My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 66 : Today is THE DAY


__ADS_3

Rasa sejuk membelai jiwa Ran yang sedang bersiap melangkahkan kakinya menuju hotel dimana akad nikahya dan Zara akan dilaksanakan. Lelaki itu memakai setelan jas berwarna abu-bau muda, rambutnya tertata rapi memperlihatkan keningnya dan semakin membuat aura ketampanannya menyala-nyala. Berdiri di depan cermin menatap pantulan dirinya, Ran tersenyum. Penampilannya terlihat sangat sempurna.



Kehadiran Surya di belakangnya menjadi pertanda bahwa mereka akan segera beranjak menuju hotel. Ran berjalan mengikuti langkah kaki Surya menuju mobil. BMW 760iM telah menunggu di depan gedung apartemen. Ran memasuki sedan Jerman yang dibekali dengan mesin besar berkonfigurasi V12 twin turbo yang diklaim mampu mengeluarkan tenaga sekuat 601 hp itu dan duduk dengan tenang di jok belakang. Sementara Surya mulai mengemudikannya, membelah jalanan yang masih lengang di pagi hari yang begitu cerah.


Masa berlalu dengan cepat, dan akhinya Ran menginjakkan kakinya di loby Hotel. Ia berjalan menuju Ballroom dengan pengawalan Surya. Nampak beberapa karyawan kantornya sedang berdiri di bagian pintu masuk ballroom sebagai penyambut para tamu yang akan hadir. Ran berjalan dengan senuyum menwan yang terpatri di wajahnya. Hari ini akan menjadi hari yang paling membahagiakan dalam hidupnya melebihi kebahagiaan memenangkan tender untuk perusahaan. Jelas saja, menikah dengan orang yang dicintai adalah kebahagiaan paripurna sepanjang hidup, tak ada bandingannya.


Surya berjalan mendahului sang Bos seraya mengarahkannya ke tempat duduk yang telah disiapkan untuk melaksanakan akad nikah. Ran duduk disertai senyum kebahagiaan yang tak sirna sejak ia terbangun dari tidurnya pagi ini. Dan waktu telah bergulir ke arah jam 09.15, itu artinya 15 menit lagi akad akan segera dimulai.


Di ruangan lain hotel, sedang duduk di depan meja rias dengan wajah tertekuk seorang gadis bergaun pernikahan berwana putih. Tak tampak rona kebahagiaan di wajahnya. Jika orang-orang melihat tanpa tahu apa yang dialami gadis itu maka mereka akan menyimpulkan bahwa pernikahan yang akan dilakukannya didasari keterpaksaan. Tatapannya kosong, dingin dan benar-benar terpancar kesedihan.


Zara masih merasakan sesak didadanya. Bayang-bayang Ran terus melintas tanpa henti. Membuatnya hampir muak dan ingin berlari menghampiri lelaki itu dan mengatakan maaf padanya. Sayangnya hal itu hanya sebuah angan. Padahal hari ini harusnya ia berbahagia karena sebentar lagi ia akan menjadi istri Ran. Sebenarnya Zara bahagia, namun kebahagiaan itu seolah ditutupi oleh rasa sesak yang tak terhingga didadanya. Ia terus tenggelam dalam lautan kesesakan yang tercipta didadanya hingga semakin membesar. Namun suara lembut terdengar memanggil namanya. Masih dalam lamunan, sekali lagi ia mendengar gemaan suara yang memanggil namanya. Hingga terasa sebuah tangan menepuk pundaknya dan membuat ia tersadar.


Ada setetes air mata yang menyisa dipipinya, Tahira yang melihat itu segera menghapus tanpa merusak riasan wajah Zara.


"Ayo, akadnya akan segera dimulai." Tahira membantu Zara bangkit dari kursi rias lalu membimbing gadis itu berjalan menuju Ballroom.


Di tengah langkah kaki mereka menuju Ballroom Tahira menatap ke arah gadis pengantin yang dituntunya itu. "Tersenyumlah, karena aku yakin setelah hari ini kau tak akan mampu bersedih walau kau ingin." lepas kalimat itu diucapkan, Tahira tersenyum.


Zara menatap nanar ke arah Tahira dengan masih melangkahkan kakinya. Ucapan Tahira memberinya sedikit kekuatan untuk mengulum senyum dibibirnya. Tak ada salahnya jika ia tersenyum bukan? Maka dari itu Zara mulai menampilkan senyum bahagia dari hatinya, berusaha menghilangkan rasa sesak didadanya.



Dan sampailah mereka di ruangan indah dengan berbagai riasan pengantin. Bunga-bunga terlihat begitu cantik dan hidup. Di tengah ruangan tersaji pemandangan yang sangat mengharukan bagi Zara. Patung transparan berbentuk dua orang kekasih yang saling berpelukan dengan hiasan yang menawan dan tertera namanya dan Ran berdiri kokoh disana. Dalam hati Zara merasa terharu. Matanya menelisik setiap sudut patung transparan tersebut. Jika dilihat secara seksama maka bentuk pria dan wanita di patung itu sama persis dengan dirinya dan Ran seolah patung itu memang dibuat khusus untuk mereka. Indah sekali, pahatannya detil dan sangat mengena. Ia jadi mengingat pose berfotonya dengan Ran beberapa waktu lalu ketika mereka berkunjung ke apartemen Saga dengan baju Couple hitam mereka. Memang hari itu ia sempat mengajak Ran berfoto sebelum keluar dari apartemen. Ran memeluknya dan ia menatap wajah Ran sedangkan ponselnya di letakkan di rak sepatu. Zara tersenyum penuh arti.


Detik berikutnya ia tersentak karena tanpa sadar tubuhnya telah duduk berdampingan dengan Ran. Tiba-tiba suasana hatinya berubah yang tadinya terharu menjadi tegang. Zara menatap wajah Ran, berharap lelaki itu balas menatapnya. Tapi ternyata Ran sama sekali tak mengalihkan mata indahnya itu ke arahnya. Zara kecewa. Rasa sesak itu kembali menyelimuti hatinya, sakit rasanya tak mendapatkan tatapan dari Ran. Namun seketika ia menepis rasa sesak itu dan berusaha mengulum kembali senyuman di wajahnya.


Lima menit menegangkan telah berlalu dan sekarang suasana berganti haru di ruangan tersebut. Ran telah mengucapakan janji pernikahan tersebut dan secara resmi Zara telah menjadi istrinya. Ucapan selamat membanjiri telinganya setelah memasangkan cincin berlian ke jari manis Zara dan mencium keningnya.


Tanpa berkata apapun pada gadis itu, Ran menerima semua ucapan selamat dari para karyawan dan koleganya yang hadir. Tak sedetikpun lelaki itu menatap ke arah Zara dan itu sukses menyayat hati gadis itu. Bahkan di hari pernikahannya, Ran masih saja bersikap egois seperti itu.


"Selamat sepupu, akhirnya kalian telah resmi menjadi suami istri." ucap Saga yang berdiri di hadapan mereka.

__ADS_1


Ran memancarkan senyum penuh rasa terima kasih kepada sepupunya itu karena telah membantunya menyiapkan semua ini. Dan Ran merasa sangat puas.


"Terima kasih Saga. Kau memang sepupu terbaik di dunia." sanjung Ran.


"Kau bisa saja. Ini kulakukan demi kalian, karena bagaimana pun kita adalah keluarga. Siapa lagi yang akan melakukan hal ini kalau bukan aku." ucap Saga.


"Kau benar." Ran memeluk sepupunya tersebut.


"Terima kasih sekali lagi untuk semua ini. Aku akan memberikanmu reward atas kinerjamu." ucap Ran.


Saga menepuk pundak Ran seraya tersenyum simpul. "Reward yang paling kuharapkan adalah kebahagiaan kalian. Kau tak perlu repot memberikan yang lain, kalian bahagia maka aku pun ikut bahagia." kemudian Saga melepaskan tautan tubuh mereka.


Menatap Zara dengan penuh kasih, Saga lalu mendekat ke arah adik sepunya itu dan memeluknya erat.


"Berbahagialah adik kecil ku. Kau pantas mendapatkan semua ini." ucap Saga.


Zara membalas pelukan kakak sepupu sekaligus sahabat masa lalunya itu. Terharu. Itulah perasaan Zara saat ini.


"Terima kasih Saga." ucap Zara lirih.


"Selamat Zan, today is great day for your life." ucapnnya tepat di telinga Zara.


Selepas Zara, Tahira melangkah menuju Ran. Memberi selamat dengan menjabat tangannya, hanya jabat tangan tidak lebih.


Waktu telah bergulir dari pagi menjadi sore hari menjelang malam. Sebagian besar tamu telah datang dan pergi. Di waktu itu pula Satria, Aya, Aura dan Bryan datang menghadiri pernikahan Zara. Ditempat Zara dan Ran berdiri, Faykah dan Aizuko ternyata sudah berada juag di sana. Mereka datang sekitar 25 menit yang lalu dan memutuskan untuk berbincang-bincang.


Zara tersnyum melihat kedatangan Satria dan lain-lain. "Kalian." ucap Zara.


"Selamat untukmu Zara." ucap Aura lalu memeluk sahabatnya itu di lanjutkan oleh Aya. Bryan dan Satria memberi ucapan selamat kepada Ran. Mereka juga berbincang-bincang sejenak, dan lagi Aizuko ikut dalam perbincangan mereka.


Tak lama Saga, Tahira dan Surya menghampiri mereka yang didominasi oleh pasutri. Hanya Satria dan Aya saja yang belum menikah diantara mereka.


Surya menyapa adiknya telebih dahulu. "Satira, kau disini juga?"

__ADS_1


"Iya kak, Zara kan sahabatku." jawabnya. Sontak semua orang menoleh.


"Kakak?" tanya Ran. Surya menatap Bosnya dengan senyuman.


"Iya, Satria adikku." jawab Surya.


Sontak mereka terkejut, kecuali Faykah, Aizuko, Tahira, Bryan dan Aura. Bagi mereka hal itu bukan urusan mereka karena tak mengenal Surya dan Satria dan bagi Aura dia sudah tahu, karena mereka bersepupu.


"Jadi Satria ini saudara Pak Surya yah." ucap Saga. Surya mengangguk.


"Aku baru tahu itu." ucap Ran dan Zara bersamaan, dan ucapan mereka berhasil mengundang tawa jenaka dari yang lain. Ran dan Zara seketika menjadi canggung.


"Wah, kalian memang pasangan yang serasi." celetuk Faykah.


"Kau benar, mereka sangat serasi." timpal Aura dan dilanjutkan dengan gelak tawa yang lain.


Zara tersipu malu, ada dua perasaan yang saat ini mengisi hatinya. Malu dan sakit. Malu karena candaan mereka dan sakit karena mereka tak tahu hubungan dirinya dan Ran yang sebenarnya. Ia dan Ran sedang tidak saling berbicara, lebih tepatnya Ran yang tidak mengajak Zara berbicara. Sementara Zara tertunduk Ran justru tersenyum manis dengan sedikit tawa dari bibirnya.


"Bagaimana jika kita berfoto dulu?" saran Saga. Dan yang lain menyetujui.


Posisi mereka saat ini adalah Ran dan Zara yang berdiri di tengah-tengah. Di samping Zara semua wanita berjejer, Tahira, Faykah, Aura, dan Aya. Sementara di samping Ran para lelaki berjejer, Saga, Aizuko, Bryan, Satria dan Surya. Dari semua lelaki yang berada di sana hanya Surya yang tak memikiki pasangan.


Sesi berfoto telah usai, Satria, Aura, Aya dan Bryan telah melangkah meninggalkan mereka menuju ke bawah untuk mencicipi hidangan. Aizuko dan Faykah juga melangkah meninggalkan hotel, mereka sudah terlalu lama disana jadi mereka memutuskan untuk pulang. Surya menghampiri bosnya lalu menyampaikan selamat. Ia baru memiliki waktu untuk memberikan selamat kepada bosnya itu karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya tadi.


"Terima kasih Surya." ucap Ran. "Aku berharap setelah ini kau menyusul." lanjutnya.


"Doakan saja, Bos." ucap Surya kemudian berlalu.


Ada lagi satu yang menyangkut di pikiran Zara. Mana Raka? Menagapa lelaki itu tak hadir di acara pernikahannya.


'Untuk apa ku pikirkan dia lagi sih? Karenanya aku jadi merasakan hal yang tidak sepantasnya kurasakan di hari pernikahanku ini. Ah sudahlah.' batin Zara.


HOLA MINNA-SAN!! JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK. LIKE, KOMEN, VOTE JUGA BOLEH APALAGI SHARE HEHE😁😁

__ADS_1


KARENA DUKUNGAN KALIAN ADALAH POWER BUAT AUTHOR😁😁


__ADS_2