
Zara berbaring meringkuk di bawah selimut dengan air mata yang menganak sungai. Kejadian tengah malam tadi membuatnya tak bisa menahan rasa sesak akibat Ran yang tak menggubrisnya sepanjang pulang dari acara pernikahan mereka. Malam pertama yang di harapkan Zara tak terjadi malam ini hingga sekarang waktu telah menjelang subuh. Ia tidur di kamar yang berbeda dengan Ran setelah kejadian tadi malam.
Flash Back On
Sepulang dari hotel dua puluh menit yang lalu Ran tak mengeluarkan sepatah katapun membuat Zara merasa sedikit berang. Setelah mengganti pakaian pengantinnya dengan baju tidur, Zara masuk ke dalam kamar Ran. Ran duduk di tepi ranjang membelakangi pintu. Zara menghampiri dan ikut duduk di samping Ran.
"Kakak, apa kau masih marah?" sambil memegang tangan Ran.
Ran tak menjawab sama sekali. Lelaki itu malah berdiri dan melepaskan kaosnya lalu meletakkan benda itu di dalam keranjang pakaian kotornya. Zara ikut berdiri.
"Kakak maafkan aku." ucap Zara gemetar menahan tangis sambil memeluk Ran dari belakang.
Ran melepaksan pelukan Zara perlahan, tak menoleh dan tak menjawab. Lelaki itu kembali berjalan ke kamar mandi. Zara semakin terisak dan ikut melangkah. Ia tak ingin menyerah untuk mendapatkan maaf dari Ran hingga Ran masuk ke dalam kamar mandi. Zara ikut masuk karena pintu tak terkunci, jika sebelumnya Zara tak pernah melakukan hal ini maka sekarang demi maaf dari Ran ia nekat masuk, apapun yang terjadi. Lagi pula status mereka sekarang adalah suami istri, jadi takan ada masalah jika Ran melakukan sesuatu padanya.
Ran tersenyum kecil, wajahnya menghadap ke tembok sehingga tak nampak dari pandangan Zara. Sebenarnya bukan apa-apa ia mendiami gadis itu, hanya iseng. Ia ingin tahu sampai dimana Zara akan mengejarnya. Dan ternyata gadis itu mengikutinya masuk ke dalam kamar mandi, sungguh Ran merasa geli di bagian perutnya. Ingin rasnaya ia tertawa sepuas hati, tapi mengingat sekarang ia masih mengisengi Zara jadi ia menahan tawanya.
Zara berdiri di belakang Ran sembari menghapus air matanya. "Kakak, Zara mohon. Maafkan Zara. Aku janji akan menuruti semua yang kakak perintahkan pada Zara." ucapnya sambil menangis.
Ran semakin tergelak dalam hati, ingin rasanya ia memeluk gadis itu. Menggemaskan menurutnya. Tapi egonya belum bisa dihilangkan, ia masih ingin mengisengi gadis itu.
Karena tak mendapat jawaban, Zara akhinya memeluk tubuh Ran dari belakang. Ran tersentak, hasratnya tiba-tiba naik hingga ke ubun-ubun. Akhirnya ia melepaskan tangan Zara dari pinggangnya.
"Istirahatlah!" ucap Ran datar tanpa menoleh.
Sudah cukup. Zara tak sanggup lagi, ia lelah meluluhkan hati Ran yang terasa seperti batu. Zara membalikkan tubuhnya hendak keluar. "Kalau kakak tidak mau memaafkan Zara, yasudah Zara pergi." ucapnya sebelum keluar dari kamar mandi.
Ran tertawa kecil, keisengannya berhasil. Sekarang waktunya ia menyudahi semua sandiwara diam-diamannya pada gadis itu. Jujur, Ran merasa sedikit kasihan malihat Zara menangis. Ran kembali tersenyum. Siapa yang tidak bahagia telah menikah apalagi dengan orang yang dicintai.
Setelah selesai membersihkan diri, Ran akhirnya keluar dari kamar mandi. Membuka lemari dan mengambil pakaian untuk dikenakan malam itu.
Sedangakan Zara telah beringsut ke bawah selimut dengan perasaan hancur.
Flash Back Off
__ADS_1
Suara kenop pintu terbuka membuyarkan tangisan Zara, ia hendak bangkit tapi ingat jika yang membuka pintu pasti Ran. Untuk apa lelaki itu menemuinya setelah semua yang ia lakukan tadi, pikir Zara. Akhirnya ia mengacuhkannya seiring langkah kaki Ran yang terdengar semakin mendekat.
"Sayang." ucap Ran sembari mengelus pucuk kepala Zara.
Tubuh Zara seketika menegang hebat dari ujung kepala sampai ujung kaki. Baru kali ini ia merasa tegang sehebat itu ketika di sentuh oleh Ran apalagi Ran memanggilnya dengan kata 'sayang'. Zara semakin merapatkan matanya yang terpejam, air matanya tak berhenti mengalir.
"Maafkan Kakak, yah." ucap Ran lagi. Lelaki itu menarik selimut yang menutupi wajah Zara yang sedang terbaring membelakanginya.
Zara hanya terisak, ia tak bisa lagi mengendalikan emosinya. Mengapa Ran tiba-tiba datang menghampirinya dan meminta maaf. Ran menarik gadis itu perlahan hingga bangkit dan menatap dirinya. Lalu memasukkan Zara ke dalam pelukan hangatnya.
"Maafkan kakak yah." sekali lagi lelaki itu berucap.
Zara mengangguk dalam pelukan lelaki itu sembari menangis. Otaknya tak habis pikir dengan kelakuan Ran saat ini. Dia benar-benar merasa bingung.
"Sekarang kakak mau menagih janji darimu." ucap Ran dengan senyum jenaka tercetak di wajahnya.
Zara terkejut lalu melepaskan tautan tubuh mereka. Dengan masih berlinang air mata gadis itu menautkan kedua alisnya. "Janji apa?"
"Apa kau lupa yang kau katakan di kamar mandi tadi malam?" Ran menelengkan kepalanya.
"Kakak, Zara mohon. Maafkan Zara. Aku janji akan menuruti semua yang kakak perintahkan pada Zara."
Zara kemudian menatap Ran lalu berkata "Kakak ingin apa?"
Ran menarik sudut bibirnya dan menciptakan senyuman penuh arti. "Kakak mau meminta hak kakak sebagai suami mu. Sekarang."
Zara terperanjat. Seketika tubuhnya gemetar hebat, ia gugup. Sebenarnya bukan ini janji yang ia maksud. Ia kemudian mengalihkan pandangannya dari Ran lalu mengerjap-ngerjapkan matanya seolah menghilangkan rasa gugup yang menyelimutinya.
Ran meraih dagu gadis itu lalu mengarahkannya kembali tepat di depan wajahnya. "Kau sudah janji kan?" Ran menaikkan sebelah alisnya.
"Ttt.. Tapi kak. Bu.. Bukan itu maksudku." Zara menunduk, malu.
"Aku memaksa." goda Ran.
__ADS_1
"Aaaahh, kakak. Jangan seperti itu." ucap Zara dengan nada manja. Sekarang gadis itu tak lagi menangis, akibat kejahilan Ran kesedihannya sirna.
"Memangnya tidak boleh yah suami meminta hak ke istrinya?" celetuk Ran.
"Mmm... Mmm.. Aa.. Anu.." ucap Zara gelagapan. Bibirnya tak sanggup merangkai kata untuk menjawab ucapan Ran.
Sementara Ran dibuat gemas dengan tingkah laku istri kecilnya ini. Tanpa membuang masa lagi, Ran menangkup wajah Zara lalu menatap wajah Zara dengan pekat agar gadis itu terhipnotis oleh tatapan mautnya. Dan benar saja, pandangan mereka bersatu seiring pergerakan Ran yang membaringkan tubuh Zara perlahan.
Sekarang posisi mereka telah sempurna berbaring di atas ranjang dengan Zara yang berada di bawahnya. Zara memegang pergelangan tangan Ran yang sedang menangkup wajahnya itu, tubuhnya diselimuti getaran aneh. Hal ini baru pertama kali dilakukan Ran padanya. Sejenak Zara menarik nafas lalu menelan salivanya. Apa yang akan terjadi, maka terjadilah. Ia pasrah.
Ran mendekatkan wajahnya pada wajah gadis dibawahnya, sekarang dirinya sudah merasa leluasa melakukan apapun pada Zara. Karena sekarang Zara adalah istrinya, istri yang ia cintai.
Bibir Ran mendarat perlahan di bibir ranum Zara, gadis itu menutup mata. Membiarkan Ran memasukkan lidahnya sembari menikmati permainan lelaki itu. Ran melakukan pemanasan selama tiga puluh menit tanpa melewatkan satu titik pun dari tubuh polos Zara. Entah sejak kapan tubuh mereka sudah tidak mengenakan apapun. Sementara Zara hanya mendesah menikmati permainan Ran, Ran bermain dengan lembut sehingga membawanya ke dalam kenikmatan seolah dunia berhenti berputar.
Ran memasukkan miliknya dengan perlahan, sementara Zara mencengkaram pundak lelaki itu. Sejenak Ran merasa kesulitan memasukkan miliknya ke dalam sana, milik Zara terlalu kecil. Kemudian ia berhenti sejenak sembari melebarkan paha Zara agar lebih leluasa.
"Maafkan kakak yah, mungkin rasanya agak sakit." bisik Ran di telinga Zara. Gadis itu hanya mengangguk pasrah. Ran tersenyum sekilas, kasihan melihat wajah Zara yang menahan sakit. Tapi jika tidak segera dituntaskan maka mereka tidak akan mencapai kenikmatan, jadi walaupun kasihan Ran tetap melanjutkan aksinya.
Perlahan tapi pasti benda itu menghujam milik Zara, gadis itu mendesah kesakitan campur kenikmatan. Tak lama terdengar suara sobekan diikuti ringisan dari Zara, gadis itu menangis menahan rasa sakit akibat hujaman Ran yang ternyata telah menyobek selaput darah miliknya. Sekali lagi Ran melayangkan permintaan maaf pada gadis itu karena telah merenggut mahkotanya.
'Maafkan kakak Zara, ini malam pertama kita menjadi sepasang suami istri jadi aku perlu malakukan ini. Mmm maksudku subuh pertama bukan malam pertama, hahaha.' kikik Ran dalam hati.
Selepas mencapai klimaks secara bersamaan, Zara akhirnya tertidur duluan. Gadis itu sangat lelah, walaupun permainan Ran sangat lembut tapi itu cukup membuatnya kehilangan banyak energi. Sementara Ran, ia menatap gadisnya itu dengan senyuman bahagia. Dalam hati ia mengucapkan beribu syukur karena mendapatkan gadis yang masih perawan. Kemudian lelaki itu memeluk tubuh Zara dan memejamkan matanya.
Sungguh subuh yang indah bagi mereka berdua. Malam pertama yang harusnya di lakukan oleh pasangan yang baru menikah disulap oleh Ran menjadi subuh pertama, entah mengapa lelaki itu ingin mengukir sejarah baru dengan mengubah malam pertama menjadi subuh pertama. Ide itu datang begitu saja di kepalanya. Menurutnya, subuh lebih nikmat dibandingkan tengah malam.
Bersambung.....
Ngakak aku bacanya๐๐
Hola Minna๐๐
Jangan lupa tinggalkan jejak yah๐๐
__ADS_1
Dukungan kalian adalah power buat Author๐๐
Sayang kalian semua๐๐๐