
Naura duduk tepat di sebelah ayahnya dengan dua orang asing yang juga duduk berdampingan di depan mereka. Sore itu Naura dan Ayahnya telah berada di salah satu cafe ternama. Mereka menempati ruang privasi.
Tampak pemuda yang terlihat tampan di hadapannya itu sedang memandangi. Naura tertunduk canggung saat mengetahui tatapan itu tertuju padanya. Sementara kedua orang tua sedang berbincang ringan soal bisnis.
'Kenapa lelaki ini menatapku seperti itu, apa ada yang salah dari penampilanku?' Tanya Naura dalam hati.
Tak lama berselang makanan yang mereka pesan pun terhidang di atas meja. Naura tampak menatap tak berselera pada dissert di hadapannya. Namun gadis itu tetap menyunggingkan senyum tipis untuk menutupi isi hatinya.
"Silahkan Tuan Kitora." Ucap Ran mempersilahkan pria paruh baya di hadapannya.
"Terima Kasih Tuan Amakusa." Tuan Kitora membalas dengan ramah.
Sejenak Naura memperhatikan kedua bapak beranak di hadapannya. Dari etitut dan gaya berpakaian keduanya, Naura bisa paham jika sang Ayah memilih mereka untuk diperkenalkan dengan dirinya karena hal itu. Mengingat ayahnya menyukai orang yang menjujung tinggi etika.
Gadis itu kemudian menyendok dissertnya ke dalam mulut dengan begitu anggun walau merasa enggan.
Lirikan mata pemuda di sebelah Tuan Kitora menangkap keanggunan Naura hingga membuatnya terpanah. Lelaki itu terpaku ketika melihat ada bekasan dissert di sudut bibir Naura.
"Chotto." Sahutnya pelan sambil menyodorkan sapu tangan. "Tuan, ada noda di sudut bibir putri anda." Lanjutnya sambil menundukkan sedikit kepala kepada Ran.
Melihat itu membuat Ran semakin yakin jika dirinya tak salah pilih calon menantu.
Ran menatap putrinya kemudian menyahut sapu tangan dari pemuda itu lalu mengarahkan dagu Naura menghadapnya.
"Lain kali kau harus memperhatikan ini." Ucap Ran lembut.
"Ah, baik Otousan." Naura tersenyum canggung.
Kemudian mereka kembali menikmati dissert masing-masing. Sementara Naura dan Pemuda di hadapannya sedang sibuk pada pikiran mereka. Para orang tua malah saling memberi kode dengan mata.
"Mereka cocok." Ucap Tuan Kitora tanpa suara.
Ran mengangguk dengan antusias. Tidak sia-sia ia mengajak putrinya bertemu dengan Anak Tuan Kitora.
"Terima Kasih untuk hari ini Tuan Amakusa. Saya berharap akan ada pertemuan lagi setelah hari ini." Tuan Kitora menjabat tangan Ran lalu beralih menatap Naura sambil tersenyum. Naura balas tersenyum pula.
Akhirnya kedua pasang ayah dan anak itu pun berpisah. Ran dan Naura masuk ke dalam mobil lalu melesat meninggalkan cafe.
"Apa kau tahu kenapa Otousan mengajakmu bertemu dengan anak Tuan Kitora?" Ran mengawali perbincangan mereka di dalam mobil.
"Tidak. Memangnya kenapa Otousan?" Naura menatap ayahnya.
"Otousan ingin menjodohkan kalian." Ran berbalik sekilas pada gadis itu lalu tersenyum.
"Hmm seperti itu. Tapi mengapa harus dengan keluarga Tuan Kitora?" Tanya Naura tenang.
"Karena Otousan ingin darah Jepang mengalir dari keturunan mu."
__ADS_1
"Tapi aku kan masih punya darah Jepang darimu Otousan. Kenapa harus mencari keturunan Jepang juga?"
"Sebenarnya Otousan tidak punya alasan. Hanya saja, Otousan tidak ingin Kau bersama dengan Bara."
Degg.. Naura terkejut dan sontak membulatkan nata menatap pada sang Ayah.
"Ke.. Kenapa Otousan tidak ingin aku bersama Kak Bara?"
Ran menatap putrinya penuh dengan rasa prihatin. Ada beberapa rahasia yang ia pegang mengenai kelahiran Bara di masa lalu hingga membuat ia tidak ingin menyatukan anak sepupunya itu dengan Naura. Kemudian Ran mulai bercerita.
...*****...
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Bukannya ciuman itu yang kau mau?" Bara menatap remeh Kira yang sedang cemberut di hadapannya itu.
Setelah ciuman tadi Bara tak sekalipun melontarkan kalimat romantis yang ia harapkan hingga membuatnya majadi begitu kesal.
"Dasar mesum!" Ketus gadis itu. Bara tertawa mengejek.
"Diamlah!" Kira menatap jengah Bara yang terlihat begitu menjengkelkan di matanya.
Bara mengenghentikan tawanya kemudian mendekat ke arah gadis itu seraya memegang dagunya.
"Aku bisa menyukaimu lebih dari Naura. Jika... Kau berjanji akan melakukan apapun untukku." Senyum licik seketika terpancar dari bibir Bara.
Kira menatap sayu wajah lelaki itu. Seolah kedekatan mereka terasa sudah biasa hingga ia tak merasa berdosa dan malah dengan santainya terbuai.
"Memangnya kakak mau apa dari Kira?"
"Lalu keuntungan apa yang akan kudapatkan jika semua milikku telah menjadi milik kakak?"
"Kau.. Bisa terus berada di sampingku. Kau.. Menyukai ku bukan?" Ucap lelaki itu sambil membelai pipi Kira.
Kira terkekeh pelan. Walaupun umurnya baru menginjak 15 tahun tetapi otak gadis itu terbilang canggih sama seperti teknologi yang berkembang seiring zaman. Tentu saja percakapannya dengan Bara sangat dipahami olehnya.
"Kalau kakak bisa menyimpan rahasia kita sebagai kekasih, maka tanpa ku jawab deal lakukanlah apa yang kakak inginkan."
"Setuju! Rahasia kita akan ku simpan dengan baik." Kemudian Bara mengecup singkat bibir gadis itu.
Sebenarnya hanya ini keinginan Kira. Menjadi kekasih dari lelaki bernama Bara yang sejak kelas satu sekolah menengah pertama ia kagumi. Jangan sangka gadis itu tidak tahu akibat fatal dari perbuatannya. Bahkan ia sangat tahu. Tapi demi menikmati masa kenakalan, Kira merasa harus menyembunyikan sikap keterlaluannya ketika bersama dengan keluarganya.
"Ku rasa kau sangat berani melakukan hal ini. Bukannya Paman Ran melarang kalian menjalin hubungan kekasih dengan lawan jenis?" Sahut Bara yang telah beralih memeluk Kira.
"Memangnya kenapa jika Otousan melarang ku? Tidak bisakah aku menikmati masa remajaku?" Reaksi Kira seketika mengetus.
"Oh jadi semua ini hanya karena kau ingin menikmati masa remaja yah?" Bara memancing gadis itu. Sebenarnya ia hanya ingin tahu seberapa berani gadis di dalam pelukannya itu menanggapi.
"Tentu saja. Ku rasa kau pun sama, kak." Jawab Kira.
__ADS_1
"Menikmati yah?" Bara menyeringai dengan segala macam bayangan buruk di otaknya.
"Bagaimana jika kita bertemu setiap hari dan melakukan apapun yang menyenangkan?" Bisiknya pada telinga gadis itu.
"Tapi bagaimana caraku memanipulasi Otousan dan Kak Naura?"
Bara bersorak kemenangan dalam hati. Hanya dengan iming-iming rendahan ia bisa menjerat seorang gadis yang sok lugu seperti Kira.
"Jangan pernah bertingkah aneh di hadapan mereka. Setiap pulang sekolah, nanti aku akan menjemputmu dan kita akan pergi bersenang-senang." Jelas Bara.
"Yang benar saja! Jadwal pulang sekolah ku diketahui oleh Otousan. Harus ku jawab apa jika dia menjemputku di jam biasa lalu tidak menemukanku?" Kira menatap kesal wajah lelaki itu.
"Aku kira kau sangat cerdas. Ternyata hal sepele seperti ini tak bisa kau pikirkan jalan keluarnya." Ejek Bara.
"Bisakah kau tidak menyudutkan aku? Kau tahu hal ini sangat meyebalkan. Sepertinya kau harus belajar menjadi kekasih yang baik."
"Hufft. Sudahlah. Jika diteruskan maka kita akan sampai ke rumah mu tengah malam. Baik, begini. Kau bilang pada mereka bahwa setiap hari ada kelas tambahan. Di jam pulang sekolah kita akan pergi bersenang-senang lalu kau akan kembali ku pulangkan setelah sore menjelang malam."
"Tidak buruk. Aku merasa hal itu sedikit menyenangkan. Aku setuju." Kira tersenyum lebar menatap Bara.
Kemudian dengan cepat Bara kembali menyahut bibir gadis itu hingga tubuh mereka setengah terbaring di dalam mobil. Hingga kebuasan Bara menenggelamkan Kira dalam kenikmatan yang semala ini membuatnya penasaran. Ciuman dalam tempo yang lama.
Bara sebenarnya hanya ingin memanfaatkan gadis ini demi kepuasannya. Karena jika menunggu Naura, gadis yang ia sukai itu untuk melakukan hal nekat sebagaimana Kira maka rasanya akan seperti menunggu gabus tenggelam di tengah lautan lepas.
Sesungguhnya mereka telah berada dalam kegelapan yang tercipta akibat hawa nafsu masing-masing. Kira yang sengaja menjatuhkan dirinya ke dalam lubang kebinasaan hanya untuk menikmati masa muda yang sifatnya fana dan berdampak buruk pada masa depannya, dan juga Bara yang terbakar oleh godaan gadis kecil nekat seperti Kira.
"Kau tahu, Naura tidak akan melakukan hal ini." Ucap Bara dengan napas terengah.
Kira mengerucutkan bibirnya yang masih basah akibat ulah Bara.
"Kak Naura terlalu baik dan penurut pada ucapan Otousan jadi dia tidak akan pernah merasakan hal ini. Dan aku tegaskan pada kakak, jangan pernah menyebut nama perempuan lain ketika bersama ku. Aku tidak suka."
Kecemburuan Kira yang ditampakkan secara terang-terangan membut Bara semakin terbakar hawa napsu. Lelaki itu kembali mengulangi kegilaannya di bibir Kira. Entah sudah berapa kali mereka melakukan hal itu.
"Kau ternyata begitu menggairahkan anak kecil. Ku peringatkan padamu, jangan lakukan hal ini pada selain diriku. Mengerti?" Ucap Bara sambil mengusap bibir Kira.
Gadis itu mengangguk perlahan dengan senyum puas yang menyertainya. Benar-benar hari ini menjadi hari yang paling mengesankan dalam hidup mereka berdua.
.
.
.
.
.
__ADS_1
***Bersambung.......
Jangan Lupa Like+Komen๐๐***