My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 79 : Anatra Bara dan Saga


__ADS_3

Akhir pekan kali itu di kediaman Ran sedang kedatangan tamu yang sudah lama tak pernah mengunjungi mereka. Lelaki yang berumur seperti Ran itu sedang duduk menyandarkan tubuhnya di ruang tamu. Tampak dari raut wajahnya seperti orang yang sedang gundah. Ran dan Zara pun memulai percakapan mereka.


"Bagaimana Saga, apa kau sudah memutuskan sesuatu untuk hidup mu kedepannya?" Tanya Ran mewakili suara Zara.


Lelaki yang adalah Saga itu terlihat menghembuskan napas perlahan kemudian menatap mereka dengan begitu pasrah seolah harapan hidupnya ia serahkan pada Ran dan Zara.


"Sepertinya aku akan tetap sendiri. Tapi jika kalian ingin memberiku masukan, maka katakanlah. Karena aku pribadi tidak bisa memilih apapun. Aku takut kejadian 11 tahun lalu terulang lagi." Ucap Saga lesu.


Ran dan Zara saling menatap satu sama lain. Kemudian kembali menatap sepupu mereka.


"Kami ingin kau menikah lagi, karena Zara punya teman yang sudah bercerai dari suaminya. Mungkin kau bisa mengenalnya dulu. Mmm maksudku mulailah dengan pendekatan." Seru Ran dengan nada yang dibuat selembut mungkin agar tidak membuat Saga merasa tersinggung.


"Aku tidak begitu yakin. Kau tahu, aku kesulitan untuk percaya pada orang lain lagi setelah insiden itu." Wajah Saga tampak tidak bersemangat.


"Ayolah Saga. Ku yakin jika kau memulainya kembali dengan niat yang baik, maka masih ada peluang untuk bahagia. Jangan terpuruk seperti ini, kami tidak sanggup melihatmu menderita." Pujuk Ran dengan melemparkan tatapan hangat untuk meyakinkan Saga.


Lelaki itu tampak mendengus lesu. Tak pernah lagi ada senyum yang mengembang di bibirnya setelah kejadian paling pahit dalam hidup menimpanya sebelas tahun lalu.


Flash Back dikit On


Ketika itu seorang lelaki datang pada Saga dan memberitahukan tentang kelakuan Tahira yang ternyata pernah melakukan hubungan badan dengan lelaki lain. Awalnya Saga tak percaya, karena Tahira selalu berada disisinya. Tapi orang tersebut memberikan bukti berupa sebuah foto pengkhianatan wanita itu.


Saga sempat memeriksa keaslian foto tersebut dan memang benar foto itu asli. Sampai ketika ia menanyakan kebenarannya pada Tahira, dan gadis itu malah pergi meninggalkan Saga lalu beberapa hari setelahnya menggugat cerai lelaki itu. Saga aslinya merasa geram dan akhirnya meragukan bahwa Bara adalah darah dagingnya hingga membuat ia melakukan tes DNA agar masalah tersebut jelas. Karena Tahira tidak mau mengatakan apapun.


Setelah hasil keluar disitulah hidup Saga mulai jatuh. Cintanya pada wanita itu berujung pada pengkhianatan. Bahkan selama 9 tahun lamanya ia berada dalam kebohongan Tahira. Bara bukan anak darinya dan Tahira benar-benar tidak mau menjelaskan apapun mengenai hal itu. Ketika di persidangan, wanita itu hanya memilih untuk tetap bercerai dengan alasan sudah tidak mencintai Saga.


Akhirnya bercerailah mereka pada usia 9 tahun pernikahan. Saat itu umur Bara menginjak 10 tahun. Karena memang Tahira hamil sebelum menikah dengan Saga. Tapi Saga bingung, kapan Tahira melakukan hal itu dengan orang lain selain dirinya? Karena jika dipikir hal itu mustahil, mereka selalu bersama dan Tahira tidak tampak melakukan hal yang aneh-aneh. Tapi sekeras apapun ia mencari tahu, semua usahanya akan berujung pada jalan buntu.


Setelah mereka bercerai Bara ikut tinggal bersama ibunya. Hingga setahun kemudian Tahira dikabarkan menikah lagi di luar negeri. Perasaan Saga semakin kecewa hingga tak terbendung. Bahkan Bara pun ikut kecewa dengan sikap Sang Ibu dan memutuskan untuk hidup terpisah. Bara kembali kepada pangkuan Saga walau ia tahu lelaki itu bukanlah ayah kandungnya. Mereka hidup bersama layaknya ayah dan anak.


Dari kejadian itulah Bara tumbuh menjadi pemuda yang berantakan tanpa kasih sayang seorang ibu. Karena sejujurnya kehadiran Saga sebagai ayah palsu tidak bisa membuatnya merasakan apa yang semestinya ia rasakan pada sosok ayah. Ada rasa bersalah dan malu ketika ia dengan lancang meminta hak pada Saga, ia malu karena ibunya telah mengkhianati lelaki itu.


Flash Back Off


"Aku ingin kembali bahagia seperti yang kalian katakan. Tapi aku mohon, carikan wanita yang betul-betul mengerti bagaimana menjalani hubungan yang jujur." Ucap Saga Akhirnya.


Ran tesenyum. "Kau tidak usah khawatir tentang hal itu. Karena wanita yang akan kami perkenalkan padamu sangat paham dengan hal itu. Bahkan dia rela meninggalkan suaminya karena telah dikhianati berkali-kali. Sama sepertimu."


"Kupercayakan semuanya pada kalian. Aku begitu berharap, kedepanya Aku dan Bara bisa bahagia bersama. Walau dia bukan anak ku. Tapi aku menyayanginya."

__ADS_1


Setelah itu mereka akhirnya menyepakati waktu untuk bertemu dengan wanita yang akan diperkenalkan dengan Saga. Lalu melanjutkan dengan percakapan ringan setelahnya. Waktu berputar begitu cepat hingga sore hari telah tiba. Saga akhirnya pamit meninggalkan kediaman Ran.


Di tempat yang berbeda Bara sedang menemani kekasihnya untuk menikmati suasana sore hari di kawasan taman kota. Begitu banyak pengunjung dan berbagai macam jajanan. Mereka merapat pada salah satu stand yang menjual dissert lezat. Kira memilh ice cream untuk mereka makan berdua di salah satu kursi taman.


"Kenapa hanya satu?" Tanya Kira senada protes setelah sadar jika ice cream yang dibeli Bara hanya satu.


"Kita akan makan ini berdua." Jawab Bara sambil tersenyum.


"Hah?" Kira tampak bingung dengan ucapa Bara hingga keningnya berkerut.


Bara tak lagi menanggapi gadis itu. Dia kemudian memerhatikan sekitar. Ternyata tempat mereka berpijak begitu sepi. Bara akhirnya menyesap ice creamnya. Melihat itu sontak membuat Kira merajuk.


"Kak, kau ini apa-apaan sih? Tadi kau bilang kita akan memakannya bersama." Kira tampak emosi. Gadis itu memutar kepalanya ke arah lain agar wajah Bara tidak nampak oleh matanya.


"Menjengkelkan sekali. Selalu saja begitu." Gerutunya seperti sedang merapalkan sumpah serapa.


Bara tertawa pelan melihat kekesalan Kira yang terkesan lucu. Ini yang selalu ia lakukan pada gadis kecil itu. Membuatnya merajuk lalu nanti ia akan kembali merayu. Setelah dirayu dan akhirnya luluh, Kira akan terlihat sangat lucu seperti kucing kecil.


Kira mulai muak karena Bara sama sekali tidak peka. Gadis itu memutuskan untuk beranjak namun seketika tangannya di cegah Bara. Ia menoleh lalu mendapati wajah Bara mendekat. Tak samapi sedetik, bibir mereka bersatu dengan Bara yang menyodorkan ice cream ke dalam mulut Kira menggunakan lidahnya.


Sontak Kira membulatkan matanya, tampak shock. Ternyata Bara memperkanalkan cara baru menikmati ice cream padanya. Perlahan kekesalan gadis itu padam dengan sendirinya. Sungguh hal tak terduga seperti ini yang ia sukai dari sosok Bara.


Kira tertunduk malu dengan apa yang sudah terjadi. Pipinya bersemu merah seperti tomat.


"Kau.. Menyebalkan.." ucapnya sambil menutup wajah.


Bara kembali tersenyum karena melihat kegemasan yang diciptakan sosok Kira. Lelaki itu memeluknya dengan erat hingga Kira memberontak.


"Kak.. aku tidak bernapas." Sahut gadis itu.


Bara melepaskan pelukannya lalu menatap gadis itu. "Kita ulangi lagi." Ucapnya.


"Apa yang akan kita ulangi?" Tanya Kira bingung.


Bara mengarahkan jarinya ke bibir Kira. Sontak gadis itu paham dan tertegun sejenak. Sebenarnya hatinya juga ingin tapi Malu rasanya berkata Iya.


Bara tahu jika kekasihnya itu malu untuk menjawab, jadi ia memutuskan untuk kembali melakukannya tanpa bertanya lagi.


Perlahan Bara menyesap ice cream yang sudah habis setengah itu, lalu menarik tengkuk Kira dan mencium gadis itu seperti tadi. Kira menutup matanya sambil menikmati ice cream dari mulut Bara.

__ADS_1


Sungguh perlakuan yang terkesan berani. Kira merasa hal ini sudah cukup jauh. Karena sepertinya Bara akan menjadi penguasa bagi diri dan perasaannya. Apapun yang Bara lakukan selalu saja membuatnya melayang dan lupa pada sekitar, seakan dunia ini milik mereka berdua.


Angin bertiup sepoi-sepoi seolah menambah kesan romatis pada adegan menikmati ice cream mereka. Cahaya jingga telah menghiasi langit tapi mereka enggan berpisah. Hari ini terasa begitu berkesan sejak awal mereka menikmati kebersamaan. Dari pagi hingga sore hari, Bara selalu memberikan kejutan pada Kira. Tanpa sadar perasaan mereka mulai terikat satu sama lain seolah saling membutuhkan sebagai obat hati.


"Kak, bagaimana jika nanti kita tidak ditakdirkan untuk bersama?" Tanya Kira tiba-tiba.


Bara sontak menatap gadis di sampingnya. Mata mereka bertemu dan Bara mulai mengerjap karena merasa bingung harus menjawab apa. Sesungguhnya dia tidak ingin memikirkan hal itu.


"Jangan katakan hal itu." Sahut Bara sedikit gugup. Tentulah dalam hatinya tidak ingin ada kata perpisahan di antara mereka karena hatinya pun sudah mulai dimasuki Kira.


"Apa kita akan selamanya begini?" Tanya Kira lagi.


"Ya. Kita akan seperti ini sampai kapan pun." Jawab Bara cepat. Ada ketakutan yang seketika melanda batinnya.


"Apa kakak sudah menyukai Kira?" Tanya gadis itu yang nampak begitu sedih.


Bara menangkup wajah kekasihnya itu lalu menatap dalam kedua matanya.


"Apa yang kau katakan? Tentu saja aku menyukai mu. Kita saling menyukai bukan?" Ucap Bara tanpa sadar.


"Tapi bukankah kau menyukai kakak ku?" Kata Kira.


"Ya. Aku memang menyukai kakak mu. Tapi itu dulu, tolong jangan bahas perempuan lain ketika kita sedang bersama. Karena aku sudah menyukai mu, aku akan menjaga perasaanmu." Ucapnya seraya memeluk gadis itu.


Kira merasa terharu dengan Bara yang ternyata sudah menyukai dirinya. Sungguh pencapaian besar dalam hidupnya. Jika sudah begini apalagi yang bisa ia lakukan selain menghabiskan waktu bersama lelaki yang disukainya itu. Sungguh mendebarkan tapi terasa hangat.


"Terima kasih." Ucap Kira sambil membalas pelukan Bara.


.


.


.


.


.


***Bersambung...

__ADS_1


jangan lupa like+komen๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰***


__ADS_2