My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 30 : Ran


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu, kini Zara tengah berada di semester satu perkuliahan. Ia memasuki jurusan menejemen bisnis di universitas yang sama dengan Ran. Namun pastilah mereka tak akan pernah pergi kuliah bersama karena Ran telah lulus dari sana.


Awal masuk di kampus tersebut Zara mendapatkan beberapa teman baru dan selalu saja ada yang menjadi sahabatnya. Setelah perpisahannya dengan Faykah beberapa bulan lalu kini Aura menggantikan posisi Faykah. Aura menjadi sahabat Zara yang baru.


Di kantin kampus Zara dan Aura tengah beristirahat sembari menikmati cemilan yang mereka pesan tadi ditemani milkshake. Tak berapa lama, seorang lelaki yang merupakan sepupu Aura sekaligus teman kelas mereka datang menghampiri.


"Bisakah aku bergabung?" tanya lelaki itu.


"Ah Satria, duduklah." jawab Aura.


Satria pun duduk tepat di samping Zara. Gadis itu tersenyum padanya seperti biasa karena memang mereka sering berkumpul bertiga seperti ini. Bisa dibilang mereka bertiga bersahabat. Tapi tanpa Zara ketahui, Satria menaruh perasaan padanya. Aura tahu jika sepupunya itu menyukai Zara, tapi hal itu tak ia beritahukan pada gadis itu karena Satria melarang. Satria beralasan jika Aura membaritahu Zara tentang perasaannya maka pasti gadis itu akan menjauhinya. Jadi Aura memutuskan untuk tidak mengatakan hal itu demi kenyamanan Satria.


Beberapa detik berselang, Aura membuka pembicaraan. "Zara, pulang nanti mau nonton tidak? Ada dorama Jepang terbaru." ucap Aura. Rupanya Aura juga salah satu orang yang menyukai Jejepangan, bahkan keluarganya memiliki restoran Jepang kecil di kawasan pusat kota.


"Benarkah, sepertinya aku sedang tidak sibuk." jawab Zara.


"Baik, kita akan pergi. Aku sudah punya tiga tiket. Satria, apa kau juga mau ikut?" Aura menatap Satria.


"Kau mengajakku? Wah baiklah, aku mau." jawab Satria.


"Jam 4 sore aku akan menjemputmu Zara. Jadi bersiaplah." ucap Aura pada Zara.


"Okay." balas gadis itu singkat sembari kembali melahap cemilannya.


Detik itu Satria mulai memerhatikan Zara seperti yang biasa ia lakukan sejak pertama kali mengenal gadis itu. Walau tak pernah ada percakapan penting di antara mereka, namun Satria sudah merasa sangat senang hanya dengan duduk di samping gadis itu.


Kini Zara beralih memainkan ponselnya, sejenak ia tersenyum tipis yang membuatnya terlihat begitu manis. Satria tentunya menangkap ekspresi itu, seketika ia merasa terkejut. Selama ia mengenal Zara baru kali ini gadis itu menampakkan senyum tipis yang mengagumkan. Satria merasa semakin jatuh hati pada gadis itu, bagaimana tidak selain cantik Zara juga baik hati.


Selama ini Satria tak pernah bertemu dengan gadis semcam Zara ini kecuali Aura, namun ia tak bisa menyukai sepupunya tersebut karena mereka berdua sepakat hanya akan saling menganggap saudara saja.


"Ada apa gerangan, Zara. Mengapa terus tersenyum memandangi ponsel?" tanya Satria.


Zara dan Aura sontak menatap ke arah lelaki itu bersamaan. "Hei, jangan berpikir macam-macam. Aku hanya sedang membalas pesan." ucap gadis itu.


"Jika hanya membalas, kenapa harus tersenyum lebar seperti itu?" ucap Satria menggoda Zara.


"Kenapa jika aku tersenyum? Apa itu membuatmu terpesona, hahahaha.." gadis itu tertawa. Satria dan Aura juga ikut tertawa.



Sepulang dari kampus, Zara mengunjungi kantor Ran hendak mengajak lelaki itu untuk makan siang. Gadis itu melihat Ran sedang fokus dengan layar di hadapannya. Zara menghampiri, "Kak, apa sibuk sekali?" tanyanya.


Ran menoleh sekilas, "Ya, aku masih sangat sibuk."


"Benarkah? Tapi kau pasti lapar kan? Bagaimana jika kubelikan makanan lalu membawanya ke sini?" Zara memberi saran.


"Boleh." jawab Ran singkat kemudian kembali menatap layar laptopnya.


Zara belalu menuju restauran yang ada di lantai dasar kantor tersebut. Setelah selesai membeli makanan gadis itu langsung beranjak kembali ke ruangan Ran. Ketika masuk ia sudah mendapati lelaki itu sedang duduk beristirahat di sofa. Zara meletakkan makanan yang ia beli di atas meja sembari duduk di samping Ran.


"Makanlah dulu." ucap Zara. Ran mengagguk pelan sembari memijat pelipisnya. Melihat itu Zara sontak merasa cemas.


"Kepalamu sakit lagi? Mau kupijit?" tanya gadis itu.


Ran hanya mengangguk sekilas. Zara mendekatnkan dirinya pada lelaki itu dan mulai memijat kepalanya perlahan-lahan. Sudah beberapa hari Zara melakukan hal itu pada Ran, entah ada apa dengan kekasihnya itu. Bahkan Ran juga belakangan ini terlihat cuek dan dingin, membuat Zara terkadang merasa canggung. Namun gadis itu tak mau berpikir yang tidak-tidak, ia hanya bisa berasumsi bahwa Ran tengah sibuk dengan pekerjaan yang bebannya sangat berat.


Sementara hubungan mereka belakangan ini juga mulai merenggang. Ran tak pernah lagi mencium atau memeluk gadis itu bahkan Ran sangat jarang berbicara. Zara merasa aneh, namun karena ia menyayangi lelaki itu maka bagaimanapun keadaanya ia harus tetap melayaninya dengan sepenuh hati.

__ADS_1


Setelah selesai memijat kepala Ran, gadis itu menyodorkan makanan lalu mereka pun makan bersama. Di sela-sela makan mereka, Zara mencoba membuka suara. "Kak, kenapa kau jarang berbicara belakangan ini?" tanyanya pelan.


Ran menatap datar wajah gadis itu, entah kenapa pertanyaan itu membuatnya kesal. Ia pun memilih untuk kembali memakan makanannya tanpa ingin menanggapi.


"Apa kau tahu, aku merasa begitu aneh pada sikapmu yang seperti itu. Belakangan ini kau membuatku takut bersikap." ucap Zara yang hanya ingin sekedar menyampaikan isi hatinya.


Mendengar itu Ran merasa benar-benar emosi, ia seketika menyimpan makanannya di meja dengan keras. Zara tersentak. "Kenapa kau terus saja bertanya bagitu? Apa kau tidak paham jika aku sedang lelah?" di luar dugaan, lelaki itu membentak Zara.


Sontak gadis itu menunduk, tak lama air mata pun terlihat mengalir di pipinya. Melihat itu Ran sama sekali tak merasa kasihan dan malah memutuskan untuk beranjak dari sofa menuju meja kerjanya. "Keluarlah!" perintah Ran dengan kasar.


Zara berusaha menahan tangisnya. Dengan cepat gadis itu bangkit lalu beranjak dari ruangan Ran. Melihat itu Ran hanya mendengus kesal, entah mengapa beberapa waktu belakangan ia merasa lebih cepat emosi. Kemarin-kemarin ia masih bisa menahan emosinya namun hari ini rasanya ia tak sanggup lagi membendung.


Zara memilih untuk pulang ke apartemen Ran lalu mengemasi semua pakaiannya. Ia berniat untuk pulang ke rumhnya yang sudah lama ia tinggalkan. Sakit hati menyelimuti relungnya kali ini.


Bayangan Ran yang tadi membentaknya di kantor sangat menyayat harinya, bagaimana tidak ia sudah bersuah payah untuk melakukan yang terbaik demi lelaki itu agar tetap nyaman. Lalu tanpa ia sangka ternyata lelaki itu malah memarahinya. Sontak Zara merasa ragu pada Ran, kepercayaannya seketika menguap.


"Jika dia menyayangiku, kenapa sikapnya begitu kasar. Bahkan tadi dia mengusirku, hiks.. Hiks.." ucap Zara sembari menangis sesegukan.


Sekarang ia tengah membersihkan seluruh rumahnya yang sangat berdebu akibat terlalu lama ditinggalkan. Setelah semuanya selesai ia mulai membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan ada panghilan masuk. Tampak nama Aura terpampang di layar ponselnya, gadis itu pun mengangkat panggilan Aura.


"Kenapa Au?" tanya Zara.


"Aku sudah di depan apartemenmu Zara, cepatlah keluar!" pinta Aura.


"Hah? Astaga Aura, aku lupa jika kita akan pergi sore ini. Em, aku sedang tidak di apartemen, aku.. Aku di rumah sekarang." Zara memukul jidatnya.


"Aduh Zara kenapa kau baru mengatakannya? Sekarang kirimkan aku alamat rumahmu. Biar aku menjemputmu di sana."


"Tidak usah, biar aku pergi sendiri saja." tolak Zara.


"Yasudah, aku dan Satria menunggumu di sana."


"Hei, aku sudah datang." ucap Zara.


"Eh, akhirnya datang juga. Ayo kita masuk." ucap Aura yang langsung bangkit diikuti oleh Satria.


Ketika hampir memasuki bioskop tiba-tiba ponsel Aura berdering menandakan pesan masuk. Aura membacanya, lalu menarik nafas pelan. "Sepertinya kali ini aku takan ikut menonton." ucapnya lesu.


"Kenapa?" tanya Zara dan Satria bersamaan.


"Keluarga Bryan akan datang ke rumahku." jawab Aura dengan tampang lesu.


"Apa? Jadi, kau akan segera dilamar begitu?" Zara mengernyit.


"Yah begitulah." jawab Aura.


Bryan adalah lelaki yang dijodohkan dengan Aura, mereka belum saling menyukai namun tak ada alasan mereka menolak perjodohan dari orang tua mereka mengingat mereka sama-sama tidak memiliki kekasih.


"Aku pulang duluan yah, kalian lanjutkan saja." ucap Aura lesu dan langsung beranjak.


Kini hanya Zara dan Satria yang berada di tempat tersebut, mereka pun memutuskan untuk segera masuk dan duduk di kursi penonton. Tak lama film pun dimulai, keduanya hanya menonton dengan bosan. Satria melirik Zara yang terlihat sedang mendengus lesu.


"Bosan?" tanya Satria.


"Hmm." Zara mengangguk lesu.


"Kalau begitu, ayo kita pergi." ajak Satria.

__ADS_1


Mereka pun keluar dari bioskop dan berlalu menuju ke sebuah kafe yang berada di depan gedung bioskop. Mereka duduk berhadapan ditemani segelas kopi cappucino.


"Dari tadi aku memperhatikan wajahmu, apa kau sedang ada masalah?" Satria memulai.


"Peka sekali." Zara tersenyum lirih.


"Jadi.. Apa masalahmu? Maukah kau menceritakannya padaku?"


"Tapi aku sedikit canggung hehe." Zara berusaha menolak.


"Tidak apa, ceritakan saja. Lagipula kan kita berteman." Satria tersenyum.


Kecanggungan Zara seketika hilang setelah mendengar pernyataan Satria. Tanpa membuang waktu ia pun menceritakan semua kejadian yang membuat hatinya sakit tanpa menyebut nama Ran.


"Hmm, jadi seperti itu." ucap Satria mengangguk.


Hati Satria terasa sedikit kalut mendengar cerita Zara, ia mengira tak ada lelaki yang dekat dengan gadis incarannya itu selain dirinya sendiri. Ia pun berusaha menampakkan senyum keterpaksaan.


"Kurasa dia butuh waktu untuk menenangkan diri." ucap Zara lesu.


"Sabarlah Zara, kau tak akan kesepian. Aku akan selalu menemanimu." ucap Satria ramah.


"Terima kasih. Kau memang teman yang baik."


Pada ucapan Satria barusan ia menyelipkan pesan tersirat yang nampaknya tak membuat Zara peka. Kembali Satria menampakkan senyum keterpaksaan. "Apa yang harus kulakukan untukmu agar kau bisa merasa lebih baik?" tanya Satria.


"Sekarang aku hanya ingin pergi ke taman saja. Maukah kau menemaniku?"


"Apapun untukmu Zara." jawab Satria.


Setelah menghabiskan kopi mereka akhirnya dalam waktu sepuluh menit keduanya sudah berada di taman. Saat itu taman tampak sepi, mereka memutuskan untuk duduk di tepi danau yang ada di sekitar taman tersebut.


"Apa kau masih merasa sakit hati?" tanya Satria memecah keheningan.


"Masih." jawab Zara yang seketika meneteskan air mata.


Melihat itu Satria buru-buru menenangkan gadis itu. Perlahan Satria meraih kedua pundak Zara. "Tenanglah. Jangan seperti ini."


"Aku tak sanggup Satria. Hatiku sangat sakit, baru kali ini dia membentakku. Hiks.. Hiks.." Perasaan Satria ikut terbawa, ia pun tanpa ragu memeluk gadis itu.


"Lupakanlah dia sejenak. Aku akan membuatmu merasa lebih baik." ucap Satria.


Zara hanya pasrah dengan semua perlakuan Satria padanya. Kali ini, Satria mampu membuatnya merasa sedikit tenang dan nyaman dalam pekukannya.


...


Pukul 22.30, Ran baru saja pulang ke apartemen. Ia masuk tanpa bersuara, sesaat ia mencari keberadaan Zara dan ternyata gadis itu itu tidak ada di.mana pun. Ia masuk ke dalam kamar Zara lalu tanpa sengaja melihat secarik kertas di atas nakas. Lelaki itu mengambil kertas tersebut yang ternyata berisi surat.


'Aku minta maaf atas kesalahanku tadi. Aku hanya merasa aneh ketika kau memarahiku dan aku merasa begitu sakit hati. Tapi aku sadar aku memang bersalah. Sekali lagi maafkan aku. Dan yah aku tidak akan tinggal disini lagi, aku pulang kerumah agar tidak mengganggumu lagi. Jika kau ingin putus, maka katakan saja aku akan menerima. Zara.


Ran mengusap wajahnya kasar namun perasaan kesalnya belum juga sirna. Ia benar-benar merasa sangat lelah dan memutuskan untuk pergi ke kamar mandi. Setelah itu barulah ia beristirahat di atas ranajang. Ran menatap langit-langit kamarnya sembari membayangkan ucapan dan kelakuannya tadi siang pada Zara. Namun, alih-alih merasa bersalah Ran malah menepis pikirannya lalu menutup mata.


.


.


.

__ADS_1


besambung....


__ADS_2