My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 31 : Dua Hati Yang Patah


__ADS_3

Sementara Zara sedang berbaring memegangi ujung selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Perasaan gadis itu memang sudah sedikit membaik namun tidak dengan pikirannya. Ia terus memikirkan Ran, kenapa dan bagaimana bisa pria itu membentak dirinya padahal jika dipikir tak ada yang salah dari pertanyaan yang dilontarkannya.


Tak lama air matanya kembali mengalir deras. Ia membenamkan wajahnya pada bantal. Hingga satu jam berlalu akhirnya ia merasa lelah dan tegang pada kepalanya. Zara meringis sesaat. "Mungkin dia akan senang dan tak akan pedulu jika aku sakit." ucapnya lirih. Zara memperbaiki posisinya lalu memutuskan untuk menutup mata.


...


Pagi hari tiba dengan seberkas cahaya matahari yang menembus masuk ke dalam kamar gadis itu melalui jendela tanpa permisi. Zara membuka mata perlahan. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan nanar. Napasnya terengah-engah, dan perasaannya semakin tidak enak.


Berkali-kali gadis itu mencoba mengatur napas agar bisa normal. Zara mulai menelan ludahnya menahan rasa pusing yang tak kunjung mereda. Tak lama ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk. Zara meraih ponsel yang berada di bawah bantal dan melihat nama pemanggil yang ternyata adalah Satria.


"Halo Satria." ucap Zara lirih.


"Zara, dimana kau? Kenapa tak masuk kuliah hari ini? Apa kau sakit?" tanya Satria bertubi-tubi karena merasa sangat khawatir.


"Aku.. Aku sedang tidak enak badan. Kepalaku sangat pusing." jawab Zara masih dengan nada lirih.


"Astaga Zara, kenapa tak bilang. Aku sangat mencemaskanmu! Sekarang aku akan pergi melihatmu. Tunggu aku." ucap Satria terburu-buru.


"Eh tunggu Satria!" Zara mencegah.


"Ada apa?"


"Aku tidak ingin merepotkan."


"Heh kau ini. Aku sama sekali tidak merasa kerepotan hanya karena membantu sahabatku. Jadi, tunggulah aku. Mengerti?"


"Mm, baiklah." Zara tak bisa menolak.


Sejak kemarin mereka sudah lebih dekat setelah Zara mencurahkan isi hatinya yang kalut. Satria merasa sangat kasihan pada gadis itu yang membuatnya seperti harus bertanggung jawab dan harus tetap berada di sampingnya. Sepulang dari danau Satria juga mengantarkan Zara pulang ke rumahnya demi memastikan agar gadis itu baik-baik saja.


Setengah jam kemudian Satria muncul dari balik pintu. Zara yang berbaring hendak membangunkan tubuhnya, namun dengan cepat dicegah oleh Satria.


"Berbaringlah!" ucap Satria.


"Tapi aku.." ucapan Zara dihentikan oleh Satria.


"Aku akan membantmu." ucap Satria.


Zara hanya mengangguk pelan. Satria pun segera membuka makanan yang ia bawakan untuk gadis itu dan hendak menyuapinya.


"Aku bisa sendiri." ucap Zara.


"Dalam keadaan lemah pun kau tetap saja sok kuat. Sudahlah, biar aku yang melakukannya!" ucap Satria.


"Baiklah." gumam Zara.


Satria pun menyuapi Zara suapan demi suapan. Gadis itu menerimanya dengan pasrah. Sesaat mata Zara memandang wajah Satria yang bisa dibilang tampan itu. Tampak ketulusan di wajah lelaki pendiam di hadapannya, timbul sedikit kekaguman di hati Zara.


"Nah, satu suapan lagi." ucap Satria yang membuat Zara tersadar dari lamunannya.


Gadis itu melahap suapan terakhir lalu menelannya dengan cepat. Satria menyodorkan sebotol air mineral, Zara pun meminumnya. Zara memilih bersandar di sandaran ranjangnya sementara Satria duduk di tepi ranjang.


"Apa ada dosen yang masuk hari ini?" tanya Zara khawatir.

__ADS_1


"Kau tenang saja, tidak ada yang masuk hari ini." jawab Satria.


"Ah, syukurlah."


Satria menatap gadis itu dengan penuh harap, rencananya hari ini ia akan mengungkapkan perasaannya. Karena ia merasa setelah mengenal sifat asli Zara kemarin, keberaniannya mulai muncul. Walaupun ia tak yakin gadis itu akan menerimanya tapi paling tidak dia harus tahu perasaannya. Perlahan Satria mulai memegang tangan Zara. Seketika Zara tersentak.


"Satria?" Zara memicing.


"Zara.. Aku.. Aku ingin mengatakan sesuatu." tatapan Satria semakin lekat.


"Apa?" Zara dengan polosnya bertanya.


"Bagaimana jika ada lelaki yang menyukaimu dan menyatakan perasaannya padamu? Apa kau akan menjauhinya?"


Zara tak merasa ada yang aneh dengan pertanyaan Satria, ia berpikir wajarlah jika Satria mencurahkan isi hatinya, toh mereka sahabat.


"Jika ada lelaki yang menyukai ku dan menyatakan perasaannya maka aku akan berkata padanya 'aku sudah punya kekasih'. Aku tak akan menjauhinya, jika lelaki itu mau dia bisa menjadi temanku." jawab Zara enteng.


Deg.. Perasaan Satria seketika hancur mendengar ucapan Zara yang mengatakan bahwa dirinya telah memiliki kekasih. 'Apa? Kekasih? Sejak kapan dia..' ucap Satria dalam hati. Dengan terpaksa Satria menampilkan senyum agar gadis itu tak curiga padanya, karena saat ini ia sudah merasa patah hati.


"Apa kau punya kekasih?" tanya Satria menutupi rasa sakit hatinya.


"Ya, orang itulah yang kuceritakan kemarin padamu." Zara mendadak sedih.


Satria semakin tersentak, ia merasa dunia sedang membercandai dirinya. Kenyataan bahwa Zara telah memiliki kekasih ditambah lagi kekasihnya itu adalah orang yang diceritakannya kemarin, hal itu membuat Satria merasa berada di posisi yang salah. Seketika Satria mengurungkan niatnya untuk menyatakan perasaanya pada Zara.


"Oh astaga. Apa pria itu tampan?" tanpa sadar Satria bertanya.


"Bagiku dia yang paling tampan dari semua lelaki yang pernah ku kenal." lagi-lagi ucapan Zara semakin menyayat hati Satria.


"Yah, dan hal yang paling aku sukai darinya adalah.. Dia adalah sepupuku."


Satria membulatkan matanya, dan samakin membuat hatinya teriris. Entah sudah berapa irisan, yang jelas ia merasa hatinya sudah benar-benar hancur mendengar kenyataan yang terlontar dari mulut gadis itu.


Dengan senyum terpaksa Satria membalas. "Wah, kau sangat beruntung."


"Sesaat aku merasa beruntung tapi ketika kejadian kemarin terjadi seketika perasaanku padanya mulai luntur." Zara menunduk.


Satria bergeming, ucapan Zara kali ini membuatnya seperti mendapatkan cahaya dalam kegelapan. Seketika irisan di hatinya terobati. "Bersabarlah! Mungkin itu yang terbaik." Satria menepuk pelan pundak Zara.


Gadis itu hanya mengangguk sedih dengan tangannya yang masih digenggam oleh Satria. Tak lama berselang tiba-tiba air mata Zara kembali mengalir.


"Eh, hei.. Ada apa?" Satria terkejut.


"Entah mengapa jika mengingatnya aku merasa sangat sedih." ucap Zara lirih.


Tak tega melihat gadis itu menangis membuat Satria seketika memberanikan diri untuk memeluk. Dengan lembut Satria mengelus pundak Zara agar merasa lebih baik. Dalam pelukan hangat Satria, Zara meluapkan semua kesedihannya.


"Tak apa, jika menurutmu dia hanya membuatmu terluka maka lupakan saja dia. Aku akan selalu bersamamu!" ucap Satria berniat menghibur hati Zara dan juga mengambil kesempatan untuk menggantikan lelaki yang dicintai gadis itu.


"Aku tak sanggup jika harus melupakannya."


"Kau sanggup Zara!"

__ADS_1


"Tapi aku tak tahu bagaimana caranya."


"Jika kau benar-benar ingin melupakannya, aku akan membantumu." Satria melepaskan pelukannya.


"Bagaimana bisa?" Zara menghapus air matanya.


"Bukalah hatimu untukku!" ucap Satria tanpa ragu.


Zara menaikkan sebelah alisnya berusaha mencerna ucapan lelaki itu. "Maksudmu?"


"Berusahalah untuk mencintaiku, dengan begitu kau akan melupakan kekasih mu itu."


"Apa kau bercanda?"


"Tidak Zara! Aku sedang serius."


"Tapi, bukankah kau tidak menyukaiku? Karena kita hanya sahabat?"


"Kau salah besar Zara!"


"Maksudmu?"


Satria menghela napas untuk mengungkapkan yang sebenarnya. "Sejak pertama kita bertemu, aku sudah menyukaimu."


Deg. Zara terkejut. Kenapa lelaki itu bisa menyukai dirinya dan lebih parahnya lagi kenapa ia tak pernah merasakan hal itu. Zara tak berkutik, tak ada kata yang bisa ia ucapkan lagi.


"Bagaimana? Apa kau setuju?" tanya Satria.


"Aku.. Sebenarnya ini.." kalimat Zara tersendat, "Hah, begini Satria.. Aku masih mencintai Kak Ran, dan sulit sekali bagiku untuk melupakannya, dia sudah menjadi bagian dari hidupku."


"Sulit bukan berarti tidak bisa. Apa kau masih mau memberikan kesempatan pada orang yang telah menyakitimu?" ucap Satria datar.


"Aku yakin dia kan datang dan meminta maaf padaku. Atau jika tidak, aku yang akan meminta maaf padanya." ucap Zara pelan dengan nada keraguan.


"Jangan menghibur dirimu Zara. Bagaimana jika ia sama sekali tidak datang untuk meminta maaf?"


Zara menarik napas, ucapan Satria ada benarnya. Sesaat ia mulai mempertimbangkan ucapan lelaki itu.


"Baiklah, begini saja. Jika tiga hari kedepan tak ada tanda-tanda baik dari hubunganku dengan Kak Ran, maka kau berhak menggantikan posisinya. Tapi jika hubunganku membaik, kau harus mengubur perasaanmu dalam-dalam."


"Apapun itu, aku akan menerimanya." Satria mengangguk pasti.


...


Di kantornya Ran terlihat lebih lesu dibandingkan hari-hari kemarin. Pikirannya dipenuhi oleh gadis yang kemarin telah diusirnya. Alhasil, gadis itu meninggalkan apartemen. Awalnya ia tidak ingin memikirkan hal itu, tapi entah mengapa Zara terus terbayang di kepalanya. Ia merasa sangat sepi tanpa kehadiran gadis itu, ia sadar Zara telah mengisi hari-harinya.


"Ternyata aku benar-benar bodoh, bisa-bisanya aku memarahinya hanya karena ia bertanya. Astaga aku jahat sekali. Baiklah, hari ini aku akan menjemputnya." gumam Ran.


.


.


.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2