
"Kira." Panggil Noah ketika gadis itu terus saja menatap kosong ke arah pintu ballroom.
Kira menoleh dengan wajah yang dipaksa ceria di tengah kalut pikiran dan hatinya. Lalu gadis itu memaksakan seberkas senyum ke arah Noah. Lelaki itu menggeleng tak habis pikir.
"Ayo, kita duduk dulu." Ajak lelaki itu sambil memegang tangan Kira menuju ke sebuah meja kosong terdekat.
Setelah duduk dengan nyaman Noah mulai menatap teduh ke arah Kira sambil menyunggingkan senyum.
"Kau tidak sedang patah hati kan?" Tanya Noah.
"Maksudmu?" Kira balik bertanya.
"Tatapanmu, raut wajahmu, senyum yang kau paksa. Semua itu tak bisa membohongiku, kau ada sesuatu dengan Bara kan?" Noah menebak kebenarannya.
Kira membulatkan mata akibat terkejut. Tatapannya bertemu dengan manik legam milik Noah. Tak mampu berbohong, akhirnya gadis itu hanya diam dalam posisi menunduk. Noah bisa membaca situasi itu. Diamnya Kira menandakan bahwa hal yang sedang mereka bicarakan adalah benar.
"Maukah kau bercerita pada sahabatmu ini?" Noah berusaha mengulurkan tangan untuk menjadi tempat Kira merasakan kenyamanan.
Gadis itu menatap ragu ke arah Noah.
"Jangan menatapku seperti itu, ingat sekarang hubungan kita lebih dari sekedar sahabat. Kita sepupu dan kita keluarga." Ucap Noah.
Ada beberapa pertimbangan yang sedang menggelayuti pikiran Kira. Tapi mereka sudah saling janji untuk bercerita mengenai masalah yang menimpa mereka. Kira tak punya pilihan lain. Mingkin memang Noah ditakdirkan untuk mendengar keluh kesahnya.
"Baiklah, akan kuceritakan." Putus gadis itu.
Akhirnya dengan kekuatan hati yang entah datang dari mana, Kira pun menceritakan tetang perasaannya terhadap Bara. Tentang hubungan secara sembunyi-sembunyi yang ia jalanji bersama lelaki itu. Bahkan mengenai keputusannya untuk menyudahi hubungan mereka.
Noah tampak mengangguk paham. Lucu sebenarnya mendengar masalah percintaan anak seusia Kira. Umur 15 tahun, terlalu muda jika sudah merasakan manisnya cinta dan pahitnya patah hati. Namun sebagai sahabat yang baik, Noah mendalami perannya sebagaimana mestinya.
"Kurasa keputusanmu sudah benar." Ucap Noah menanggapi.
"Tapi aku melukainya." Sanggah Kira.
Noah tersenyum dengan hembusan napas tipis. "Ingat usiamu, masa depan jauh lebih sulit untuk dihadapi. Jika masalah seperti ini saja sudah mampu membuatmu jatuh, bagaimana masalah-masalah besar yang akan datang? Pikirkan diri dan masa depanmu, sekali lagi kukatakan bahwa keputusanmu sudah benar."
Kira memikirkan baik-baik ucapan lelaki itu. Agaknya, Noah lebih bisa menyentuh hatinya ketimbang Naura. Noah tak menjastifikasi dirinya layaknya Naura bersikap. Kira tentu bisa membedakan mana air yang sedang tenang dan mana air yang sedang bergelombang akibat tiupan angin.
Dalam hal ini Kira tak bisa memungkiri bahwa ia sangat membenci kakaknya. Karena emosi Naura ketika menuturkan kesalahan yang ia buat, menjadikan dirinya seolah-olah adalah orang yang paling berdosa di dunia ini. Akhirnya Kira paham, hanya dengan sentuhan kata-kata Noah ia mampu meletakkan di mana posisi dirinya. Ia tak lagi menganggap bahwa, dialah orang yang paling berdosa di dunia.
"Terima kasih. Kak Noah benar, aku harus memikirkan masa depanku." Ucap gadis itu yang terlihat lebih tenang dari sebelumnya.
"Tak masalah. Tapi nasihatku ini tidak gratis tentunya." Noah menaikkan sebelah alisnya.
"Apa? kau ingin bayaran?" Kira terlonjak dengan wajah tertekuk.
"Ya. Aku ingin kau pergi bersamaku akhir pekan ini, setelah ujian akhir sekolahmu usai." Noah lalu tersenyum puas.
"Ah, ku kira kau menginginkan uang. Astaga, hampir saja aku jantungan." Ketegangan Kira kembali mereda.
"Murahan sekali jika aku meminta bayaran uang pada anak kecil sepertimu haha." Noah terkekeh.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan pergi bersamamu di akhir pekan." Putus Kira tanpa beban.
"Okay. Aku akan meminta izin pada ayahmu."
"Hmm tentu."
Selama 3 hari penuh Kira mengeluarkan kemampuan terbaiknya menghadapi ujian akhir sekolah. Terus saja ia fokus pada soal-soal. Selama 2 hari itu pula ia jarang terliha keluar dari kamar, bahkan untuk hanya sekedar sarapan bersama atau makan siang dan malam bersama. Gadis itu kadang lupa untuk makan.
Yang ia lakukan hanyalah belajar, belajar dan belajar. Kira juga tak pernah lagi memegang ponsel selama pekan ujian masuk. Benda itu tersimpan di atas rak bukunya dan mungkin sudah berdebu.
Hari pertama ujian berlalu dengan baik sesuai yang ia harapkan, begitupun hari ke dua. Sementara di hari ke tiga ia mulai lemas lunglai tak berdaya. Namun karena ini hari terakhir, Kira berdoa agar imunnya masih kuat menjalani ujian.
'Aku berharap Poseidon meminjamkan kekuatannya untukku agar aku bisa menerjang gelombang laut di hari terakhir ini.'
Perlahan Kira melangkah menuju kelas dimana ia melaksanakan ujian. Perlahan-lahan kekuatannya meningkat seiring dengan semangat yang terus bangkit. Masuk kelas, ia langsung duduk di bangku depan sesuai pembagian dua hari yang lalu. Kemudian mengeluarkan pensil dan peralatan ujian lainnya.
Tak lama berselang ujian pun dimulai. Kira mengawalinya dengan menyerahkan segalanya pada Tuhan. Seluruh kemampuannya ia kerahkan. Ujian kali ini terasa agak sulit. Memang semua soal telah ia pelajari namun tentu ada beberapa soal yang mengecoh. Dengan keyakinan penuh Kira akhirnya mampu menjawab soal kecohan itu.
45 menit berlalu gadis itu terlihat sudah mengeluarkan keringat dingin. Soal yang ia kerjakan telah selesai semua. Dengan napas tak beraturan Kira mulai melepaskan pensilnya. Gadis itu lalu bangkit sembari membawa soalnya ke hadapan petugas pengawas ujian. Setelah selesai menyerahkan ujiannya, gadis itu beranjak pergi.
Namun karena tubuh yang sudah kehilangan keseimbangan di detik-detik terakhir ujian, tiba-tiba ia terkulai lemas ke lantai. Kira memegangi kepalanya yang pusing. Gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk tetap sadar. Namun sepertinya kekuatan poseidon yang ia pinjam tadi telah diambil kembali oleh pemiliknya, akhirnya Kira terbaring di lantai tak sadarkan diri.
'Ya ampun, kau terlalu cepat mengambil kembali kekuatanmu poseidon!'
Setelah mendengar kabar bahwa Kira masuk rumah sakit, dengan cepat Noah bertolak ke sana hendak menjenguk gadis itu. Sebuah parcel berisi buah-buahan segar memenuhi tangannya. Ketika sampai di depan ruang rawat Kira, Noah langsung melesat masuk. Sebelum kemari, Zara telah memberitahukan padanya untuk langsung masuk ke dalam.
"Selamat sore Noah. Tidak masalah, duduklah dulu. Kau kelihatan lelah." Ucap Zara yang kemudian menarik sebuah kursi di sebelahnya.
Noah duduk sambil menyerahkan parcel buah-buahan yang tadi ia bawa kepada Zara. Kemudian mereka mulai fokus pada Kira yang tengah berbaring dengan wajah puncat namun tersenyum.
"Hai kak." Ucap gadis itu.
Noah menggelengkan kepala sambil tersenyum geli. Kira tetap bisa terlihat lucu bahkan dalam kondisi kutang fit seperti sekarang.
"Hai, girl. Rupanya kau terlalu bersemangat menyelesaikan ujian itu hingga lupa pada tubuhmu." Balas Noah sambil mengomentari perbuatan Kira.
"Apa kau tahu Noah, dia tak pernah bergabung untuk makan bersma di rumah. Kami selalu makan tanpanya." Celetuk Zara.
"Benarkah bibi? Ya ampun Kira." Noah menatap gadis itu sambil menggeleng.
Kira mengendikkan bahu, "I just try to do my best."
"Tapi kesehatan juga penting." Sahut Zara.
"Hmm, iya okaasan. Ini yang terakhir, aku tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku." Akhirnya Kira pasrah.
"Sudahlah, tak perlu meminta maaf. Walaupun kau harus berakhir di sini, okaasan bangga padamu. Kau seorang pekerja keras, dan itu akan membawmu menuju sukses. Be the real winner. Okaasan akan selalu mendukungmu."
__ADS_1
Kata-kata Zara membuat senyum di bibir Kira semakin mengembang. Semangat gadis itu perlahan kembali dan kekuatannya pun mulai pulih.
"Sepertinya malam ini juga aku sudah bisa kembali ke rumah kan okaasan?" Celetuk gadis itu.
"Hei, ada-ada saja. Mana bisa seperti itu? Malam ini adalah jadwal transfusi darahmu, dokter sudah menyiapkan Rh AB present dari seorang pendonor tak dikenal." Seloroh Zara tak terima.
"Huh, mengapa harus transfusi lagi okaasan? Okay baiklah. Besok aku harus pulang ke rumah kalau begitu." Tuntutnya memaksa.
"Tidak bisa seperti itu Kira." Kali ini Noah yang menyahut. "Kau harus beristirahant di sini minimal 2 hari lagi."
"Tapi aku bosan." Keluh gadis itu sambil menampakkan raut cemberut.
"Tidak masalah, Noah akan menemanimu agar kau tidak bosan. Iya kan, Noah?" Sambar Zara.
Noah mengerjap, "Eh, apa? Ohahaha, iya.. iya tentu saja. Aku akan menemanimu agar kau tak bosan."
"Yasudah. Kalau begitu aku akan tetap berbaring di sini selama beberapa hari huufftt." Ucap Kira pasrah.
Entah Kira merasakan atau tidak jika sebenarnya sang ibu sengaja mendekatkan ia dan Noah. Demi membuat Kira melupakan Bara, Noah perlu menciptakan sebuah kedekatan yang terkesan spesial.
Tak lama ponsel Zara berdering tanda ada panggilan masuk. "Ini dari otousan, okaasan akan mengangkatnya dulu. Noah titip Kira."
Noah mengangguk. Zara pun melangkah keluar dari ruang rawat itu menuju koridor rumah sakit. Tepat di sebuah kursi tunggu yang lumayan berjarak dari ruang rawat Kira, wanita itu mulai mengangkat panggilan.
"Bagaimana Kak, apa benar dia orangnya?" Tanya Zara.
"Aku sudah memastikan semuanya. Baru saja aku dan Saga mendapatkan identitas orang itu. Kami pun telah melakukan tes DNA dan hasilnya cocok."
"Ya ampun, jadi benar dialah ayah kandung Bara? Tapi bagaimana bisa?" Zara terlihat cemas.
"Setelah mengetahui siapa pria itu sebenarnya, Saga baru mengingat jika dia pernah melihat orang itu di apartemennya dulu. Orang itu tinggal di depan apartemennya. Dan suatu malam, Saga pernah meninggalkan Tahira sendiri di apartemen dalam keadaan mereka saling cekcok. Setelah pulang, Saga mendapati sebuah puntung rokok di pintu apartemen. Dia lalu bertanya pada Tahira siapa pemilik puntung rokok itu. Saga berkata jika hari itu Tahira berbohong dengan menjawab bahwa puntung itu milik tukang pipa."
"Jadi maksudnya di malam mereka cekcok itu, Tahira melakukan hubungan dengan pria itu?"
"Ya benar. Tapi Saga belum merasa yakin sebab ia ingin mengetahui bagaimana kronologi yang sebenarnya tentang hal itu. Kemungkinan Tahira diperkosa atau mungkin juga wanita itu melakukannya dengan suka rela."
"Baiklah. Mungkin hal ini sudah sangat jelas. Kak Saga hanya butuh kepastian mengenai asal usul Bara. Dan hari ini sudah terungkap jelas. Ku harap Bara bisa menerima jika orang itu adalah ayah kandungnya." Ucap Zara prihatin.
"Yah aku juga berharap begitu. Kalau begitu aku tutup telponnya, sampaikan salam rinduku pada putri kita. Aku menyayangi kalian."
Zara mendengar suara kecupan jauh dari ponselnya. Hingga spontan senyum tipis mengembang di bibirnya.
"Akan kusampaikan. Aku juga sangat menyanyangimu. Sampai jumpa malam nanti."
Panggilan pun berakhir. Zara memutuskan untuk kembali ke ruang rawat Kira. Tepat di depan pintu ruang rawat, mata Zara tak sengaja menangkap seorang wanita sebayanya tenah keluar dari ruang pemeriksaan dokter kandungan.
"Tahira? Dokter kandungan? Apa dia sedang mengandung?" Tanya Zara penuh tanda tanya.
.
.
__ADS_1
.
bersambung....