My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 87 : Panik


__ADS_3

Dari hasil pemeriksaan dokter, Kira masih dikategorikan baik-baik saja. Jadi sore ini gadis itu sudah diperbolehkan pulang. Dokter hanya berpesan agar gadis itu tidak banyak beraktifitas selama beberapa pekan. Jika tidak, maka risiko yang akan ditanggung adalah transfusi darah.


Ran merangkul anak bungsunya tersebut keluar dari rumah sakit sementara Naura mengurus administrasi dibantu oleh Bara. Bersama mereka melangkah menuju meja administrasi.


Di meja administrasi Bara tampak ingin menanyakan sesuatu kepada gadis itu namun melihat wajah datar dan aura yang berbeda, lelaki itu mengurungkan niatnya. Sekarang Bara baru sadar jika sikap Naura berubah. Gadis itu banyak diam dan terlihat jelas jika sedang memendam amarah.


Selepas mengurus administrasi tersebut mereka akhirnya keluar bersama menuju parkiran mobil. Di sana mobil Ran terparkir dengan sang pemilik yang sudah berada di dalamnya.


Bara masih mengikuti langkah kaki Naura hingga mencapai mobil pamannya. Tanpa menoleh dan berbasa basi, gadis itu melesat masuk ke dalam mobil. Bara tertegun sejenak. Suara Ran mengalihkannya dari ketertegunan, lelaki itu lalu menoleh ke arah sumber suara.


"Terima kasih atas bantuannya." Ucap Ran.


Bara mengangguk sambil sekilas memandang Kira yang duduk di kursi sebelah ayahnya. Keadaan Kira terlihat memprihatinkan di mata lelaki itu. Bahkan ada raut ketakutan yang menyelimuti gadis itu. Namun ia tak mampu berbuat apapun.


Karena semua pergerakannya terhalang oleh tirai kebohonga. Andai saja mereka terang-terangan menjalin hubungan, maka hal ini tidak akan terjadi. Ah, rasanya otak Bara berkelana ke kejadian awal dimana mereka pertama berikrar sebagai kekasih. Terlalu jauh dan sudah terlalu rumit untuk diperbaiki.


"Hati-hati di jalan paman." Ucap Bara.


Tak lama setelahnya mobil berwarna hitam itu melesat meninggalkan rumah sakit.


Bara mematung untuk beberapa saat akibat perasaan ganjil yang menggerayap naik ke dadanya. Kepergian mobil pamanya seolah menjadi akhir dari hubungannya dengan Kira. Entah mengapa sosok Naura seperti sebuah ancaman berbahaya yang akan mengusik hubungannya dengan Kira.


Tatapan mata Naura saat di kamar rawat Kira tadi terus membayang sehingga mempertegas keadaan yang mendebarkan ini. Dan sampai sekarang Bara yakin jika Naura menyimpan sesuatu. Dari cara gadis itu menampakkan ekspresi berbeda, belum lagi keterdiaman yang terasa sangat ganjil, hingga raut ketakutan dari Kira yang sempat tertangkap matanya. Ini semua terasa begitu kebetulan.


Mencuat kekhawatiran yang besar di benak lelaki itu. Jangan sampai semua berakhir dalam ketidaksanggupannya melakukan apapun. Bara mendengus pelan kemudian memutuskan untuk segera pulang.


...*****...


Kira melangkah dengan lemas memasuki rumah. Perasaannya masih begitu kalut ditambah lagi dengan sakit yang ia derita. Bagaimana bisa hidup dengan cepat berubah hanya dengan sekali memejamkan mata. Gadis itu bermonolog dalam hati. Tak lagi memerhatikan sekitar, baik Naura maupun ayahnya.

__ADS_1


Sementara Zara yang sedang menunggu kedatangan mereka terduduk dengan wajah cemas di ruang tamu. Begitu Kira bersuara, wanita itu langsung bangkit lalu menghampiri putri bungsunya.


"Sayang, sakit apa nak? Kenapa bisa sampai masuk rumah sakit?" Tanya Zara seraya memeluk tubuh putrinya.


"Kata dokter dia terkena talasemia." Ran yang menjawab pertanyaan Zara.


Wanita itu menoleh dengan mata yang membulat sempurna. "Apa? Talasemia?"


Kompak Ran dan Naura mengangguk membenarkan. Wajah Zara tampak semakin cemas. Dengan penuh kasih sayang, wanita itu terus saja membelai surai cokelat Kira. Lalu menuntunnya untuk melangkah menuju kamar gadis itu.


Zara membaringkan tubuh Kira ke atas ranjang minimalis yang dibalut seprei berwarna navy. Lalu menutup setengah tubuh gadis itu dengan selimut berwana senada.


"Istirahat yang cukup yah sayang. Mulai besok kau tak perlu ikut pelajaran tambahan. Okaasan akan meminta Otousan untuk menjemput setelah pelajaran wajibmu selesai." Kira mengangguk pelan. Setelah itu Zara beranjak meninggalkannya.


Ketika tak ada lagi orang di sekitar, Kira yang sedari tadi menahan rasa sesak di dadanya perlahan meneteskan air mata. Demi menumpahkan segala rasa itu dia memilih untuk menangis karena tak sanggup lagi jika harus menahan.


Kakaknya telah mengetahui semua kebenaran. Dan tak perlu lagi dijelaskan bagaimana posisinya sekarang. Jurang yang dalam telah menantinya. Mungkin setelah Naura mengatakan semuanya kedapa orang tua mereka, Kira akan masuk ke dalam pengadilan tinggi sang ayah.


Waktu terus berjalan hingga sinar jingga di ufuk barat telah lenyap disapu gelapnya malam. Mata Kira terbuka perlahan setelah kurang lebih satu setengah jam ia tertidur. Kamar bercat putih tulang itu tampak sepi dan hampa. Seolah menyekutui perasannya saat ini.


Masih dalam bayang-bayang ketakutannya terhadap terkuaknya hubungan yang ia jalani bersama Bara. Kira seakan tak mampu menyelewengkan pikirannya dari sana hingga rasa sakit di kepala gadis itu semakin menjadi. Segera ia memegangi kepalanya dengan tujuan agar rasa sakit itu teredam walau hanya sedikit.


Dari arah pintu Naura masuk dengan membawa sebuah nampan berisi makan malam untuk Kira. Saat ekspresi datarnya mulai nampak seketika gadis itu mendapati adiknya sedang menitikkan air mata sambil menahan rasa sakit. Ekspresi itu perlahan tertekan bersama dengan hadirnya rasa iba pada adiknya.


"Kira ada apa denganmu?" Tanya gadis itu.


"Sakit kak. Kepalaku sakit sekali." Jawab Kira lirih.


"Tunggu sebentar aku akan memanggil Okaasan." Ucap Naura panik seraya meninggalkan kamar Kira.

__ADS_1


Tak lama setelahnya Naura kembali bersama dengan Zara dan Ran. Sontak kedua orang tua itu panik ketika melihat kondisi Kira yang semakin parah dari sebelumnya.


"Sepertinya kita harus kembali ke rumah sakit." Ucap Ran.


Sementara Kira menangkap suara itu dengan samar. Penglihatannya menggelap bersama dengan kesadaran yang juga ikut memudar. Satu detik.. dua detik.. Kegelapan menyapanya perlahan hingga ia tak tahu apakah dirinya masih hidup atau sudah mati.


Ran dengan gerakan cepat menggendong tubuh Kira menuju mobil diikuti Zara dan Naura yang lari terbirit-birit. Mereka melesat menuju rumah sakit yang tadi. Meski perjalanan terbilang jauh Ran merasa ada baiknya jika Kira ditangani oleh dokter yang sama agar ketahuan ada apa sebenarnya dengan gadis itu.


Begitu sampai mereka segera mendapatkan pelayanan khusus untuk kelas VVIP. Kira dibawa ke ruang pemeriksaan dahulu. Sementara Ran, Zara dan Naura yang masih tampak panik dan ngos-ngosan duduk menunggu di kursi koridor ruang pemeriksaan.


Rasa panik mereka teralihkan ketika sosok wanita seumuran Zara melintas. Tampak begitu familiar. Ran dan Zara sama-sama saling menatap dengan keterkejutan level tinggi. Ada luka yang masih membekas, yang detik itu juga kembali terbuka dan menganga dengan lebarnya.


Wanita itu menoleh pada mereka dengan tatapan tercengang seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Naura baru sadar hingga spontan gadis itu memanggil nama wanita yang berdiri di hadapan mereka.


"Bibi Tahira." Ucap Naura.


Wanita dengan pakaian yang terlihat begitu parlente menutup mulutnya dari ketercengangan. Wajah yang terlihat mulai menua itu membawa kembali suasana masa lalu yang pedih.


Masih terasa begitu kental walau telah berlalu 11 tahun lamanya. Pengkhianatan Tahira terhadap Saga adalah luka mereka bersama. Yang mana sebagai pihak keluarga Ran dan Zara merasakan kekecewaan mendalam.


Mereka terdiam dan saling terpaku pada perasaan masing-masing. Hal pertama yang ada di benak Zara saat itu adalah ingin menampar wajah Tahira. Namun mengingat sifat Zara tidaklah sekejam itu membuat ia tidak jadi melakukannya. Padahal tangannya sudah hampir terangkat.


"Kalian." Ucap wanita itu pada akhirnya. Walau dengan ekspresi tercengang yang sialnya terlihat menjengkelkan.


.


.

__ADS_1


.


bersambung....


__ADS_2