adalah mimpi buruk. Karena asrama adalah peraturan dan Kira adalah gadis bebal. Aturan sang ayah yang melarang berhubungan dengan lelaki pun ia bisa melanggar, bagaimana jika peraturan dalam asrama?
Selepas ujian akhir sekolah gadis itu akan dimasukkan ke sekolah menengah atas berbasis asrama yang dikhususkan untuk anak perempuan. Lokasi sekolah itu terdapat di sebuah desa yang lumayan jauh dari kota tempat ia sekarang tinggal. Sebenarnya ia tak terima, tapi Ran sudah memutuskan dan keputusan itu mutlak, tak bisa diganggu gugat.
Kira sempat meminta keringanan pada Zara namun, wanita itu tak bisa melakukan apapun. Ran yang memutuskan jadi Zara juga harus mematuhinya.
Ada rasa sesal telah melakukan kebodohan itu. Namun selalu saja penyesalan datang paling akhir, setelah konflik usai. Kira merasa sangat bodoh karena telah nekat melanggar. Yang paling parah merasakan sakit dari semua itu adalah hatinya, perasaannya.
Jika tahu bahwa mengenal cinta di usia dini itu rasanya seperti menjahit luka di tangan sendiri tanpa obat bius, maka mungkin Kira tidak akan pernah mau tertarik pada Bara. Tapi sayangnya, hatinya telah terenggut. Bibirnya telah tercemar oleh ciuman Bara.
Gadis itu akhirnya memilih masuk ke dalam kamar sebab angin malam telah menyapa kulit tipis yang hanya dibalut dengan baju dan celana tidur berbahan tipis pula. Kira menutup pintu yang menghubungkan anatara kamar dan balkon kemudian menarik horden menutupi pintu. Saat masuk ke dalam kamar segera ia mematikan lampu.
Dalam gelapnya kamar, Kira meneteskan cairan bening itu lagi untuk ke sekian kalinya hari ini. Melepaskan Bara adalah hal tersakit yang pernah ia rasakan dan kekecewaan ayah serta ibunya adalah puncak rasa sakit itu.
Di sisi lain, Bara kembali jatuh terpuruk disebabkan oleh keadaan yang tak memihak. Lelaki itu masih tak percaya jika hubungannya dengan Kira telah selesai. Seperti ilusi, kedekatan mereka beberapa waktu kemarin begitu singkat. Bara telah merasakan nyaman yang paling 'nyaman' memiliki kekasih terhadap Kira. Namun sayangnya tak ada yang kekal. Hubungan mereka pupus dan seolah tak pernah terjadi.
Lelaki itu menenggak minuman beralkohol jenis vodka di hadapannya. Tak ada jalan lain yang bisa ia tempuh selain mabuk. Karena sesungguhnya mental yang ia punya tak mampu medorong dirinya menerjang masalah. Selalu saja ia berlari meninggalkan masalah dalam hidupnya. Bara memang lelaki yang lemah.
Dalam kondisi setengah mabuk, sosok wanita berpakaian terbuka menghampirinya. Bara menoleh ke arah wanita itu yang beralih duduk di sebelahnya. Wanita itu menuangkan sedikit vodak milik Bara ke gelas yang ia bawa kemudian mengajak Bara bersulang. Ia kemudian meminum vodka itu dengan anggun.
"Kali ini kau ada masalah apa lagi, kulihat keadaanmu lebih kacau dari dua hari yang lalu." Sahut wanita itu dengan tatapan mirisnya.
__ADS_1
Bara menghembuskan napas kasar, kemudian menenggak tetes terakhir vodka di gelasnya lalu menunangkannya lagi dari botol.
"Aku dan dia telah selesai." Ucapnya lirih.
"Dengan gadis 15 tahun itu? Kalian putus?" Wanita itu memiringkan kepalanya menatap Bara. "Ya ampun, mengapa harus seputus asa ini? Kau bisa mendapatkan kekasih yang lebih cocok dan lebih pantas dari anak gadis polos 15 tahun seperti dia."
Bara bergeming. Wanita itu tersenyum remeh kepada Bara. Ia lalu beranjak naik ke pangkuan lelaki itu tanpa diminta. Hal ini sudah sangat wajar bagi Bara dan wanita itu. Karena sebelum ini pun mereka pernah tidur bersama atas tawaran wanita itu. Jika Bara berada pada kondisi rapuh seperti sekarang, wanita itu selalu setia menemani malam kelam Bara di bar itu.
"Apa malam ini kau ingin kutemani lagi?" Tanya wanita itu sembari mengalungkan tangannya di leher Bara.
"Jika kau bersedia, Ruhi." Jawab Bara dengan tatapan tak berdaya.
Bergerak dengan halus tanpa diperhatikan oleh keramaian, keduanya pun malangkah menuju sebuah kamar yang sering mereka sewa. Ruhi menutup pintu lalu menguncinya kemudian menyusul Bara yang sudah berbaring di sofa kamar itu.
"Kuberi tahu padamu Bara. Anak polos dan sebaik gadis itu tak akan pernah bisa menjadi milik lelaki lemah dan pendosa sepertimu. Kau hanya punya dua pilihan, pertama mengalihkan perhatianmu pada wanita yang sefrekuensi denganmu. Kedua kau meninggi untuk bisa bersama dengannya. Perbandingan anatara kau dan dia adalah tanah dan dasar bumi, apa kau paham?" Celoteh Ruhi panjang lebar.
Dalam posisi panas yang sedang berlangsung di antara keduanya, Ruhi selalu memberi masukan kepada lelaki itu. Posisi tubuhnya yang di atas membuat ia berkesempatan menyuarakan pendapatnya terhadap Bara yang terlihat kacau.
"Aku tidak tahu." Ucap Bara dengan napas tersengal akibat hujaman tubuh Ruhi.
Merasa celotehannya hanya sia-sia, Ruhi akhirnya fokus pada kegiatan mereka. Wanita itu terus saja menggerakkan tubuhnya dengan cepat. Merasa sudah lelah akhirnya Ruhi meminta Bara menggantikan posisinya. Bara menyanggupi hingga posisi mereka berganti. Kini Bara yang menguasai tubuh wanita itu.
"Apa kau tidak ingin menjadi kekasihku, Bara?" Tanya Ruhi dengan tatapan sayu yang dipadu dengan wajah memelas. Pandangan Bara seketika nanar. Lelaki itu memilih bergeming.
.
.
.
__ADS_1
bersambung....