
Pagi itu kota sedang mendung, Zara berjalan secepat mungkin menuju kampus yang tak jauh dari rumah kontrakannya. Karena ia khawatir hujan akan turun dan membasahi bajunya. Untung saja ia telah sampai di parkiran kampus sebelum hujan benar-benar turun.
"Nyaris saja, untung aku berjalan lebih cepat." gumamnya.
Sambil berjalan Zara memperhatikan sekitar. Hujan benar-benar telah turun dengan deras. Pandangannya tertuju pada seorang lelaki dan gadis yang ia kenali. Saga dan Tahira. Seketika Zara menghentikan langkahnya lalu memperhatikan mereka dari jauh. Tampak Saga dan Tahira seperti sedang mencari seseorang. Beberapa mahasiswa yang berlalu lalang di hampiri oleh mereka satu persatu. Zara memundurkan langkahnya lalu meninggalkan kampus. Ia berhenti di parkiran sejenak, antara ingin menerobos hujan atau kembali masuk ke dalam.
'Bagaimana ini? Jika aku masuk maka kemungkinan besar mereka akan menemukanku, aku merasa belum siap. Tapi haruskah aku menerobos hujan?' pikirnya.
Setelah beberapa detik menimbang akhirnya ia lebih memilih menerobos hujan. Ia berlari sekencang mungkin meninggalkan kampus. Entah kemana tujuannya sekarang.
Sementara di dalam kampus Saga dan Tahira berusaha mencari keberadaan Zara dengan menanyakan kepada beberapa mahasiswa yang berpapasan dengan mereka.
"Apa Zara sudah berhenti kuliah yah? Mengapa tak ada satupun mahasiswa yang tahu keberadaannya?" tanya Saga sembari membebaskan pandangannya menyisir penjuru kampus.
Tahira terlihat menggaruk-garuk kepalanya, bukan karena gatal tetapi ia sudah merasa lelah dan tak tahu harus berbuat apa. Setelah beberapa saat berlalu mereka kembali mencari, sekarang posisi mereka berada tepat di depan ruang kelas Zara. Seorang pemuda melintas di hadapan mereka. Saga mencegah pemuda tersebut sebelum masuk ke dalam kelas.
"Permisi." ucap Saga.
Pemuda itu menoleh dengan seberkas senyum yang di lemparkannya. Sejenak Saga merasa senang melihat pemuda tersebut yang menurutnya begitu ramah sebab ini pertama kalinya mereka bertemu namun pemuda itu bisa dengan mudah tersenyum.
"Apa kau mengenal Zara?" tanya Saga terdengar sedikit ragu.
Pemuda itu tampak berpikir dan sejenak pandangannya beralih ke lain arah lalu ia kembali menatap Saga.
"Aku mengenalnya." jawab pemuda itu.
"Apa kau tahu di mana dia sekarang?" Saga tampak antusias mendengar jawaban pemuda itu.
"Yah, aku tahu. Sekarang Zara sedang di luar, sepertinya hari ini dia tidak masuk kuliah. Baru saja dia menghubungiku lima belas menit yang lalu."
"Oh jadi.. Zara masih kuliah disini yah." Saga bergumam.
"Siapa namamu?" Tahira membuka suara.
"Satria." jawab pemuda itu.
"Mm Satria, kalau begitu kami pamit dulu." ucap Saga lalu mereka pun akhirnya beranjak.
Saga membawa Tahira menuju mobil yang mereka tumpangi tadi. Di balik kemudi ada Ran yang sedang duduk dengan tatapan kosong ke depan.
"Zara masih berkuliah disini hanya saja salah satu mahasiswa yang mengenal Zara berkata bahwa Zara hari ini tidak masuk." jelas Saga dengan suara sedikit terengah akibat tadi ia habis berlari menerobos hujan.
"Siapa mahasiswa yang mengenal Zara itu?" tanya Ran dengan raut wajah datar tetapi dengam sorot mata yang tajam.
"Satria." jawab Tahira.
Ran memicingkan matanya menatap Saga yang duduk di sebelahnya tengah mengatur nafas.
"Dia adalah sahabat Zara." ucap Ran.
Tahira dan Saga sontak terkejut. "Benarkah?" ucap mereka bersamaan.
"Kita kembali ke kantor sekarang, ada beberapa pekerjaan yang harus ku selesaikan. Nanti malam kita lanjutkan pencarian." ucap Ran tanpa berniat menepis keterkejutan Saga dan Tahira.
Keduanya hanya bisa menghela nafas melihat kebiasaan Ran yang selalu ingin menunda pencarian Zara. Lelaki itu selalu memutuskan sesuatu sendirian. Entah apa isi kepala lelaki itu yang membuat Saga kesal dan ingin sekali mencekiknya.
"Ya sudah. Aku juga punya beberapa pekerjaan yang harus selesai hari ini." ucap Saga yang terdengar enggan dan tentu saja dengan nada ketusnya.
...*****...
Zara berlari menuju ke rumah kontrakannya, hari ini ia berencana untuk tidak keluar. Melihat Saga dan Tahira tadi membuatnya sedikit takut. Jangan sampai mereka menemukan dirinya lalu membawa kembali ke hadapan Ran. Sungguh gadis itu enggan melihat wajah Ran karena masih merasa sesak, hatinya belum bisa menerima permintaan maaf dari lelaki yang pernah menjadi kekasihnya itu.
Zara mengganti seluruh pakaiannya yang basah kuyup akibat menerobos derasnya hujan. Setelah itu ia membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Apa mereka bertemu Satria?" gumam Zara sembari memandang langit-langit kamarnya.
Zara meraih ponselnya yang terletak di samping lalu segera menghubungi Satria.
__ADS_1
"Satria, apa tadi ada orang yang menemuimu dan bertanya tentang ku?" tanya Zara to the point begitu panggilannya tersambung.
"Eemm, iya. Memangnya kenapa?"
"Apa yang mereka katakan?" Zara bengkit dari pembaringannya.
"Mereka hanya mencarimu dan aku mengatakan pada mereka jika hari ini kau tidak datang. Hei tunggu, dari mana kau tahu yang mencarimu lebih dari satu orang?" jawab Satria.
"Aahh, aa.. Aku.. Aku hanya menebak." Zara gelagapan.
"Oh baiklah. Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?"
"Eh iya, aku ingin meminjam buku catatan mu untuk hari ini." ucap Zara malu-malu.
"Tentu." jawab Satria.
Panggilan pun diputuskan dan Zara kembali membaringkan tububnya. Zara menatap ponselnya yang ia beli ketika meninggalkan desa, ia lupa untuk membawa ponsel lamanya yang ternyata tertinggal di atas ranjang. Ponsel barunya sekarang terlihat begitu hampa, tak ada satupun gambar dan catatan harian. Bahkan buku telponnya pun hanya terdapat beberapa kontak. Juga wallpappernya menggunakan wallpapper sistem.
"Haaah, dulu ponselku penuh warna. Ada banyak foto Kak Ran dan catatan harianku. Tapi sekarang, kosong dan hampa. Sangat hampa." Zara menyimpan kembali ponsel tersebut di sebelahnya.
'Kenapa sulit sekali melupakan Kak Ran? Bahkan semakin keras aku ingin melupakannya semakin kearas pula aku merindukannya. Padahal Kak Ran sama sekali tidak mengharapkanku, buktinya hanya Tahira dan Saga yang mencariku. Huufftt, itu artinya Kak Ran memang telah melupakanku.' Zara memutuskan untuk memejamkan matanya. Tak lama berselang ia pun terlelap.
Pukul 20.30
Issaura tak hentinya menghubungi Zara untuk menanyakan keberadaan gadis itu. Pasalnya malam ini pengunjung kafe membludak dan ia tak bisa menangani seorang diri, walaupun ia sudah menghubungi salah satu partnernya juga yang bernama Noe untuk membantunya.
Tak lama Noe datang menghapiri Issaura yang sedang cemas akibat ketidakhadiran Zara.
"Ada apa?" tanya Noe dengan suara basnya.
"Huh untung kau datang, dari tadi aku menghubungi Zara tetapi gadis itu tidak mengangkatnya." keluh Issaura.
"Mungkin dia sedang sakit. Tenanglah aku akan membantumu." ucap Noe.
"Tapi sekarang banyak sekali pelanggan pasti kita berdua akan kewalahan." Issaura tampak tak yakin.
Issaura mengangguk perlahan lalu mereka segera meninggalkan ruangan khusus pelayan tersebut. Mereka akhirnya melayani para pelanggan yang berdatangan hingga larut malam. Waktu telah menunjukkan pukul 22.59 dan seharusnya kafe telah tutup 30 menit yang lalu.
Masih ada beberapa pelanggan yang duduk menikmati kopi mereka. Lalu seorang lelaki datang dari pintu kemudian duduk di meja khusus untuk satu orang. Noe dan Issaura mendesah pasrah, mungkin malam ini mereka harus lembur. Issaura menghampiri pelanggan baru tersebut hendak menanyakan pesanannya.
"Pesan apa Tuan?" tanya Issaura ramah.
Lelaki itu menatapnya dingin tetapi seolah sedang tidak ingin diganggu. Issaura sedikit gugup melihat tatapan pelanggan tersebut.
"Aku hanya ingin menunggu sampai kafe ini tutup, tidak untuk memesan." ucap lelaki itu kemudian mengalihkan pandangannya dari Issaura.
Issaura tersentak, aneh rasanya mendengar ucapan pelanggan tersebut namun ia tak ingin membuatnya merasa tidak nyaman dan akhirnya Issaura beranjak.
Setelah sampai di belakang meja saji, Issaura menepuk bahu Noe.
"Hei kau tahu, orang itu ingin menunggu sampai kafe ini tutup tapi tak ingin memesan. Aneh." Issaura terus menatap lelaki aneh itu.
"Mungkin dia sedang mencari sesuatu. Biarkan saja, kadang ada beberapa orang yang melakukan hal seperti itu." ucap Noe.
"Bagaimana jika dia orang jahat."
"Ada-ada saja kau ini, cepat kembali lah bekerja." Noe menepis perkataan Issaura.
Kafe akhirnya tutup dan waktu telah menunjukkan pukul 23.45. Issaura dan Noe meninggalkan kafe setelah lelaki aneh tadi keluar. Issaura berjalan ke arah selatan sedangkan Noe berjalan ke arah utara.
Setelah sampai di halte Issaura duduk sejenak karena mendengar ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Zara.
"Astaga Zara, kenapa kau baru menghubungiku?" Issaura sedikit kesal.
"Maafkan aku, hari ini aku sedang tidak enak badan dan aku lupa menghubungimu."
"Oh maafkan aku Zara, aku kira kau sengaja. Lalu bagaimana keadaanmu sekarang? Apa perlu aku ke rumahmu?"
__ADS_1
"Tidak usah ini sudah larut malam kau pulang saja. Ohhok.. Ohhookk.." ucap Zara dan terdengar suara batuk menandakan gadis itu benar-benar sakit.
"Eh Zara kau batuk. Aku akan ke sana yah, jangan menolak." ucap Issaura tergesa-gesa lalu memutuskan panggilan.
Issaura berjalan menuju ke perempatan terdekat untuk mencari taxi, namun belum sampai di perempatan seorang lelaki menghamprinya. Di jam seperti ini dan di hampiri seorang lelaki asing, bukankah menakutkan untuk gadis seperti Issaura? Namun gadis itu sama sekali tak menunjukkan rasa takut sedikitpun.
"Eh kau, yang tadi di kafe kan?" tanya Issaura tanpa ada rasa khawatir.
"Iya. Aku Ran." ucap lelaki itu tanpa basa basi.
"Oh iya Ran, ada perlu apa?" tanya Issaura.
"Siapa nama gadis yang bekerja kemarin malam di kafe itu, apa kau mengenalnya?"
Otak Issaura langsung tertuju pada Zara, sebab hanya mereka berdua yang bekerja di kefe kamarin malam, jika bukan Zara siapa lagi, pikirnya. "Oh Zara, tentu saja. Dia partnerku, tapi hari ini dia sedang sakit jadi tidak masuk bekerja."
"Dimana dia sekarang?"
"Dia sedang dirumahnya. Eh tapi kau ini siapa?"
"Aku.. Kakaknya Zara."
"Oh benarkah. Maafkan aku, aku tidak tahu. Em begini saja, kau bisa ikut bersamaku ke rumah Zara. Aku sekalian ingin menjenguknya karena baru saja dia menelfonku, aku khawatir nanti terjadi apa-apa padanya." jelas Issaura.
Ran mengangguk setuju. Lalu mereka pun pergi dengan menggunakan mobil Ran. Issaura menjadi penunjuk jalan.
Setelah sampai di depan rumah Zara waktu telah menunjukkan pukul 00.45. Issaura mengetuk pintu rumah Zara perlahan. Beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk. Pesan tersebut dari Zara.
Zara : Masuk saja aku tak mengunci pintunya.
Issaura langsung membuka pintu lalu masuk ke dalam diikuti Ran. Ran menatap seluruh sedut rumah itu, feminim sekali. Terlihat sangat jelas ciri khsa Zara pada penataan barang-barangnya. Rapi dan simple.
Issaura berjalan masuk ke dalam kamar Zara, gadis itu terlihat sudah terbiasa karena memang Issaura sering mengunjungi partnernya itu. Ran mengekor di belakang Issaura. Ketika masuk ke dalam kamar Zara yang terkesan minimalis itu mata Ran membulat dan seketika berkaca-kaca. Ia melihat gadis yang selama ini dicarinya dan dirindukannya.
Zara melemparkan senyuman kepada Issaura lalu mengalihkan pandangannya pada sosok lelaki di belakang Issaura, jantungnya berdenar kencang. Lelaki yang menjadi kekasihnya dahulu berada di hadapannya. Zara menundukkan kepalanya. Issaura yang tak tahu apa-apa hanya bersikap seperti biasa, gadis itu menghampiri Zara. Begitu pula Ran, ia mendekat ke arah ranjang.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah makan?" tanya Issaura sembari mengecek suhu tubuh Zara.
Zara tak menjawab, ia terus saja menundukkan kepalanya. Issaura merasa bingung lalu ia menatap Ran yang berdiri menatap Zara.
"Kau bisa pulang, aku akan menjaganya." ucap Ran yang diangguki oleh Issaura.
"Aku akan pulang sekarang, kau cepatlah pulih." ucap Issaura pada Zara.
"Tidak Issaura, ini sudah larut. Kau tidak boleh pulang." ucap Zara lirih.
Issaura tertawa sejenak mendengar ucapan partnernya itu. "Kau ini, sperti lupa saja. Rumahku berada di depan gang ini. Jadi tidak masalah jika aku pulang sekarang. Sudah yah, kau istirahat saja. Aku sudah tenang sekarang karena ada kakakmu." Issaura menatap sejenak pada Ran.
Issaura beranjak meninggalkan Zara dan Ran di rumah tersebut. Ran menutup pintu rumah lalu masuk ke dalam kamar Zara, dan tentu saja menutup pintu kamar. Zara masih saja menunduk karena takut menatap Ran. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa Ran menemukannya bahkan sampai ke rumahnya ini. Ran duduk di tepi ranjang dengan tatapan bahagia sekaligus getir.
"Kenapa kau pergi?" kalimat pertama yang Ran lontarkan membuat Zara tak bisa menjawab. Ran menggenggam tangan Zara yang terasa lebih kurus dari yang terakhir kali ia genggam.
Zara tersentak dan segera melepaskan genggaman tangan Ran. Ran kembali menggenggam tangan itu, kali ini ia mempererat genggamannya agar Zara tak melepaskannya lagi.
"Zara, kembali lah. Aku merindukanmu." ucap Ran.
Zara tak menjawab. Gadis itu malah meneteskan air mata. Ran tak tahan lagi melihat sikap Zara yang hanya mendiaminya. Ia kemudian memeluk dengan erat tubuh ceking Zara.
"Aku masih mencintaimu, ayolah Zara kita pulang. Kau tak perlu bekerja seperti itu lagi, cukup tinggal bersama ku dan aku akan membuatmu bahagia." Ran berusaha mengutarakan perasaannya selama ini.
"Lepaskan!" ucap Zara lirih sembari memberontak.
"Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau setuju untuk kembali tinggal bersamaku."
"Hiks.. Hiks.. Hiks.. Aku tidak mau." ucap Zara lirih dengan isakan tangisnya. Tiba-tiba Zara merasakan sesak nafas.
Beberapa menit berlalu mereka telah berbaring di ranjang Zara. Entah bagaimana Ran membuat posisi mereka menjadi seperti itu. Ran memeluk Zara dari belakang seperti yang biasa mereka lakukan sebelum Zara meninggalkannya. Gadis itu sudah terlelap setelah tadi dirinya tiba-tiba sesak sehingga Ran memanfaatkan situasi tersebut.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku hanya ingin kau kembali ke dalam hidupku. Aku berjanji akan membuatmu bahagia." gumam Ran lalu mengecup pelan pipi Zara.